Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Sebelum Bang Edward sempat mendesak Aurel lebih jauh untuk mengakui alasan di balik kesedihannya, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah koridor ruang kerja. Mommy Zeline mendadak masuk ke ruang tengah, bermaksud mengambilkan stoples camilan tambahan untuk Papa Crish. Namun, langkah wanita paruh baya itu seketika terhenti tepat di samping sofa.

Sepasang mata Mommy Zeline membelalak sempurna saat menangkap basah putrinya sedang menyeka air mata, sementara Bang Edward masih duduk berjongkok di hadapannya dengan wajah panik. Radar pelindung seorang ibu kandung seketika menyala di level maksimal.

"Lho, lho... Aurel? Kamu kenapa menangis, Sayang?!" pekik Mommy Zeline dengan nada suara yang meninggi karena panik, langsung memotong pembicaraan dan interogasi Bang Edward.

Mommy Zeline bergegas meletakkan stoplesnya di meja, lalu duduk di sisi sofa dan langsung menarik Aurel ke dalam dekapan hangatnya. Ia mengusap punggung putrinya yang gemetar sembari melemparkan tatapan melotot tajam penuh selidik ke arah Bang Edward. "Edward! Kamu apain lagi si Aurel? Jangan bilang kamu bentak-bentak adiknya soal nilai kuliah lagi ya, Ward? Baru saja tadi sore kalian pulang senang-senang makan es krim, kok sekarang anak gadis Mommy malah kamu bikin menangis begini!"

"Eh! Enggak, Mom! Sumpah, demi Tuhan, Edward nggak ada ngapa-ngapain Aurel!" pekik Bang Edward kaget setengah mati, langsung mengangkat kedua tangannya ke udara karena merasa menjadi korban salah sasaran untuk kesekian kalinya. "Edward justru balik ke sini karena ngelihat muka Aurel mendadak ditekuk, Mom. Edward baru mau nanya dia kenapa, beneran nggak ada Edward usilin!"

Aurel yang berada di dalam pelukan ibunya hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menahan napas dengan jantung yang berdegup gila-gilaan. Rasa bersalah, salah tingkah, dan sesak di dadanya bercampur menjadi satu pusaran emosi yang melelahkan.

"Udah, Edward, kamu kembali saja dulu ke ruang tamu, gabung sama Papa dan Daddy-mu," perintah Mommy Zeline tegas namun lembut, tidak mau kenyamanan putrinya semakin terganggu. "Biar Aurel Mommy yang temani di sini. Mukanya sudah sembap begini, pasti dia kelelahan."

"I-iya, Mom. Edward minta maaf ya kalau kalimat Edward tadi ada yang salah," gumam Bang Edward pasrah dengan nada suara yang melunak drastis. Sebelum berbalik arah menuju ruang tamu, ia sempat melirik Aurel sekali lagi dengan tatapan penuh rasa bersalah dan khawatir seorang kakak yang teramat tulus.

Begitu sosok Bang Edward menjauh, Aurel menenggelamkan wajahnya di pundak Mommy Zeline, membiarkan setitik air mata terakhirnya larut di balik kain pakaian ibunya. Di bawah pendar lampu ruang tengah yang temaram malam itu, rasa cemburu yang menyiksanya akibat mendengar telepon mesra Bang Edward dan Kak Anita tadi perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan nyata dari pelukan sang ibu. Aurel mengembuskan napas panjang yang lega; labirin buntu hatinya malam ini tetap terkunci rapat, membiarkan rahasia cinta sepihaknya terkubur aman demi kedamaian dinasti keluarga besar mereka.

Di dalam dekapan hangat ibunya, isak tangis Aurel perlahan mulai mereda. Mommy Zeline mengelus lembut punggung putrinya, lalu menangkup kedua pipi Aurel dengan tatapan mata yang dipenuhi kelembutan seorang ibu.

"Sayang, coba cerita jujur sama Mommy. Benar bukan Edward yang menjahilimu? Pria itu tidak membentakmu atau memaksamu belajar terlalu keras, kan?" tanya Mommy Zeline memastikan, menyeka sisa air mata di sudut kelopak mata putri bungsunya.

Aurel menggeleng pelan, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis agar ibunya tidak semakin cemas. "Enggak kok, Mom. Ini sama sekali enggak ada kaitannya sama Bang Edward. Aurel tadi cuma mendadak pusing dan agak stres saja mikirin draf rumus bab empat Pak Baskoro yang susah banget. Ditambah mata Aurel emang lagi sensitif perih, makanya langsung keluar air mata. Bukan karena diusilin Bang Edward, beneran."

