Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap Kebenaran
Tiga hari setelah pertemuan dengan Ping Yue, Ye Hu melangkah keluar dari Toko Obat Sumber Kehidupan dengan membawa bungkusan besar berisi bahan obat dan perlengkapan perjalanan. Semuanya dimasukkan dalam cincin penyimpanan. Ia sudah berniat bulat — setelah menyelesaikan urusan ini, ia akan meninggalkan Kota Awan dan menempuh jalan kultivasi yang sesungguhnya.
Wan Ning, cucu Wan Tung, mengantarnya sampai ke depan pintu toko. Matanya memancarkan harap yang tulus. "Tuan Ye Hu… bolehkah aku memohon satu hal? Ajari aku ilmu peracikan obat. Aku ingin menjadi alkemis seperti Tuan."
Ye Hu tertawa pelan sambil menggeleng. "Jangan berkata begitu. Aku sendiri baru memulai. Belum layak bagiku untuk mengajarkan orang lain." Ia menepuk bahu pemuda itu pelan. "Belajarlah dari Tuan Wan Tung dulu. Nanti suatu hari jika takdir mengizinkan, kita mungkin berdiskusi bersama."
Setelah berpamitan, langkah kaki Ye Hu berbelok — bukan ke arah Balai Pelelangan seperti yang direncanakan sebelumnya, melainkan menuju kediaman Keluarga Ye. Ia harus menyelesaikan semuanya sebelum pergi.
Sesampainya di depan gerbang besar Keluarga Ye, dua pengawal yang berjaga sudah tergeletak pingsan di tanah. Dan di sana, berdiri sosok berjubah gelap yang menutupi seluruh tubuhnya — Si Tudung. Saat melihat Ye Hu, sosok itu hanya mengangguk pelan lalu melesat pergi tanpa suara, lenyap di balik pepohonan.
Ye Hu melangkah masuk melewati gerbang yang terbuka itu, menuju aula utama keluarga. Ia tidak menuju kamarnya, melainkan langsung ke ruang tempat seluruh urusan keluarga diputuskan.
Di dalam aula besar, suasana tegang. Di kursi utama duduk Ye Ba, Kepala Keluarga dan Marquis Kota Awan. di kedua sisi, berdiri adik-adiknya — Ye Gan dan Ye Da — saling berhadapan.
Adik dari Ye Ba yang merupakan para tetua Clan Ye, duduk dibawah dan mereka saling berhadapan. Anak-anak dari pamannya Ye Hu juga berkumpul di sana. keturunan lainnya berdiri di belakang kursi masing-masing, seluruh anggota keluarga berkumpul di sana.
Saat Ye Hu melangkah masuk, pintu aula tertutup di belakangnya. Dua sepupu yang berdiri paling depan, paling dekat dengan Ye Hu langsung maju dengan wajah penuh kemarahan.
"Anak tak tahu aturan!" bentak salah satu dari mereka sambil mengangkat tangan hendak menampar. "Berani-beraninya kau masuk ke aula keluarga tanpa izin! Anak sampah seperti kau tidak layak berdiri di sini!"
Mereka berdua hendak memukul untuk mempermalukan Ye Hu.
Sebelum tangan itu sempat turun, Ye Hu bergerak — secepat kilat, tanpa suara. Dua pukulan ringan mendarat di dada kedua sepupunya. Mereka terlempar ke belakang, jatuh berdebuan. Mereka terkejut tidak yakin akan yang baru saja terjadi, seorang sampah telah memukul nya. Wajah mereka pucat pasi, napas mereka tersengal, dan aura yang tadinya kuat di tubuh mereka tiba-tiba merosot — Ada yang tidak beres. Kultivasi mereka seperti tersedot. tingkat kultivasi mereka turun satu tingkat dari Qi Condensation Layer 4 ke Layer 3.
Seluruh ruangan hening seketika. Mereka semua belum mengerti tentang kultivasi Chaos, mereka menganggap bahwa ini adalah ilmu sesat.
