Praktek Kerja Industri atau PRAKRIN, di suatu perusahaan ternama. Membuat Oliv bertemu dengan CEO dari perusahaan itu, tapi pertemuan mereka sungguh di luar perkiraan.
Ternyata Oliv bukan hanya gadis SMK biasa, dia punya rahasia tersembunyi. Ditengah Prakrinnya dia harus mengungkap penyebab kematian mamanya, hingga harus terjebak oleh dua perasaan. Antara Denis sahabatnya atau Arka sang CEO perusahaan.
Ternyata mengusut itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena akan ada fakta yang tidak pernah dia sangka.
Yuk ikuti dan baca selengkapnya di sini.
Follow Ig, Tiktok dan Snack Video : evasulfa23
Facebook Eva SulFa
jangan lupa share, tambahkan ke perpustakaan, like dan komen, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva SulFa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khamza Dititipkan
Khamza semakin membaik dan terlihat tidak pucat lagi, sekarang mereka siap berangkat. Sejak bagun Oliv sudah memutuskan akan membawa Khamza ke kantor, dia tidak ingin merepotkan siapa pun itu.
"Siap berangkat?"
"Siap," jawab mereka kompak.
Saat membuka pintu ternyata Arka baru saja hendak mengetuk. "Bapak ngapain ke sini?" tanya Oliv heran.
Namun, tidak dengan Khamza anak lima tahun itu sangat bahagia. Dia berlari ke arah Arka minta digendong. "Sudah sehat, Sayang?"
Khamza mengangguk cepat membuat Oliv dan Gita saling lirik. "Udah cocok jadi bapak-bapak, ya, Liv," bisik Gita.
"Sayang jomlo," jawab Oliv.
Kedua gadis itu tertawa membuat Arka curiga, ditatapnya dengan tajam ke dua gadis di hadapannya.
"Kalian ngapain di sini, ayo berangkat bareng saya."
Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Mereka belum juga sadar saat detik ke sembilan, kedua gadis itu berteriak syok. "Apa?"
"Apanya yang apa? Buruan kunci nanti telat," perintah Arka.
Pemuda itu berjalan duluan sambil menggendong Khamza. "Itu orang bikin kaget aja sih, Liv," kata Gita sambil mengelus dadanya.
"Berisik deh ngoceh aja," tanggap Oliv kesal.
"Lah, Lu kenapa lagi, Nyet?"
"Mau makan orang. Puas?"
Mendengar jawaban itu Gita langsung berlari, setelah mengunci semua pintu dia ikut masuk juga ke dalam mobil. Khamza dudul di samping Arka dengan tenang, sedangkan kedua gadis itu diam hanya menghadap ke arah jendela.
Gita memikirkan bagaimana nanti pulang, sedangkan Oliv memikirkan cara bertemu papanya. "Aaa ribet," ujar kedua gadis itu bersamaan.
Arka yang terkejut mendadak ngerem, membuat Oliv menatapnya tajam. "Kalau engga bisa bawa mobil, biar aku aja yang bawa, Pak."
Gadis itu langsung memanggil Khamza. "Kamu engga apa-apa, 'kan, Sayang?" panggi Oliv pada anak tersebut.
"Khamza baik-baik saja, Kak. Cuma kepala rasanya pusing, Kak."
Arka yang medengar langsung mengecek Khamza, setelah tahu anak itu tidak apa-apa. Dia langsung menatap Oliv dan Gita tajam. "Kalian bisa engga jangan buat orang terkejut, ini jalan raya paham," ujarnya tegas meski pun nadanya lembut, tapi semuanya penuh penekanan.
"Makanya,-"
Mulut Oliv langsung ditutup oleh Gita dengan cepat. "Diem dulu, Nyet. Marahnya tunda," bisik Gita.
Oliv menatap tajam agar Gita segera melarikan tangannya dari mulut. "Janji dulu?"
Gadis itu mengangguk dan mengangkat jarinya membentuk huruf V, akhirnya Oliv pun melepaskan tangannya.
"Lu, mau bunug Gue?" tanya Oliv tajam setengah berbisik.
"Diem dulu," kata Gita mengingatkan.
Dengan cemberut Oliv menurut, saat melihat ke luar jendela dia baru sadar kalau bukan menuju kantor. Apalagi saat mobil masuk ke dalam gerbang rumah mewah, tentu saja itu membuat keduanya kaget.
"Ayo turun," ajak Arka yang membukakan pintu Khamza. Pemuda itu dengan sigap menggendong anak tersebut, mau tidak mau keduanya ikut turun.
"Ini rumah calon mertua, Lu kayanya deh."
PLETAK!
"Aww, sakit monyet."
Gita mengelus kepalanya yang tadi di jitak, saat masuk ke dalam sudah ada Fitri yang menyambut.
"Sayang, duh Tante kangen sama kamu," ujarnya sambil memeluk Oliv.
Arka yang melihat itu ada sedikit rasa kesal, tapi rasa senang lebih mendominasi.
"Oliv juga, Tante."
"Ayo, sini duduk." Mereka semua pun duduk, Gita yang melihat ke arah Oliv merasa senang.
"Wuidih ada tamu, cantik banget kalian," kata Papa Arka tiba-tiba muncul.
"Halo, Om," sapa Oliv dan Gita bersamaan.
Dermawan menatap Oliv meyelidiki. "Wajah kamu kaya engga asing, Om seperti lihat kamu," ujarnya melihat lagi ke gadis itu.
Oliv yang merasa tidak pernah ketemu, malah bingung sendiri. "Om salah orang kali."
"Om, pernah lihat kamu di rumah teman, Om," kata Dermawan meyakinkan.
