Indonesia
NovelToon NovelToon
BARSHA

BARSHA

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Masalah Pertumbuhan / Persahabatan / Tamat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Chintya

BARSHA sosok seorang gadis cantik dengan kepribadian ceria, menjadi anak tengah diantara dua saudaranya, dia selalu terabaikan, tidak di anggap dan selalu harus mengalah dari adiknya.
Tidak bisa memilih apa yang dia inginkan, jauh dengan keluarga dan jarang berada di rumah, dia adalah gadis yang benci dengan namanya sendiri, rasanya menjadi anak tengah terlalu sulit baginya, dia harus berperan sebagai kakak bagi adiknya dan menjadi adik yang harus menurut dengan kakaknya.

Kisah Barsha ini kuat menggambarkan kisah dari seorang anak tengah dan semua rasa sakit yang dialaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Chintya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Sekolah

Aku langsung pergi meninggalkan mereka dengan cepat karena tidak ingin berurusan lagi dengan orang-orang semacam mereka berdua ini yang selalu perfeksionis dan mementingkan nilai, benar-benar menjengkelkan jika harus terus berada diantara kedua orang yang menjengkelkan seperti mereka berdua itu.

"Aishh..menjengkelkan sekali harus berhadapan dengan dua orang yang berisik itu, membuat hidupku tidak nyaman saja," gerutuku sepanjang jalan dengan perasaan yang kesal dan dipenuhi dengan emosi terus menerus tanpa henti.

Hingga sesampainya di halte bus aku pikir saat ini aku sudah benar-benar terbebas dari kedua saudara kembar pengganggu itu namun rupanya dugaanku sangat sangat salah besar, aku baru saja hendak duduk saat itu dan tiba-tiba dari belakang halte muncul Tisa mengagetkan aku sambil membawa sebuah buku dan bolpoin di tangannya.

"Hai..Barhsa...," Ucapnya muncul dari belakangnya dan hanya kepala dia saja yang pertama kali aku lihat nampak di samping aku secara tiba-tiba.

Saat itu tentu saja aku kaget dan terperanjat ke samping menghindar darinya dengan cepat, untung saja saat itu aku juga tidak sampai jatuh ke ujung kursi atau sebagainya.

"Aaahhhh...astaga... Kau? Mau apa kau kemari?" Ucapku sambil membentak dia dengan keras dan membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat itu.

Dia hanya tersenyum cengengesan tidak jelas kepadaku lalu langsung saja duduk di sampingku dan meminta aku menjelaskan lagi rumus salah satu soal yang tidak bisa di kerjakan oleh dia sebelumnya.

"Ini.... bagaimana caranya kamu mengerjakan semua ini, aku salah mengerjakannya, tolong beritahu aku cara kedua soal ini yang tidak bisa aku kerjakan, nanti aku bisa memberikan apapun yang kamu mau." Ucap Tisa dengan wajahnya yang begitu antusias dan memiliki banyak sekali harapan kepadaku saat itu.

Aku hanya bisa menatap dia dengan kebingungan dan kedua alis yang aku kerutkan saat itu, dia benar-benar sangat menjengkelkan dan membuat aku sangat heran, tapi karena dia mengatakan akan memberikan apapun yang aku mau, aku pikir ini adalah sebuah kesempatan emas untukku, aku bisa meminta apapun dari orang kaya yang sangat perfeksionis ini.

"Aaahhh...kau benar mau memberikan apapun yang aku inginkan? Meski aku meminta uang yang banyak padamu atau meminta agar kau membelikan aku sepeda?" Tanyaku kepada dia untuk memastikan.

Yang tidak aku sangka dia benar-benar langsung mengangguk, menunjukkan bahwa dia benar-benar setuju, dia akan melakukan semua yang aku ucapkan kepadanya saat itu.

Untuk beberapa saat aku benar-benar kaget dan tidak menduga jika tidak benar-benar akan memberikan semua itu, karena aku tahu sepeda itu memiliki harga yang mahal makanya aku tidak bisa membelinya dan harus terus mengumpulkan uang untuk bisa membeli sebuah sepeda, awalnya aku benar-benar senang dan ingin mengatakan kepada dia agar dia bisa membelikan aku sepeda saat itu baru aku akan membantunya.

