Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27–Antara yang Pergi dan yang Tertinggal
Ruangan perawatan itu terasa terlalu putih untuk menjadi tempat duka. Dinding-dindingnya bersih tanpa noda, lampunya benderang menyakitkan mata, dan aromanya adalah campuran antara karbol dan udara dingin yang dipaksakan dari mesin pendingin di sudut atas. Chandra berbaring di atas ranjang sempit dengan selimut tipis berwarna hijau pucat yang tidak cukup hangat untuk mengusir dingin yang sebenarnya bukan berasal dari mesin pendingin mana pun.
Di dalam dadanya, terdapat lubang.
Bukan lubang yang bisa dilihat oleh dokter mana pun dengan alat pemindai tercanggih sekalipun. Namun ia merasakannya dengan sangat jelas. Sebuah kekosongan yang besar dan gelap, berbentuk persis seperti siluet sosok wanita yang selama tujuh belas tahun ini selalu ada di sisinya.
Ibunya.
Chandra menutup matanya. Di balik kelopaknya yang berat, bayangan-bayangan itu datang tanpa permisi. Wajah ibunya saat menyebut namanya dengan panggilan Le yang terasa hangat meski diucapkan dengan suara pelan. Tangan ibunya yang selalu menyentuh punggung tangannya saat ia bertanya tentang dunia yang tidak adil. Senyum ibunya yang tetap ada meski Chandra tahu wanita itu menyimpan banyak hal sendirian di dalam hatinya.
Terlalu banyak.
Ia menyimpan terlalu banyak hal sendirian.
Dan aku tidak pernah cukup memperhatikannya.
Chandra mengepalkan jemarinya di bawah selimut. Tulang-tulang jarinya memutih oleh tekanan, namun ia tidak melepaskan kepalan itu. Ia butuh sesuatu untuk digenggam, sebab satu-satunya tangan yang biasa ia raih sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Pintu ruangan terbuka dengan pelan. Seseorang masuk tanpa suara, lalu langkah kakinya berhenti di sisi ranjang. Chandra tidak membuka matanya, namun ia mendengar tarikan napas yang familiar.
“Chand.” Panggil Baskara.
Suaranya parau, terdengar seperti orang yang baru saja menangis namun memaksakan dirinya untuk tidak melanjutkan. Chandra mengenal nada itu. Ia pernah mendengarnya beberapa kali saat mereka masih kecil, saat Baskara pulang dengan kepalan tangan yang memar karena bertarung membela Chandra dan kemudian berhadapan dengan amarah orang tuanya.
Chandra tetap diam.
Baskara menarik kursi plastik dan duduk di sampingnya. Tidak ada kata-kata selama beberapa menit. Mereka hanya berbagi keheningan yang sama, keheningan yang terlalu berat untuk diisi oleh kalimat apa pun.
“Mas minta maaf,” ucap Baskara akhirnya. Suaranya turun hampir menjadi bisikan.
Chandra membuka matanya perlahan. Langit-langit putih itu adalah satu-satunya yang ia tatap. “Berapa lama kau tahu?” tanyanya. Suaranya sendiri asing di telinganya, terlalu datar untuk rasa sakit yang sedang ia rasakan.
“Seminggu lalu.”
Chandra mengangguk kecil, sebuah gerakan yang hampir tidak terlihat. Di dalam benaknya, kepingan-kepingan kecil mulai menyusun dirinya sendiri. Wajah ibunya yang terlihat lebih kurus dari biasanya namun selalu berdalih bahwa ia sedang menjaga pola makan. Batuk yang ibunya selalu sembunyikan di balik sapu tangan. Cara ibunya selalu duduk di dekat Chandra seolah ingin merekam setiap detik bersama anaknya.
Ia tahu. Jauh di dalam hatinya, ia tahu. Namun memilih untuk tidak bertanya karena ia juga seorang pengecut dalam hal-hal tertentu.
“Ibu bilang apa?” tanya Chandra lagi.
Baskara menelan ludah. “Ibu bilang dia tidak ingin kamu menghabiskan waktumu untuk mengkhawatirkannya. Dia ingin kamu fokus pada hidupmu. Katanya... kamu baru saja belajar tersenyum, dan dia tidak mau jadi alasan kamu berhenti untuk melakukannya.”
Dada Chandra terasa seperti diperas oleh tangan tak kasat mata. Ia memalingkan wajah ke arah dinding, menyembunyikan ekspresi yang ia sendiri tidak tahu namanya apa. Bukan hanya tangis, bukan hanya marah, bukan hanya sepi. Semua itu ada secara bersamaan dan tidak ada kata yang cukup untuk menamainya.
