Arasya dan Alvian baru saja menikah. Tak disangka oleh Arasya, bahwa ia bisa menikahi pria konglomerat yang kini sudah menjadi suaminya itu. Namun sayangnya sepasang kekasih itu kini sedang berusaha untuk melawan segala rintangan yang justru menginginkan keduanya untuk berpisah. Rintangan yang berasal dari masa lalu keduanya.
Akankah mereka sanggup mempertahankan cinta mereka atau justru Alvian akan kehilangan Arasya untuk selama-lamanya? Rahasia kelam apa yang membuat Arasya sebenci itu kepada suami ‘sempurna’ nya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adelia Raissha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHINATAN KEJAM DARI CINTAKU EPISODE 28
"Mama sama Papa serius gak mau nginep?" tanya Asya dengan murung.
Sang ibunda pun mengangguk pelan sambil menatap wajah anaknya tercinta. Ia tersenyum, "Kan kita masih bisa ketemuan nanti, asalkan Asya ada di Jakarta mah gampang."
"Papa titip Asya yaa, jagain dia semaksimal mungkin. Papa percaya sepenuhnya sama kamu, Alvin." ucap pria paruh baya itu kepada menantunya.
"Baik, Pah." balas Alvin kepada mertuanya dengan sopan.
Kedua orangtua Asya pun pulang ke rumah mereka, meninggalkan Asya dan Alvin beserta pelayan rumah lainnya. Asya terlihat murung, wajahnya terlihat lemah dan tidak bersemangat ketika kedua orangtuanya hendak pergi meninggalkannya. Alvin menyadari hal itu dan langsung mendekat kepada istrinya.
Alvin melirik ke arah Asya, "Kenapa, hm?"
"Perasaanku kok gak enak yaa," ungkap Asya memandangi kepergian mobil kedua orangtuanya.
"They’ll be fine, Asya. Trust me.” Alvin menatap wajah Asya dengan tatapan serius. Berusaha meyakinkan istri yang sangat ia sayangi itu.
Asya tersenyum tipis, "Iya-iya."
Sepasang kekasih tersebut mulai berjalan menuju kamar tidur mereka, merebahkan dirinya masing-masing ke atas tempat tidur yang sangat empuk itu. Asya masih terlihat lesu, hal itu membuat Alvin menjadi resah.
"Mau nonton?" tanya Alvin kepada istrinya, berusaha mencairkan suasana.
Asya menggeleng lemah, "Kayaknya aku mau istirahat dulu deh. Udah malem juga, besok aku mau pergi sama sahabat aku."
"Pergi kemana?" tanya Alvin penasaran.
"Mau ke cafe bentar, ngobrol-ngobrol gitu. Udah lama gak ketemu sama mereka, aku kangen banget!" ungkap Asya gembira.
"Oh," Alvin hana ber-oh ria saja.
Asya melirik ke sampingnya, mendekatkan dirinya ke tubuh suaminya, menidurkan kepalanya diatas dada bidang Alvin. "Aku boleh pergi kan?"
"Boleh," jawab Alvin seadanya.
"Beneran?" tanya Asya sekali lagi.
"Iya boleh, Sayang aku." jawab Alvin untuk yang kedua kalinya dengan senyuman manis.
Dengan lembut, Alvin mulai memainkan jari-jari panjangnya di rambut Asya. Menyisirnya lembut menggunakan jarinya, Asya yang tengah dipermainkan rambutnya pun hanya terdiam. Menikmati setiap helaian rambutnya uang disisir menggunakan jari-jari lentik suami tercintanya.
"Menurut kamu, kisah kita bakalan bahagia selamanya gak?" tanya Asya dengan nada bicara yang mulai berbeda.
"Aku gak tau," jawab Alvin jujur.
"Jadi kita bakal pisah? Berakhir tragis gitu?" tanya Asya dengan nada sendu.
"Mungkin aja, tapi.." Alvin sengaja memberi jeda pada kalimatnya.
"Tapi?" tanya Asya penasaran.
Alvin tersenyum tipis, "Tapi aku gak akan biarin kisah kita berakhir tragis. Aku bakal semaksimal mungkin pertahanin kisah kita, walaupun mungkin pada akhirnya kita gak bersama selamanya."
Asya menghela nafasnya berat.
Alvin yang mengetahuinya pun mengerutkan keningnya, lelaki itu keheranan. "Kenapa, hm?"
"Daritadi perasaan aku gak enak, aku gak tau kenapa." ungkap Asya jujur.
"Emangnya kamu kenapa? Kamu mikirin apa sih, Sayang?" tanya Alvin dengan lembut, masih dengan jari-jarinya yang sedang asik memainkan rambut Asya.
"Aku gak tau, tapi aku ngerasa kalo sesuatu yang buruk bakal terjadi. Aku sendiri gak ngerti sama perasaan aku," ucap Asya dengan nada gelisah.