Namun setelah aku pikirkan lagi, Varel mengajarkan aku tanpa aku beri apapun jadi aku merasa tidak nyaman jika harus meminta barang mahal atau uang yang begitu banyak kepada Tisa, meski dia orang kaya tetapi aku tahu semua itu milik kedua orangtua mereka bukan hasil dari mereka sendiri, aku pun mengurungkan niatku dan mengubah ekspresi di wajahku yang tadinya begitu senang menjadi datar dan menghembuskan nafas dengan lesu.

"Huuhh....sudahlah Tisa kau tidak perlu memberikan apapun padaku, aku akan memberitahumu caranya, ayo kemarikan bukunya," ucapku kepada dia.

Tisa langsung saja tersenyum lebar aku tahu dia sangat senang saat itu dan segera saja aku menjelaskan bagaimana cara mengisinya hingga selesai dan Tesa langsung berterimakasih kepadaku dengan terus menerus saat itu.

"Aaahh..Barsha terimakasih banyak, kau adalah penyelamatku, sekarang aku sudah bisa pulang dan bisa mengalahkan Jepri, ahaha.... terimakasih Barhsa," ucap Tisa sambil memelukku dengan erat dan wajah dia yang sangat bahagia dan terus terlihat begitu ceria.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang yang selalu terlihat jahat, cuek dan tidak pernah bergabung dengan anak lainnya sekarang malah memeluk aku dengan wajahnya yang tersenyum lebar dan terus bersemangat, tentu itu sedikit membuatku agak kaget. Aku juga mulai mengerti ternyata memang harus kita yang lebih dulu berbuat baik pada orang lain setelah itu, orang sekeras apapun pasti akan luluh dengan mudah seperti yang terjadi kepada Tisa dan aku saat ini.

Aku juga segera menyuruh Tisa untuk melepaskan pelukannya padaku karena aku sudah harus pulang saat itu, bus yang akan aku naiki sudah tiba saat itu, namun dengan cepat Tisa menahanku dan dia mengatakan untuk mengantarkan aku pulang saat itu.

"Aih.... Tidak sudah berhenti berhenti lepaskan aku, bus ku sudah tiba aku harus segera pergi!" Ucapku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya saat itu.

Untungnya dengan cepat dia melepaskannya namun justru dia malah menggenggam tanganku dan menarik aku dengan kuat sekaligus tanpa aba-aba sampai aku terbawa olehnya dan masuk ke dalam mobilnya saat itu yang ternyata di parkiran tidak jauh dari sana bersama dengan supir pribadinya juga ada Jepri di dalam sana.

"Ayo Barsha sebaiknya kau ikut denganku saja, biar aku yang mengantarkan kamu pulang oke, ayo," ucapnya begitu saja.

"E...ee..ehhh...Tesa...aku mau pulang sendiri, Tesa...hei....." Ucapku berusaha untuk melepaskannya.

Namun sayang sekali dia lebih cepat menarikku dan aku langsung saja tersungkur jatuh dan masuk ke dalam mobilnya bersampingan dengan Jepri yang juga menatap kaget terperangah kepadaku saat itu.

Suasana mulai nampak canggung dan aneh karena aku duduk di tengah-tengah mereka berdua saat itu, mobil juga sudah melaju karena Tesa sudah menyuruh sang supir untuk melajukan mobilnya saat itu sedangkan Jepri terus menatap dengan tatapan yang membuat aku merinding di buatnya.

"Tesa...kenapa kau membawa anak tengil ini ke dalam mobilku?" Ucap Jepri mengatai aku dengan sebutan tengil.

Tentu saja aku sangat marah dan kesal, aku langsung membentak dia dan memotong pertanyaannya kepada Tesa, aku terus saja menatap tajam kepadanya dan tidak ingin berada di dalam mobil itu lagi.

"Apa kau bilang? Seenaknya saja kau mengatai aku tengil, heh kalau kau iri dengan adikmu yang sudah aku beri jawaban soalnya, kau tidak perlu seperti itu, kemarikan tanganmu!" Ucapku sambil langsung menarik tangan Jepri dengan sangat kuat.

Lalu aku langsung saja mencoret tangannya itu dengan beberapa rumus soal yang tidak bisa dia kerjakan karena aku tahu soal yang sulit dia kerjakan adalah soal yang sama dengan soal yang ditanyakan oleh Tesa kepada aku sebelumnya.

