Bercerita tentang masa-masa SMA. Seorang cewek yang mengejar cita, cinta dan mimpinya. Panggil saja dia, Mila. Aksara Mila. Cewek galak, ketus, dan menarik. Yang direbutkan oleh dua laki-laki yang menyukainya.
Tian si cowok datar, dingin dan menyukai Mila dalam diam.
Bian si cowok pintar, manis dan di sukai Mila.
Mereka berdua selalu membuat hati Mila bingung untuk memilih.
Tidak lupa ada sahabat-sahabat Mila yang selalu berada di sampingnya. Yana sahabat sekaligus tukang ojeknya kemana-mana. Lalu ada Tian, Seno, Amar dan Wahyu. Mereka semua adalah sahabat dan juga pelindung bagi Mila.
Bian bersaing dengan Tian untuk mendapatkan hati Mila. Tapi Bian kalah power karna benteng untuk mendekati Mila terbentang tinggi. Dia harus bisa melewati bodyguard yang selalu berada di samping Mila.
Yap, sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eis Alfiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Yang Terbagi
Pagi datang 🌞
“Ayo anak-anak,,,,,! Banguuuuunnn, kita olahraga! Ayah tunggu di halaman, SEKARANG,,,,,” teriak Om Gunawan dengan mic di tangan.
Dia sudah siap mengajak mereka semua untuk senam pagi. Sekedar mengganggu tidur indah mereka dan membuat hubungan semuanya menjadi lebih akrab. Om Gunawan dan Mang Dadang sudah bersiap di halaman Villa. Bunda dan Mbok Darmi masih sibuk persiapkan cemilan dan sarapan pagi untuk mereka santap setelah senam. Mendengar lagu SKJ berkumandang keras, cukup mengganggu tidur mereka semua. Tian membangunkan teman-temannya untuk segera turun ke bawah. Seno sudah berpindah posisi dan berada di ranjang Wahyu, entah kapan dia pindah. Seno dan Wahyu adalah dua makhluk yang sangat sulit dibangunkan. Mereka malah saling berpelukan bak memeluk guling. Yana dan Amar mengerjai keduanya dengan meniupkan bau naga dari mulut mereka. Hal itu cukup ampuh untuk membangunkan mereka. Wahyu kaget melihat Seno ada dihadapannya, sontak dia mendorongnya sampai Seno terjatuh ke lantai.
Seno yang sedang asik mimpi indah jadi terbangun kaget sambil mengusap-ngusap badannya yang sakit. “Kok gue tidur di bawah sih? Sakit lagi.” ucap Seno sambil mengucek-ngucek mata.
“Ngimpi kali luh. Udah cepet bangun! Om Gunawan nyuruh kita turun.” Yana berpura-pura tidak tau sambil menahan tawa. Amar dan Tian sudah turun lebih dulu.
“Tapi Yan, gue kan belum mandi.” Wahyu masih menguap ngantuk.
“Gue emang udah? Udah cepetan ayo! Lu gak denger tuh suara-suara di bawah.” Yana menarik Wahyu untuk bangun dari kasur.
“Mau ngapain sih lagian? Di kira ini persami kali bangun pagi-pagi begini.” saut Seno dengan asal, nyawanya belum terkumpul. “Eh, tungguin kek.” Melihat Yana dan Wahyu yang sudah meninggalkannya.
Para cewek sudah berkumpul di halaman Villa lebih dulu. Yuna dan Febby masih tersungkur di sofa teras. Kantuk masih menyelimuti mereka berdua. Matanya susah di ajak kompromi. Tidurnya baru sebentar sekali. Semalam Yuna kesulitan tidur dan Febby menghabiskan malam sampai pagi dengan Kian di sofa depan tv. Setelah adzan subuh mereka baru pindah ke kamar, itu pun dibangunkan si Mbok. Yuna ingin kembali ke kasur empuk dan selimut tebalnya. Bukann bangun pagi-pagi begini dengan cuaca yang sedingin es. Kalau bukan karna Mila yang meminta untuk menemaninya turun ke bawah, Yuna pun ogah! Luna berdiri tegak sambil melakukan pemanasan ringan. Tidurnya cukup nyenyak, terlihat dari matanya yang terbuka lebar. Tian dan Amar sudah turun ke bawah dan ikut bergabung dengan Mila. Tian menyapa Mila dengan senyuman seperti biasa dan dibalas dengan senyuman yang sama. Luna memperhatikan dengan iri. Tak lama Wahyu, Yana, Seno pun datang dan ikut bergabung.
