Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lautan Darah di Markas Iblis
•Melek dulu yuk sebelum masuk ke cerita
...~ HAPPY READING ~...
Malam semakin larut saat badai tak kasat mata siap membumihanguskan markas utama Boni. Tempat penampungan haram itu berdiri tersembunyi di balik sebuah pabrik tua yang terisolasi di pinggiran kota. Dari luar tampak sepi dan terbengkalai, namun di dalamnya adalah neraka bagi ratusan gadis tak berdosa.
"Sistem keamanan mereka menggunakan cctv jarak jauh dan beberapa penembak jitu di atap, Bos," bisik Rayanza seraya menyerahkan denah lokasi pada Alex dan Michel.
Michel memeriksa pistol otomatisnya dengan tatapan dingin membunuh. "Jhansen, habisi para sniper di atap tanpa suara."
"Siap, Tuan," bisik Jhansen lalu menghilang ke dalam kegelapan malam bersama tim bayangannya.
Tidak sampai tiga menit, dua dentuman halus dari senjata berperedam suara terdengar. Dua sosok penembak jitu milik Boni roboh dari atap pabrik tanpa sempat memberikan sinyal bahaya.
"Area atas bersih. Giliran kita," ujar Alex datar. Pria itu mengokang senjatanya, mata elangnya menyala murka merindukan pembalasan dendam atas apa yang telah mereka perbuat pada Helena.
"Serbu!" perintah Michel menggelegar.
Brakkk!
Pintu besi utama pabrik didobrak paksa hingga terlempar dari engselnya. Pasukan gabungan keluarga Veradoux dan keluarga Lauren menerobos masuk bagaikan pasukan iblis yang haus darah.
DOR! DOR! DOR!
"Ada penyusup! Tembak mereka—ARRGHH!"
Suara bentakan anak buah Boni terputus seketika saat peluru dingin Michel menembus tepat di tengah dahinya. Michel bergerak sangat gesit, menembak secara presisi setiap preman yang mencoba menghalangi jalannya. Setiap lontaran pelurunya melambangkan amarah seorang ayah yang putrinya hampir dihancurkan.
Di sisi lain, Alex bergerak bak predator ganas. Pria berjas mahal itu tidak hanya menggunakan peluru, tetapi juga pertarungan jarak dekat yang brutal. Saat seorang preman berbadan besar mencoba menyerangnya dengan parang, Alex mengelak cepat, mencengkeram pergelangan tangan pria itu hingga patah, lalu merebut parangnya untuk menyayat leher sang preman dalam satu gerakan mulus.
"Di mana Boni?!" bentak Alex seraya mencengkeram kerah baju salah satu anak buah Boni yang sudah bersimbah darah.
"Di... di ruang bawah tanah! Jangan bunuh saya, ampun—"
DOR!
Tanpa belas kasih, Alex menembak kaki pria itu hingga pingsan lalu melemparkannya kasar ke lantai.
"Rayanza, amankan seluruh gadis dan anak-anak yang disekap di area atas! Bawa mereka ke dalam bus darurat dan hubungi tim medis!" perintah Alex tegas.
"Siap, Bos!"
Sementara itu, di dalam ruang bunker bawah tanah yang kedap suara, Boni tengah panik setengah mati. Layar monitor cctv di mejanya satu per satu berubah menjadi black screen akibat dihancurkan oleh pasukan penyusup.
"Setan! Siapa mereka?! Kenapa ada pasukan sebanyak ini?!" teriak Boni histeris seraya memasukkan tumpukan uang tunai dan paspor palsu ke dalam tas besarnya.
DUARRR!
Pintu rahasia ruangan tersebut hancur berkeping-keping akibat ledakan bahan peledak kecil. Debu dan asap tebal membumbung tinggi, memperlihatkan dua sosok pria berjas yang berdiri gagah di ambang pintu dengan senjata teracung.
Michel dan Alex melangkah masuk secara bersamaan. Aura membunuh yang memancar dari mereka berdua begitu kuat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa mencekik.
Boni terhenyak mundur hingga punggungnya menabrak dinding besi. Tangannya gemetaran saat mencoba mengarahkan pistol kecilnya. "Si-siapa kalian?! Jangan mendekat! Kk-kalian tahu siapa saya?! Saya punya jaringan dengan para pejabat di kota ini! Kalau kalian sentuh saya—"
DOR!
"AGHHH!" Boni menjerit histeris saat peluru dari pistol Michel menembus lutut kanannya. Pria itu ambruk berlutut di lantai, memegangi kakinya yang mengucurkan darah segar.
"Pejabat korup yang kamu banggakan itu? Mereka sudah sibuk melarikan diri karena bukti kejahatan mereka baru saja diunggah ke publik," ujar Michel dingin, melangkah mendekat seraya menginjak dada Boni dengan sepatu kulitnya hingga terdengar bunyi tulang rusuk yang retak.
"Arghh! Ma-maaf! Ampun, Tuan!" tangis Boni pecah.
Alex melangkah maju, meletakkan moncong pistolnya yang masih panas tepat di antara kedua mata Boni. Sorot mata Alex begitu gelap, seolah siap mencabut nyawa pria di hadapannya detik itu juga.
"Kamu..." suara Alex terdengar begitu dalam dan membekukan darah. "...yang sudah memerintahkan anak buahmu untuk melukai dan menculik tunanganku, Helena?"
Boni membelalak penuh horor saat menyadari siapa sosok di hadapannya. "Kkk-Keluarga Veradoux?! Tuan Alex... saya tidak tahu! Demi Tuhan saya tidak tahu kalau gadis itu tunangan Anda! Ampun, Tuan!" Boni menyembah-nyembah di lantai, memohon belas kasihan.
Michel menatap Boni jijik. "Alex, ingat janji kita. Jangan bunuh dia sekarang. Biarkan dia merasakan neraka dunia terlebih dahulu sebelum membusuk di penjara."
Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak gila di dadanya yang ingin menghancurkan kepala Boni saat itu juga. Namun, pria itu akhirnya menarik napas panjang dan menurunkan senjatanya.
"Jhansen!" panggil Michel tajam.
Jhansen langsung masuk membawa rantai besi tebal. "Siap, Tuan!"
"Patahkan kedua tangan dan kakinya. Seret pria ini ke markas eksekusi kita. Saya sendiri yang akan menginterogasinya nanti malam," perintah Michel tanpa emosi.
"TIDAK! AMPUN, TUAN! AMPUNNN!" teriakan dan raungan Boni bergema memilukan di dalam bunker saat Jhansen mulai menjalankan tugasnya secara brutal.
Alex berbalik membelakangi pemandangan berdarah itu, melangkah keluar bunker seraya menyapu noda darah yang menempel di pipinya. Ponselnya bergetar, menampilkan nama Meilin di layar.
Alex langsung mengangkatnya cepat. "Halo, Kak Meilin? Bagaimana keadaan Helena?"
"Alex... Helena sudah pindah ke ruang rawat inap. Tapi... dia terus memanggil namamu sejak tadi," bisik Meilin dari seberang telepon.
Raut wajah Alex yang tadinya begitu dingin dan menyeramkan seketika melunak total. "Saya segera ke sana sekarang."
...Bersambung 🫰🏻🤗...
kamu keren wuw ☺👍