Mommy Zeline mengembuskan napas panjang, gurat kepanikan di wajahnya seketika sirna digantikan oleh helaan napas lega. "Oalah... Mommy kira Abangmu itu berulah lagi. Ya sudah, kalau memang bukan karena Edward, yuk kita ke ruang tamu depan. Kasihan Abangmu itu tadi mukanya langsung pucat dan merasa bersalah banget karena Mommy omelin."

Aurel mengangguk kaku, lalu beranjak berdiri mengekor di belakang ibunya. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang agak cepat sewaktu mereka berdua melangkah membelah koridor menuju ruang tamu depan yang riuh oleh suara obrolan Daddy Wira dan Papa Crish.

Begitu mereka berdua muncul di ambang pintu ruang tamu, suasana obrolan para pria paruh baya itu sempat melonggar. Bang Edward yang sedang duduk tegak di sofa tunggal langsung mendongak. Wajah tampannya tampak diliputi rasa cemas dan bersalah yang teramat besar, sepasang matanya langsung mengunci pandangan penuh khawatir pada Aurel.

Mommy Zeline melangkah mendekat, lalu mengulas sebuah senyuman hangat penuh penyesalan ke arah senior siaga satu itu. "Edward, Mommy minta maaf ya buat yang tadi di ruang tengah. Mommy tadi refleks panik melihat Aurel nangis sampai langsung ngomelin kamu tanpa nanya dulu. Ternyata si Bocil ini cuma lagi pusing dan stres mikirin draf rumus kuliahnya yang menumpuk, bukan karena kamu usilin."

Mendengar penjelasan dari Mommy Zeline, ketegangan di pundak Bang Edward seketika meluruh sepenuhnya. Pria itu langsung mengembuskan napas panjang penuh kelegaan, lalu memamerkan cengiran khasnya yang begitu manis.

"Aduh, puji Tuhan... Edward kirain Edward beneran ada salah ketik draf kalimat pas video call semalam, Mom," sahut Bang Edward santai dengan nada suara baritonnya yang kembali ceria, lalu beralih menatap Aurel yang berdiri di samping ibunya. Ia mengacungkan tinju tangannya ke udara dengan gaya jenaka. "Lagian lo sih, Rel! Bikin jantungan seisi rumah aja. Baru dikasih variabel bab empat dikit aja udah mau meledak itu air mata. Sini, duduk deket Abang lo yang ganteng ini, biar stres rumus lo ilang."

Melihat bagaimana Bang Edward begitu lega setelah namanya dibersihkan, dan mendengar perhatian spontan nan manis yang meluncur dari bibir pria itu, jantung Aurel kembali bertalu-talu keras di dalam rongga dadanya. Rasa deg-degan yang luar biasa bercampur dengan letupan rasa hangat kembali menguasai dirinya, membuat wajahnya dalam hitungan detik langsung memerah padam sempurna.

Aurel perlahan melangkah maju dan duduk di sisi sofa yang kosong, mencoba membalas cengiran abangnya demi menutupi salah tingkah gila-gilaannya. Di bawah pendar lampu ruang tamu yang hangat malam itu, di tengah riuhnya tawa Papa Crish dan Daddy Wira yang kembali meledek kepanikan Edward tadi, Aurel meremas pelan ujung piama satinnya. Pusaran cemburu akibat telepon mesra Bang Edward bersama Kak Anita tadi kini benar-benar telah terkubur aman di dasar hatinya. Di balik rahasia getir cinta sepihaknya yang tersembunyi rapat, Aurel tersenyum tulus, memilih untuk egois menikmati kehangatan dinasti keluarga besar mereka di sisa akhir pekan ini.

Suasana di ruang tamu kini benar-benar telah mencair sepenuhnya. Begitu Aurel mendaratkan bokongnya di sisi sofa yang kosong, Bang Edward tidak membuang waktu untuk memanjakan adik kecilnya itu. Dengan gerakan yang teramat alami, tangan kekar senior itu terulur, menjangkau kepala Aurel dan mengusap rambutnya dengan kelembutan yang luar biasa manis—sebuah perlakuan eksklusif yang selalu berhasil meluluhkan seluruh pertahanan hati Aurel.