“Oke. Semua sudah berkumpul. Mari kita mulai senamnya.” teriak Ayah dengan semangat.
Yuna bangun dari sofa dan mengacungkan tangan. “Om, boleh gak Yuna tidur lagi. Yuna susah tidur semalam. Boleh yaaaa,,, Pleasee.” dengan tangan yang memohon tapi matanya terpejam.
“Tidak boleh. Yuna harus ikut senam.” katannya menolak tegas. Om Gunawan sudah cukup berbaur dan mengenal pribadi teman-teman Tian pada saat barbeque tadi malam. Mereka sudah seperti saudara sendiri dan Om Gunawan cukup menyukai Yuna karna dia paling kecil di antara mereka.
“Seno deh, Om . Boleh ya. Ngantuk Om, Suer!” Seno mengangkat dua jari.
“Pokoknya semuanya harus senam!” teriak Om Gunawan lagi. Dia memang selalu tegas soal kesehatan. Tidak mau melihat mereka bermalas-malasan. “Ini Kian mana?” matanya mencari-cari keberadaan anak sulungnya, yang belum ikut bergabung bersama mereka. Om Gunawan meneriakinya lagi dengan kencang.
Kian turun dengan celana kolor dan rambut acak-acakan. Sambil mengusap matanya yang masih tertutup rapat. “Duh, Ayah. Apaan sih? Pagi-pagi begini suruh senam.” katanya sambil menguap. Kian tak sadar penampilanya itu membuat semua mata cewek-cewek menutup malu. Terutama Febby pacarnya. Tian yang berada di samping Mila langsung menutup matanya.
Yuna membuka matanya dan sontak berteriak. “Kak Kiannnnnn,,,!”
Kian kaget melihat Yuna dan Febby, tepat berada di sampingnya. Teriakan mereka berdua membuat dia menyadari penampilannya. Kian langsung berlari lagi ke atas kamar dengan cepat. Febby tersipu menahan tawa atas kelakuan pacarnya. Yang lain tertawa melihat kelakuan Kian. Om Gunawan pun memulai senam pagi ini. Dia menjadi instruktur senam dan Mang Dadang sebagai asistennya. Bunda dan Mbok Darmi tak luput dari acara senam itu. Seno, Kian, Febby dan Yuna berdiri paling belakang untuk mencuri-curi waktu agar mereka bisa terdiam dan tidak mengikuti gerakan senam.
Setelah 20 menit pemanasan, Ayah menginstruksikan mereka untuk keluar Villa. Mereka akan melakukan jalan santai sambil melihat-lihat perkebunan yang ada di sepanjang jalan menuju Villa. Anak-anak setuju dengan ajakan Om Gunawan kali ini. Mereka sudah lebih bersemangat usai pemanasan dan mata mereka juga sudah cukup terbuka lebar karna tetesan embun pagi
Mang Dadang bertugas memimpin jalan dan Om Gunawan bertugas menjaga barisan belakang, agar tidak ada yang diam-diam kabur dan kembali ke Villa sebelum acara ini selesai. Kian di suruh ayahnya berjalan lebih dulu karna dia di kenal, suka diam-diam menghilang. Bunda dan Mbok Darmi tidak ikut karna harus menyiapkan makanan yang belum selesai.
Sepanjang jalan Mang Dadang memperkenalkan tanaman apa saja yang tumbuh dan sedang ditanamnya. Mila melihat dan memperhatikan dengan seksama. Mila memang suka melihat kebun luas beserta tanaman yang tumbuh subur. Bahkan dia bermimpi, akan punya rumah dengan kebun sayur mayur di halaman belakang rumahnya kelak.
Tian mengikuti dan menunggu Mila setiap kali dia berhenti. Mila ingin melihat dan memegang dengan jelas tanaman yang sedang tumbuh dan berbuah itu. Dia gemas melihat langsung tanaman yang masih kekar menggantung sebelum masa panennya tiba. Senyumnya mengembang indah setiap kali dia takjub akan ciptaan Tuhan. Tian ikut tersenyum bahagia melihatnya.
