Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Gedung Dewana group. Lantai 10. Kantor Ayana
Saat itu fokus Ayana sedang tertuju kepada pekerjaan di depannya, kantor itu hening hampir tak ada siapapun yang bicara, hanya terdengar samar-samar ketikan dari jauh. Tiba-tiba dari ponsel Ayana suara dentuman telepon memecah keheningan sementara.
Ayana meliriknya sekilas, melihat nama yang muncul dari layar itu.
"Dia" gumamnya pelan
Ayana meraih ponselnya, menatap lama layar yang terus menyala itu, seolah segan untuk mengangkat.
*Apa yang dia mau lagi dari aku, apa dia mau neror aku lagi dengan kata-kata yang sama* batin Ayana
Layar itu akhirnya padam. Ruangan kembali hening.
Tetapi belum hinggap 3 detik, ponsel di tangannya bergetar lagi. Nama yang sama. Panggilan yang sama.
Ayana mengerutkan dahi. Napasnya berat.
"Apa sebenarnya yang dia mau..." gumamnya kesal.
Ia mengabaikan sekali lagi. Membalikkan ponselnya dan meletakkannya di meja.
Tit. Tit. Tit.
Gak berhenti. Telepon itu terus masuk. Keempat. Kelima.
Jantung Ayana mulai tidak tenang. Kegelisahan muncul.
Akhirnya dengan kesal ia meraih ponsel itu lagi. Jarinya menekan tombol hijau dengan kasar.
"Halo?" suaranya dingin, datar.
"Kamu kemana saja!? Saya sudah dari tadi menelpon!"
Suara di seberang terdengar pelan, sedikit serak. Ada jeda panjang sebelum dia melanjutkan.
"Malam ini, pulanglah. Ada satu hal yang harus Kamu tahu" perintahnya, suara itu terdengar damai di telinga Ayana.
Hatinya tergerak, setelah mendengar nada yang tak pernah ia dengar sebelumnya
"Ada apa?" ujar Ayana, lesu. "Apa yang anda inginkan lagi dariku, aku sudah cukup lelah dengan ucapan yang selalu keluar dari mulut anda"
"Bukan itu! ini hal yang berbeda" jawabnya
"Hal apa a—"
Tut....
Telepon.
Terputus.
Ayana menatap layar ponselnya yang sudah kembali gelap. Jantungnya berdebar tidak karuan, satu pikiran yang mustahil langsung muncul di otaknya.
*Apa yang nenek maksud, apa Kaka?!* gumam Ayana saat itu juga
Dari saat itu Ayana jadi tak fokus dengan pekerjaannya, di pikirannya terus terlintas ucapan nyonya Ketty yang penuh tanda tanya.
"sebenarnya apa yang ingin dia katakan" gumamnya, lagi dan lagi pertanyaan yang sama
Ayana mengambil ponselnya, ia mencari nama yang sudah cukup lama tak ia hubungi, tangannya gemetar pelan.
Akhirnya Ayana menemukan nama itu
Tombol telepon terpencet
Tit.
Tit.
Tit.
Terhubung.
"Halo"
Suara Ayana terdengar pelan, nyaris berbisik. Ada gugup yang ia coba sembunyikan.
Hening. Hanya suara napas di seberang sana.
"Halo?" ulang Ayana, lebih tegas. Jantungnya makin kencang.
Akhirnya suara berat itu menjawab.
"Ayana?..."
Ayana menggigit bibir. Tangannya mencengkeram ponsel erat.
"Than!..."
panggilnya
Di seberang, terdengar helaan napas panjang. Lega. "Akhirnya kamu menghubungiku lagi"
"Maaf, apa kamu sedang sibuk sekarang? Bolehkah kita bertemu!?" ujar Ayana, suaranya terburu
.
"Sekarang aku tidak bisa, mungkin sore" jawab Ethan
"Oke, kita bertemu di tempat biasa jam 04.30"
Ayana mengakhiri panggilannya cepat
Tak!
Ayana meletakan ponselnya dengan kasar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang.
"kenapa aku jadi gelisah" gumamnya, dengan jantung yang berdebar kencang.
_
Jam 12.00
Waktu istirahat datang, Ayana keluar dari kantor dengan perasaan yang sudah membaik, Ia berniat ke departemen design untuk menemui Clare, Dia tak mengetahui bahwa Clare sudah di rekrut perusahaan lain.