"Tingkat empat… dia sudah mencapai Qi Condensation Layer 4!" seru seseorang dengan takjub. "Padahal belum sebulan dia masih lemah tak berdaya!"
Ye Gan dan Ye Du tidak menyangka hal itu. Mata mereka menyipit tajam. Paman-paman yang lebih tua langsung berdiri dan membentak.
"Kau menggunakan teknik terlarang! Jalan Iblis!" teriak salah seorang paman. "Dantianmu sudah hancur, tidak mungkin kau naik tingkat dengan cara biasa! Teknik apa yang kau gunakan sehingga sepupumu berkurang tingkatannya. Kau menganut ajaran iblis! Harus dibinasakan sekarang juga!" ucapannya dengan nafsu membunuh.
Ye Gan dan Ye Du yang berada di tingkat lima dan enam, langsung melangkah maju dengan niat buruk. "Biarkan kami yang membereskannya Paman! Sekalian bersihkan nama keluarga dari kotoran ini!"
Ye Ba yang melihat tindakan anaknya, tidak membelanya.
Keduanya hendak mengeroyok Ye Hu, namun tiba-tiba sepasang tangan emas besar muncul dari udara kosong, melesat dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata biasa — dan mencengkeram leher Ye Du serta Ye Gan. Dalam sekejap, keduanya terangkat tinggi ke udara, tergantung di langit-langit aula, kaki mereka menendang-nendang udara sementara wajah mereka berubah merah karena tercekik.
"Lepaskan mereka!" Ye Ba membentak berdiri, wajahnya merah padam menahan amarah.
Paman tertua yang berada di tingkat Foundation Establishment langsung melompat maju, kepalan tangannya memancarkan cahaya kekuatan yang dahsyat. "Aku akan menghancurkan iblis kecil ini sendiri!"
Namun sebelum serangan itu mengenai Ye Hu, sosok hitam muncul di hadapannya — Si Tudung. Dengan satu tangan saja, ia menangkis pukulan itu hingga seluruh aula bergetar dan Paman itu mundur beberapa langkah karena hantaman baliknya.
Keluarga Ye gemetar ketakutan. Siapa pemuda ini? Dan siapa pelindung misterius yang membantunya?
Ye Hu mengangkat tangan, sepasang tangan emas itu perlahan menurunkan Ye Du dan Ye Gan ke lantai, namun cengkeramannya belum dilepaskan sepenuhnya. Ia menatap seluruh keluarga dengan tatapan yang tenang namun tajam bagai pedang.
"Mengapa setiap kali aku muncul, kalian langsung memiliki niat membunuh?" suaranya pelan namun terdengar jelas di setiap sudut ruangan. "Apakah aku bukan bagian dari keluarga ini? Mengapa tidak ada satu pun yang bertanya — mengapa aku datang? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang akan aku katakan? Semua sepupuku bisa datang tapi aku tidak boleh datang. Ini terjadi sudah tiga tahun. "
Salah seorang berkata, "Kau tidak memiliki dantian jadi tidak memiliki hak suara. "
"Kau anak yang menganut jalan iblis!" bentak Paman lainnya. "Dantianmu rusak, lalu tiba-tiba kau memiliki kekuatan begini! Itu bukan kekuatan yang benar! Kau tidak layak disebut anggota keluarga Ye!"
"Aku setuju dengan ucapan paman, Tapi ku datang ke sini bukan untuk bertengkar," jawab Ye Hu tegas. "Aku datang untuk meminta keadilan. Dan untuk melihat — siapa sebenarnya yang berjalan di jalan iblis di antara kita."
Ye Ba mengangkat tangan menahan amarahnya. "Lepaskan kedua anakku dulu sebelum mereka kehabisan napas. Lalu kita bicarakan."