Mereka yang melihat itu jadi saling pandang. "Papa, engga usah sok kenal deh sama tuh bocil," kata Arka tidak suka.
"Ma, si jomlo cemburu kayanya," kata Dermawan.
"Udah-udah nanti bahas si jomlo, Beib. Ini kita ada cucu sekarang," kata Fitri heboh menunjuk Khamza.
"Wah, ini yang namanya Khamza? Salim sama Kakek dulu, Sayang."
Khamza menurut dan langsung menyalimi Dermawan. "Jadi, selama anak cantik ini PKL. Khamza nemani aku, Pa. Boleh, ya?"
"Boleh kok, Sayang," kata Dermawan sambil mengecup kepala Fitria.
Para jomlo di sana hanya bisa menutup mulut, Arka menjadi malu sekali akan kelakuan orangtuanya. "Pa, Ma," protesnya.
"Berisik, makanya nikah sana," ujar dua orang itu kompak.
Tawa Gita dan Oliv pun pecah. "Diem!"
Mereka pun tertawa termasuk Khamza yang merasa lucu akan ekspresi Arka. "Ya, udah Om berangkat dulu," pamit Dermawan pada mereka.
"Hati-hati, Om."
"Siap, kamu," kata Dermawan menunjuk Oliv. "Hati-hati, ya sama anak, Om. Dia suka aneh kalau kamu sampai suka pasti dia pakai pelet, Nak," lanjutnya sambil bersiul dan memasang wajah tanpa dosa.
Oliv tentu saja tidak bisa menahan tawanya. "Siap, Om. Tenang aja doain Oliv biar engga masuk perangkap buaya."
Dermawan mengacungkan jempolnya, tapi baru selangkah dia menoleh lagi. "Om, ingat kita pernah temu di kantornya Wijaya. Tapi, lupakan," katanya sambil melanjutkan langkah.
Reaksi berbeda tentu saja dari mereka, Oliv tubuhnya menegang dan menahan amarah. Gita yang mendengarnya langsung memegang lengan Oliv. "Liv, tenang," bisiknya sembari mengelus belakang sahabatnya itu.
"Gu-gue ga bisa," jawab Oliv dengan terus menarik napas berusaha tenang.
Arka yang mendengarnya langsung teringat perkataan dokter saat di rumah sakit, dia yang menatap ke arah gadis itu. Menjadi heran setiap mendengar nama Wijaya, pasti raut wajahnya langsung berubah. Pertanyaan berputar di kepala pemuda itu, seketika ada ide di kepala Arka untuk tahu lebih jauh tentang Oliv.
"Ayo berangkat," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Cara itu berhasil Oliv mulai bisa menguasai dirinya, apalagi saat menatap Khamza rasa bergejolak di hati mulai mereda.
"Kakak berangkat dulu, ya, Dek."
Khamza mengangguk dan menyalimi Oliv, gadis itu membalasnya dengan mengecup lembut keningnya. Setelah itu dia menyalimi Fitri juga diikuti oleh Gita.
"Oliv, titip adek, ya, Tante. Oliv pamit dulu, Assalammualaikum."
"Santai saja kaya sama siapa aja, Nak. Waalaikumusalam, nih Ka. Contoh Oliv sopan engga kaya kamu," kata Fitri memuji gadis di hadapannya.
"Apaan sih, Ma. Ya, udah Arka berangkat dulu," pamitnya.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, saat Oliv sudah duduk di belakang bersama Gita. Arka melotot padanya. "Pindah," perintah.
"Engga mau," jawab Oliv tegas.
"Kamu kira saya sopir?"
"Kalau merasa bagus, lebih baik jalan deh, Pak. Dari pada nanti telat," jawab Oliv judes.
"Kamu!"
"Bapak mau telat?"
Mau tidak mau Arka mengalah, Gita yang melihatnya tentu saja tidak bisa menahan tawa. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Arka kesal.
"Bapak sama nih anak orang cocok," jawabnya sukses mendapat jitakan.
"Sekali lagi, Lu bilang kaya gitu. Engga ada pintu buat Lu ke rumah," ancam Oliv kesal.
"Tenang kalau Bi Asih dah balik Gue bebas," jawabnya tanpa beban.
Arka yang melihat interaksi dua sahabat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Om sama tante hari ini balik, Nyet."
"Yoi, mau ke rumah?"
"Gue ada urusan, Lu dengerkan apa kata Pak RT semalem?"
"Jadi, Lu?"
Oliv mengangguk ragu akan hal itu. "Gue temani, ya."
"Engga usah," jawabnya dengan nada berat.
Gita memandang sahabatnya itu sedih, dia bingung harus bagaimana. "Engga usah pandang Gue dengan tatapan menyedihkan milik, Lu," celetuknya judes.
"Ya Salam, Nyet mulutmu pedas amat kek cabe."
Belum sempat Oliv mau jawab, Arka berbicara duluan. "Turun," perintahnya.
"Kok udah sampai?" tanya keduanya kaget.
"Makanya jangan ngobrol saja."
Kedua gadis itu berdecak sebal, mereka langsung turun dan ditatap dengan pandangan sulit diartikan. Apalagi ada sekretaris Arka memandang Oliv tajam.
"Yuk," ajak Arka sambil menggandeng tangan Oliv.
Gadis itu sama sekali tidak siap, hanya bisa menyeimbangi langkah. "Lah Gue ditinggali," kata Gita memasang wajah sedih. "Dasar sahabat ga ada akhlak," lanjutnya menggerutu kesal karena jadi kacang, tapi karena sibuk menggerutu dia menabrak orang.
Beruntung badan Gita ditahan, bukannya sadar malah senyum-senyum. "Gantengnya," ujarnya sambil senyum-senyum.