Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Sedikit Kemajuan
Rio mengusap wajahnya kasar, menatap punggung Kak Diva yang sudah menghilang di balik pintu dengan gemas. "Aduh, aduh... pengin gue pukul rasanya, tapi masalahnya dia kakak kelas!" gerutunya tertahan.
Danu menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. "Sabar, Rio... Ini ujian."
Di tengah ketegangan dan rasa frustrasi anak-anak kelas X itu, Kak Rizki malah memiringkan kepalanya dengan wajah tanpa dosa. "Emangnya... apa yang salah, sih?"
Mendengar kepolosan yang sudah mencapai batas tak wajar itu, Zahra langsung membuang napas panjang. "Duh... sini deh, Kak. Ikut aku bentar," ajaknya sambil menarik paksa lengan baju mentor mereka itu.
Kelima murid itu pun menggiring Kak Rizki masuk kembali ke ruang diskusi rahasia. Begitu Kak Rizki duduk di kursi, Putri dengan sigap mematikan sakelar lampu utama, menyisakan cahaya remang-remang. Suasana mendadak berubah dramatis bak ruang interogasi detektif.
Reno maju selangkah, berdehem pelan, lalu memulai pertanyaan pertama. "Jadi... Kakak sebenarnya bertemu dan kenal dengan Kak Diva sejak kapan?"
"Hmm... sejak SMP sih," jawab Kak Rizki santai. "Dia memang selalu begitu dari dulu. Kakak juga nggak tahu dia selalu begitu karena apa."
Reno menepuk jidatnya pelan. "Hmm... gitu ya... polos banget, ampun," bisiknya nyaris tak terdengar.
Zahra melipat tangan di dada, mengambil alih interogasi. "Pertanyaan kedua... apakah pernah ada sesuatu yang bikin dia kesal banget sama Kakak?"
Kak Rizki tampak berpikir sejenak, menatap langit-langit ruang diskusi. "Hmm... seingatku... ada. Sampai aku bikin mukanya merah padam. Terus dia selalu berteriak memberitahuku kalau dia marah."
"Hmm... oke, oke. Fiks, dia nggak ngerti konsep tsundere," gumam Zahra sambil menggelengkan kepala prihatin.
Kini giliran Rio yang mencondongkan wajahnya ke depan. "Pertanyaan ketiga... kenapa Kakak nggak coba cari tahu dulu alasannya dia marah atau mukanya merah?"
"Hmm... aku merasa itu tidak penting," jawab Kak Rizki tanpa beban.
"Aduh... Kak Rizki!" keluh mereka nyaris bersamaan.
Zahra memijat pelipisnya perlahan. "Kak, dia itu sebenarnya cuma malu-malu kucing! Jadi, Kakak sebaiknya beneran ikut temui dia di bioskop saat akhir pekan nanti, ya?" bujuk Zahra dengan nada setengah memaksa.
"Em... iya, Kak. Kak Diva kan sudah effort banget ngasih tiketnya," tambah Putri dengan senyum lembutnya.
"Iya, Kak, bener kata mereka," Danu mengangguk setuju, mendukung aksi cuci otak tersebut.
"Lakuin aja, Kak. Daripada nanti Kakak dijauhin beneran lho sama dia," ancam Rio menakut-nakuti.
Kak Rizki menggaruk pipinya yang tidak gatal, masih bingung dengan rentetan desakan adik-adik kelasnya. "Hmm... gitu ya? Yaudah deh, ikut saja kan? Nggak ada apa-apa juga."
"Ya! Nggak ada apa-apa! Ikut saja, itu yang paling penting!" balas Reno menyela cepat sebelum mentornya itu berubah pikiran.
Tepat saat kesepakatan krusial itu tercapai, suara lonceng elektronik bergema nyaring menembus dinding ruang ekstra.
"Yaudah... kita masuk kelas yuk. Udah mau mulai jam keempat," ajak Danu melirik jam tangannya.
"Jam keempat dimulai. Harap para siswa-siswi kembali ke kelas, terima kasih. / Fourth period begins, please students return to class, thank you."
Suara operator sekolah yang menggema dari speaker membuat Rio melebarkan mata. "Wah... belnya beda ya? Pakai bahasa Inggris segala!" seru Rio takjub.