"Sshh, take it easy, Asya. Everything's gonna be fine, trust me." kata Alvin berusaha menenangkan.
"I wish," balas Asya dengan perasaan gundah.
Suasana hening dalam beberapa detik, hingga Alvin yang mulai mengeluarkan suaranya. Alvin terlihat seolah tidak terlalu suka dengan apa yang akan ia katakan kepada Asya.
"Sya..," panggil Alvin.
"Hmm?" tanya Asya.
"Aku mau ngomong serius." Nada bicara Alvin mulai berubah.
Asya mengerutkan keningnya, "Ngomong apa?"
"Sebentar lagi bakal ada perkumpulan teman-teman SMA aku." imbuh Alvin memberitahu.
"Terus?" Asya meminta suaminya itu untuk kembali melanjutkan kalimatnya.
"Terus setiap orangnya wajib datang dan bawa pasangannya masing-masing, karena bakal ada pesta dansa topeng." lanjut Alvin dengan nada bicara serius.
"Masalahnya apa emangnya?" tanya Asya tak mengerti.
Alvin terdiam, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Asya. Mulutnya begitu kaku untuk berbicara mengenai hal tersebut.
"Aku gak mau kamu dateng ke acara itu," tekan Alvin kepada Asya.
"Loh? Kenapa??" Asya seolah keheranan dengan sikap suaminya itu.
Apa dia malu ngenalin gue ke temen-temennya? batin Asya dalam hatinya.
"Aku takut temen-temen aku nanti pada ngeliatin kamu, aku gak suka. Aku gak mau kamu dekat sama cowok lain, selain aku." jawab Alvin dengan serius.
Asya yang awalnya sangat sedih dan kecewa, tiba-tiba saja di kejutkan oleh alasan Alvin yang sangat menyebalkan dan tidak masuk akal. Asya lupa bahwa suaminya memiliki sifat yang sangat amat cemburuan.
Asya tertawa kecil, "Jadi karena itu kamu gak mau aku dateng kesana?"
"Iya," balas Alvin singkat.
Asya lagi-lagi tertawa kecil, ia tidak menyangka Alvin akan bersifat seperti seorang bocah laki-laki yang tidak ingin ibunya berbuat baik kepada orang lain, selain dirinya.
"Astagaa, pengen aku tabok tapi suami sendiri. Untung sayang, kalo gak udah aku tendang kamu ke Mars sana." Asya berusaha sabar dengan tingkah suaminya itu.
"Kok gitu?" tanya Alvin tak mengerti.
"Gapapa." balas Asya singkat.
"Kamu marah?" tanya Alvin bingung.
"Gak," balas Asya singkat.
"Serius?" tanya Alvin yang masih ragu dengan tingkah istrinya.
"Iya.” balas Asya untuk ke-sekian kalinya dengan jawaban singkat.
"Oh yaudah," Balasan dari mulut Alvin semakin membuat Asya geram sendiri.
Asya berbalik dan menatap wajah suaminya yang sangat tampan itu, "Alvin!"
"Hm?" Lelaki itu berdehem pelan.
"Nyebelin ihh," rengek Asya.
"Siapa yang nyebelin, hm?" tanya Alvin tak mengerti.
"Kamu." balas Asya dengan bibir yang ia manyunkan.
"Kok aku?" tanya Alvin tidak mengerti.
"Gak tau, intinya kamu nyebelin. Cemburuan banget, heran aku." jelas Asya kepada suaminya.
"Cemburu tanda cinta, kalo aku gak cemburu berarti aku gak cinta sama kamu." Penjelasan dari Alvin membuat Asya terdiam sejenak.
Asya lalu tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alvin, keduanya bahkan bisa merasakan dentuman nafas yang memburu.
"Jadi kamu cinta sama aku?" goda Asya sambil tersenyum lebar.
"Iya," balas Alvin dengan senyuman tipis.
"Sebesar apa cintanya?" tanya Asya lagi.
Alvin berpikir sejenak, "Gak bisa di ukur, terlalu besar."
"Gombal!" ucap Asya dengan pipi yang merona.
"Aku serius," Alvin tersenyum tipis. Lelaki itu tertawa kecil setelahnya.
...⚪️ ⚪️ ⚪️...
"Jadi lo dateng ke acara reuninya, Sya?" tanya Galexa dengan mimik wajah serius.
Asya mengangguk, "Iya. Tadi pagi Alvin juga udah bilang ke gue kalo besok mau fitting gaun buat acara reuninya."
"Lo gak diajak sama Kak Samuel, Xa?" Steffy mulai membuka suaranya.
"Diajak sih, cuman.." Galexa sengaja menjeda perkataannya, gadis itu menghembuskan nafasnya gusar.
"Cuman apa?" tanya Steffy penasaran.
"Cuman gue tolak." lanjut Galexa dengan lesu.
...—Bersambung—...