Saat ditawari untuk memanen tanaman yang sudah siap panen, Mila terlihat paling antusias. Dia teriak paling dulu saat Mang Dadang menawari untuk memanen singkong. Yana melarangnya karna itu pasti cukup sulit dan keras. Tangannya pasti akan sakit tapi Mila kekeuh untuk memanennya, dengan dibantu Mang Dadang, Mila pun berhasil mencabutnya dengan sukses. Yuna yang melihat itu penasaran untuk ikut mencobanya. Kali ini Om Gunawa yang membantu Yuna untuk menarik singkong.
Om Gunawan memang menyukai anak perempuan tapi anaknya semua laki-laki. Jadi melihat Yuna cukup membuatnya senang. Setelah Yuna dan Om Gunawab berhasil memanen, sekarang giliran Febby dan Kian. Namun karna terlalu bersemangat dan berekspetasi bahwa hasilnya akan banyak seperti Mila dan Yuna. Mereka berdua terjatuh karna singkong yang dicabutnya sangatlah mudah dan belum banyak juga buahnya. Baju Febby dan Kian jadi berlumuran tanah. Terakhir adalah Luna, dia bingung harus memanen bersama siapa? Matanya melihat Tian tapi Tian masih acuh padanya.
“Ayo, Luna. Sekarang giliran kamu. Tian bantu Luna, cabut singkongnya.” perintah Om Gunawan dengan nafas yang terdengar masih ngos-ngosan sehabis mencabut singkong. Luna tersenyum senang dalam hati tapi tidak dengan Tian. Dia diam tak berkutik sama sekali, malah dia enggan untuk bergerak membantu. “Ayo, Tian.” teriak Om Gunawan.
Tian melihat Mila dan dia menganggukan kepalanya, tanda tak apa. Tian pun membantu Luna menarik pohon singkongnya tapi saat mereka sedang berusaha dengan kuat menarik pohon itu, Luna dengan sengaja mengubah posisi tangannya dengan menggenggam tangan Tian. Dia berpura-pura tak menyadari tapi Tian tidak. Jelas itu membuatnya kaget karna tak menyukainya. Tian langsung melepaskan tangannya dan mengakibatkan Luna terhempas dengan kencang ke tanah.
“Aww,,,,,” rintih Luna saat tersungkur ke tanah. Semuanya kaget terutama Tian. Dia tak mengira kalau itu akan membuat Luna terjatuh. Secepatnya dia menolong dan membangunkan Luna, tapi kakinya terkilir. “Sakit, Tian.” Luna menjatuhkan dirinya lagi ke tanah karna tak bisa berdiri.
Mila melihat kaki Luna yang memerah. “Kayanya terkilir.” dengan hati-hati dia membersihkan tanah di kaki Luna.
“Maaf.” kata Tian merasa bersalah.
“Luna apa sakit sekali? Bisa jalan gak?” Om Gunawan memeriksa keadaannya.
“Jangan di paksa jalan kalau seperti ini, Pak. Harus di gendong sampai ke Villa. Baru kita obatin di sana.” usul Mang Dadang.
“Ya udah Luna naik ke punggung Tian. Biar dia yang akan gendong kamu sampai ke Villa.” perintah Om Gunawan.
Tanpa banyak penolakan Tian langsung menggendong Luna sampai ke Villa. Rasa kesalnya terhapuskan begitu saja, saat melihat Luna yang kesakitan karna ulahnya. Tak ada yang mengira ini akan terjadi. Mereka cukup cemas melihat kaki Luna yang memar merah seperti itu. Mang Dadang dan Yana merapikan hasil panen singkong. Wahyu dan Amar yang membawanya ke Villa.
🌻
Bunda melihat mereka sudah kembali tapi terheran karna melihat Luna di gendong Tian. Dia bergegas menghampiri mereka yang baru saja kembali. “Ada apa ini? Luna kenapa? Bawa ke sini.” Tante Widia menyuruh Tian menaruh Luna di sofa. “Hati-hati, Tian.”
“Gpp kok, Tante. Cuma terkilir aja.” memegangi kakinya yang memar.