“Ibu bodoh,” gumam Chandra pelan. Namun kata bodoh itu keluar dengan nada yang sama sekali tidak mengandung kemarahan. Terdengar seperti ungkapan sayang yang terlambat diucapkan.
Baskara tidak menjawab. Ia hanya meletakkan tangannya di atas lengan Chandra, sebuah gestur yang lebih dari cukup untuk menyampaikan apa yang tidak bisa mereka ucapkan dengan kata-kata.
Di luar ruangan, di koridor yang sama, Arka berdiri dengan punggung menyandar di dinding. Alera duduk di lantai di sebelahnya, lututnya ditekuk ke dada. Keduanya tidak berbicara. Di tangan Alera masih ada tisu yang kini sudah basah oleh air matanya sendiri.
“Kak,” bisik Alera akhirnya.
“Apa?”
“Chandra tadi... waktu dia pingsan...” Alera menggigit bibirnya. “Aku belum pernah lihat dia seperti itu.”
Arka memejamkan matanya sejenak. Ia pun belum pernah melihat Chandra seperti itu. Chandra yang biasanya berdiri tegak di depan segala ejekan dan perlakuan buruk orang lain dengan diam yang kuat. Chandra yang menolak menangis bahkan saat ia dipukul dan dihinakan. Namun hari ini ia roboh, bukan oleh kepalan tangan orang lain, melainkan oleh sebuah kehilangan yang paling dalam.
“Dia kuat,” ucap Arka pelan, namun kalimat itu terdengar lebih seperti doa daripada pernyataan.
Alera mengangguk pelan. “Tapi yang kuat juga butuh sandaran, Ka.”
Di dalam ruangan perawatan, Chandra masih berbaring dengan kepala menghadap dinding. Namun kini, ia menarik selimut tipisnya sedikit lebih tinggi. Di bawah selimut itu, jemarinya meraba sebuah benda kecil yang entah bagaimana masih ada di saku celana sekolahnya.
Gantungan kunci perak berbentuk bulan sabit yang memeluk bintang.
Chandra menggenggamnya erat. Logamnya terasa dingin namun familiar. Dan ia teringat kalimat yang ia ucapkan kepada ibunya di teras rumah beberapa malam lalu, di bawah bulan yang bulat dan tenang.
Seandainya aku bisa seperti bulan itu, tetap bersinar meski dalam gelap malam begitu pekat.
Matanya memanas.
Chandra Baswara, remaja yang telah belajar mengeraskan hatinya selama tujuh belas tahun, akhirnya menangis. Bukan tangis yang nyaring dan keras seperti yang ia lakukan di depan pintu UGD tadi. Ini lebih pelan, lebih dalam, dan jauh lebih menyakitkan. Air matanya jatuh miring menuju bantal, membasahi kain putih yang berbau karbol itu.
Baskara yang masih duduk di sampingnya mempererat genggamannya di lengan Chandra. Tidak ada kata-kata. Tidak ada nasihat. Hanya kehadiran yang diam namun nyata.
Di luar jendela ruang perawatan yang sempit, malam telah sepenuhnya turun. Bulan muncul di antara awan yang bergerak pelan, memancarkan cahayanya yang keperakan ke atas jalanan rumah sakit yang mulai sepi. Cahaya itu jatuh lembut di wajah Chandra dari balik kaca jendela yang tipis.
Ia masih menggenggam gantungan kunci itu.
Dan meskipun rasa sakitnya belum berkurang sedikit pun, ada satu hal kecil yang ia sadari di tengah semua kegelapan ini. Bahwa ibunya tidak benar-benar pergi dalam keadaan sendirian. Di hari-hari terakhirnya, ibunya menyaksikan Chandra tersenyum, memiliki teman, bahkan membawa seseorang pulang ke rumah mereka.
Ibunya pergi dengan hati yang tenang.
Dan untuk seorang ibu seperti Mandira, mungkin itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu, Chandra tidak bisa tidur. Namun untuk pertama kalinya, kegelapan malam tidak terasa seperti musuh yang mengepungnya. Bulan di luar sana tetap bersinar, retak di sana-sini oleh awan yang lewat, namun tetap hadir. Tetap setia. Seperti namanya.
Dan mungkin, pikir Chandra pelan, ia tidak sepenuhnya gagal menjadi bulan itu.
Ia hanya sedang dalam fase gerhana.
Dan gerhana selalu berakhir. Entah itu kapan.