Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu. Bagaimana Char dicintai secara ugal-ugalan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Gorgio setengah berlari memasuki rumah sakit. Lotta sampai terseok-seok mengikuti langkah suaminya. Beberapa wartawan yang mengenalnya langsung mengerumuni.
"Tuan Torrer! Tuan Torrer! Apa kedatangan anda kemari untuk Nyonya Romanov?"
Gorgio tak menjawab pertanyaan para awak media. Ia menuju resepsionis.
"Tolong di mana Charoen Elizabeth Torrer dirawat!" pinta Gorgio dengan wajah cemas.
"Maaf Tuan, atas perintah Tuan Romanov. Kami dilarang memberitahu keberadaan Nyonya Romanov!"
"Tapi saya ayahnya!" teriak Gorgio, wajahnya penuh kekhawatiran, sementara Lotta sudah menangis mencemaskan keadaan putrinya.
"Suster, tolong. Saya Ayahnya," pinta Gorgio memohon.
"Saya coba minta tanya dulu ke Tuan Romanov," ujar perawat yang iba melihat wajah dua orang tua yang cemas.
Wajah pucat Gorgio dan Lotta terpampang jelas di layar ponsel Alexander. Tangannya mencengkram benda pipih itu hingga ....
Krak!
Layar ponsel retak, serpihan kecilnya terlempar dan melukai ibu jarinya. Goresan merah langsung terlihat. Ponsel mati total akibat dicengkram kuat oleh Alexander.
"Pintar sekali dia berperan menyedihkan seperti itu!" geramnya bergumam.
Raph hanya berdiri mematung, laksana manekin bernyawa. Setelah mendapat omelan dari Dokter kandungan. Pikirannya sedikit kusut dan merasa sedikit bersalah karena tidak mengingatkan sang atasan.
Lalu bayangan mata Laura yang menatapnya marah. Jari lentik sang dokter yang menunjuknya, bibir tipisnya yang dilapisi pemerah wangi strawberry yang mengomelinya.
'Holly sh*t!" gelengnya saat sadar apa yang berkecamuk di pikirannya.
Di dalam kamar VVIP yang senyap, suara dengus geraman Alexander terdengar begitu mengerikan. Darah segar perlahan menetes dari ibu jarinya yang tergores serpihan kaca layar ponsel, namun sang penguasa Seradam itu seolah tidak merasakan sakit sedikit pun. Amarah yang membakar di dadanya jauh lebih mendominasi.
Charoen yang duduk bersandar di ranjang terkesiap melihat tangan suaminya berdarah.
"Alex! Tanganmu..." seru Charoen cemas, segera menarik lengan suaminya.
"Kau kenapa? Kenapa bisa terluka begini?"
Alexander mendadak melunak saat manik mata pekat istrinya menatapnya penuh
kekhawatiran. Kilat kemarahan di matanya meredup seketika, berganti dengan kehangatan posesif. Ia menyembunyikan tangannya yang terluka di balik punggung, mencoba tersenyum tipis.
"Tidak masalah my dear love. Ini hanya luka kecil. Tidak akan membunuhku," ujar Alexander tenang.
Char mengangkat tangan membentangnya lebar. Ia ingin Alexander datang ke pelukannya. Tetapi sejak dimarahi Laura, ia sedikit takut mendekati istrinya. Takut-takut ia melukai Char dan lima kantung janin yang sempat bermasalah karena kelelahan.
"Kamu nggak mau peluk aku?" tanya Char sedih.
Wajah Char murung, ia menurunkan kedua tangannya. Alexander gegas mendekat dan menyandarkan tubuhnya secara sangat hati-hati bahkan seperti gerakan slow motion. Char yang tak sabaran menarik tubuh besar suaminya dan masuk dalam pelukannya. Walau tak bisa memeluk tubuh Alexander karena terlalu besar. Tapi Char menyukainya.
"Kamu besar sekali. Aku suka dipeluk seperti ini. Karena dengan begini. Aku bisa sebenarnya bersembunyi ...."
Kata-kata Char terhenti, Alexander merasakan hal berbeda. Terlebih, kata terakhir istrinya.
"Bersembunyi? Bersembunyi dari apa?" tanya Alexander menatap mata pekat Char.
Char menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya ke bantal. Lalu meraba pipi suaminya.
"Bersembunyi dari semua kebisingan di dunia. Mereka yang menuntut terlalu banyak, tapi lupa memberiku ruang untuk bernapas. Bersembunyi dari orang-orang yang terlalu sibuk menyenangkan orang lain. Aku ingin menghilang dan saat mereka sadar. Aku sudah pergi dari mereka ...."
"Kau tak ingin menemui kedua orang tuamu? " potong Alexander langsung mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Apa mereka ke sini?" tanya Char.
"Ya! Dengan wajah memelas di depan layar. Jujur, kalau kita usir. Bahkan kekuasaan Romanov tak mampu membendung cibiran publik," sahut Alexander mengaku.
"Aku bisa mengusir mereka saat ini juga. Bahkan buat mereka menghilang. Tetapi rekam jejak dan data jika kamu adalah putri Torrer tidak bisa dihilangkan," lanjutnya sekali lagi dengan nada menyesal.
"Alex ..."