"Eee...ee....ehh....apa yang mau kau lakukan hei, lepaskan tanganku!" Teriak Jepri berusaha berontak..aku terus mengunci tangannya dan memegangi dia di bantu dengan Tisa saat itu.

"Diam kau aku hanya ingin menuliskan rumus dan jawaban soal itu di tanganmu agar kau tidak iri lagi pada adikmu, lalu malah melampiaskannya kepada orang lain sepertiku yang tidak bersalah....aahh," ucapku kepadanya dengan memberikan tatapan tajam.

"Hei kau tidak bisa mencoret tanganku seperti itu, aku tidak terima hei!" Berontak Jepri padaku.

Sayangnya semua itu hampir selesai dan tangannya sudah penuh dengan rumus serta jawaban yang sudah aku tulis, kemudian aku langsung menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya saat itu juga, karena memang sudah dekat dengan kompleks rumahku.

"Heh....heh..heh..hentikan, cepat hentikan mobilnya!" Bentakku sangat kencang dan melotot tajam kepadanya.

Dengan cepat akhirnya mobil itu berhenti, aku segera pergi dari sana secepatnya dan segera saja keluar dari sana juga tidak lupa untuk berterimakasih kepada Tisa saat itu juga, walau aku sangat kesal dengan kakaknya Jepri tapi aku tahu mungkin saja niat Tisa itu baik, ingin mengucapkan terimakasih kepadaku dengan cara seperti itu dan aku menghargai usahanya tersebut.

"CK....heh..Jepri kau jangan terlalu lebai terus memegangi tanganmu seperti itu, lagian itu hanya tinta cair bukan tato yang membuat kulitmu terbakar, dengan air dan sabun sudah bisa hilang, dan kau Tidak, terimakasih atas tumpanganmu aku bisa pulang sendiri," ucapku kepada mereka lalu langsung menutup pintu mobilnya cukup kencang.

Aku segera pergi berjalan sendiri menyusuri jalan dan aku lihat mobil yang di tumpangi Tisa juga Jepri pergi dari sana, Tisa juga melambaikan tangan kepadaku dan aku hanya menatap kepergiannya saja saat itu.

Setelah mereka pergi baru aku bisa bernafas lega dan terus tertawa lebar kala mengingat ekspresi wajah dari Jepri yang terlihat sangat lucu sebelumnya dia benar-benar manusia konyol yang baru pertama kalinya aku lihat ketakutan hanya karena tangannya di coret oleh sebuah bolpoin cair olehku saat itu.

"Ahaha..wajahnya konyol sekali, huaahahha...dia benar-benar manusia konyol," ucapku terus tertawa lebar seorang diri.

Hingga tiba-tiba saja Niko muncul dari belakangku sambil merangkul pundakku begitu saja, ditambah Ciko yang juga malah ikut-ikutan mengacak rambutku dengan tangannya cukup kasar saat itu, hal tersebut membuat aku sangat emosi dan begitu kesal kepada mereka berdua.

"Hah....kenapa kau tertawa sendiri, seperti orang gila?" Ucap Niko kepadaku saat itu.

"Aishhh...hei...Ciko! Berhenti mengacak rambutku, apa kau tidak bisa mengacak rambutmu sendiri saja hah?" Bentakku kepadanya sambil menghempaskan tangan dia yang terus memegangi kepalaku seenaknya.

Mentang-mentang dia lebih tinggi dariku sehingga dia selalu saja memperlakukan aku seenaknya seperti itu, semua kelakuan mereka benar-benar sangat menjengkelkan sekali, di tambah Niko yang terus merangkul aku seperti itu membuat jalanku terbatas dan sangat tidak nyaman dengan posisi seperti itu.

"Aishh....kau lagi, apa apaan sih lepaskan tanganmu dariku, eughhhh," ucapku sambil menarik tangan Niko dan langsung memelintirkannya sampai dia terlihat meringis kesakitan dan meminta ampun padaku saat itu.

"AA....AA....aaa..Barsha cukup cukup, ayo lepaskan....aaaahh, lepaskan tanganku cepat kau bisa mematahkannya sial!" Ringis Niko sambil terus saja menahan sakit di tangannya yang aku pelintirkan dengan kesal.