"Nih, minum teh hangatnya dulu, Rel," ucap Bang Edward dengan nada suara bariton yang melembut drastis, seraya menyodorkan cangkir teh kamomil baru yang masih mengepulkan uap harum ke dekat jemari Aurel. "Makanya, kalau belajar itu jangan dipaksa sendiri sampai nangis begitu. Kan ada gue. Besok-besok kalau draf bab empatnya bikin lo pusing lagi, langsung panggil gue aja, biar gue yang turun tangan beresin rumus statistiknya. Paham?"

Mendengar perhatian manis nan tulus yang meluncur begitu dekat dari bibir Bang Edward, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan gila-gilaan yang teramat keras kembali bergemuruh hebat di dalam rongga dadanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak terasa hangat. Wajahnya dalam hitungan detik langsung memerah padam sempurna hingga ke hulu telinga. Aurel hanya bisa mengangguk kaku dengan senyum manis yang tertahan di bibirnya, menatap cangkir teh itu demi menyembunyikan salah tingkah gila-gilaannya.

Di saat Aurel sedang bergulat dengan debaran di dadanya, Daddy Wira yang duduk di seberang Papa Crish mendadak mengetuk meja kaca dengan pelan, mengalihkan atensi seluruh ruangan. Sebuah binar rencana yang besar dan ceria terpancar jelas dari wajah sang kepala keluarga.

"Oh, iya. Ngomong-ngomong soal merayakan kebaikan," sela Daddy Wira dengan suara lantangnya yang berwibawa. "Tadi di ruang kerja, Crish sama gue sempat kepikiran satu hal. Gimana kalau akhir bulan ini kita bikin agenda berlibur keluarga besar?"

"Wah, liburan ke mana, Wir?" tanya Mama Olivia langsung tertarik, merapikan letak duduknya di sofa.

"Kita ajak sekalian keluarga besarnya Shirin, Liv," timpal Papa Crish penuh semangat, memperjelas arah rencana mereka. "Kan kemarin malam Gavin sama orang tuanya Shirin baru saja landing dari luar negeri setelah urusan krisis perusahaannya beres total. Jadi, sekalian saja kita bikin liburan bersama ini untuk merayakan pulihnya bisnis mereka. Anggap saja ini syukuran dan penyegaran buat kita semua setelah penat bekerja."

"Aduh, ide bagus itu, Papi!" sahut Mommy Zeline penuh kehangatan, langsung menyetujui ide suaminya. "Kasihan juga anak-anak maba kita ini, si Aurel sama Shirin pasti butuh refreshing setelah digempur habis-habisan oleh tugas lapangan Pak Baskoro kemarin. Gimana kalau kita sewa vila besar di daerah Puncak atau sekalian terbang ke Bali akhir pekan depan?"

"Setuju banget, Mom! Edward siap jadi seksi sibuk perkumpulan dinasti keluarga kita malam ini!" timpal Bang Edward heboh, langsung menyengir lebar sembari merangkul gemas pundak Aurel dengan lengan kekarnya, menghancurkan sisa-sisa jarak di antara mereka. "Gimana, Cil? Setuju kan lo? Biar lo bisa puas makan es krim di pantai tanpa perlu dihantui rumus statistik lagi."

Rangkulan erat dan aroma jaket kulit Bang Edward yang mendadak mengepung indra penciumannya dari jarak sedekat ini benar-benar membuat napas Aurel terasa tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu keras, bertalu-talu gila-gilaan memenuhi rongga dadanya.

Di tengah kehebohan rencana liburan bersama keluarga Shirin yang mulai digodok riuh oleh kedua orang tua mereka malam itu, rasa bahagia yang manis sekaligus getir yang mendalam kembali bergejolak hebat di hulu hati Aurel. Ia sadar sepenuhnya, rencana liburan yang indah dan perhatian luar biasa manis dari Bang Edward malam ini murni dikemas dalam batas aman hubungan kakak-adik. Ruang asmara senior itu selamanya tetap milik Kak Anita, yang mungkin juga akan ikut serta dalam liburan nanti. Namun di bawah pendar lampu ruang tamu yang hangat, Aurel memilih untuk egois; membiarkan dirinya hanyut dalam debaran gila di dadanya, mendekap erat rahasia cinta sepihaknya yang teramat indah dalam lembaran hidupnya.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Daddy Wira langsung merogoh saku kemeja batiknya dan mengambil ponsel pintarnya. Senyum lebar penuh semangat masih terpatri di wajah tegas pria paruh baya itu saat ia mencari kontak bertuliskan 'Tom (Papa Shirin)' di daftar panggilan.

"Biar nggak cuma jadi wacana, sekarang juga gue telepon si Tom," ujar Daddy Wira lantang, memicu anggukan setuju dan tawa renyah dari Papa Crish di seberang meja.

