Indonesia
NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 26

Arya masih berada di kafe bersama Rey. Rasa penasarannya terhadap masa lalu Rey belum juga terjawab sepenuhnya.

Arya menatap Rey dengan serius.

"Rey... aku benar-benar nggak menyangka kalau sejak kecil kamu sudah mengalami begitu banyak hal."

"Kamu benar."

Arya kembali menatapnya.

"Lalu... bagaimana kamu bisa menjadi anomali?"

Rey tidak langsung menjawab.

Ia mengangkat gelas di hadapannya, kemudian meneguk minumannya beberapa kali.

Glup....Glup....

Ia tidak menghabiskannya. Setelah itu, Rey meletakkan gelas tersebut di atas meja.

Brak....

Suara gelas yang menyentuh meja terdengar cukup keras.

Rey mengembuskan napas pelan.

"huuu...Itu semua bermula dari keluargaku."

(kembali ke masa lalu)

Malam itu, ketika Putra sudah berangkat bekerja, Liza (mamanya putra) bergegas meninggalkan rumah.Tujuannya hanya satu Ia ingin menemui Arhan yaitu suaminya.

Setelah beberapa saat berjalan, Liza akhirnya tiba di rumah suaminya Ia berdiri di depan pintu dan mengetuknya.

TOK....TOK....TOK....

pintu terbuka.Namun, bukan Arhan yang berdiri di sana Melainkan Desy.

Wanita yang selama ini menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Liza. Desy memandang Liza dari atas hingga bawah dengan tatapan meremehkan.

"Liza. Kenapa kamu datang ke sini? Mau bertemu Arhan?"

Liza menatap Desy dengan serius

"Iya. Di mana suamiku?"

Desy terkekeh kecil sambil mengejeknya

"Suamimu?Kamu masih menganggap Arhan sebagai suamimu? Kamu sadar, kan? Arhan sudah nggak menyayangimu lagi."

Tangannya menggenggam gagang pintu.

"Sudahlah, Liza. Lebih baik kamu lupakan Arhan. Dia sudah nggak punya perasaan apa pun untukmu."

Desy mulai menutup pintu.Namun, Liza segera menahannya.

"Heh..."

"Desy... kumohon. Aku cuma ingin bertemu Arhan. Aku ingin bicara dengannya."

Desy berusaha kembali menutup pintu.

"tidak.... Tidak.... Tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya!"

Namun Liza tetap bertahan.Dengan sekuat tenaga, Liza menarik pintu hingga berhasil membukanya. Ia kemudian masuk begitu saja ke dalam rumah.

"ARHAN!"

Suara Liza menggema.

"ARHAN! KAMU DI MANA?"

Desy segera mengejarnya.

"Hei! Keluar!"

Desy menarik rambut Liza dengan kasar.

"Aah!"

Liza meringis kesakitan.

"Kamu keluar dari rumahku sekarang!"

"Tidak!" (ujar Liza)

Liza berusaha melepaskan tangan Desy dari rambutnya. Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil membebaskan diri.

"LIZA!"

Liza tidak memperdulikannya. Ia segera berlari menuju kamar di bagian depan rumah Desy mengejarnya, Liza meraih gagang pintu.

Krekkk...

Pintu terbuka. Di dalam kamar, Arhan berdiri membelakangi pintu sambil menghadap jendela Namun, tanpa memperdulikan Desy segera Liza berjalan mendekati arhan, kemudian la memegang bahu arhan

"Arhan..."

arhan menoleh ke arah Liza. Liza seketika membeku dan syok karena arahan menggendong sebuah bayi, segera Liza menanyakan anak siapa ini dengan nada suara yang gemetar

"Siapa anak yang kamu gendong?"

Arhan hanya menatapnya dengan tatapan dingin.Belum sempat Arhan menjawab, suara Desy terdengar dari belakang.

"Dia anakku dan Arhan."

Liza membeku. Seolah seluruh suara di sekitarnya mendadak menghilang.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin!"(ujar Liza yang tidak percaya)

Liza menatap Arhan Matanya mulai berkaca-kaca.

"Sayang... kamu masih suamiku. Kita belum bercerai. Kamu ingat itu, kan?"

Arhan menatapnya datar.

"Jangan panggil aku sayang. Aku tidak ingin dipanggil sayang oleh seseorang yang sudah nggak kucintai lagi."

Kata-kata itu menghantam Liza lebih keras daripada apa pun. Arhan kemudian berjalan melewatinya, Ia menghampiri Desy dan menyerahkan bayi yang sedang digendongnya.

Desy menerima bayi tersebut dengan senyum kecil. Liza hanya bisa menatap keduanya.

