Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Tak Pernah diinginkan
Mira masih melihat barang-barang yang diberi oleh ibunya Shasa, meskipun ia sempat menolak pemberian itu tapi Ibu Laila tetap saja memaksanya hingga membuat anak itu tidak bisa lagi untuk menolak pemberian dari ibu temannya itu.
"Ayo Nak, ambil saja apa yang kamu suka," ujar Laila dengan lembut.
"Iya Bu, ini Mira sedang memilih," sahut anak itu.
"Pilih yang banyak ya Mir," suruh Shasa dengan semangat.
Sementara itu Rina kembali ke warung tendanya sebentar, karena ada pembeli. Wanita itu terlihat begitu sibuk melayani para pembeli. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikannya.
Dika berdiri di samping mobil hitamnya. Awalnya pria itu hanya berniat memastikan Shiren tidak berjalan terlalu jauh. Namun pandangannya tanpa sengaja beralih ke sebuah lapak sederhana di bawah pohon.
Seorang wanita sedang sibuk melayani pembeli. Wanita itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan sepuluh tahun lalu. Pakaiannya sederhana, wajahnya pun tampak lelah.
Namun Dika mengenalnya. Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Langkahnya mendadak terhenti.
“Rina...” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Miranda yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Siapa?”
Dika tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wanita yang sedang membelakanginya.
Rina, seorang wanita yang pernah menjadi istrinya. Wanita yang pernah mengandung anaknya. Wanita yang pergi dari rumahnya sepuluh tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Dada Dika terasa sesak. Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya sudah melupakan perempuan itu, tapi ternyata hanya melihat punggungnya saja sudah cukup untuk menghidupkan kembali semua kenangan yang selama ini ia kubur.
Namun kemudian pandangannya berpindah. Seorang gadis kecil yang sedang memilih barang bekas dari keluarganya, gadis kecil yang tadi bertabrakan dengan putri pertamanya, dan yang tadi ia dengar menolak cuma-cuma pemberian dari asistennya itu. Dada Dika terasa sesak namun kembali tertuju pada Rina.
Dika menatapnya lebih lama dan bergantian, antara Rina dan gadis kecil tadi. Entah kenapa ada sesuatu yang terasa aneh. Wajah gadis itu... cara tersenyumnya, bahkan sorot matanya, semuanya terasa begitu familiar.
Dika tanpa sadar melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Namun sebelum ia semakin dekat, sebuah tangan langsung mencengkeram lengannya.
“Mas.”
Dika berhenti. Miranda berdiri di sampingnya dengan wajah yang sulit dibaca.
“Kamu mau menghampiri dia?”
Dika menatap Miranda. “Dia Rina.”
“Aku tahu.”
Jawaban Miranda terdengar begitu tenang. Dika mengernyit. Miranda justru tersenyum tipis.
“Perempuan yang sudah pergi dari rumahmu itu.”
Dika terdiam, namun tatapannya masih belum terlepas dari kedua orang ibu dan anak itu.
“Setelah semua yang terjadi, sekarang kamu mau menghampirinya?”
“Miranda...”
“Kamu masih ingat bagaimana dia pergi?”
Dika mengalihkan pandangan. Tentu saja ia ingat bahkan terlalu ingat. Rina berdiri di hadapannya dengan mata penuh air mata ketika mengetahui bahwa Miranda bukan sekadar wanita yang pernah hadir dalam hidupnya. Miranda adalah perempuan yang telah menjadi selingkuhannya. Dan yang lebih menyakitkan lagi... Miranda sudah memiliki seorang anak perempuan dari hubungan mereka.
Shiren.
Rina saat itu sedang mengandung. Namun setelah mengetahui semuanya, Rina memilih pergi. Ia bahkan tidak mengizinkan Dika menyentuh anak yang sedang dikandungnya.
“Aku tidak mau anakku disentuh oleh seorang pengkhianat.”
Kalimat itu kembali terdengar di kepala Dika. Rahangnya mengeras sementara Miranda mendekat.
“Kamu sendiri yang bilang dulu bahwa Rina sudah memilih jalan hidupnya.”
Dika tidak menjawab.
“Dia pergi tanpa meminta apa pun darimu.”
Miranda kemudian melirik ke arah Mira. “Dan sekarang kamu ingin menghampirinya karena anak itu?”