Aurel yang masih berada dalam rangkulan gemas Bang Edward seketika menahan napasnya. Ketukan jari Daddy Wira pada layar ponsel seolah berirama dengan detak jantungnya sendiri yang sejak tadi masih berdegup kencang akibat usapan manis di rambutnya oleh senior di sebelahnya itu.

Beberapa detik nada sambung terdengar nyaring di ruang tamu yang mendadak hening, sebelum akhirnya suara bariton yang terdengar begitu lega dan berseri-seri menyahut dari seberang sambungan telepon.

"Halo, Wira? Ada apa, Wir? Tumben malam-malam telepon, kangen ya?" sapa Om Tom dari seberang saluran, diselingi suara tawa khasnya yang kini terdengar jauh lebih lepas tanpa beban setelah kepulangannya dari luar negeri kemarin.

Daddy Wira terkekeh lepas, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Hahaha! Bukan cuma kangen, Tom. Ini gue lagi kumpul keluarga sama Crish dan Olivia di rumah. Kami semua baru saja dengar kabar luar biasa dari Gavin kalau urusan krisis perusahaan lo di luar negeri sudah beres total seratus persen dan lo sudah landing dengan selamat di Indonesia."

"Puji Tuhan, Wir. Semua berkat doa dan dukungan dari kalian juga selama gue di sana. Badainya sudah resmi lewat sekarang," sahut Om Tom penuh rasa syukur yang teramat dalam.

"Nah, justru karena badainya sudah lewat, gue, Crish, sama para istri punya satu rencana besar, Tom," potong Daddy Wira taktis, memajukan tubuhnya ke depan meja kaca. "Akhir bulan ini, gimana kalau kita bikin agenda berlibur keluarga besar bersama? Kita sewa vila besar di daerah Puncak atau sekalian terbang ke Bali. Anggap saja ini acara syukuran ganda buat merayakan pulihnya bisnis lo, sekaligus kasih penyegaran buat anak-anak gadis kita, si Shirin sama Aurel, yang mukanya lecek digempur tugas kuliah terus."

Di seberang telepon, Om Tom sempat terdiam sejenak karena terkejut dengan ide spontan tersebut, sebelum akhirnya suara tawa bahagianya kembali meledak riuh. "Gila, Wir! Ide lo brilian banget! Kebetulan banget gue sama istri emang lagi mikir pengen ajak Shirin jalan-jalan buat nebus waktu kami yang hilang selama di luar negeri kemarin. Gavin sama Febi juga pasti langsung setuju kalau diajak liburan dinasti keluarga kita begini. Fiks, gue ikut ambil bagian! Atur jadwalnya sekarang, nanti biar Gavin yang koordinasikan urusan transportasinya!"

"Mantap! Berarti fiks ya, liburan keluarga besar kita jadi akhir bulan ini!" seru Daddy Wira puas, mengacungkan jempol mantap ke arah Papa Crish dan Mommy Zeline yang langsung bersorak gembira menyambut persetujuan tersebut.

"Tuh, denger kan lo, Cil? Resmi liburan kita!" bisik Bang Edward heboh tepat di dekat telinga Aurel, sembari kembali memberikan tepukan gemas di bahunya.

Hembusan napas hangat dan kedekatan jarak dengan Bang Edward malam itu kembali memicu debaran gila-gilaan yang teramat keras di dalam rongga dada Aurel. Rasa deg-degan yang luar biasa kembali membuat seluruh tubuhnya menghangat, memicu semburat merah padam yang sempurna di pipinya.

Di tengah keriuhan rencana liburan bersama keluarga Shirin yang kini sudah resmi disetujui oleh para orang tua, Aurel tersenyum tulus sembari meremas pelan ujung piama satinnya. Ia tahu betul, liburan ini akan dipenuhi oleh momen-momen hangat keluarga besar mereka yang sangat indah. Di balik rahasia getir cinta sepihaknya kepada Bang Edward yang tetap terkunci rapat di dasar hati, Aurel memilih untuk egois sejenak; membiarkan dirinya hanyut dalam debaran gila di dadanya, menikmati kebahagiaan manis yang tersaji di akhir pekan yang sempurna ini.

Mendengar rencana liburan keluarga besar yang sudah resmi mendapatkan lampu hijau dari Om Tom, Bang Edward tidak mau kalah gesit. Dengan mata yang berbinar penuh semangat, ia langsung merogoh saku celananya dan meraba ponselnya.