Karena melihat dia yang sudah kesakitan seperti itu dengan cepat aku melepaskan dan langsung memperingati dia agar tidak melakukan hal seperti tadi lagi, mengagetkan aku dan terus saja merangkul pundakku membuat aku kesulitan berjalan dan tidak nyaman dengan bau badannya itu.

"Heh..aku peringatkan padamu jangan pernah kau merangkul aku lagi seperti itu, kau sangat menjengkelkan sekali, dan bau badanmu itu aishhh kau seperti buah busuk," ucapku kepadanya yang membuat Ciko juga ikut tertawa saat itu.

Niko yang kesal aku ejek seperti buah busuk dia malah dengan sengaja terus menarik aku untuk mencium bau badannya saat itu, dan aku tidak bisa seperti itu, terus menghindar semampuku dan terus saja kami bercanda seperti itu di sepanjang jalan tanpa henti.

Hal yang sangat menyenangkan dan begitu lucu saat itu, dan mungkin momen-momen seperti inilah yang suatu saat nanti akan sangat kami rindukan ketika kami sudah tidak bersama lagi, entah untuk menggapai impian masing-masing ataupun menata hidup baru di tingkatkan pendidikan yang lebih tinggi nantinya.

"Aishh.. Barsha kemari kau, beraninya kau mengataiku seperti itu!" Teriak Niko padaku.

Dengan cepat aku berlari untuk menghindar darinya dan dia terus saja mengejar aku dengan cepat hingga larianku terhenti ketika melihat ibunya Varel tengah berdiri di depan pintu rumahku dan dia tidak jadi mengetuk pintu karena melihat aku yang tiba saat itu.

"Tante sedang apa berdiri disana?" Tanyaku kepadanya.

Belum sempat Tante menjawabnya Niko muncul dari belakangku dan dia mengagetkan aku dengan langsung saja mengunci leherku dengan tangannya dari belakang saat itu.

"Hah! Mau kemana lagi kau, aku sudah menangkap mu kau tidak akan bisa lari lagi!" Ucap Niko kepadaku da aku terus menepuk tangannya berusaha untuk memberitahu dia bahwa di depan sana ada ibunya Varel yang menatap ke arah kami sambil memperhatikan tinggal konyolnya tersebut.

"Hei..hei..lepaskan aish lihat kesana apa kau tidak melihatnya ada Tante Nina di depan, hei!" Ucapku sambil terus menepuk tangannya dan memberitahu dia tentang keberadaan Tante Nina saat itu.

Namun sayangnya si bodoh Niko ini sama sekali tidak mempercayai ucapanku dan dia malah terus saja menahanku begitu ditambah malah menyuruh aku untuk mencium bau badannya, hal itu benar-benar sangat memalukan untukku, sedangkan dia masih belum sadar juga, hingga Tante Nina yang mengeluarkan ucapan lebih dulu, sampai barulah setelah itu dia sadar dan menatapnya ke depan sambil segera melepaskan aku dengan cepat.

"Haha...apa kau pikir aku akan tertipu denganmu, aku sudah tidak bodoh lagi, aku tahu kau membohongiku agar bisa kabur dariku bukan?" Ucapnya terus seperti itu.

"Aishh ..kau benar-benar sangat bodoh, itu beneran Tante Nina di depan kau coba lihatlah bodoh!" Bentakku saking kesalnya kepada dia.

"Haha..tidak bisa, ayo cium saja terus bau badanku olehmu, ayo terus cium sampai kau pingsan kalo bisa hahaha," ucapnya benar-benar menjengkelkan dan membuat aku kehabisan kata-kata lagi.

"Niko lepaskan Barsha," ucap Tante Nina yang menyadarkannya.

"Ehhh... Ya..ta..Tante...ahaha. Maafkan aku Tante tadi aku tidak sadar, sedang apa Tante disini, apa Tante tidak di kantor?" Tanya dia langsung berasa basi saat itu juga.

Aku segera merapihkan seragamku dan berdecak pelan menatap sinis kepadanya hingg Ciko juga tiba dari belakang kami saat itu.

"Aahhh.. syukurlah kalian sedang kumpul, Tante hanya ingin memberitahukan bahwa Varel akan tayang di tv untuk olimpiade penciptaan robotnya malam ini jam delapan, kalian bisa menontonnya bersama dia pasti akan sangat senang jika tau kalian menonton pertandingan dia saat ini, karena ini adalah pertandingan semifinal baginya," ujar Tante Nina memberitahu kami semua.

