Kadang kala Kepedihan harus dilalui sebelum mencapai kebahagiaan, kisah ini menceritakan sosok gadis yang menjadi tulang punggung keluarga hingga mendapatkan cinta sosok pria, percintaan yang bukan seperti biasa.
Kisah cinta yang awalnya sosok gadis bernama Sinta rasakan begitu sempurna, menjadi istri seorang ternama dengan lebel kekayaannya lebih dari cukup untuk hidupnya bahkan keluarga, tapi sayang sampai Sinta mendapatkan malam itu, malam yang tidak seorangpun memimpikannya, saat kesadaran mulai memukumpulnya, kenyataan begitu pahit tidak menyisakan manisnya lagi.
Sesaat terdengar suara, suara mertua ..... mungkinkah ? dan bagaimana mengatakannya jika itu benar, sebuah dilema dengan pertanyaannya, Apakah ini sebuah tujuan dari pernikahannya ?
Sinta gadis lemah dari segala hal kecuali anugrahnya yang didapat dari Tuhan, bisakah sinta bertahan dan dapatkan bahagia?
Penasaran ? benarkah suara itu suara mertua sinta ?
Sikmak yuk... jangan lupa vote n dukung aku tengkayu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AD UTAMI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bali
Setelah semua terselesaikan merekapun memilih kebeberapa tempat membeli oleh-oleh khas yogya dan segera merapat ke bandara segera meninggalakan kenangan indah saat ijab kabul di kota penuh cerita itu.
Waktu yang bergulir membawanya kembali ke sebuah kota bernama Bali
Saat semua penumpang pesawat telah turun Bram hanya tetap diam, bukan tanpa alasan, karena Lia masih asik dalan dunia mimpi alias tertidur.
Hampir satu jam menunggu Bram mempunyai ini siatif untuk memberikan sentuhan lain kepada wanitanya dengan sedikit rasa yang sering memberikan rasa ketagihan itu, danbenar usahanya membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
"Maz, malu kelihatan orang"Lia dalam rasanya, hanya senyuman Bram juga "mana ada sayang ? " memberikan suatu signal, lia yang sadar akan hal itu membuka mata dan segera melihat sekeliling dengan penasaran sampai berdiri dan apa yng terjadi selanjutnya, rasa malu juga gemas karena ulah suaminya membuat Lia memberikan pelukan tepat diantara ke dua tangan suami yang kini menguasai hidupnya karena banyak rasa yang ia dapat sejak peristiwa malam itu, juga kejadian diluar nalarnya telah terjadi dan itulah kenyataan menjadi istri Bram.
"ayo yang kita pulang"Bram mengisyaratkan ketidak nyamanan dalan kabin pesawat itu
Hanya anggukan dan kembali mengikuti suami Brondongnya, penuh rasa dalam dirinya, entah mau tinggal dikosan atau ? lamunan itu ambyar seketika Bram mengatakan "yang kita langsung ke vila saja ya lebih dekat kampus" Bram membuyarkan semua lamunannya "hemmm, baiklah"hanya itu yang Lia bisa jawab
sampai diluar sdah ada yang jemput, mobil kategori lumayan laham "ayo yang"ajakan bram, hanya mengikuti dan berusaha nyaman
perjalanam hanya bisa dilalui dengan ketenangan sampai di sebuah rumah minimalis nan cantik ada taman yang membuatnya makin menawan.
"Silahkan Non," Pak mamat
" makasih, Pak" Lia berlalu mengikuti suami yang sudah menantinya, lelaki yang penuh dengan kejutan semoga ini yang terakhir selamanya sampai di surganya allah bisa bersama.
Setiap orang akan merasakan galau pada waktunya. Entah itu disimpan sendiri atau diucapkan secara langsung, Lia tipe yang diam menyimpannya.
Bukan sebuah dilema, tetapi karena jiwa tidak bisa mengambil keputusan secara rasional. Perasaan galau secara psikologi bukanlah stres, frustrasi ataupun depresi. Galau sendiri muncul karena beberapa hal yang dianggap cukup menganggu. Baik galau karena urusan kerjaan, pertemanan hingga soal percintaan.
Pergolakan itu masih setia dirasakan Lia, kembali tersadar kealam nyata mendengar orang yang mulai mengisi hati yang sempat porak poranda dulu.
"Kamar kita di atas sayang, istirahatlah" Bram
"Iya maz, makasih"timpalnya
Rumah yang cukup dikatakan luas diantar pemandangan taman yang seakan sengaha di buat memanjakan mata, mungkinkan ini mimpi ? saat Seperti mati terbunuh namun tetap hidup dalam sebuah penyesalan mengingat yang berlalu, saat goresan itu kembali terbuka pertemuan itu membuatku kembali kemasa lalu, rasa sakit yang hingga kini senantiasa Menghantuiku, entahlah hanya bisa berpasrah kepadaMu yarobb, saat itu pandangannya terkunci ruangan yang begitu indah berkualitas dengan lebel mewah.
Masuk dan benar nyaman itu sudah pasti, segera memilih menyegarkan diri mencari sebuah ruangan yang sering disebut kamar mandi,
Begitu nyaman menikmati aliran air yang bisa di mainkan di sesuaikan begitu merasa rilek sekali, membiarkan rambut hitam lebatnya menari menjuntai menutup pinggangnya yang indah itu, hampir 1 jam menikati kesegaran Lia pun mengakhiri aktifitas itu.