“Maaf, Bunda. Ini gara-gara aku tadi.” Tian membawakan kotak obat yang ada di laci.
“Merah sekali ini. Kita urut aja ya.” Tante Widia cemas karna kaki Luna mulai bengkak dan lebam.
“Mbok urut ya, Non.” Mbok Darmi menawarkan diri.
“Gak usah, Mbok.” ucapnya sambil merintih. “Aduh sakit banget,,,!” rintih Luna kesakitan saat mencoba menggerakan kakinya.
“Gak usah di gerakkin dulu. Di urut aja ya.” pinta Tian.
Atas bujukan Tian, Luna pun bersedia diurut dengan syarat dia akan menemani di dekatnya. Luna bersedia kesakitan asalkan perhatian Tian kembali padanya. Di balik sakitnya ada hati yang justru bahagia karna mendapat kembali memperhatian Tian. Luna meremas kuat tangan Tian sepanjang kakinya di urut. Peluh mengalir deras di dahi menahan rasa sakit. Tian menyeka peluh Luna dengan tangannya.
Anak-anak yang lain kembali ke kamar untuk mandi. Menghilangkan tanah yang menempel pada tubuh mereka selepas memanen. Mila berjalan dengan cemas menaiki anak tangga. Hatinya merasa bersalah. Andai saja dia tak memulai untuk memanen singkong itu. Mungkin hal ini tidak akan terjadi. Melihat raut wajah Mila yang murung, Yana merangkul Mila untuk menenangkannya. Mila menutup wajahnya yang menahan kesal pada dirinya sendiri.
Yuna minta izin untuk mandi lebih dulu. Menunggu Yuna selesai mandi, Mila keluar lagi dari kamarnya dan pergi ke balkon untuk menenangkan diri. Kian yang usai mengantar Febby ke kamar, melihat Mila yang termenung di sana seorang diri.
“Gak mandi?” tanya Kian yang datang menemui Mila.
“Mmmmh, Yuna dulu. Sendirinya gak mandi?” tanya balik Mila.
“Tadi lihat lu di sini, jadinya ke sini dulu.” Kian duduk di sampingnya. “Gak usah di pikirin. Luna gpp, bentar lagi juga sembuh.” katanya, melihat wajah Mila yang murung.
“Semoga ya.” menarik paksa senyumnya.
“Oya, kata Febby kalian pernah ketemu ya?” Kian mengalihkan pembicaraan.
“Oh, Febby inget ya. Gue kira dia lupa. Mau sapa takut dia gak inget.” tutur Mila senang.
“Kalian tuh ya. Kenapa gak saling ngobrol aja coba. Kalau pun salah orang, kan yang penting gak penasaran. Febby tuh gitu, cukup tertutup jadi jarang sapa orang duluan. Makanya itu juga alasan dia gak bisa sekamar sama orang lain. Ya karna dia gak bisa basa-basi orangnya.” cerita singkat Kian tentang pacarnya.
“Iya sih bener juga, tapi gue juga gak bisa mulai pembicaraan duluan sih. Nanti coba deh ngobrol sama Febby.” kata Mila.
Lalu Tian datang dan menyapa mereka yang sedang asik ngobrol. “Kenapa gak mandi?” tanyanya pada Mila.
“Tian.” Mila menoleh saat mendengar suara pacarnya. “Luna sudah selesai di urut?” tanya balik Mila.
“Belum mandi?” Tian mengulang pertanyaannya lagi.
“Tunggu Yuna selesai. Kamu sendiri?” menatap Tian yang berdiri di dekatnya.
“Aku mau ambil barang-barang Luna dulu untuk di pindah ke kamar bawah. Dia gak bisa naik ke atas soalnya. Masuk gih ke kamar, tunggu di dalam aja.” pintanya dan dibalas anggukan kepala Mila. “Aku ambil barang-barang Luna dulu ya.” Tian mengusap pundak Mila lalu pergi ke kamarnya yang di tempati Luna.
Mila melihat Kian dan dia hanya mengangkat bahunya. Mila dan Kian menunggu Tian keluar dari kamar. “Mau aku bantu?” kata Mila menawarkan diri. Dia melihat Tian sedikit kerepotan keluar dari kamar Luna dengan membawa koper dan tasnya.
“Gak usah. Kamu mandi aja.” Tian bergegas turun ke bawah dengan buru-buru.