Ye Hu melepaskan cengkeraman itu. Ye Du dan Ye Gan jatuh berdebuan, batuk-batuk dan mengusap leher mereka dengan tatapan takut.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" Ye Ba kembali duduk dan berkata dengan nada mutlak. "Kau melanggar aturan keluarga, menggunakan kekuatan terlarang, dan menyerang kerabatmu. Segera turun ke ruang hukuman di bawah tanah, hadap tembok selama satu bulan untuk introspeksi diri! Siapa yang berani menolak, akan dihukum lebih berat!"
Tiba-tiba suara tawa terdengar dari luar pintu aula — jernih, dingin, dan penuh cemoohan.
"Inikah cara seorang Marquis memberikan keadilan? Bahkan tanpa mendengar pembelaan sedikit pun?"
Semua mata beralih ke pintu. Di sana berdiri Mu Yan bersama Ma Teng.
Ye Ba seketika berubah wajah. Ia segera berdiri dan melangkah turun menyambut dengan penuh hormat. "Nona Mu Yan… mohon maafkan hamba. Anak ini tidak bisa diatur, membuat keributan di dalam rumah. Hamba akan segera mengurusnya dulu baru nanti akan menyambut Nona Mu Yan."
Anggota keluarga Ye saling berpandangan dengan takjub. Mu Yan dari Balai Pelelangan datang ke sini? Dan dia memihak Ye Hu? Ini sungguh di luar dugaan!
"Marquis Ye," ucap Mu Yan tenang namun tegas. "Aku datang ke sini bukan untuk melihat anakmu dihukum tanpa alasan. Aku memohon — dengarkan dulu apa yang ingin dikatakan Ye Hu. Baru kemudian ambil keputusan."
Ye Ba tersenyum kaku. "Terima kasih atas perhatian Nona Mu Yan. Namun ini adalah urusan dalam keluarga. Biarlah keluarga ini yang menyelesaikannya sendiri agar tidak merepotkan pihak luar."
Belum selesai kata-kata itu terucap, suara berat dan berwibawa terdengar dari belakang Mu Yan.
"Kalau begitu, biarlah aku yang melihatnya."
Adipati Wu Ling melangkah masuk, diikuti dua pengawal berbadan tegap. Matanya menatap Ye Ba dengan tajam. "Aku ingin melihat keadilan macam apa yang kau jalankan di sini, Marquis Ye. Jika aku merasa tidak puas dengan caramu… maka aku akan membawa masalah ini langsung ke istana kerajaan. Dan menuduh Keluarga Ye sebagai pengkhianat yang bersekongkol dengan organisasi penjahat."
"Pengkhianat?!"
Satu kata itu membuat seluruh isi aula gemetar ketakutan. Tuduhan itu berarti — seluruh anggota keluarga, dari yang tertua hingga pelayan paling bawah, bahkan hewan peliharaan sekalipun, semuanya bisa dihukum mati. Itu adalah kejahatan terberat di seluruh kerajaan.
Wajah Ye Ba pucat pasi. Ia jatuh berlutut tanpa sadar, keringat dingin bercucuran di dahinya. "Tunggu… Tuan Adipati… tolong jangan sembarangan mengucapkan kata itu… Keluarga Ye tidak pernah…"
"Kalau begitu, dengarkan dia," potong Adipati sambil menunjuk Ye Hu. "Dengarkan apa yang dia katakan. Dan berhati-hatilah, Marquis Ye. Satu kebohongan saja… dan kau tahu akibatnya."
Suasana menjadi sunyi senyap. Seluruh mata tertuju kepada Ye Hu — pemuda yang selama ini mereka anggap sampah dan beban, kini berdiri tegak di hadapan kepala keluarga, didukung oleh dua kekuatan terbesar di Kota Awan.
Ye Hu menarik napas dalam, lalu menatap lurus ke arah Ye Ba. "Ayah… bukan, Maksudku, Tuan Marquis. Izinkan aku bercerita dari awal. Tentang pil yang diberikan kepadaku tiga tahun lalu. Tentang dantian yang hancur. Dan tentang siapa yang sebenarnya menginginkan kematianku…"