"Bentar, Edward telepon Anita sekarang. Biar sekalian dinasti keluarga kita lengkap malam ini, Mom, Dad!" seru Bang Edward heboh sembari buru-buru menekan tombol panggilan suara ke arah kekasihnya.

Aurel yang masih duduk di sebelah Bang Edward menahan napasnya kembali. Setiap kali nama Kak Anita disebut, ada denyut halus yang samar di sudut hatinya. Namun, rasa penasaran melihat kehebohan rencana liburan ini membuat Aurel tetap setia menyimak di tempatnya.

Hanya butuh tiga kali nada sambung sampai suara lembut Kak Anita menyahut dari seberang telepon. "Halo, Edward? Ada apa malam-malam telepon? Kamu belum pulang dari rumah Aurel?"

"Belum, Sayang. Ini aku masih kumpul di ruang tamu sama Daddy Wira, Mommy Zeline, dan Papa Mama," jawab Bang Edward dengan nada suara baritonnya yang seketika melunak manis—sebuah perubahan nada eksklusif yang selalu berhasil membuat jantung Aurel berdesir perih. "Eh, kamu lagi apa? Aku punya kabar luar biasa gembira nih buat kita semua!"

"Kabar apa? Aku ini lagi santai di ruang tengah, lagi nemenin Papa sama Mama  nonton televisi," sahut Kak Anita dari seberang sambungan, menyebutkan keberadaan kedua orang tuanya yang juga sedang berkumpul lengkap.

"Pas banget kalau Om Viktor sama Tante Amy lagi ada di situ!" seru Bang Edward penuh semangat, memajukan tubuhnya ke depan meja kaca. "Jadi begini, Sayang. Barusan Daddy Wira habis telepon Om Tom, papanya Shirin. Urusan bisnis keluarga Shirin di luar negeri kan sudah pulih total dan mereka sudah pulang ke Indonesia. Nah, Daddy Wira sama Papa Crish punya rencana besar buat bikin agenda berlibur keluarga besar bersama akhir bulan ini ke Puncak atau Bali! Anggap saja ini syukuran ganda. Om Tom sudah fiks setuju. Sekarang, aku mau nanya, keluarga kamu mau ikut gabung sekalian nggak biar makin ramai?"

Di seberang saluran, Kak Anita sempat tersentak pelan karena terkejut mendengarkan rentetan penjelasan kekasihnya yang menggebu-gebu. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara geseran duduk Kak Anita yang tampaknya langsung menoleh ke arah orang tuanya di ruang tengah.

"Papa, Mama... ini Edward lagi telepon," suara Kak Anita terdengar sedikit menjauh dari mikrofon ponselnya, langsung menanyakan perihal rencana itu pada kedua orang tuanya. "Katanya akhir bulan ini Daddy Wira sama Papa Crish mau ngadain liburan keluarga besar bersama keluarganya Shirin juga, buat merayakan pulihnya perusahaan Om Tom yang baru balik dari luar negeri. Keluarga kita diajak gabung sekalian, Pa, Ma. Gimana? Kita ikut, kan?"

Samar-samar dari pengeras suara ponsel Bang Edward, terdengar suara bariton berwibawa dari Papa Viktor dan sahutan hangat dari Mama Amy yang langsung menanggapi dengan antusias di ruang tengah rumah mereka. Rencana besar akhir bulan ini tampaknya benar-benar akan menjadi liburan dinasti keluarga besar yang paling riuh dan tidak terlupakan.

Di sofa ruang tamu rumahnya sendiri malam itu, Aurel meremas pelan ujung piama satinnya dengan debaran dada yang masih bertalu-talu keras akibat posisi duduknya yang begitu dekat dengan Bang Edward. Di tengah riuhnya rencana liburan yang kini merembet semakin besar, Aurel memaksakan sebuah senyuman ceria yang paling manis demi menutupi pusaran emosi yang campur aduk di hulu hatinya. Ia tahu betul, liburan ini akan membawa kebahagiaan yang lengkap bagi semua orang. Di balik rahasia getir cinta sepihaknya yang tetap terkunci rapat di dasar hati, Aurel memilih untuk egois sejenak; membiarkan dirinya menikmati kehangatan akhir pekan yang sempurna bersama keluarga besar yang teramat menyayanginya.

Dari seberang telepon, suara Kak Anita sempat menjauh selama beberapa saat. Terdengar kasak-kusuk diskusi yang hangat di ruang tengah rumahnya, disusul oleh suara tawa renyah dari Mama Amy dan gumaman setuju yang berat khas Papa Viktor.