Mendengar itu cukup membuatnya sedikit kecewa tapi Mila segera mengusir perasaan itu secepatnya. “Gak boleh, Mil. Lu gak boleh egois,,,!” gumamnya. Mila membuang wajah sedih dan mengalihkannya dengan menatap pemandangan di depan.
“Sabar ya. Mungkin perhatian Tian, bakal sedikit terbagi sekarang.” Kian menepuk-nepuk pundak Mila dan pergi meninggalkannya.
🌻
Selepas mandi mereka turun ke bawah untuk sarapan. Posisi duduk Tian sekarang berubah dengan duduk di sebelah Luna. Luna kekeuh untuk minta sarapan bersama dengan alasan tidak mau sarapan sendirian di kamar. Om Gunawan memimpin doa untuk meminta keberkahan dan keselamatan untuk kita semua. Teringat akan kecelakaan kecil yang baru saja menimpah Luna.
Mila duduk persis di sebrang Luna dan Tian. Yana duduk di sebelah Mila dan memperhatikan mereka bertiga. Entah sengaja atau tidak, Luna terlihat sengaja melibatkan Tian di setiap aktivitasnya. Meski itu hanya menuangkan air untuk dia minum. Padahal yang sakit kan kakinya tapi ini seolah tangannya juga yang ikut melemah dan tak bisa bergerak.
Usai sarapan Febby dan Mila membersihkan piring-piring yang kotor untuk mereka cuci. Mila meminta Bunda dan Mbok Darmi untuk beristirahat saja. Lagian mereka sudah lelah mempersiapkan makanan dari pagi-pagi buta. Kini gantian dia yang membersihkan semuanya. Mila mencuci piring-piring yang kotor. Sedangkan Febby membilasnya dan membantu menata piring-piring yang sudah bersih kembali ke tempatnya. Sebenarnya Mila juga melakukan ini untuk mengusir rasa cemburunya karna kedekatan Tian dan Luna di meja makan tadi.
“Nyucinya semangat banget? Jealous ya?” goda Febby, melihat Mila fokus mencuci piring.
“Haha, engga. Ngaco.” Mila tertawa jayus.
“Lu cewek itu kan. Yang hampir di copet?” Febby mulai pembicaraan.
“Iya, lu yang tolongin gue kan. Sorry ya nggak berani nyapa. Takut salah orang.” Mila tersenyum malu.
Febby pun membalas senyuman yang sama. “Gpp, gue juga gitu. Takut salah tapi emang gue tuh gak bisa basa-basi juga sih.” jelasnya.
“Iya, tadi Kian juga cerita.” lalu mereka tertawa dan bercerita sampai pekerjaan mereka selesai.
Saat hendak menaruh piring satu lagi, tiba-tiba piring itu terlepas dari tangan Febby dan PRANG terdengar suara piring pecah di dapur.
“Astaga!” teriak Febby kaget.
Kian dan yang lain, yang sedang berkumpul di kolam renang ikut kaget mendengarnya. Kian langsung berlari ke dapur, saat mendengar suara pacarnya berteriak. “By,,,! Kenapa?” Dia datang secepat kilat.
“STOP! Jangan gerak.” Mila menghentikan langkah Kian. “Febby cepetan mundur. Gue aja yang bersihin.” Kian menarik Febby menjauh dari pecahan piring. Mila mengambil sapu di sebelahnya dan mengambil dengan hati-hati pecahan piring yang tercecer di lantai sampai tak ada lagi yang tersisa di lantai.
“Hati-hati, Mil. Maaf ya, tadi licin. Gak sengaja ke lepas jadinya.” kata Febby khawatir dan tak enak hati. Dia juga ikut mencari sisa-sisa piring yang takutnya tertinggal di lantai.
“Gue yang bersihinnya kurang bersih. Jadi masih licin deh. Maaf juga ya.” Mila tersenyum, menenangkan Febby. “Udah gak ada lagi kan?” tanyanya pada Febby dan Kian. Mila lalu mencuci tangannya setelah mengira lantai sudah benar-benar bersih.
“Ya udah keluar cepet.” Kian mengajak Mila untuk bergabung.
