Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Air Mata dan Aura di Halaman Sekolah
Bel istirahat akhirnya berbunyi, dan anak-anak berhamburan keluar kelas dengan riuh. Sebagian besar berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa dan berbagi makanan mewah yang dibawa dari rumah. Sementara itu, Angel berjalan sendirian ke sudut halaman yang agak sepi, di bawah Bab 4: Air Mata dan Aura di Halaman Sekolah tua yang rindang. Ia mengeluarkan bekal sederhana yang dibuat ibunya — sepotong roti dan sepotong ikan panggang — dan bersiap menikmatinya dengan tenang, berharap tidak ada yang memperhatikannya.
Namun harapan itu tidak bertahan lama. Belum lama ia duduk, bayangan beberapa anak jatuh menimpanya. Saat mendongak, ia melihat anak laki-laki berambut emas yang tadi mengejeknya di gerbang berdiri di sana, diikuti oleh tiga orang temannya yang tampak sama angkuhnya. Anak itu bernama Valerian, putra dari Panglima Pasukan Langit — sosok kedua terkuat di dewan akademi, orang yang sangat ditakuti dan dihormati oleh seluruh warga sekolah.
"Lihat siapa yang ada di sini," kata Valerian sambil menyeringai, kakinya menendang kerikil ke arah kaki Angel. "Gadis jelata yang makan makanan miskin. Apa itu? Roti keras dan ikan sisa tangkapan ayahmu yang nelayan itu?"
Teman-temannya tertawa. Angel menutup bekalnya pelan-pelan, berusaha tidak menatap mata mereka. "Ini makanan Ibu buatkan. Tolong jangan ganggu aku."
Valerian melangkah maju, mendorong bahu Angel hingga gadis kecil itu terhuyung mundur. "Jangan sok berani! Kau pikir dengan pakaian lusuh dan makanan sampah seperti ini kau pantas duduk bersama kami? Ayahku adalah Panglima Langit! Dia bisa memerintahkan siapa saja untuk diusir, bahkan untuk dihukum! Kau tahu tidak, kalau ayahku mau, dia bisa membuat keluargamu tidak punya tempat tinggal!"
Angel merasakan amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya. "Aku tidak mengganggu kalian... Kenapa kalian jahat sekali?"
"Karena kau tidak pantas di sini!" Valerian tiba-tiba menyambar bekal dari tangan Angel, lalu melemparkannya ke tanah dan menginjak-injaknya. "Makanan sampah untuk orang sampah! Begitulah tempat yang pantas untuk makananmu!"
Mata Angel berkaca-kaca. Ia berlutut mencoba menyelamatkan makanannya yang sudah hancur terinjak. "Kenapa... kenapa kalian melakukan ini?"
Tindakan Valerian langsung menarik perhatian anak-anak lain. Satu per satu mereka berhenti dan mendekat, membentuk lingkaran besar di sekeliling mereka. Kerumunan itu semakin memadat — anak-anak dari kelas lain, bahkan beberapa pengajar yang sedang berpatroli ikut berhenti dan menonton dari jarak agak jauh. Namun tidak ada yang berani menegur. Semua orang tahu siapa ayah Valerian, dan tidak ada yang ingin menyinggung perasaan keluarga paling berpengaruh di akademi itu.
"Lihat dia... menangis lagi," ejek salah satu teman Valerian. "Lemah sekali. Benar-benar tidak ada gunanya."
Valerian merasa semakin berkuasa. Ia melangkah maju, mencengkeram kerah seragam Angel, menariknya hingga berdiri tegak di hadapan semua orang. "Dengar semuanya! Gadis ini tidak punya ayah yang dikenal, ibunya pembantu, pamannya nelayan bau ikan! Dia seharusnya tidak pernah bisa masuk ke sini! Kalau ayahku tahu, dia pasti akan marah besar!"
Angel gemetar seluruh tubuhnya. Air matanya jatuh membasahi pipi. Di antara kerumunan itu, ia merasa begitu kecil, begitu hina. Namun di tengah rasa sakit dan malu yang luar biasa itu, sesuatu di dalam dirinya mulai bergetar lagi. Seperti saat di ruang wawancara, namun kali ini terasa lebih kuat — karena rasa sakitnya lebih dalam.
Tiba-tiba angin berputar kencang di sekeliling mereka. Daun-daun dari pohon di atas kepala mereka berputar liar, dan tanah di bawah kaki Valerian bergetar pelan. Valerian merasakan udara tiba-tiba menjadi dingin hingga tulang, tangannya yang mencengkeram kerah Angel gemetar tanpa sebab.
