Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bel istirahat pertama baru saja berbunyi, namun koridor depan kelas Alea dan Arka sudah dipadati lautan siswa dari berbagai angkatan. Mereka berdesak-desakan, berjinjit, menjulurkan leher — semua hanya untuk melihat sosok yang duduk di meja paling belakang: pahlawan yang pagi tadi menyelamatkan sekolah mereka.
Beberapa siswi bahkan sengaja berdandan menor dan menyemprotkan parfum beraroma menyengat, berharap dilirik oleh pewaris takhta Adiwangsa tersebut.
Namun, untuk bisa mendekati Arka, mereka harus berhadapan dengan sistem pertahanan paling absurd dan matrealistis di muka bumi, siapa lagi kalau bukan Alea.
Gadis berambut ikal yang dikuncir asal-asalan itu kini berdiri di ambang pintu kelas. Ia telah menyusun tiga meja belajar menjadi barikade, memegang sebuah penggaris kayu panjang layaknya pedang Excalibur.
"Ayo, ayo! Baris yang rapi! Jangan dorong-dorongan, nanti energi positif kekayaannya bisa luntur loh!" teriak Alea dengan suara melengking bak kernet metromini. Ia mengetuk-ngetuk penggaris kayunya ke meja.
"Yang mau lihat Bos Arka dari jarak lima meter, tarifnya sepuluh ribu! Yang mau numpang selfie dengan background Bos Arka lagi napas, dua puluh ribu! Pembayaran hanya menerima transfer ke e-wallet DANA gue! Ayo di-scan barcode-nya, rakyat jelata!"
Di kursinya, Arka memijat pangkal hidungnya yang mancung. Ia baru saja menggagalkan konspirasi tingkat tinggi ayahnya, tapi kini ia justru berakhir menjadi objek pameran berbayar yang dikelola oleh teman sebangkunya sendiri.
"Alea, lo benar-benar mengeksploitasiku di luar batas kemanusiaan," tegur Arka datar, meski ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya atau mencoba membubarkan massa.
Alea menoleh ke belakang, mengedipkan sebelah matanya dengan senyum liciknya.
"Ini namanya manajemen aset, Bos! Popularitas lo lagi di puncaknya, kalau nggak dimonetisasi sekarang, nanti tren lo keburu turun! Lagian lo cuma duduk diam aja, saldo gue udah nambah seratus ribu dalam sepuluh menit. Tenang aja nanti komisi lo gue beliin susu kotak cokelat, deal?"
Sebelum Arka sempat menolak tawaran komisi yang sangat merendahkan martabatnya itu, suara panggilan dari speaker sekolah bergema, mengalahkan hiruk-pikuk di depan kelas.
"Panggilan kepada siswi bernama Alea Ananda Putri. Harap segera menuju Ruang OSIS sekarang juga. Dana pelunasan untuk proyek desain banner sekolah sudah bisa dicairkan, namun Ketua OSIS menuntut penjelasan mengapa terdapat QR Code affiliate terselubung di sudut banner tersebut sebelum uang diserahkan."
Mendengar pengumuman itu, mata Alea langsung membelalak sempurna. Ekspresi wajahnya berubah dari serakah menjadi panik bercampur beringas.
"Njir! Duit gue ditahan birokrasi OSIS! Gak bisa di biarkan nih!" jerit Alea mengamuk. Ia langsung melompat melewati barikade mejanya, menerobos kerumunan siswa yang antre dengan brutal.
"Minggir woi, minggir! Kalau sampai Ketua OSIS berani potong komisi desain Canva gue gara-gara link affiliate, gue bisa rugi bandar nih! Bos! Tolong jaga lapak bentar ya! Kalau ada yang mau nyumbang sukarela, arahin aja langsung ke laci meja gue!"
Arka hanya bisa terdiam mematung, menatap punggung mungil itu menghilang di ujung koridor. Sang pewaris sindikat bawah tanah, pria yang pagi tadi menumbangkan pergerakan korporat raksasa, kini ditinggalkan sendirian untuk menjaga "lapak" tiket selfie demi secercah komisi desain spanduk.
Setengah jam kemudian, Alea kembali ke kelas dengan senyum mengembang hingga ke telinga. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja disidang OSIS, melainkan seperti seseorang yang baru saja memenangkan tender miliyaran. Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan sebuah amplop cokelat berisi uang tunai.
Sisa jam istirahat ia habiskan dengan menghitung lembaran uang hasil keringatnya memeras kas OSIS.
"Saldo aman, Bos! Nggak cuma pelunasan desain yang cair, gue juga berhasil cuci otak anak-anak OSIS buat nge-klik link affiliate, sabun pencerah wajah sama cleanser kolagen," gumam Alea bangga sambil mengelus amplopnya dengan penuh kasih sayang, lalu mengutak-atik ponselnya.
"Muka gue bakal glowing paripurna bulan depan, plus dompet gue kembali terisi. Eh... plot perdebatan gue sama Ketua OSIS tadi lumayan dramatis deh. Kayaknya asyik kalau gue tulis jadi novel romansa komedi, terus gue publish ke NovelToon. Siapa tahu nembus kontrak eksklusif, kan dapet royalti ganda!"
Arka, yang sejak tadi mengamati tingkah laku Alea dari samping, ia menyandarkan punggungnya dengan tenang. Dunianya yang penuh ancaman dan intrik terasa begitu jauh di dekat gadis ini. Alea adalah jangkar yang menahannya tetap di dunia, dunia yang berisik, sederhana, namun sungguh hidup.
Namun ia tahu satu hal: Hartawan Adiwangsa tidak pernah menyerah tanpa serangan balasan yang jauh lebih mematikan.
_____________
Bel pulang berbunyi. Setelah memastikan Alea tidak mendapat jadwal shift di kafe hari ini, Arka memaksa gadis itu untuk pulang bersamanya.
Kali ini, Alea menyerah tanpa banyak protes saat Arka menyerahkan helm ke arahnya, mengingat energinya terlah terkuras habis untuk menyusun katalog basreng dan kerangka cerita baru.
Motor sport itu melaju masuk ke gang sempit kawasan padat penduduk. Namun sebelum berbelok ke deretan rumah petak, mata tajam Arka menangkap sesuatu yang tak seharusnya ada di sana.
Sebuah sedan mewah Maybach terparkir angkuh tepat di depan kontrakan Alea — harganya setara dengan seluruh aset di blok itu. Dua pria berjas tegap berdiri menjaga pintu, tatapan mereka dingin dan waspada.
"Loh... itu mobil siapa yang ngehalangin jalan?" gumam Alea bingung dari balik bahu Arka.
Bersambung...