Saat mereka mengira lantai sudah benar-benar bersih. Ternyata masih ada serpihan yang terlewatkan dan itu terinjak oleh Mila. “Aww,,,,,” Mila merasa kakinya menginjak sesuatu dan pada saat dia melihat ke bawah. Ternyata kakinya sudah berdarah dengan pecahan beling yang menancap di kaki.
“Kenapa, Mil?” Kian melihat ke belakang dan melihat kaki Mila sudah meneteskan darah yang banyak.
“Ya ampun, Mila.” Febby teriak panik.
Mendengar teriakan lagi, Tante Widia datang dan melihat keadaan mereka. Darah sudah bercecer banyak di lantai. “Mila kamu kenapa?” tanyanya panik.
“Gpp kok, Bunda. Jangan panik, aku ikutan panik nanti.” Masih sempat-sempatnya dia tertawa di sela wajahnya meringis perih.
Mendengar ribut-ribut di dapur Tian penasaran dan ingin mendatanginya tapi tangan Luna selalu melingkar di lengannya. Kian memapah Mila dan mendudukinya di meja makan. Febby mencari kotak obat yang tadi di pakai untuk mengobati Luna. Kian berniat mencabut pecahan piring yang masih menusuk di kaki Mila tapi Mila menolaknya.
Yana melihat Tian tak bisa berkutik karna benalu telah menempel padanya. Dia kemudian masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan di dalam yang sedikit heboh. Dia melihat Mila duduk di atas meja dengan kaki yang meneteskan darah. “Mila,,,!” mempercepat langkahnya.
Mila menaruh telunjuknya di mulut. Menyuruh Yana untuk tidak berisik karna tak ingin Tian mengetahuinya. “Gpp.” Mila menyabut sendiri pecahan piring itu dari kakinya sambil mengigit bawah bibir. Febby langsung menutupinya dengan kapas yang sudah diberikan betadine olehnya. “Gpp kok, aman.” menatap Bunda, Febby, Kian dan Yana dengan tenang.
Mereka adalah orang-orang yang saat ingin cukup mengerti dengan keadaan hatinya. Bunda memeluk Mila untuk menenangkan juga memberi support. Dia mengerti ini sedikit menyakitinya dan berjanji ini akan secepatnya berakhir. Yana membawa Mila ke kamar. Bunda meminta Mbok Darmi untuk membersihkan ulang dapur dari sisa-sisa pecahan piring. Takut pecahan piring itu masih tersisa di sana dan melukai yang lainnya juga.
Kian, Febby dan Bunda kembali ke kolam renang. Menemui mereka yang ada di sana. Tian melihat Yana yang tak kembali dan juga Mila yang tak ikut bergabung. Dia bertanya pada Kian tapi dia hanya menatap hampa Tian dan melirik sinis ke tangan Luna yang menempel pada lengan adiknya. Bunda meminta Mbok Darmi untuk memberikan obat pada Mila.
🌻
“Sakit gak, Mil?” Yana melihat kaki Mila.
“Gpp, Yan. Gak sakit, darahnya doang yang banyak. Lagian kan udah di obatin.” jawabnya dengan tenang.
Yana mengelus kepala Mila lalu menghela nafas. Dia tau Mila sedang berusaha menutupi perasaannya yang sedang kurang baik. Padahal dia tau kalau Mila sedang tidak baik-baik saja. Mbok Darmi datang ke kamar dengan membawakan obat antibiotik yang Bunda berikan untuk Mila.
“Non, kata Ibu harus diminum.” jelasnya.
“Makasih, Mbok. Jadi ngerepotin. Bilang Bunda, nanti aku minum ya.” Mila menerima obatnya.
“Makasih ya, Mbok.” kata Yana dan Mbo Darmi tersenyum lalu pergi.
Mila menyandarkan kepalanya di tempat tidur. Dia menghela nafas panjang dan membuang energi negatif pada dirinya. “Yan,,,” ucapnya tapi berat untuk di lanjutkan. “balik yuk! Gue kangen Ayah.” tiba-tiba suaranya terdengar bergetar dan matanya terpejam seperti menahan kesedihan di hatinya.
“Mau balik sekarang?” tanyanya, mengerti akan maksud hati Mila. “Ya sudah, gue kabarin anak-anak dulu ya.” Yana mengabari teman-temannya lewat ponsel.
