"Aku tidak menyangka, aku akan jatuh cinta kepada Pria yang seharus nya tidak boleh aku cintai. Apa daya dengan hati ini, aku tak mampu melawannya." Kirana Larasati
"Aku hanya menginginkan seorang wanita yang tulus dan menerima aku apa adanya, bukan hanya melihat wajah serta harta ku saja. Entah mengapa aku bisa memutuskan untuk menikah siri dengan gadis yang baru ku kenal, aku memang sudah gila." Anggara Wijaya.
Selamat membaca semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak kalian.🤗
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaku dalam pesona mu
'Hemh alat? Rasanya kata-kata itu sungguh menyakitkan, tapi itu memang benar aku hanya alat dia untuk menunggu kekasihnya. Pada awalnya, aku kira benar dia sedang mencari seseorang yang akan mencintainya dengan tulus, tidak memandang fisik atau harta, nyatanya itu hanya kata kiasan saja. Tidak bisakah kau memandangku? Untuk sesaat pikirin picik ini muncul dalam otak ku, namun secepat mungkin aku tersadar jika itu adalah hal yang mustahil!'
Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat sarapan menjadi satu-satu nya suara di ruangan itu. Hari ini Kirana nampak lebih banyak diam, membuat Angga mengernyitkan dahinya.
"Kau masih memikirkan soal semalam?" tanyanya dingin.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Tidak usah di pikirkan, bagaimana kaki mu?" ucapnya di sela-sela makannya.
"Sudah lumayan baik."
"Coba ku lihat!" Angga beranjak dari tempat duduk dan berjongkok di hadapan Kirana.
"Eh, tidak usah Kak," Kirana mencoba menghalangi Angga.
"Diam!" gertaknya.
Kirana mengkerut takut, dan seketika terdiam membiarkan Angga memeriksa Kaki nya.
"Hem, sudah tidak terlalu bengkak, dimana minyak urut yang di berikan Mamah?" Angga menengadah menatap Kirana. Kirana hanya diam terpaku menatap Angga yang memperlakukannya dengan lembut.
"Heh gadis bodoh, aku tanya dimana minyak urutnya?" tanyanya sekali lagi, namun tak ada reaksi dari Kirana dia tetap diam. Angga tersenyum jahil, dia menekan Kaki Kirana yang sakit.
Aww...teriak Kirana.
"Hah, akhirnya kamu sadar! Mikirin apa kamu? Sampai lupa keadaan sekitar, liat aku terlalu ganteng ya," ucapnya dengan percaya diri.
"Mana ada, aku hanya kangen sama orang tua ku, biasanya kalau aku sakit mereka akan merawat ku dengan lembut dan penuh perhatian," Kirana memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Angga tak melihat kebohongan di matanya. Nyatanya, tadi dia tenggelam dalam pesona Angga dan kelembutannya.
"Kau ini, bukannya Ibu ku memperlakukan mu dengan baik, kenapa kamu masih ingat orang tua mu?" ucap Angga sembari bangkit.
"Meskipun Mamah begitu baik pada ku, tapi aku masih punya orang tua Kak dan mereka sangat menyayangi ku," lirih Kirana.
"Cek, sudahlah! Dimana kau menyimpan minyak itu?"
"Di kamar."
'Dia tau soal minyak urut itu, ah pasti Mamah yang memberi tahu nya.' batin Kirana.
Angga mengoleskan Minyak urut itu ke Kaki Kirana dengan lembut setelah itu dia pun bersiap untuk pergi ke kantor.
"Tidak usah melakukan apapun, duduk dan istirahat saja, pulang nanti biar aku yang masak!" ucap Angga lantas dia pun pergi.
***
Waktu terasa berjalan lambat bagi Kirana, tapi kehadiran Angga di sampingnya saat dia terluka membuat perasaannya makin lama makin dalam terhadap Angga, membuat Kirana merasa sesak.
Sekarang dia sudah bisa berjalan normal dan bisa melakukan rutinitasnya seperti semula. Memasak, membereskan rumah dan lain sebagainya, hari ini dia juga berangkat ke kampus setelah kemarin meminta cuti beberapa hari.
"Kiran!" panggil seseorang yang Kirana kenal, ya dia adalah Radit sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu.
"Kiran, kapan kamu balik dari kampung? Waktu aku mau jemput kamu, aku ketemu sama Kakak sepupumu dia bilang kamu pulang kampung ada apa, kenapa kamu mendadak pulang, apa orang tua kamu baik-baik saja?" Kirana di berondong pertanyaan oleh Radit.
'Jadi dia ketemu Radit, hemh pandai juga dia mencari alasan.'
"Gak ada apa-apa ko Kak, hanya kangen aja!"
"Ah begitu, aku minta no kamu boleh gak, biar mudah untuk menghubungi kamu," ucap Radit penuh harap.
"Boleh ko," Kirana menyebutkan no hp nya yang langsung di ketik di layar ponselnya oleh Angga.
rasain kamu angga😀😀😀