Bang Edward memajukan tubuhnya, menempelkan telinganya lebih dekat ke ponsel dengan wajah penuh harap. Di sebelahnya, Aurel juga ikut menahan napas, menanti jawaban yang akan menentukan seberapa besar rombongan liburan dinasti keluarga mereka akhir bulan nanti.

Tidak lama kemudian, suara Kak Anita kembali terdengar jelas di dekat mikrofon ponsel, membawa nada riang yang sangat kentara.

"Edward? Kamu masih di sana, kan?" panggil Kak Anita memastikan.

"Masih, Sayang. Gimana-gimana? Om Viktor sama Tante Amy kasih lampu hijau nggak?" cecar Bang Edward tidak sabar, memicu kekehan geli dari Daddy Wira dan Papa Crish yang ikut menyimak dari sofa seberang.

Kak Anita tertawa kecil di seberang saluran. "Aman, Edward. Barusan Papa Viktor langsung bilang setuju banget. Kebetulan akhir bulan ini jadwal sidak proyek Papa lagi kosong, jadi pas banget momennya buat refreshing. Mama Amy juga tadi langsung heboh, katanya udah lama banget nggak kumpul komplit sama Tante Zeline dan Tante Olivia buat arisan sekalian jalan-jalan."

 "Bilang sama Edward, Wir, dan Crish, nanti biar urusan vila tambahan atau akomodasi logistiknya diposisikan bareng-bareng ya, Nita!"

Sayup-sayup, suara lantang nan berwibawa dari Papa Viktor mencuat dari latar belakang telepon, menyampaikan pesan resmi selaku kepala keluarga untuk para sahabat lamanya.

"Tuh, denger kan? Papa sama Mama fiks ikut!" lanjut Kak Anita penuh kegembiraan. "Mama malah udah berencana mau bikin menu masakan khusus buat kita bakar-bakar nanti di sana. Pokoknya atur aja tanggal pastinya, nanti kabari aku lagi ya, Edward."

"Siap, Tuan Putri! Kabar dilaksanakan seratus persen! Makasih ya, Sayang. Salam buat Om Viktor sama Tante Amy," sahut Bang Edward penuh kemenangan sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan senyum lebar yang terpancar jelas di wajah tampannya.

"Yes! Fiks komplit semua dinasti keluarga kita ikut, Dad, Pa!" seru Bang Edward heboh, langsung melakukan gerakan high-five udara.

Karena terlampau gembira, senior siaga satu itu secara refleks langsung memutar tubuhnya dan merangkul gemas pundak Aurel dengan lengan kekarnya, menarik adik kecil kesayangannya itu ke dalam dekapan yang teramat dekat dan hangat. "Denger kan lo, Cil? Rombongan kita bakal ramai parah! Lo harus siap-siap dandan yang rapi, jangan sampai pas liburan muka lo masih lecek gara-gara rumus Pak Baskoro!"

Dipeluk seerat itu dalam jarak yang nyaris tanpa sekat, ditambah aroma maskulin jaket tebal Bang Edward yang langsung mengepung indra penciumannya, seketika membuat seluruh tubuh Aurel membeku kaku. Jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, berdegup dengan sangat keras hingga dentumannya bertalu-talu gila-gilaan di dalam rongga dadanya. Rasa deg-degan yang luar biasa dahsyat bergolak hebat bersama rona merah padam yang kini sudah matang sempurna memenuhi seluruh pipi hingga ke hulu telinganya.

Aurel terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura membetulkan letak bantal sofa demi menyembunyikan salah tingkahnya yang sudah berada di level maksimal dari pandangan Daddy Wira dan Mommy Zeline. Di tengah riuhnya sorak-sorai kedua orang tua mereka yang mulai sibuk merembungkan tanggal keberangkatan malam itu, Aurel mengembuskan napas pendek yang sarat akan letupan rasa hangat sekaligus getir yang campur aduk.

Ia tahu betul, liburan keluarga besar bersama keluarga Shirin dan Kak Anita nanti akan menjadi momen yang sangat indah sekaligus menjadi ujian terberat bagi ketahanan hatinya. Namun, di bawah pendar lampu ruang tamu yang hangat malam ini, didekap oleh rangkulan manis dari cowok yang dicintainya dalam diam, Aurel memilih untuk egois sejenak; membiarkan hatinya hanyut dalam debaran gila yang indah, menyimpan rapat rahasia cinta sepihaknya di lembaran hidupnya yang terdalam.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!