“Yah, Yan. Kenapa di grup ngabarinnya. Nanti Tian baca dong,,,?”mendengar notifikasi grup di ponselnya berbunyi.
“Lupa, Mil.” Yana menepuk jidat.
Amar, Wahyu, Seno satu persatu pergi dari kolam renang. Begitu juga dengan Yuna yang di telepon Yana untuk datang ke kamar. Melihat teman-temannya pergi satu persatu, Tian merasa curiga ada sesuatu yang terjadi tapi dia tidak bisa meninggalkan Luna yang sedang membutuhkannya sekarang. Bahkan untuk membaca pesan di ponselnya saja dia tidak sempat. Sangking Luna menempel terus padanya.
“Ada apa sih, Yan? Mendadak banget minta balik sekarang?” tanya mereka bersamaan saat datang ke kamar Mila.
Yuna duduk di samping Mila dan baru menyadari tentang kaki Mila. “Kak Mila, kenapa?” Mata Seno, Amar dan Wahyu langsung tertuju pada kaki Mila.
“Gpp kok.” jawab Mila langsung sebelum mereka bertanya kenapa.
“Yakin mau balik? Kaki lu gimana?” tanya Amar khawatir.
“Kalau kalian mau itu juga? Kalau masih betah, gpp kok.” Mila tak ingin memaksakan keinginannya sendiri.
“Kalau lu udah gak nyaman. Ya udah, kita balik aja. Gpp kan, Yun?” tanya Seno, basa-basi pada Yuna.
“Aku gpp. Next kan bisa jalan-jalan lagi.” Yuna ikut saja keinginan mereka.
“Ya udah kalo yang lain setuju. Kita beres-beres sekarang.” kata Wahyu.
Mereka lalu pergi ke kamar mereka untuk mengemas barang-barang. Yuna membantu Mila merapikan barang-barang. Mila merapikan juga kamar mereka sebelum pulang. Setelah sudah siap Yana datang ke kamar Mila dan Yuna. Yana membawakan tas Mila dan Yuna menggandeng Mila jalan keluar.
“Beneran gpp kan?” tanya Mila lagi pada teman-temannya.
“Gpp, Mil. Udah jangan di pikirin.”Amar mengelus kepalanya.
Saat mereka ingin turun ke bawah, Tian sedang naik ke atas dan menatap mereka dengan bingung. Dia menanyakan pada teman-temannya, kenapa mereka semua membawa tas? Yana menjawab dengan alasan, orang tuanya sudah kembali dari luar kota. Tian menatap Mila tapi dia hanya menunduk kepalanya tanpa bicara. Tian seperti tak percaya dengan alasan Yana tapi dia tidak bisa bilang begitu padanya. Tian mendekati Mila tapi dia menghindar dan menarik Yuna untuk segera turun. Amar menepuk pundak Tian dengan wajah yang terlihat kecewa.
Tante Widia dan Om Gunawan melihat mereka semua turun dengan membawa tas. “Kalian mau kemana, Pulang? Kan masih pagi?” tanya mereka bingung.
“Maaf, Om. Orang tua ku baru aja pulang dinas dari luar kota. Mereka ingin bertemu secepatnya sebelum kembali lagi untuk dinas. Jadi kami harus pulang lebih cepat. Gpp ya?” Yana memberikan alasan bohong.
“Mila sudah mau pulang? Mila kan berangkat bareng Bunda. Pulangnya bareng Bunda aja gimana?” Bunda masih khawatir dengan keadaan kakinya.
“Gpp, Bun. Aku pulang bareng temen-temen aja.” Mila menolak halus permintaan Bunda.
“Mila harus ikut pulang juga, Bunda. Soalnya rumah kami berdekatan. Nanti, ayahnya bingung lihat Mila gak ikut pulang.” Yana meyakinkan Tante Widia.
Dengan alasan bohong yang cukup kuat, akhirnya orang tua Tian mengizinkan mereka untuk pulang duluan. Mereka pun diantar sampai ke depan Villa. Luna melihat kepergian mereka dengan senang hati. Kian dan Febby menatap Luna dengan tatapan penuh curiga. Apa sebenarnya dia sengaja melakukan semua ini, menjauhkan Tian dari Mila?
