Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pintu rumah akhirnya dibuka. Erma yang berdiri paling depan langsung mengenali sosok lelaki yang berada di barisan terdepan. "Bapak!" Erma segera menyalami tangan Ayep dengan penuh hormat.
"Neng," balas Ayep singkat. Amarah yang sejak tadi membara di dalam dadanya sedikit mereda. Bagaimanapun, Erma selalu bersikap baik kepadanya. Bahkan setelah Edo dan Mia berpisah, Erma tetap memperlakukannya dengan hormat seperti biasa. "Mari, silakan masuk, Bapak-Bapak." Ia membuka pintu lebih lebar.
Ayep masuk bersama Ustaz Husni, Wak Haji Jaenudin, dan Pak RT Aceng.
Begitu melihat kedatangan mereka, Dedah dan Nurhan langsung menegang.
Tidak ada satu pun dari keduanya yang tersenyum. Wajah mereka justru terlihat panik.
Erma mempersilakan keempat tamu duduk di ruang tengah. "Silakan duduk dulu, Pak. Saya ambilkan minum dulu."
Erma kemudian bergegas menuju dapur.
Sementara itu, Ayep, Ustaz Husni, Wak Haji Jaenudin, dan Pak RT Aceng duduk berhadapan dengan Dedah dan Nurhan.
Suasana mendadak terasa begitu berat.
Nurhan akhirnya membuka suara. "Mau apa Bapak-Bapak datang ke sini?" Nada suaranya terdengar kaku.
Ayep menatap mantan besannya itu lekat-lekat. Tidak seperti biasanya, kali ini ia sama sekali tidak berbasa-basi. "Kami datang ke sini untuk membicarakan Mia."
Dedah langsung menelan ludah. "Mia?"
"Iya," jawab Ayep tegas.
Wak Haji Jaenudin yang duduk di samping Ayep ikut angkat bicara. "Begini, Pak Nurhan, Bu Dedah. Kami datang bukan untuk mencari keributan. Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik."
Nurhan mengerutkan kening. "Persoalan apa lagi? Edo sudah bilang kepada kami kalau mereka sudah bercerai."
"Justru karena itu kami datang," sahut Ayep.
Ustaz Husni mengangguk pelan. "Kami sudah mendengar langsung cerita dari Mia. Dan ada beberapa hal yang perlu diluruskan."
Dedah mulai gelisah. "Dari Mia?"
"Iya," jawab Ayep. "Mia sudah pulang ke rumah dalam keadaan sangat terpukul."
Nurhan mendengus. "Dia sendiri yang membuat masalah."
Ayep langsung menatapnya. "Anda yakin?"
Nurhan menjawab cepat. "Edo bilang Mia marah-marah, menuduhnya selingkuh, bahkan merusak HP-nya! Bahkan Mia mencakar wajahnya!"
Ayep mengepalkan tangan, "Dan Anda percaya?"
"Tentu saja. Edo anak saya. Ya jelas saya percaya!" sahut Nurhan angkuh.
"Baik lah, tapi saya juga percaya pada Mia. Dan kami punya bukti kalau Mia tidak menuduh Edo asal-asalan! Edo memang selingkuh!" Ayep melirik kakak sepupunya, Haji Jaenudin. "Kang, perlihatkan foto-foto dan putar video yang tadi Mia kirimkan."
Haji Jaenudin sigap mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung membuka ruang penyimpanan. "Ini, silakan Bu Dedah dan Pak Nurhan lihat." Haji Jaenudin menggeser ponselnya agar layarnya bisa dilihat oleh Dedah dan Nurhan.
Sebuah foto terpampang jelas di layar.
Dedah dan Nurhan langsung terhenyak.
Di dalam foto itu terlihat Edo sedang memeluk mesra seorang gadis muda.
Wajah Dedah seketika pucat.
Nurhan pun sempat terdiam. Namun, hanya beberapa detik. "Jangan berprasangka buruk dulu. Mana tahu gadis itu teman kerja Edo! Bukan selingkuhannya,"sangkal Nurhan cepat.
Haji Jaenudin menghela napas. "Ini ada videonya juga." Ia menggeser layar ponselnya. Video diputar.