"Dengar-dengar sih bel dua bahasa itu udah ada dari lama, cuma sistemnya baru selesai diperbaiki aja hari ini," balas Zahra sambil merapikan seragamnya.
"Ouhhh, pantesan," angguk Rio.
Mereka berlima pun bergegas keluar dari ruang ekstra, meninggalkan Kak Rizki yang masih termenung menatap dua lembar tiket bioskop di tangannya dengan sejuta tanda tanya.
Dua jam telah berlalu sejak rapat darurat di ruang ekstra. Kini, Kak Rizki berdiri di luar gerbang sekolah, menatap nanar ke arah lima adik kelasnya yang bersembunyi di balik pilar gerbang sambil melambaikan tangan—mengisyaratkan pesan heboh berbunyi: "Semoga berhasil, Kak! Jangan sampai gagal!"
"Hmm... ikut alur aja deh," gumam Kak Rizki pasrah. "Bioskop? Hmm, lumayan jauh sih dari sini, sekitar 10 kilometer. Mungkin sampainya jam setengah tujuh malam. Haa... yaudah deh, aku turuti saja kemauan anak-anak, kasihan mereka udah repot-repot."
Kak Rizki mulai melangkah menjauhi area sekolah dan mengeluarkan ponselnya. Ia mendial nomor Kak Diva untuk mengajaknya bertemu lebih dulu di alun-alun kota.
"Halo...?" terdengar suara dari seberang.
"Eh, Diva," sapa Kak Rizki santai. "Hmm... kita ketemuan yuk di alun-alun kota. Kita jadi nonton bioskop hari ini."
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum tiba-tiba terdengar suara pekikan tertahan. "EHHH...?! Bu-bukannya... aku... Ma-maksudku, i-iyaaa! Aku... aku akan datang!"
"Oke, aku tunggu di sana ya."
"Iya..."
Telepon dimatikan. Di tempat lain, Kak Diva yang sedang berada di kamarnya langsung melompat panik, membongkar seluruh isi lemarinya. "Aduh... gimana nih?! Aku harus cepat cari baju yang pas!"
Sementara itu, Kak Rizki berjalan santai menuju lokasi pertemuan. "Hmm... sebaiknya aku ke sana duluan. Mungkin dia akan lama siap-siapnya, karena ini kan lumayan mendadak."
Setibanya di alun-alun kota, tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk bertemu. Kak Diva tampak manis dengan pakaian kasualnya, meski wajahnya masih memerah salah tingkah. Mereka pun memberhentikan sebuah taksi dan meluncur menuju mal.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata—ralat, lima pasang mata—yang mengawasi pergerakan mereka dengan saksama. Kelima adik kelas itu rupanya tak main-main dengan misi pengawalan ini. Kini, mereka tengah membuntuti taksi tersebut menggunakan mobil milik Reno!
Sesampainya di lobi bioskop, Kak Rizki menoleh ke arah Kak Diva.
"Aku ke konter loket dulu ya buat beli popcorn sama minuman. Tiketnya kan sudah ada di kamu. Kamu tunggu di sini sebentar," ucap Kak Rizki polos.
"I-iya..." jawab Kak Diva menurut.
Pada saat yang sama, lima orang stalker amatir itu sedang berjongkok berdesakan di balik semak-semak pot tanaman hias besar tak jauh dari eskalator.
"Gila... beneran ke bioskop loh mereka!" bisik Rio takjub sambil mengintip.
"Iya... padahal gue kira Kak Rizki bakal gagal karena sifatnya yang terlalu polos itu," Zahra manggut-manggut setuju, ikut mengintip dari balik bahu Rio.
Sementara Kak Rizki sibuk mengantre camilan, Reno dengan sigap melesat ke loket tiket dan memborong lima tiket film yang sama persis dengan jadwal Kak Rizki.
"Aman, bos! Traktiran dari gue hari ini!" bisik Reno pelan begitu kembali, memamerkan lima lembar tiket di tangannya.
Selesai membeli urusan logistik, Kak Rizki dan Kak Diva mulai berjalan memasuki studio bioskop. Pasukan pengintai pun mengendap-endap masuk tak lama setelahnya.
Saat memasuki studio, suasana di dalam ternyata masih sangat sepi pengunjung, mengingat film tersebut baru saja tayang perdana hari ini.
Kak Rizki menunjuk deretan kursi di tengah. "Kita duduk di sini ya?"
