[ UP SETIAP HARI YA GUYS..]
"Beberapa orang memang hanya ditakdirkan untuk saling suka, saling jatuh cinta, dan saling merasa nyaman. Namun ditakdirkan untuk tidak bersama"
The Book Of Almost - Brian Krishna
Perjalanan panjang dari 2 insan yang berbeda, namun disatukan dengan 1 benang takdir yang mengikat.
Kisah kasih Maria Puspa Jelita dengan Ahmad Steven Wijaya , laki-laki yang menyembuhkan dan memberi warna dalam hidupnya
Perjalanan panjang ketika Salib dan Tasbih bertemu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fen_Leo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 27 : Bully
{ Flashback }
( Saat Maria masih kelas 2 SMP di Bandung)
"Apa lebih baik, gak sekolah dulu aja nak?" tanya lembut Mama kepada Maria saat sedang bersantai di ruang tamu.
"Ndak ma, Maria gak apa-apa kok"jawab Maria lembut sambil bermain dengan adiknya Tania.
Terlihat Papa sedang sibuk menonton berita di TV.
"Gimana kalau kita semua jalan-jalan ke tempat wisata, sambil refreshing" kata Mama tiba-tiba
"Kemana ma?" tanya Maria penasaran.
"Hmm.. Mama cari-cari dulu deh. Pinginnya yang alam-alam gitu" ucap Mama.
"Papa setuju itu" sahut Papa yang senang mendengar usulan Mama.
Semuanya tersenyum bahagia, melihat Papa yang tadi serius nonton TV tiba-tiba main setuju aja. Maria ingin kebahagiaan ini terus ada untuk selamanya.
"Kita ajak Sisca sama Nek Aisyah ya ma?" tanya Maria semangat
"Iya pasti lah." jawab Mama tersenyum.
Keesokan harinya
Maria berangkat ke sekolah seperti biasanya. Ia bertekad untuk tetap bertahan dan akan berusaha sekuat tenaga membuktikan kebusukan Rudi.
Saat memasuki kelas, terlihat tatapan-tatapan sinis semua teman-temannya. Maria duduk di bangku paling belakang dan sendiri dan tidak ada yang mengajaknya ngobrol sama sekali.
Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Maria berusaha tenang dan fokus belajar. Namun teman-teman kelasnya tidak bisa membiarkan Maria tenang.
Selama pelajaran, Maria mendapatkan banyak lemparan-lemparan kertas dari setiap sudut kelas. Kertas-kertas itu semua sama berbunyi Jal**ng.
Sedihnya tidak ada satupun Guru yang berdiri dan melindungi Maria. Seolah, mereka sudah diperingati ayah Rudi yang seorang Donatur di Sekolah untuk tidak membantu dan menghiraukan Maria.
Bullying yang dialami Maria tidak hanya terjadi waktu jam pelajaran saja, namun juga terjadi. Maria selalu pergi ke kantin bersama Sisca. Saat Maria lewat, para murid lain yang berada di lantai 2 menjatuhkan makanan sisa dan jatuh tepat di atas kepala Maria .
Maria hanya menoleh ke atas sebentar dan pergi membasuh kepalanya di kamar mandi. Melihat ekspresi Maria yang acuh, murid-murid itu terlihat kesal dan marah.
Sisca sangat marah dan ingin membalas anak-anak nakal itu. Tapi Maria mencegahnya.
"Tidak akan ada yang berubah, sekuat apa kita melawan mereka" ucap Maria yang membersihkan rambutnya di kamar mandi.
"Tapi gak bisa kalau gini terus Mar. Mau sampai kapan?" ucap Sisca yang sudah hilang kesabarannya
"Aku diam, bukan berarti kalah. Kamu pasti sudah menyadari kan kalau bahkan Guru tidak berbuat apapun tentang kejadian ini" imbuh Maria
Sisca hanya terdiam.
"Ada saatnya, ketika semua terungkap dan Rudi akan mendapat balasannya." tambah Maria yang mengeringkan rambutnya.
"Aku tidak peduli, dengan anak-anak bodoh yang bully aku. Mereka semua hanya batu kerikil yang ada di depan jalanku aja. Tujuanku tetaplah Rudi" tegas Maria menatap Sisca.
Selama sekolah, Maria selalu mendapat bullyan baik verbal atau bahkan fisik. Wanita-wanita bodoh yang menyebut diri mereka fans Rudi dan cowok-cowok yang mengaku pria tapi membully wanita.
Murid-murid lain bingung dengan sikap Maria yang semakin tegar dan terlihat tidak terbebani sama sekali. Maria tetap berjalan tegak tidak peduli makanan atau minuman apa yang terlempar ke badannya.
Ketika suatu hari, Maria datang ke kantin dan melihat Rudi bersama teman-temannya bersenda gurau di salah satu sudut kantin. Tak jauh dari situ, Anjani juga berad di Kantin.
Suasana yang ramai menjadi sunyi ketika Maria menatap tajam ke arah Rudi. Perlahan, Maria berjalan mendekat ke arah Rudi dengan muka datar. Sisca hanya melihat dari belakang.
"Tawamu akan berubah jadi tangisan, ketika waktunya sudah tiba" ucap Maria meletakan tangannya di atas meja di depan Rudi dan teman-temannya.
"Oops.. Maaf, gak sengaja" Maria menyenggol air minum dan tumpah ke seragam Rudi.
Rudi berusaha menahan amarah karena ia ingin menjaga reputasi baik dirinya. Terdengar gumaman para siswa yang tidak menyangka, Maria yang dulunya pendiam sekarang menjadi wanita yang tangguh.
Anjani tertawa kecil melihat kejadian ini. Ia masih bimbang, dengan video bukti Rudi dan supirnya membawa Maria ke rumah kosong.
Maria kemudian berjalan menjauh dari Rudi dengan tegap dan berani.
by your side, mampir
by your side..
by your side, mampir untuk mendukung
by your side
mampir di karyaku iya
by your side, hadir
#by your side, mampir
by your side, hadir u/ mendungkung
By your side, hadir untuk mendukung
By your side, hadir untuk mendukung
Hai kak, aku mampir di karya kakak ini. semangat ya...