Mendengar itu aku sangat kaget dan benar-benar kagum mendengar ucapan itu darinya, Varel benar-benar orang yang sangat hebat dia bisa mengalahkan banyak peserta lombanya di negara ini yang sampai ke angka ribuan tersebut.

"Wahh...Tante dia sangat hebat tentu saja aku akan menontonnya, kami akan menonton acara itu di rumah Niko, aku juga akan mengajak adikku dan kak Anton untuk ikut menontonnya juga ini adalah hal yang penting." Ucapku begitu antusias kepadanya.

Terlihat Tante Nina tersenyum kepadaku saat itu da dia langsung saja datang memeluk aku dengan erat begitu saja, membuat aku Niko, dan Ciko merasa heran kepadanya.

"Ee..ehh ..Tante ada apa ini, apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya.

"Barsha terimakasih banyak kamu sudah mau menonton Varel, Tante mohon kamu bisa kirimkan video pertandingannya pada Tante nanti, ini pakai ponsel ini untuk merekamnya, Tante sangat merasa bersalah karena tidak bisa menonton siaran langsung tersenyum, karena masih harus bekerja lembur hari ini dan saat ini Tante juga hanya izin dari perusahaan, waktunya tidak lama Tante sudah harus kembali sekarang, kamu bisa kan memvideokan pertandingannya untuk tante?" Kata tante Nina yang rupanya mau meminta bantuan seperti itu kepadaku.

"Aahh begitu ya, ahaha..aku pikir ada apa, ayolah tante tanpa kamu memintanya, sudah pasti aku akan merekam momen penting ini agar Varel juga bisa melihat dirinya yang berada di dalam televisi, hehe.. kau tenang saja tante aku akan melakukannya, pergilah nanti kau terlambat," ujarku kepada tante Nina.

"Terimakasih banyak ya Barsha, kamu memang yang terbaik, kalau begitu tante pergi ya, Niko, Ciko tente pamit dulu, sampai jumpa anak-anak." Ucap Tante Nina sambil melambaikan tangannya pada kami dan dia langsung masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari sana secepatnya.

1
Windy Miller
aku rela begadang demi nungguin karyamu, thor!
TripleAdorable
Akhirnya dongggg update~ Makasih Thor! Kamulah makhluk Tuhan paling debest :*
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
Ayok thor mana nih kelanjutannya?
floufrouu
Semangat ya, thor! Jangan lupa ambil komen yg positif dan membangun, ya
༺Leͥgeͣnͫd༻ᴳᵒᵈ
next lanjut pliss up up
floufrouu
Kak jangan lupa jaga kesehatan, biar tetep bisa berkarya! Aku menunggumu~
Cinta Insta
lanjut thor... smg author sll d berikan kesehatan... biar cepet bikin lanjutan nga lg.. udh baper tanggung nih
kisses and martini
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
flower bean
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
👀🦋: Terimakasih, yuk baca karyaku yang lainnya juga;⁠)
total 1 replies
Garden Rose
Malesnya aku jadi senyum-senyum sendiri baca ceritanya thor.. daku tunggu nextnya
TwilightQueenbee
Sumpah! Sampai lupa waktu bacanya!
Mas Pon
pada
peto
makasih Thor udah up lagi makin seruu ceritanya
Penghargaan Pink
Kalau lagi patah hati, paling tepat emang baca-baca karya author. Bisa melupakan semua kesedihan~
ShySnicker
Sumpahhh rasanya kaya gak mau ngedip bacanya wkwkw, seseru itu tahu gak sih!!
indigosparkle
akhirnya bisa baca lanjutan cerita ini...aku udah lama nunggu lanjutannya
DazzledSweetie
jangan baperan donk thor..cukuo kita 2 aja yg baperan bc nya..itu cm sedikit badai yakin kami tetap mendukungmu.. semangat !!!
Mulya Damanik
Kamulah mimpiku setiap malam Thor :( lanjutkan!
enjouecollectif
ceritanyah bagus aku suka lanjutkan karya mu thorr👍
theseafiles
Thor aku jarang banget nih komen di karya org, tapi aku gregetan mau komen disini soalnya ceritanya bagus dan aku kepo parah sama lanjutannya!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!