"Saya tidak percaya Edo selingkuh!" Nurhan tetap membela.
Bersamaan dengan itu, Erma muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Langkahnya mendadak terhenti. Matanya menangkap layar ponsel Haji Jaenudin. "Astagfirullah..." Nampan di tangannya nyaris terlepas. Erma segera meletakkannya di atas meja. "Apa itu?" tanyanya lirih. Haji Jaenudin mengarahkan layar ponselnya kepada Erma. Erma menatap video itu lekat-lekat. Wajahnya perlahan berubah. Ia menutup mulut dengan telapak tangan. "Ya Allah..." Air matanya hampir saja jatuh, tetapi ia segera mengedipkan mata.
"Dan ini foto Mia sekarang, Neng Erma." Haji Jaenudin menunjukan foto-foto Mia yang penuh dengan lebam. Pipi, lengan dan yang paling kentara adalah lehernya.
Erma kemudian menoleh kepada kedua orang tuanya. "Jadi... ini yang terjadi pada Mia?"
Dedah buru-buru berkata, "Belum tentu Edo yang melakukan, Erma."
Erma tertegun. "Mama?"
"Bisa saja Mia mendapatkan luka itu dari hal lain."
Erma menatap ibunya tidak percaya. "Hal lain?"
Nurhan ikut menyahut. "Edo memang bilang mereka bertengkar. Tapi dia tidak pernah bilang memukul Mia sampai seperti itu."
Ayep yang sejak tadi menahan emosi akhirnya mengembuskan napas kasar. "Karena Edo tidak mungkin mengaku kepada kalian!" Ia mencondongkan tubuhnya. "Bapak dan Ibu tahu tidak, selama hampir satu tahun Edo tidak memberikan nafkah kepada Mia?"
Dedah terdiam.
"Mia yang memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka," lanjut Ayep. "Makan, kontrakan, listrik, kebutuhan sehari-hari, semuanya dia tanggung sendiri."
Nurhan menggeleng. "Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?" Mata Ayep menyorot mantan besannya itu.
"Edo bekerja!"
Ayep tertawa getir. "Bekerja untuk apa kalau istrinya yang harus menanggung semuanya?" Nurhan terdiam. Ayep melanjutkan, "Bahkan cicilan motor Edo pun Mia yang membayar!"
Erma membelalakkan mata. "Cicilan motor?"
Ayep mengangguk. "Iya." Ia menatap Dedah dan Nurhan bergantian. "Selama ini kalian tahu anak kalian punya motor. Tapi kalian tahu siapa yang membayar cicilannya?" Tidak ada jawaban. "Mia." Ayep berucap lantang.
Erma menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia memang mengetahui sebagian masalah rumah tangga adiknya. Namun, ia tidak pernah membayangkan keadaannya separah itu.
Ayep mengepalkan tangan. "Dan bukan cuma soal uang." Suaranya mulai bergetar menahan amarah. "Edo juga beberapa kali main tangan kepada Mia."
Dedah langsung menggeleng. "Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Karena Edo tidak pernah seperti itu!"
Erma langsung menatap ibunya. "Mama..."
Dedah tetap bergeming. "Edo anak Mama. Mama tahu sifatnya."
Ayep menatap Dedah dengan kecewa. Ia menarik napas panjang. "Tadi malam Mia bukan cuma cekcok dengan Edo. Tapi dia dipukul." Ruangan mendadak hening. "Mia dipukuli habis-habisan. Anak yang selama ini saya sayangi dan kasihi..." Suara Ayep bergetar hebat. Menahan amarah dan juga sakit hati. "Dilukai bukan hanya hatinya, tapi fisiknya oleh lelaki yang ia cintai. Oleh lelaki yang dulu berjanji pada saya akan menjaga, mencintai dan menyayanginya." Kalimat itu terucap begitu dalam dan penuh kesakitan. "Foto-foto itu buktinya!"
Erma menutup mulut. "Ya Allah... astagfirullah."
"Dan yang paling kejam... Edo mencekik anak saya."
Erma langsung menatap Ayep. "Apa?"
Suaranya bergetar. "Dicekik?"
Ayep mengangguk. "Mia dicekik sampai Mia kesulitan bernapas. Dia bahkan nyaris kehilangan kesadaran."