"Apa... apa yang terjadi?" Valerian mundur selangkah, menatap Angel dengan tatapan bingung dan sedikit takut. "Kenapa... kenapa udara menjadi sedingin ini?"
Angel sendiri tidak menyadari apa yang terjadi. Ia hanya merasa sakit, marah, dan tidak adil. Dan semakin ia merasakan emosi itu, semakin kuat aura gelap yang memancar dari tubuhnya — begitu kuat hingga membuat kerumunan anak-anak yang menonton terdiam dan mundur perlahan.
Belum sempat sesuatu yang lain terjadi, tiba-tiba dua sosok melompat masuk ke dalam lingkaran dengan gerakan yang begitu cepat dan tenang. Rebeca dan Kael — yang ternyata tidak benar-benar pergi, melainkan menunggu di balik tembok luar akademi dan mengawasi dari kejauhan — kini berdiri di sana.
Rebeca langsung menarik Angel ke dalam pelukannya, melindunginya. Sementara Kael berdiri di depan mereka, menatap Valerian dan kerumunan itu dengan tatapan yang sedemikian tajam hingga semua orang terdiam seribu bahasa. Meski pakaian mereka sederhana, kehadiran mereka tiba-tiba membuat seluruh halaman terasa berat.
"Siapa yang menyuruh kalian menyakiti anak ini?" suara Kael terdengar rendah namun bergema di telinga setiap orang yang ada di sana.
Valerian yang tadinya angkuh kini mundur terhuyung. "Kau... kau nelayan itu! Berani sekali kau masuk ke sini! Ayahku akan melaporkan kalian semua! Kalian akan diusir!"
Saat itu juga, dari kejauhan terdengar langkah kaki berat yang mendekat dengan cepat. Seorang pria bertubuh tegap dengan jubah berhias emas berjalan mendekat dengan wajah merah padam — itu adalah Panglima Langit, ayah Valerian — yang baru saja tiba di akademi dan merasakan gelombang kekuatan aneh yang memancar dari halaman sekolah, membuatnya merasa seolah-olah keberadaan anaknya sedang dalam bahaya besar.
"Siapa yang berani mengancam anakku?" bentaknya dengan suara menggelegar, matanya menatap tajam ke arah Kael, Rebeca, dan Angel.
Valerian langsung berlari ke arah ayahnya, menunjuk ke arah mereka dengan wajah ketakutan. "Ayah! Mereka! Orang-orang rendahan ini yang menggangguku! Mereka menakutiku dan bahkan ingin menyakitiku!"
Panglima Langit menatap Rebeca dan Kael dengan tatapan merendahkan dan marah. Namun begitu matanya bertemu dengan mata Kael, langkahnya terhenti. Wajahnya berubah pucat. Ia mengenali tatapan itu — tatapan yang pernah ia lihat puluhan tahun lalu, di bawah komando sosok yang bahkan ayahnya sendiri takut sebut namanya. Rasa berani yang tadi meledak-ledak seketika menguap, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun.
Kael menatapnya datar, tanpa menunduk sedikit pun. "Anakmu mulai membiasakan diri dengan kekuasaan sebelum ia mengerti arti tanggung jawab, Panglima. Itu bukan hal yang baik."
Panglima Langit menelan ludah. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Sesuatu di hadapan pria nelayan itu membuat lututnya terasa lemas — seolah-olah ia sedang berdiri di hadapan kekuatan yang jauh melampaui dirinya.
Rebeca memeluk Angel erat, lalu berkata dengan tenang namun tegas kepada Panglima Langit: "Kami datang untuk mengambil putri kami sejenak. Dia butuh menenangkan diri. Dan kami harap, mulai hari ini, tidak ada lagi yang mengganggunya hanya karena siapa orang tuanya."
Tanpa menunggu jawaban, Rebeca dan Kael berbalik pergi bersama Angel, meninggalkan kerumunan yang masih terdiam, meninggalkan Valerian yang bingung, dan meninggalkan Panglima Langit yang berdiri diam dengan keringat dingin di dahinya, menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk antara takut dan heran.
Saat mereka berjalan menjauh, Angel menengok ke belakang. Ia melihat wajah-wajah yang tadinya penuh cemooh kini penuh kebingungan dan rasa hormat yang samar. Dan di dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu — ada hal-hal tentang ibunya dan pamannya yang bahkan ia pun belum ketahui.