Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari Ayah

Akhir pekan yang dinantikan sekaligus dikhawatirkan Naya akhirnya tiba. Sejak pagi, ia sudah gelisah menunggu waktu ayahnya datang menjemput seperti biasa, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang "kabar penting" yang telah membuatnya was-was sepanjang minggu.

"Kamu udah siap?" tanya ibunya, muncul di ambang pintu kamar Naya yang masih duduk termenung di tepi ranjang.

"Udah, Bu," jawab Naya pelan, meski nada suaranya jelas menyimpan kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ibunya duduk sejenak di sebelah Naya, mengelus rambut anaknya dengan lembut. "Apa pun kabar yang Ayahmu mau sampein nanti, inget, kamu nggak sendirian. Ibu selalu di sini."

Naya mengangguk, menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu ibunya sebelum akhirnya bangkit ketika suara klakson mobil ayahnya terdengar dari luar.

Perjalanan menuju kediaman ayahnya berlangsung dalam diam yang canggung, hanya diselingi obrolan basa-basi tentang sekolah dan nilai rapor yang baru saja ia terima. Sesampainya di apartemen kecil sang ayah, Naya disambut oleh aroma masakan yang tidak biasa—bukan masakan sederhana yang biasa dibuat ayahnya sendiri, melainkan hidangan yang tertata rapi seolah disiapkan khusus untuk momen penting.

"Duduk dulu, Nak," kata ayahnya, tampak sedikit gugup saat mempersilakan Naya duduk di ruang makan kecil itu.

Naya duduk perlahan, matanya menatap sekeliling ruangan yang tampak lebih rapi dari biasanya, curiga bahwa "kabar baik" yang dimaksud ayahnya bukan sekadar promosi kerja atau rencana liburan sederhana.

"Naya," mulai ayahnya, menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Ayah kenalan sama seseorang. Namanya Tante Ratih. Udah hampir setahun ini kami deket, dan... Ayah mau serius sama beliau."

Kata-kata itu menggantung di udara, membuat Naya terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Serius... maksudnya gimana, Yah?"

"Ayah berencana melamar beliau bulan depan," lanjut ayahnya, menatap wajah anaknya dengan hati-hati, mencoba membaca reaksi yang mungkin muncul. "Tapi Ayah nggak akan lanjutin apa pun kalau kamu keberatan. Restu kamu penting banget buat Ayah."

Naya menatap piring di depannya, pikirannya berkecamuk antara rasa terkejut, bingung, dan entah kenapa juga sedikit lega karena ternyata bukan kabar buruk seperti yang selama ini ia takutkan. Namun di sisi lain, bayangan tentang sosok baru yang akan masuk ke dalam kehidupan ayahnya membuat dadanya terasa berat dengan cara yang berbeda.

"Aku... aku boleh ketemu beliau dulu?" tanya Naya akhirnya, memilih jalan tengah yang bisa ia terima untuk saat ini.

Wajah ayahnya langsung sumringah mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja! Sebenarnya, Tante Ratih ada di dapur sekarang, nunggu waktu yang tepat buat kenalan sama kamu."

Beberapa saat kemudian, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun keluar dari dapur, membawa nampan berisi hidangan penutup, wajahnya menunjukkan senyum ramah yang tampak tulus meski juga menyimpan kegugupan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Naya.

"Halo, Naya. Aku Ratih," sapanya lembut, meletakkan nampan itu di meja. "Ayahmu sering banget cerita soal kamu. Katanya kamu pinter nulis puisi."

Naya tersenyum kikuk, tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi situasi yang begitu asing baginya. "Iya, Tante. Cuma hobi kecil-kecilan aja."

Percakapan di antara mereka bertiga berlangsung canggung namun tidak sepenuhnya tidak nyaman, diselingi pertanyaan-pertanyaan sopan dari Tante Ratih tentang sekolah dan teman-teman Naya, yang perlahan mencairkan sebagian ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan itu.

Sepulang dari rumah ayahnya sore itu, Naya duduk di teras rumah, menatap langit senja dengan pikiran yang masih bercampur aduk. Ibunya, yang menyadari kegelisahan anaknya, mendekat dan duduk di sebelahnya.

"Gimana?" tanya ibunya hati-hati.

"Ayah mau nikah lagi, Bu," jawab Naya pelan, masih menatap langit yang perlahan berubah jingga keunguan. "Namanya Tante Ratih. Kayaknya orangnya baik, sih."

Ibunya terdiam sejenak, menghela napas panjang sebelum akhirnya tersenyum tipis—senyum yang menyimpan campuran perasaan yang rumit, namun tetap berusaha terlihat tenang demi anaknya. "Kalau itu bikin Ayahmu bahagia, dan kamu juga nyaman, nggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu tetap jadi prioritas buat Ayahmu, apa pun yang terjadi."

Naya menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya, mencoba mencerna semua perasaan yang bergejolak dalam dirinya—kelegaan karena kabar itu bukan sesuatu yang buruk, namun juga kekhawatiran samar tentang bagaimana kehidupannya akan berubah dengan kehadiran sosok baru dalam keluarga ayahnya.

Malam itu, sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada kedua sahabatnya, menceritakan semua yang terjadi hari itu.

Naya: Ayah mau nikah lagi. Ketemu calon istrinya tadi, orangnya baik sih. Tapi entah kenapa masih ngerasa aneh aja.

Balasan dari Raka dan Adit datang hampir bersamaan, keduanya menawarkan dukungan yang sama tulusnya seperti biasa, meski dengan cara yang berbeda—Raka dengan kata-kata menenangkan yang penuh perhatian, dan Adit dengan candaan ringan yang berhasil membuat Naya tersenyum di tengah kebingungannya.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!