Mereka lalu berpamitan dengan Om Gunawan dan Tante Widia serta Mang Dadang dan Mbok Darmi. Mila berpamitan pada Bunda dan memeluknya. Tak lupa dia berterimakasih padanya karna sudah mengizinkan dia dan teman-teman untuk liburan bersama. Mila tak berpamitan pada Tian karna tak ingin dia membaca raut wajahnya. Setelah berpamitan dengan Bunda dan juga Om Gunawan, Mila melewatinya dan langsung saja masuk ke dalam mobil. Mereka saling melambaikan tangan sampai mobil itu menjauh dan perlahan menghilang dari Villa. Dalam hati Tian, terselip kekecewaan pada teman-temannya. Terlebih lagi melihat sikap Mila yang menghindar darinya. Bunda masuk ke dalam Villa lebih dulu. Sekarang Villa terasa sunyi kembali tanpa keberadaan mereka yang membuatnya meriah. Om Gunawan melihat Tian yang bersedih karna di tinggal pulang lebih cepat oleh teman-temannya. Dia merangkul Tian untuk masuk ke dalam bersama.
“Sedih ditinggal temen-temen atau pacarmu?” kata-kata itu terucap dari bibir Om Gunawan.
Kian tercengang mendengarnya dan jelas kesal. Pasalnya dia mengira ayahnya itu tak mengetahui hubungan Tian dan Mila tapi ternyata sebaliknya. “Telat, Yah!” katanya dengan nada sinis lalu masuk lebih dulu ke dalam bersama dengan Febby.
“Belajar adil. Kamu harus menghargai dia juga yang sudah jauh-jauh datang untuk kamu. Apalagi dia juga terluka karna sikapmu. Jika wanita itu mencintaimu pasti dia akan mengerti posisimu.”
Ayah menepuk pundak Tian dan pergi meninggalkannya masuk lebih dulu. Tian mengepalkan tangan menahan kesal pada dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya atas luka yang dia berikan pada dua wanita sekaligus. Kenapa dia baru menyadarinya? Kenapa posisinya menjadi serba salah sekarang?
🌻
Mbok Darmi sedang membersihkan kamar yang habis di pakai Mila dan Yuna. Tian masuk ke dalam sekedar untuk melihatnya. Baru saja ditinggal beberapa saat tapi rindunya sudah bersarang di hati. Selesai membersihkan kamar Mbok Darmi memberikan obat yang tertinggal di kamar Mila pada Tian. Obat yang diberikan Bunda untuk Mila.
“Ini obat apa, Mbok?” tanya Tian.
“Tadi, Mba Mila kakinya kena pecahan piring. Terus Ibu kasih obat, tapi kayanya belum sempat di minum sama Mba Mila, Mas.” Mbok Darmi memberitahu Tian kejadian di dapur tadi yang belum dia ketahui.
Mendengar itu membuat kekecewaannya terjawab sudah. Inikah alasan mereka sebenarnya untuk pulang lebih cepat? Yana menjaga perasaan Mila dan tak ingin sahabatnya itu makin terluka oleh kedekatannya dengan Luna. Sampai-sampai dia tak sadar telah mengabaikan perasaan pacarnya sendiri. Inikah alasan Mila menghindarinya tadi?
Mbok Darmi meninggalkan Tian yang terlihat masih ingin berdiam di kamar itu. Tian terduduk lemas di atas kasur. Dia membuka ponsel dan secepatnya menghubungi Mila.
“Kak, ponsel Kak Mila bunyi.” Yuna memberitahu Yana. “Dari Kak Tian.” sambungnya.
Amar yang mengambil alih ponsel Mila dan mengangkat teleponnya. “Kenapa Tian?”
“Mila mana?” tanyanya saat mendengar bukan Mila yang mengangkat telepon darinya.
“Tidur. Dia gpp kok, udah lu tenang aja. Lu selesain di sana aja dulu. Mila biar tenang dulu sama kita.” Amar mencoba menenangkan kedua hati temannya.
“Oke, kalau Mila kenapa-kenapa kabarin ya. Gue titip dia. Tolong bawa ke klinik, buat periksain kakinya.” Kata Tian dengan nada khawatir lalu menutup teleponnya.
Siapakah yang harus dimengerti?