Rasa Kecewa dan hancur

Dan tidak tahu harus berbuat apa. Arhan kemudian mengangkat dagu Desy.

Di depan mata Liza, Arhan mencium Desy dengan penuh rasa cinta.

Air mata Liza akhirnya jatuh. Ia menatap suaminya sendiri bersama wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya, Dan untuk pertama kalinya malam itu, Liza merasa benar-benar tidak memiliki tempat lagi di sisi Arhan.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Putra masih sibuk menjaga sebuah stan makanan di pasar malam.

Malam semakin larut. Putra menguap lebar.

"Huuaaaamm..."

Tak lama kemudian, bosnya datang sambil membawa sesuatu.

"Putra."

Putra menoleh.

"Ini uang gajimu selama sebulan."

"Terima kasih, Pak Bos."

Setelah pekerjaannya selesai, Putra akhirnya pulang. Jam menunjukkan pukul 22.00 Setibanya di rumah, Putra membuka pintu.

Krekkk.....

Ia masuk dan berjalan menuju rak untuk meletakkan jaketnya. Namun, langkahnya terhenti Lampu ruang tamu masih menyala.

" Tumben banget lampu ruang tamu belum dimatikan."

Putra kemudian memanggil mamanya.

"Ma!"

Tidak ada jawaban Putra mulai merasa aneh Ia berjalan menuju kamar Liza.

"Mama?"

Perlahan, ia membuka pintunya.

krekk...

"Mama?"

Putra melihat ke sekeliling Tidak ada siapa pun. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan.

Krekkk..!!! Brakkkk...!!!!

Putra segera berlari menghampirinya.

Ternyata mamanya baru saja pulang,

Putra langsung tersenyum melihat mamanya baru tiba

"Mama! Tumben banget baru pu..."

Seketika senyum putra menghilang saat melihat wajah Liza penuh lebam.

"Mama...Siapa yang melakukan ini?"

Liza tidak menjawab.

"Mama? Wajah Mama... siapa yang memukuli Mama? Beritahu aku."

Liza tetap diam.

Ia berjalan melewati Putra menuju kamarnya. Putra mengikutinya dengan rasa khawatir

"Mama, tunggu..."

Liza masuk ke kamar dan menutup pintu. Putra mencoba membukanya.

Krekkk....Krekkk... pintu terkunci.

"Mama?"

 Putra mengetuk pintu.

"Mama! Buka pintunya, kumohon!"

Tidak ada jawaban Putra kembali mengetuk.

"Mama!"

"PUTRA! AYO TIDUR BESOK KAMU HARUS SEKOLAH!!"

"Tapi, Ma..."

"PUTRA!"

Suara Liza terdengar semakin keras.

"KENAPA KAMU TIDAK MAU MENDENGARKAN MAMA?!"

"Aku cuma... nggak tega melihat wajah Mama seperti itu."

"KAMU TIDAK PERLU TAU URUSAN ORANG DEWASA TUGAS KAMU SEKARANG HANYALAH TIDUR! APA SUSAHNYA?!"

Putra menundukkan kepala Ia ingin tetap berada di sana.Namun, pada akhirnya ia tidak punya pilihan selain kembali ke kamarnya Malam itu, perasaan tidak enak terus menghantuinya.

keesokan paginya Putra duduk di bangkunya dengan tatapan kosong.

Namun, pikirannya masih tertinggal pada kejadian semalam.

Wajah mamanya terus terbayang, Putra akhirnya berdiri dan keluar dari kelas Ia berjalan menuju pagar pembatas lantai tiga, lalu menyandarkan kedua sikunya di sana Dari tempat itu, ia memandang lapangan sekolah Mungkin dengan melihat pemandangan itu, pikirannya bisa sedikit tenang.

Tiba-tiba Ardi mendatangi putra dengan menyapanya

"Putra!"

Putra tidak menoleh. Tiba-tiba Ardi datang dan merangkul lehernya dengan erat Putra langsung merasa sesak.

"Hei! Kalau ada orang menyapa, diperhatikan dong!"

Putra mendorong tubuh Ardi hingga melepaskan putra. namun tidak membuatnya terjauh.

"Kamu kenapa sih harus merangkul leherku begitu? Aku tidak bisa napas!"

"Biasa aja kali. tidak usah marah-marah."

"Gimana aku tidak marah? Tiba-tiba kamu mencekik aku."

Putra berbalik dan hendak pergi, Namun Ardi mengejarnya dan memegang bahunya, Putra menoleh.

BRUK!!

Sebuah pukulan mengenai wajah Putra.

"Sakit! Kamu apa-apaan?! Tiba-tiba mukul begitu!"

ujar putra sambil memegang pipinya kemudian Ardi hanya menjawab santai.

