Azizah Mutiara gadis berusia 19 tahun yang berasal dari keluarga sederhana. Dia pikir dirinya adalah gadis yang beruntung bisa mendapatkan seorang Derby Adhitama. Putra tunggal salah satu konglomerat ternama yang sangat mencintainya dan mati-matian berjuang membuktikan cintanya.
Namun impiannya untuk menikah dengan pria itu harus kandas akibat insiden satu malam yang membuatnya kehilangan segalanya.
Dia dicekoki obat perangsang hingga melakukan one night stand bersama banyak pria.
Julukan sebagai wanita malam pun harus diterimanya dengan lapang dada. Hingga terusir dalam keadaan hamil.
Hingga pertemuannya dengan Ranvi Abimana yang kembali memberikannya cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26- Tidak Ingin Memiliki Urusan Lagi!!
HAPPY READING
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Omong kosong!! Kamu pikir saya akan mendengarkanmu?! Sekarang juga saya minta, kamu pergi dari sini!! Karena saya sudah tidak sudi melihat wajahmu! Apalagi menganggapmu sebagai anak!!" dengan suara tinggi bagaikan petir yang menggelegar, Marko menunjuk pintu keluar.
Tamara dan Alexa terkejut mendengarnya mengusir putra bungsunya itu.
"Papa mengusirku?" Ranvi memastikan perkataan papanya dengan suara rendah. Dia masih berharap apa yang didengarnya tidak serius.
"Saya menyesal karena baru melakukannya sekarang! Kalau saja sejak dulu saya menyingkirkanmu, mungkin Parvi masih hidup sampai saat ini!!"
"Ma, apa mama juga menyalahkanku atas kematian kakak?" Ranvi beralih pada mamanya. Dia masih berharap wanita yang telah melahirkannya itu bisa membelanya dan tidak ikut menyalahkannya.
Tamara tampak berpikir selama beberapa saat sebelum menjawab.
"Mama tidak tau harus bagaimana Ran. Yang jelas Mama sangat kecewa. Mama tidak pernah membayangkan, kalau kamu bisa seceroboh ini. Mama tau, selama ini kamu selalu kesal dibanding-bandingkan dengan kakakmu, tapi...." Tamara yang masih terisak tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Ranvi tertegun mendengar mamanya ikut menyalahkannya juga. Padahal dia sangat mengharapkan dukungan dari mamanya.
"Jadi mama pikir, kalau aku senang dengan kematian kakak, karena tidak ada lagi sainganku? Sedangkal itu pikiran mama terhadapku? Mama pikir aku selicik itu?" lirihnya.
"Cukup!!" Sergah Marko yang membuat semua orang terlonjak.
"Jangan banyak omong kamu! Sekarang juga cepat angkat kaki dari sini, sebelum saya lempar kamu keluar! Bahkan mamamu saja yang selalu membelamu, sekarang sadar sifatmu yang sebenarnya! Dan dia sadar kalau kamu adalah pembawa sial!!"
"Cukup Pa!!" sergah Ranvi dengan tatapan berapi-api. Kesabarannya benar-benar sudah habis menghadapi sikap papanya.
Selama ini dia selalu mengalah, namun kali ini dia menatap papanya dengan tajam dan mata memerah.
"Selama ini saya sudah cukup sabar menerima sikap kasar dan otoriter Papa! Tapi tidak untuk sekarang! Sekarang saya sadar, kalau saya memang tidak pernah dianggap disini!! Dan sesuai dengan keinginan anda tuan Marko Abimana, sekarang juga saya akan meninggalkan rumah ini. Dan saya berjanji, kalau saya tidak akan pernah kembali lagi kesini, sekalipun kalian memintanya!"
Sejak saat itu Ranvi berjuang seorang diri. Diusianya yang masih sangat belia yaitu 18 tahun, dia bekerja keras agar bisa bertahan hidup dan melanjutkan pendidikannya, hingga bisa sukses seperti saat ini tanpa bantuan keluarganya sedikitpun.
Karena sejak saat itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan mereka. Dan dia juga tidak ingin lagi memiliki urusan dengan keluarga yang telah membuangnya.
Namun sekitar delapan bulan yang lalu, tanpa diduga Alexa mendatanginya. Gadis itu mengatakan bahwa papanya sedang sakit keras dan sangat ingin bertemu dengannya.
Ranvi yang masih menyimpan rasa sakit hati dan juga telah berjanji tidak akan pernah kembali lagi pada keluarganya, tidak pernah mengindahkan perkataan Alexa. Dia selalu menolak bujukan gadis itu untuk pulang menemui orang tuanya, karena dia tidak ingin lagi berurusan dengan orang tua yang tidak pernah menganggapnya.