Departemen design
Mata Ayana langsung mencari ke seluruh sudut ruangan, sedikit orang yang ada di sana, namun Ayana tak sama sekali menemukan Clare dari sedikit orang itu.
Dia berjalan ke arah satu orang, perempuan yang dari tadi memperhatikannya. Berniat bertanya Clare padanya.
"permisi," ucapnya. "apa kamu ada melihat Clare, yang duduk di situ" Ayana menunjuk kursi yang semula tempat Clare duduk.
Perempuan itu melirik kursinya, lalu menggeleng. "Tidak, tapi saya mendengar dia sudah di rekrut perusahaan lain" jawabnya
"Oh... gitu ya" jawab Ayana sambil mengguk kecil.
"Makasih ya" ucapnya, lalu ia berbalik badan
Di lorong, Ayana mengeluarkan ponselnya, dia stop di satu nama yaitu Clare
Ayana langsung tekan tombol telpon
Tit..
Tit..
Di sisi lain
Clare sedang terduduk sendiri di sofa kantor Jhon, sudah tak ada nyonya Leonor di sana.
"Clare, apakah benar kamu di rekrut oleh perusahaan lain? perusahaan mana? apakah Anata group, perusahaannya tuan Jhon?" tanya Ayana langsung dengan nada tergesa.
Suara itu sangat keras hingga Jhon yang berada jauh di ujung ruangan menoleh. Alisnya bertaut.
"Sssht. Ayana. Cukup"
"Suaramu terlalu keras hingga Jhon melirikku"
"Hah, jadi benar Anata group yang merekrut mu?" kata Ayana seolah terkejut dengan hal yang sudah biasa terjadi.
"sudah kubilang jangan berisik!" bisik Clare lagi, ia menghalangi mulutnya dengan tangan.
"Oh ya, maaf" jawabnya, berbisik. "Jadi, bagaimana ceritanya tuan Jhon merekrutmu!?"
"Aku tidak tahu jelasnya tapi Jhon, saat sarapan tiba-tiba berbicara seperti itu!"
Aya terdiam seperdetik "Tuhan..." napasnya tertahan. "bahkan kamu sudah tinggal bersama dengan Jhon tapi tak menceritakan nya padaku?"
"Tak" sangkal Clare cepat
"Stop berbohong Clare, hidupmu itu sudah penuh dengan kebohongan. Sekarang, ceritakan padaku bagaimana bisa!"
Clare menunduk dalam. bibirnya bergetar, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar. Di tengah ruangan yang mendadak hening, suara detak jam dinding terdengar terlalu nyaring.
"Jawab aku, Clare," desak Ayana, dengan nada yang merendah.
"Aku sungguh tak sedang berbohong!"
"Aku tak percaya!" tolaknya
Jam dinding terus berdetak di keheningan
Tek.
Tek.
Tek.
Tek.
Empat detik berlalu, panggilan belum terputus tapi tak ada yang bicara satupun.
Hingga Akhirnya.
Tut...
Telepon.
Terputus.
Sepihak.
****
Tut...
"Clare!" gumam Ayana keras
Di jalan mata Ayana terus menatap ponsel, jemarinya tak kunjung diam mengetik sesuatu.
Ia berjalan terlalu cepat. Terlalu tidak fokus.
Duk!
Bahu kanan Ayana menghantam sesuatu. Keras.
"Ya ampun" serunya
Ayana terhentak, refleks ia mendongak
Di hadapannya berdiri Sinta, rambutnya berantakan, dia berjalan sangat tergesa dengan panik yang terlihat di wajahnya
"Kamu sudah membaik!" ujar Ayana, pelan. Menanyakan kejadian waktu itu yang menimpanya.
Sinta tak menjawab, ia melihat wajah Ayana dalam seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan
"kenapa?" tanya Ayana
Mata Sinta berkaca-kaca, ia memegangi tangan Ayana, lalu bersimpuh. Menangis.
Ayana terkejut tiba-tiba Sinta bersimpuh di hadapannya sembari menangis.
"Ada apa! kenapa kamu seperti ini" Ayana menarik tangan Sinta untuk berdiri, namun tak bisa.