"Iya..." balas Kak Diva pelan, jantungnya berdebar kencang bersiap untuk kencan pertama yang tak terduga ini.
BAB 26: Sedikit Kemajuan [Bagian Penutup]
Lampu studio perlahan meredup, menyisakan kegelapan yang dipecahkan oleh sorotan proyektor ke layar raksasa. Musik latar yang mencekam mulai mengalun, disusul oleh kemunculan judul film dengan desain menyeramkan yang langsung menegaskan genre tontonan mereka malam itu: Horor.
Di kursi tengah, Kak Diva menyembunyikan senyum tipisnya. Memilih film horor adalah bagian dari skenario rahasianya. Rencananya sangat klasik namun efektif: saat adegan menakutkan tiba, ia bisa berpura-pura kaget, merangkul lengan Kak Rizki, dan memangkas jarak di antara mereka.
Namun, hingga pertengahan film, ekspektasi Kak Diva sama sekali tidak sejalan dengan realita. Bukannya menciptakan momen romantis, Kak Rizki malah menonton dengan ekspresi luar biasa datar. Pemuda itu mengunyah popcorn dengan tenang layaknya sedang menonton tayangan dokumenter flora dan fauna, membuat Kak Diva diam-diam mengerucutkan bibirnya kesal.
Di beberapa baris kursi di belakang mereka, kelima pengintai mulai geregetan.
"Aduh, Kak Rizki kaku banget sih! Lakuin pergerakan kek!" bisik Rio frustrasi sambil mengintip dari balik sandaran kursi.
"Sst! Diam, Rio! Nanti kita ketahuan!" desis Zahra sambil menarik kerah belakang baju Rio agar kembali menunduk.
Di layar, adegan mulai mencapai klimaks. Sang tokoh utama sedang berjalan perlahan di sebuah lorong rumah tua yang gelap gulita. Suasana hening mencekam. Tiba-tiba...
GLAAARRR!
Efek suara petir yang sangat menggelegar meledak dari speaker bioskop, berbarengan dengan hantu yang melompat ke arah layar.
Kak Diva terlonjak kaget. Namun, sebelum ia sempat menjalankan rencana untuk memeluk lengan Kak Rizki, pemuda itu justru bergerak lebih cepat dengan refleks yang tidak terduga.
Tanpa ragu, Kak Rizki menarik bahu Kak Diva, mendekap gadis itu ke dalam pelukannya untuk melindunginya dari layar, lalu dengan lembut mengelus-elus puncak kepalanya.
"Ssst... nggak apa-apa, jangan takut. Cuma film, kok," bisik Kak Rizki dengan nada yang sangat lembut dan menenangkan.
Mata Kak Diva terbelalak lebar di dalam dekapan itu. Jantungnya berdegup gila-gilaan seolah mau melompat keluar dari dadanya. Wajahnya seketika memanas dan merona merah padam. Sensasi usapan lembut di kepalanya membuat pikirannya melayang bahagia. Dalam hati, Kak Diva bersorak kegirangan. Ia mengira bahwa perlakuan manis dan protektif ini adalah sebuah bukti nyata—sedikit kemajuan dari sosok Kak Rizki yang selama ini terkenal sangat tidak peka.
Padahal, kenyataannya sama sekali berbeda.
Di dalam kepala Kak Rizki, refleks memeluk dan mengelus kepala saat ada suara petir yang menggelegar itu murni karena kebiasaannya sehari-hari. Sebagai orang yang sering merawat anak-anak kecil di panti asuhan, ia sudah terprogram untuk langsung menenangkan anak-anak asuhnya yang sering menangis ketakutan saat badai petir turun. Baginya, ia hanya sedang menenangkan Kak Diva dengan insting yang sama persis seperti ia menenangkan anak panti yang sedang rewel.
Sementara itu, di barisan belakang, kekacauan kecil terjadi. Danu dan Reno harus sekuat tenaga membekap mulut Rio dari dua sisi agar pemuda itu tidak berteriak heboh merusak suasana. Zahra dan Putri saling menggenggam tangan sambil menahan pekikan gemas kegirangan, seratus persen yakin bahwa misi perjodohan mereka malam ini sukses besar.
Di balik kepolosan yang mematikan dan kesalahpahaman yang sangat manis itu, babak baru dari hubungan mentor dan kakak kelas tsundere itu perlahan mulai terbuka.
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...