Peristiwa pahit itu sudah terjadi enam tahun yang lalu. Namun sakitnya masih membekas dihati Ranvi hingga saat ini. Membuat hatinya mengeras bagai batu. Dia tidak bisa melupakan kekejaman keluarganya yang mengusirnya layaknya seekor hewan yang tidak berguna.
Apalagi dia juga sudah senang dengan kehidupannya sekarang yang tanpa mereka.
Flashback off
"Pak. Pak?"
Ranvi terkejut saat asisten Tomi memegang dan menggerak-gerakkan lengannya dengan pelan.
"Eh, iya?" Dia menatap Tomi dengan linglung.
"Kita sudah sampai Pak,"
"Oh, iya-iya."
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran elit itu. Seorang waiter yang sedang berjalan membawa kue tart tanpa sengaja menabraknya. Hingga kue ditangannya nyasar ke pakaian Ranvi. Membuat jas hingga kemeja pria itu kotor dengan lumuran kue itu.
"Ma-maaf Pak. Saya tidak sengaja," waiter itu berkata dengan takut dan juga bersalah atas keteledorannya terhadap tamu.
"Iya-iya, its oke." jawab Ranvi dingin sambil menatap pakaiannya dengan sedikit jijik dan kesal.
Sebenarnya dia tidak terlalu kesal pada waiter itu, sebab dia paham kalau ini hanyalah unsur ketidak sengajaan. Tapi dia masih kesal dengan kedatangan Alexa yang kembali membahas keluarganya yang telah memberikannya ingatan buruk.
"Pak, baju bapak kotor. Apa tidak sebaiknya dibersihkan dulu di toilet?" usul Tomi begitu waiter itu berlalu dari hadapan mereka.
"Percuma saja Tom, dibersihkan di toilet juga, pasti sisa nodanya akan tetap terlihat. Sepertinya saya harus ganti baju."
"Tapi kan, bapak tidak bawa baju salin. Ini gara-gara waiter itu. Apa perlu saya laporkan pada manager restoran ini, supaya dia ditegur? Atau dipecat,"
"Sudahlah Tom, ini hanya masalah sepele. Tidak usah dibesar-besarkan. Lagipula dia juga tidak sengaja kok. Setau saya didekat sini ada butik. Kita kesana saja dulu untuk beli baju ganti saya. Lagian kliennya juga datangnya masih satu jam lagi. Kita datangnya terlalu awal. Jadi masih banyak waktu. Ayo."
"Baik Pak." Tomi mengangguk dan mengikuti atasannya meninggalkan restoran itu.
Sebenarnya mereka memang janjian meeting dengan klien disana sekitar satu jam lagi. Namun karena malas meladeni Alexa yang selalu datang hanya untuk membahas keluarganya, Ranvi mengajak Tomi ke restoran itu lebih awal agar bisa menghindari gadis itu.
🍂🍂🍂🍂🍂
"Selamat siang Pak Ranvi. Sebuah kehormatan bagi kami, anda mengunjungi butik kami. Ada yang bisa kami bantu Pak?" Wanita yang bekerja sebagai manager di butik itu menyapa Ranvi dengan ramah dan penuh hormat, begitu pria itu memasuki butik itu bersama asisten Tomi.
"Iya, saya butuh jas dan kemeja. Tolong carikan yang cocok untuk saya." jawab Ranvi dingin.
"Dengan senang hati Pak. Mari ikut kami."
Ranvi mengangguk dan mengikuti manager yang didampingi oleh beberapa karyawan itu. Mereka semua melayaninya dengan sangat baik layaknya tamu VVIP, sebab mereka tau bahwa Ranvi adalah seorang CEO pemilik perusahaan besar yang bergerak dibidang jasa dan transportasi.
Setelah menemukan pakaian yang cocok dengannya, Ranvi langsung mengenakannya. Namun saat hendak keluar dari sana, dia malah terpaku saat tiba-tiba melihat sosok yang belakangan ini selalu mengisi pikirannya.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?" seorang karyawan butik menyapa gadis itu dengan ramah.
"Saya mau membeli beberapa pakaian." jawab Azizah.
"Nona ingin brand yang seperti apa? Biar saya bantu pilihkan,"
"Saya ingin yang harganya murah saja, supaya tidak boros."
Karyawan itu berusaha menyembunyikan senyumnya mendengar ucapan polos gadis itu yang menurutnya lucu.
"Kalau begitu, mari ikut saya Nona. Anda bisa lihat-lihat dulu,"
"Iya."
Azizah mengikuti karyawan itu tanpa menyadari kehadiran Ranvi yang memperhatikannya diam-diam. Tanpa sadar seulas senyum hangat terpancar diwajah Ranvi melihat gadis itu. Hatinya berbunga-bunga.
BERSAMBUNG