"Kalau aku kesal, memang suka begitu."

Putra menatapnya tajam Rasa kesalnya semakin memuncak, Ia membalas pukulan Ardi.

BRUK!!

Ardi tidak terima. Ia membalasnya lagi

Dalam hitungan detik, keduanya terlibat perkelahian, Keributan itu membuat beberapa siswa dan siswi berdatangan.

Tak lama kemudian, Sasha yang sedang berjalan menuju kelas melihat kerumunan tersebut.

"Ada apa?"

Ia mendekat Saat melihat Putra dan Ardi sedang bertengkar, Sasha langsung terkejut.

"Putra?! Ardi?!"

Tanpa berpikir panjang, Sasha masuk ke tengah-tengah mereka, Ia membentangkan kedua tangannya untuk mencoba melerai mereka berdua.

"BERHENTI!"

Namun pukulan Ardi yang seharusnya mengenai Putra justru melenceng.

BRUK!!

Pukulan itu mengenai Sasha, Sasha kehilangan keseimbangan dan jatuh, Putra refleks menangkap tubuhnya sebelum ia benar-benar terjatuh.

"Sasha?"(ujar putra)

Sasha yang tersadar segera berdiri kembali.

Pada saat yang sama, guru BK datang dari balik kerumunan Salah seorang siswi segera menunjuk ke arah Putra dan Ardi.

"Bu, mereka berdua yang bertengkar!"

Guru BK langsung menunjuk keduanya untuk menghadap di ruang BK

"Kalian berdua! Ikut Ibu ke ruang BK sekarang!"

Putra dan Ardi akhirnya berjalan menuju ruang BK, Namun sebelum pergi, Ardi menoleh kepada siswi yang melaporkan mereka, tatapannya membuat siswi itu langsung terdiam ketakutan.

"Hmm... dasar pengadu."

Setelah itu, Ardi berjalan pergi bersama Putra menuju ruang BK

......................

Sepulang sekolah Putra berjalan pulang dengan wajah kesal Hari itu terasa benar-benar buruk baginya.

"Kenapa sih ada manusia sehina itu cuma demi terlihat keren?"

Putra menendang kerikil kecil di jalan.

"Menindas orang lain? Memangnya itu keren?"

Setibanya di rumah, Putra membuka pintu.

Krekk...

suara pintu terbuka

"Mama! Aku pulang!"

Tidak ada jawaban.

"Mama?"

Biasanya, Liza selalu menyambutnya ketika ia pulang sekolah.Namun hari itu rumah terasa sangat sunyi tidak seperti biasanya.

"Ma..."

Tidak ada jawaban. Perasaan tidak enak kembali muncul,Putra mulai mencari mamanya.Ia mengecek dapur.

"Mama?"

Tidak ada kemudian Ia memeriksa kamar.

"Mama?"

Kosong Satu per satu ruangan ia periksa.

Tetap tidak ada.

Putra mulai panik.

"Mama pergi ke mana?"

Ia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi polisi, Namun ketika berbalik, pandangannya tertuju pada sebuah pintu, Gudang bawah tanah

Ruangan itu belum ia periksa.

"Apa Mama ada di sana? Tapi... tidak mungkin."

Putra mencoba menenangkan dirinya.

"Aku harus mengeceknya dulu."

Ia berjalan mendekati pintu gudang. Tangannya perlahan meraih gagangnya.

Krekkk....

Pintu terbuka. di gudang ini begitu gelap segera Putra meraba dinding untuk mencari sakelar.

"Di mana..."

Tangannya akhirnya menemukan sakelar.

klik...

Akhirnya Lampu menyala seluruh tempat mulai tersinari cahaya lampu namun....

Sebuah pemandangan yang begitu mengerikan. mayat wanita yang leher terikat oleh tali yang di pasang di langit-langit gudang. Di dalam ruangan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

dan ternyata mayat wanita yang menggantung itu adalah Liza alias mamanya sendiri.

Putra yang merasa tidak percaya apa yang ia lihat

"M... Mama?"

Suara Putra bergetar. Ia perlahan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah dari sana.

Air matanya mulai jatuh.

"Mama... Mama... kenapa?"

Tangis Putra semakin pecah. rasa kehilangan, sedih, serta frustasi bercampur aduk dalam diri putra.

tiba-tiba putra melihat sebuah kertas yang terlipat kecil di lantai tepat di bawahnya tubuhnya Liza.

Segera putra mengambilnya dengan tangannya yang bergetar saat mengambil kertas terlipat kecil itu kemudian. Putra membuka lipatan kertas itu, ternyata kertas itu berisikan pesan terakhir Liza, serta alasan mengapa ayahnya berani berselingkuh.

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!