Indonesia
NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:312
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan untuk Sang Jenderal

Hawa dingin dari jendela griya tawang yang hancur membawa serta bau hujan bercampur aroma anyir tembaga yang kian pekat. Debu gipsum yang runtuh perlahan mengendap, menutupi permukaan tiga jasad anggota Unit Viper yang terkapar kaku di atas karpet hitam yang basah. Di tengah reruntuhan interior mewah itu, kesunyian mendadak menjadi begitu mencekam.

Liam Jeren masih menempelkan punggungnya pada dinding yang retak. Tangan kirinya mencengkeram bahu kanannya yang terus meneteskan darah kental, membasahi kain sutra jubah mandinya hingga sewarna dengan kegelapan malam. Napasnya teratur, sepasang mata elangnya mengunci siluet wanita yang berdiri tiga meter di depannya.

Sang kapten Unit Viper tidak membuang-buang waktu. Dengan satu hentakan kaki di atas pecahan kaca, ia menerjang maju. Dua bilah kerambit di tangannya meliuk memotong udara, menciptakan kilatan keperakan yang mengincar langsung leher Liam.

Liam berkelit ke samping, membiarkan ujung tajam kerambit merobek wallpaper dinding tepat di sebelah telinganya. Rasa sakit di bahunya membatasi kecepatan tangannya, tetapi memori otot seorang Shadow tidak bisa dikelabui. Ia menangkap pergelangan tangan kanan wanita itu, memutarnya dengan kuncian, sementara tangan kirinya melayangkan pukulan pendek ke arah rusuk sang kapten.

BUGH!

Wanita itu mendengus, tapi tidak mundur. Ia memanfaatkan momentum putaran tubuhnya untuk melayangkan tendangan tumit yang menghantam telak ke dada Liam, memaksa sang agen mundur dua langkah hingga menabrak meja marmer. Belum sempat Liam menstabilkan posisinya, kapten Viper itu kembali merangsek maju, merobek bagian depan jubah mandi Liam dengan sapuan kerambit kirinya. Goresan tipis berdarah tercipta di dada Liam.

Pertarungan jarak dekat itu beralih menjadi adu cepat di antara serpihan kaca. Wanita itu bergerak dengan kelincahan seekor reptil, sementara Liam bertarung dengan efisiensi mesin pembunuh.

Saat bilah kerambit kanan wanita itu kembali mengincar matanya, Liam tidak menghindar. Ia justru membiarkan telapak tangan kirinya maju, mencengkeram punggung pisau genggam tersebut hingga kulit telapak tangannya teriris dalam. Darah segar menyembur, namun cengkeramannya mengunci pergerakan senjata musuh.

Sebelum sang kapten sempat menarik pisaunya, Liam menyentakkan kepalanya ke depan, menghantamkan dahi keras-keras ke arah hidung wanita itu.

KREK.

Tulang hidung sang kapten patah. Pandangannya goyah sesaat oleh hantaman tersebut. Liam memanfaatkan sepersekian detik itu untuk menyapu kaki tumpuan musuhnya, lalu menghantamkan punggung wanita itu ke atas lantai beton yang keras dengan bunyi debum yang berat. Bilah kerambit terlepas, berdenting menjauh di atas lantai.

Liam langsung mengunci tubuh wanita itu di bawah lututnya, menekan dada sang kapten hingga ia kehabisan napas. Tangan kiri Liam yang bersimbah darah mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat, memaksanya mendongak menatap sepasang mata elang di balik kegelapan ruangan.

Sang kapten terengah-engah, darah mengalir dari hidungnya yang patah, membasahi topeng kainnya yang tersingkap. Namun, sepasang mata kelabunya tetap memancarkan kekosongan, ia adalah definisi produk gagal yang dilatih untuk tidak merasakan ketakutan.

Liam tidak meraih pistolnya untuk melepaskan tembakan eksekusi seperti tiga anak buah wanita ini. Liam justru meraih pisau komando berbilah hitam yang tergeletak di dekat jasad pertama. Ujung baja dingin itu ditempelkannya pada punggung tangan kiri sang kapten yang berada di lantai.

"Elikai... lepaskan aku atau Jenderal Jendra akan membakar sisa hidupmu," desis sang kapten parau, suaranya teredam oleh darah di tenggorokannya. Ia mengenali cara bertarung ini. Ini adalah gaya bertarung milik Shadow.

"Orang yang kau panggil itu sudah lama mati," Liam berbisik, matanya tidak berkedip sedikit pun. "Pria di depanmu ini adalah Liam Jeren. Dan aku tidak menerima ancaman dari seekor anjing kiriman."

Liam menggeser ujung pisau komandonya, mengunci posisi jari kelingking kiri wanita itu di atas lantai beton.

"Jendra mengaktifkan Unit Viper karena dia merasa ketakutan," Liam melanjutkan kalimatnya, suaranya melambat. "Dia tahu giliran hidupnya tidak lama lagi. Dan anjing yang ketakutan perlu diberi peringatan agar dia tahu siapa yang memegang rantainya saat ini."

JLEB! KREK.

Liam menekan pisaunya ke bawah dalam satu gerakan bersih yang memotong persendian jari kelingking wanita itu hingga putus rata dengan lantai.

Sang kapten Unit Viper mengejang hebat. Sebuah jeritan histeris yang melengking tertahan di tenggorokannya, wajah pucatnya memerah padam menahan rasa sakit yang luar biasa hebat saat saraf jarinya terputus paksa. Tubuhnya meronta di bawah kuncian Liam, akan tetapi cengkeraman lutut sang agen di dadanya tetap sekokoh batu karang.

Liam menarik pisaunya kembali, membiarkan darah segar mengalir membasahi lantai semen. Ia mengambil potongan jari kecil yang pucat itu dari lantai, lalu memasukkannya ke dalam saku rompi taktis kelabu milik wanita itu sendiri.

Liam bangkit berdiri perlahan, melepaskan kunciannya. Ia melangkah mundur dua tindak, membiarkan wanita itu berguling miring sambil memeluk tangan kirinya yang bersimbah darah, napasnya memburu pendek dalam balutan rasa sakit yang meremukkan kesadarannya.

"Pulanglah kepada tuanmu," Liam menatap rendah wanita yang kini merangkak lemas di atas lantai. Cahaya kilat dari luar jendela yang hancur menerangi garis rahang barunya yang tajam bagai pualam. "Bawa potongan daging itu ke depan meja kerjanya di Bogor."

Liam membalikkan badannya, mengambil selembar kain bersih dari sofa untuk menekan luka tembak di bahu kanannya sendiri dengan gigitan giginya. Sebelum ia melangkah pergi menuju koridor rahasia keluar apartemen, ia menjeda langkahnya di ambang kegelapan.

"Katakan pada Jenderal Jendra," bisik Liam, suara rendahnya terdengar bergema di dalam ruangan hancur itu. "Giliranmu segera datang. Sampaikan salamku pada mimpi buruknya."

Siluet sang Shadow melebur sepenuhnya ke dalam kegelapan koridor apartemen, meninggalkan sang kapten Unit Viper yang meratap kesakitan di tengah kepulan asap mesiu dan tiga jasad anak buahnya yang telah mendingin di bawah siraman angin malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!