Erma mundur setengah langkah. "Astagfirullah hal adzim..." Tangannya gemetar. Ia membayangkan Mia yang selama ini dikenalnya sebagai perempuan lembut dan sabar harus mengalami hal seperti itu.
Sementara Dedah dan Nurhan kembali saling pandang. Keduanya sama-sama terkejut. Tetapi Nurhan masih berusaha mempertahankan pembelaannya. "Kalau memang begitu, kenapa Mia tidak melawan?"
Ayep menatapnya tajam. "Melawan bagaimana? Ketika lehernya dicekik?"
Nurhan terdiam. "Bapak tahu sendiri bagaimana tenaga perempuan dibandingkan laki-laki," lanjut Ayep kesal setengah mati. Kalau tidak ingat janjinya pada sang istri dan Mia sendiri, Ayep ingin sekali meninju wajah Nurhan sampai giginya rontok.
Ustaz Husni yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Pak Nurhan, Bu Dedah, masalah ini sudah terlalu jauh kalau terus ditutup-tutupi." Ia berbicara dengan nada tenang, tetapi tegas. "Kalau memang Edo melakukan kekerasan, jangan lagi dicari-cari alasan untuk membenarkannya."
Haji Jaenudin mengangguk. "Dan kami bukan datang untuk meminta Edo kembali kepada Mia."
Pak RT Aceng ikut bersuara. "Betul. Kami datang supaya masalah ini diselesaikan dengan baik dan jelas."
Nurhan mengusap wajahnya. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali berkata, "Saya tetap tidak percaya Edo bisa melakukan itu."
Erma menatap ayahnya. "Pak..." Nurhan menoleh. "Kalau benar Edo yang melakukan semua itu, kenapa Bapak masih membelanya?"
Pertanyaan Erma membuat Nurhan bungkam. Dedah pun tidak mampu menjawab.
Erma menghela napas panjang. "Selama ini aku selalu berpikir Bapak dan Mama membela Edo karena kalian tidak tahu kesalahannya." Ia menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. "Ternyata sekarang setelah kalian tahu pun, kalian masih berusaha mencari alasan untuk membelanya."
"Erma..." Dedah memanggil lirih.
Erma menggeleng. "Aku bukan sedang membela Mia karena dia adik iparku." Ia mengusap sudut matanya. "Aku membela orang yang menjadi korban."
Ayep menatap Erma dengan sorot mata penuh haru.
Haji Jaenudin kemudian kembali menyimpan ponselnya. "Karena itu, kami meminta satu hal."
Nurhan menatapnya. "Apa?"
"Surat talak."
Dedah mengerutkan kening. "Surat talak?"
Ustaz Husni mengangguk. "Iya. Kalau Edo memang sudah menjatuhkan talak kepada Mia, berikan surat atau bukti pernyataan talak itu kepada pihak Mia. Jangan membuat Mia menunggu dan menggantung tanpa kejelasan."
Pak RT Aceng menimpali, "Dan sebaiknya persoalan administrasi serta hak-hak Mia juga segera diselesaikan. Jangan sampai setelah bercerai, masalahnya malah semakin panjang."
Haji Jaenudin menatap Nurhan dengan serius. "Kami datang baik-baik. Kami tidak ingin mempermalukan keluarga Bapak. Kami hanya ingin Mia mendapatkan kejelasan."
Ayep berdiri perlahan. "Anak saya sudah cukup menderita." Suaranya terdengar berat. "Jangan tambah penderitaannya dengan membuatnya menunggu kepastian."
Nurhan terdiam. Dedah menundukkan wajah. Erma memandang kedua orang tuanya dengan kecewa. Lalu ia beralih menatap para tamu. "Pak, saya akan menelepon Edo sekarang juga. Saya akan meminta dia pulang untuk menyelesaikan masalah ini!" ujar Erma tegas.
"Erma!" Nurhan dan Dedah sontak menatap putrinya dengan wajah tak suka.
"Stop membela Edo terus, Ma, Pak. Masalah ini harus segera diselesaikan."
model baju smua di ganti...jgn lg pakai baju model kain lap.
manjakan diri sendiri itu sangan penting buat imun biar terus awet muda👍👍👍