SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pelarian ke ?
BAB 27: "PELARIAN KE PULAU DEWATA"
Deru angin laut yang hangat menyambut kedatangan Aira dan Langit begitu mereka melangkah keluar dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sinar matahari sore memancarkan warna keemasan yang memantul indah di atas permukaan air laut. Jakarta dengan segala kerumitan, suara sirine, dan bayang-bayang kelam masa lalu seolah menguap begitu saja saat kaki mereka memijak tanah Pulau Dewata.
Langit membawa satu tas duffel besar di bahu kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Aira tanpa niat melepaskannya sedikit pun. Aira mengenakan gaun pantai casual berwarna putih yang berayun ditiup angin sore, dipadukan dengan kacamata hitam dan topi jerami lebar—sebuah penampilan santai yang sangat kontras dengan jaket kulit dan pisau taktis yang biasa dia kenakan saat bertarung.
"Lu yakin gak mau pakai jasa sopir pribadi?" tanya Aira seraya menunjuk sebuah motor cruiser hitam berkapasitas mesin besar yang sudah terparkir rapi di area penjemputan khusus.
Langit menyunggingkan senyum miringnya. Dia melempar satu helm full-face berwarna merah muda pastel ke arah Aira yang ditangkap cewek itu dengan sigap.
"Gue janji liburan ini jauh dari urusan geng Averus, tapi naik motor berdua sama lu itu tradisi wajib kita, Shena," sahut Langit lembut.
Aira terkekeh pelan, memasang helm merah mudanya sebelum melompat naik ke jok belakang. Tangan rampingnya merengkuh pinggang tegap Langit erat-erat, menyandarkan dagunya di bahu tebal cowok itu saat mesin motor raksasa itu menderu halus dan melesat menyusuri jalanan pesisir pantai Kuta menuju kawasan Uluwatu.
Pondok peristirahatan (villa) yang dipilih Langit berdiri anggun di atas tebing karang Uluwatu yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Infinity pool pribadi di halaman belakang villa seolah menyatu dengan garis horizon laut yang membentang tanpa batas. Suara deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana memberikan irama alam yang begitu menenangkan jiwa.
Aira melangkah menuju tepi kolam renang, melepas topi jeraminya, dan membiarkan angin laut membelai rambut bergelombangnya. Matanya berbinar menatap langit sore yang perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga, merah muda, dan ungu yang memukau.
"Bagus banget, Kanebo..." bisik Aira, takjub. Sebagai seseorang yang terlempar ke dunia novel ini dengan ingatan masa lalu yang penuh pertumpahan darah dan persaingan ketat, pemandangan seawal dan sedamai ini terasa bagaikan mimpi yang tak terbayangkan.
Langit berjalan dari dalam villa, meletakkan dua gelas jus jeruk segar di meja kayu tepi kolam, lalu mendekati Aira dari belakang. Lengan kekarnya melingkar lembut di pinggang Aira, merapatkan tubuh cewek itu ke dadanya.
"Gue suka ngeliat lu senyum kayak gini," bisik Langit, menyandarkan dagunya di kepala Aira. "Bukan senyuman savage pas mau bantai musuh, tapi senyuman tulus lu yang sebenarnya."
Aira menyandarkan kepalanya di dada Langit, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berirama konstan dan menenangkan. "Gue gak pernah ngebayangin bakal bisa ngerasain ketenangan kayak gini, Langit. Dulu... hidup gue cuma tentang bertahan hidup dan ngancurin siapa pun yang mau ngancurin gue."
"Sekarang lu punya gue," balas Langit tegas namun penuh kelembutan. Dia memutar tubuh Aira agar menghadapnya, menatap lurus ke dalam iris mata Aira yang diterpa sinar mentari tenggelam. "Di dunia ini, lu gak perlu bertarung sendirian lagi. Gue bakal jadi pelindung lu, sama seperti lu yang selalu jadi benteng buat gue."
Aira menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura mengejek walau dadanya berdesir hangat. "Dih, gombalan lu makin mahir aja semenjak lepas dari bapak lu. Belajar dari siapa lu? Bimo?"
"Belajar dari hati gue sendiri, Aira Shena," jawab Langit jujur tanpa ragu sedikit pun.
Senyuman manis terukir di bibir Aira. Cewek yang biasanya dipenuhi gertakan keras itu perlahan melingkarkan tangannya di leher Langit, menarik tengkuk cowok itu mendekat.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang lambat, hangat, dan sarat akan perasaan cinta yang mendalam—jauh dari kesan terburu-buru seperti saat mereka dikepung pertempuran di Jakarta.
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya di ujung samudra, menyisakan kerlap-kerlip bintang di langit malam Bali. Di atas tebing Uluwatu yang sunyi, dua jiwa yang dulunya terluka oleh kerasnya dunia kini telah menemukan kedamaian sejati dalam pelukan satu sama lain.
see you next ban 28
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?