Dika mengikuti arah pandang Miranda. Mira sedang tersenyum kepada asisten rumah tangganya itu, lalu memilih salah satu barang bekas anak pertamanya. Entah mengapa dada Dika kembali terasa sesak.
“Anak itu...” gumamnya.
Miranda langsung memotong. “Jangan.”
Dika menoleh. Miranda menggenggam lengannya lebih erat.
“Aku tidak mau Rina membenci anakku untuk yang kedua kalinya, Mas, cukup satu kali saja Rina menghina anak kita," ucapnya seolah tidak mau membiarkan semuanya hancur begitu saja. “Kalau memang kamu masih menyayangi aku dan Shiren, tinggalkan dia.”
Miranda menatap Rina dari kejauhan. “Lupakan Rina.”
Kemudian matanya berpindah kepada Mira. “Dan lupakan anaknya.”
Dika mengepalkan tangan. “Dia juga anakku.”
Untuk pertama kalinya suara Dika terdengar tegas. Miranda terdiam sesaat. Namun bukannya marah, wanita itu justru tersenyum kecil.
“Benarkah?”
Dika menatapnya, dengan sorot mata yang lebih serius.
“Kalau kamu menganggap dia anakmu, kenapa dulu kamu membiarkan Rina pergi?”
Pertanyaan itu membuat Dika bungkam. Miranda tahu persis kelemahan suaminya.
Rasa bersalah. Dan gengsi. Dua hal yang selama ini membuat Dika tidak pernah mencari Rina maupun anaknya.
Miranda kemudian berkata pelan, “Mas, aku tidak mau kehilangan keluargaku hanya karena masa lalu.”
Dika menghela napas. “Aku tidak bilang akan kembali kepadanya.”
“Bagus.”
Miranda tersenyum. “Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Sementara percakapan mereka berlangsung, Shiren yang sejak tadi berada tidak jauh dari sana tiba-tiba menghampiri.
“Papa.”
Dika menoleh. Shiren menggenggam tangannya.
“Ayo kita ke vila, Bi Laila kok lama banget sih," ujar gadis itu dengan cemberut.
Dika menatap putrinya. Untuk sesaat ia kembali melihat ke arah Mira. Gadis kecil itu akhirnya menemukan pilihan barangnya ia mengambil sepatu juga tas sekolah. Ada sesuatu yang membuat langkah Dika terasa berat. Selama ini anak pertamanya hidup nyaman di istananya. Sementara anaknya dari Rina. Hati Dika mencoles ingin rasanya ia mengambil putri keduanya itu. Tapi perkataan Rina sepuluh tahun yang lalu benar-benar menampar harga dirinya sebagai seorang pria.
Hingga akhirnya ia mengusap kepala Shiren.
“Iya. Kita ke vila sekarang.”
Dika membuka pintu mobil. Sebelum masuk, ia kembali menoleh.
Rina masih tidak menyadari keberadaannya.
Mira juga masih sibuk berbincang dengan Shasa juga Laila.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa pria yang baru saja berdiri beberapa meter dari sana adalah orang yang selama sepuluh tahun sengaja disembunyikan dari kehidupan Mira.
Dika akhirnya masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup, seorang supir mulai menghampiri Laila, untuk kembali ke mobil. Laila yang merasa sudah puas akhirnya meninggalkan anaknya dengan rasa rindu yanbg sedikit terobati.
Mobil perlahan meninggalkan taman raya. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa berhenti pada satu hal.
Wajah gadis kecil itu. Sementara di taman raya, Rina tiba-tiba berhenti bergerak. Entah kenapa tubuhnya terasa merinding.
Ia menoleh ke arah jalan. Mobil hitam tadi sudah tidak terlihat. Namun jantungnya berdetak begitu cepat.
Seolah ada sesuatu yang baru saja datang dari masa lalu... dan belum benar-benar pergi.
Rina menatap Mira yang sedang tersenyum di sampingnya.
Tangannya perlahan menggenggam pundak putrinya. “Ya Allah... jangan biarkan masa lalu menemukan anakku.”
Mira menoleh heran. “Ibu kenapa?”
Rina segera tersenyum. “Enggak apa-apa, Nak.”
Namun kali ini senyumnya terasa begitu dipaksakan. Karena jauh di dalam hatinya, Rina tahu... Mahardika Wiratama sudah kembali.
Bersambung ....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