"Sayang, dengarkan aku. Aku tahu betapa kamu membenci mereka. Tapi aku ingat kamu pernah berkata, semua yang ada di kamu ada darah Torrer."
Char diam, ia memang pernah mengatakan itu. Ia masih sangat ingat.
"Dengarkan aku, dear. Sekarang aku bisa menekan media. Tetapi orang di luar sana. Yang menonton, mungkin mereka tak berani secara terus terang. Tapi nanti, anak-anak kita, cucu-cucu kita dan seluruh keturunan kita yang akan membayar semuanya," lanjut Alexander.
"Ck, kenapa juga aku berkata ini!" dumalnya kesal.
Char merengek manja, Alexander menatapnya.
"But unfortunately what I said was the truth," lanjutnya menyesal.
Charoen tersenyum tipis, meski ada jejak pahit yang tertinggal di sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangan, merapikan helai rambut suaminya yang jatuh menutupi dahi.
"Kau benar, Alex," gumam Charoen lirih. "Aku tidak bisa menghapus darah yang mengalir di nadiku. Tapi setidaknya, aku punya pilihan untuk menentukan siapa keluarga yang sebenarnya kini melindungiku."
Alexander meraih tangan mungil istrinya, mengecup telapak tangan itu lama-lama penuh pemujaan. Ia tahu betul luka masa lalu tidak akan sembuh hanya dalam semalam, terutama setelah apa yang keluarga Torrer lakukan pada Charoen. Namun sebagai seorang kepala keluarga Romanov, ia harus berpikir panjang demi masa depan istri dan kelima anak mereka.
Di ambang pintu, Raphael yang masih berdiri kaku mendadak merasakan getaran di ponsel dalam saku jasnya. Dengan gerakan amat hati-hati agar tidak menarik perhatian atasan maupun bayangan Dokter Laura yang terus menghantui kepalanya, Raph melirik layar ponselnya.
Itu adalah laporan dari pos pengamanan depan.
Raph melangkah mendekat perlahan, membungkuk hormat tepat di samping Alexander.
"Tuan Muda," lapor Raph dengan suara tertahan. "Petugas keamanan melaporkan bahwa Tuan Gorgio dan Nyonya Lotta masih menunggu di lobi utama. Mereka menolak pergi meskipun sudah diberitahu bahwa Anda tidak memberi izin masuk."
Alexander mendengkus kasar, rahangnya kembali mengeras. "Dasar keras kepala. Suruh mereka enyah dari sana sebelum aku mengerahkan pasukan pengamanan khusus untuk menyeret mereka keluar!"
"Tunggu, Alex," potong Charoen cepat sebelum suaminya sempat memberi perintah mutlak pada sang ajudan.
Alexander menoleh, menatap istrinya dengan kerutan di dahi. "Kau ingin menemui mereka, Dear? Kau tidak harus melakukannya jika itu hanya akan membuat hatimu sakit."
Charoen menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian di dadanya. Ada hal-hal yang harus diselesaikan sampai tuntas, bukan untuk menyenangkan keluarga Torrer, melainkan demi memutus rantai beban masa lalunya sendiri.
"Biarkan mereka masuk, Alex. Hanya sebentar," pinta Charoen dengan tatapan memohon yang membuat pertahanan diktator Alexander runtuh seketika. "Aku ingin bicara dengan mereka untuk terakhir kalinya di depanmu. Setelah itu... terserah bagaimana keputusanmu."
Alexander terdiam sejenak, menatap lekat-lekat manik mata istrinya untuk memastikan tidak ada keraguan di sana. Ia menghela napas pasrah, lalu mengecup kening Charoen lembut.
"Baiklah. Sesuai keinginanmu," ucap Alexander mengalah. Ia kemudian melirik tajam ke arah ajudannya.
"Raph. Bawa mereka ke sini. Beri mereka waktu sepuluh menit, dan pastikan tidak ada sepatah kata pun yang keluar melebihi batas kesabaran istriku, atau aku sendiri yang akan melempar mereka keluar gedung ini!"
"Baik, Tuan Muda," sahut Raph patuh, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu kembali terdengar. Pintu ruang rawat VVIP terbuka lebar.
Gorgio Torrer dan Lotta melangkah masuk dengan langkah gemetar. Penampilan pria paruh baya itu tampak jauh lebih kusut, sementara mata Lotta bengkak akibat menangis sepanjang perjalanan. Namun saat pandangan keduanya jatuh pada sosok Charoen yang bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat, napas mereka seketika tertahan.
"Char ...," Lotta memanggilnya penuh kekhawatiran.
Char tadinya ingin mengatai dua orang tua itu secara culas. Tetapi melihat wajah ibu dan ayahnya yang mencemaskannya. Selama delapan belas tahun diabaikan, untuk pertama kalinya ia melihat kecemasan kedua orang tuanya. Ikatan darah pun berbicara ....
"Ayah ... Mommy. Aku hamil ...."
Alexander terkejut.
"Eh?"
Bersambung.
Ikatan darah memutus kemarahan. Seburuk-buruknya orang tua ... Char rupanya masih ingin mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya walau sangat terlambat.
Next?
pengen nabok rasanya biar otak si Grace sedikit berfungsi
char lucu
makin seru n penasaran