Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Merayakan Kemenangan
Ketika hidangan utama mulai berkurang, Bima dan Pak Yudi izin sebentar untuk ke dapur untuk mengambil sajian pencuci mulut yang sudah disiapkan.
Di tengah meja, ada satu porsi hidangan yang aroma gurihnya sangat menggoda. Rhea dan Rayven yang tadinya sedang tersenyum mendengarkan celetukan Zora, secara tidak sengaja mengulurkan tangan mereka secara bersamaan ke arah wadah makanan tersebut.
Jemari Rhea dan Rayven bersentuhan pelan di udara saat keduanya memegang gagang penjepit makanan yang sama.
Gerakan keduanya terhenti seketika. Rhea perlahan mengangkat pandangannya, lalu matanya beradu tepat dengan mata Rayven. Keheningan mendadak merayap halus diantara mereka berdua, menghentikan riuh sejenak.
Rayven menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat lembut dan menawan, yang membuat kedua pipi Rhea mendadak merona karena tersipu malu.
"Kamu duluan aja, Rhe," tutur Rayven halus.
Rhea tertawa kecil, berusaha menetralisir rasa canggung dan debaran halus yang mendadak bergemuruh di dalam dadanya.
"Eh... nggak apa-apa, Ven. Kamu aja duluan yang ambil, santai aja," kata Rhea canggung.
"Nggak apa-apa, untuk kamu dulu," balas Rayven pelan.
Zora yang sedang mengunyah makanan di hadapan mereka mendadak menghentikan gerakan rahangnya. Matanya berkedip beberapa kali, lalu perlahan bibirnya mengembang membentuk senyuman jahil yang amat lebar.
"Ehem! Aduh... aduh... ini restoran kok mendadak aroma udaranya berubah jadi manis banget ya? Padahal setahu gue Bima nggak pakai gula sebanyak ini di masakannya," goda Zora sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
Zora melirik Rhea dan Rayven secara bergantian dengan alis terangkat.
"Zora, maksud lu apaan sih," potong Rhea dengan cepat.
Wajahnya kini sudah memerah padam hingga ke ujung ke telinga. Sementara Rayven hanya berdehem pelan seraya membetulkan kemejanya untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, meski senyum tipis tak sanggup ia sembunyikan sepenuhnya.
Zora tertawa terbahak-bahak melihat sepasang pengacara yang biasanya tampil dingin dan garang di persidangan itu kini sama-sama terdiam salah tingkah.
Tak lama kemudian langkah kaki Bima dan Pak Yudi terdengar kembali mendekat. Bima membawa sebuah nampan berisi beberapa mangkuk pencuci mulut dingin yang menyegarkan, sementara Pak Yudi berjalan di sampingnya seraya membawa cangkir teh hangat.
Rhea mengalihkan pandangannya menyambut kedatangan Bima. Namun, mata Rhea tertahan. Ia memandangi sosok yang berjalan tenang tepat di samping Bima.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan koki yang amat rapi, dengan perawakan tegap dan berwibawa. Tidak ada lagi raut wajah penuh kesakitan.
Dengan gerakan yang begitu lembut, ia mengulurkan tangannya, mengelus pelan pundak Bima dengan penuh kasih sayang seorang ayah yang amat merindukan anaknya.
Sosok itu kemudian perlahan menolehkan kepalanya ke arah Rhea, menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tulus dan menenangkan.
Rhea terus memandangi sosok tersebut selama beberapa saat. Dadanya berdesir hangat, dan tanpa ia sadari kedua matanya perlahan berkaca-kaca menahan rasa haru. Setelah memandangi sosok itu, Rhea baru mengalihkan pandangan matanya tepat ke arah wajah Bima.
"Mbak Rhea? Kenapa?" tanya Bima dengan nada bingung.
Saat mendapati Rhea sedang menatap ke arah samping tubuhnya dengan mata yang berbinar basah.
"Bima, papa kamu ada berdiri di samping kamu saat ini," kata Rhea tersenyum manis.
Dia menatap Bima dengan pandangan yang penuh dengan kehangatan.
Bima seketika menahan napas dalam-dalam. Pak Yudi dan Zora mendengar ucapan itu mendadak bungkam, sementara Rayven menatap Rhea dengan raut wajah penuh pemahaman atas kemampuannya.
"Papa kamu keliatan sangat tenang dan bahagia, Bim. Dia baru aja mengelus pundak kamu, dan dia bilang bangga punya anak yang luar biasa seperti kamu. Kamu udah berhasil menjaga warisan keluarga ini," lanjut Rhea. Suaranya terdengar sedikit parau menahan rasa haru.
Bima tertegun di tempatnya berdiri. Air mata hati perlahan menetes di pipinya. Dia menolehkan pandangannya ke samping kirinya yang tampak kosong bagi mata awam. Meskipun ia tidak sanggup melihatnya secara langsung, Bima dapat merasakan sebuah kehangatan alami yang mendadak melingkupi dadanya.
"Mbak Rhea, bisa lihat keberadaan papa saya?" bisik Bima.
"Iya, Bima. Papa kamu selalu ada disini menjaga kamu dan restoran ini," Rhea mengangguk pelan.
Bima mengusap air matanya dengan ujung lengan kemeja, lalu mengukir senyuman yang sangat lega. Beban berat dan rasa rindu mendalam yang selama ini menghimpit dadanya mendadak sirna tanpa sisa.
Di samping Bima, sosok Pak Bambang sekali lagi membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda Terima kasih kepada Rhea, sebelum perlahan wujudnya memudar halus, menyatu dengan kehangatan lampu di dalam ruangan.
Melihat suasana yang mendadak begitu emosional, Zora yang tidak ingin larut dalam kesedihan langsung mengambil alih suasana.
"Aduh, terharu banget gue dengarnya," tutur Zora.
"Udah, udah jangan pada nangis lagi. Ayo Bima, duduk disini, Pak Yudi juga, ayo mari gabung sama kami, kita nikmati hidangan penutupnya sama-sama," lanjut Zora sambil menepuk permukaan meja.
"Iya, Pak Yudi, Bima, mari duduk," ajak Rayven.
Bima dan Pak Yudi akhirnya menarik kursi dan melengkapi meja tersebut. Kini mereka berlima duduk melingkar, menikmati sajian makanan penutup dingin sambil tertawa lepas.
Ketika suara gelak tawa dan obrolan hangat dari kelima orang di meja makan menggema memenuhi seluruh penjuru restoran malam itu, pendar cahaya lampu gantung memantul lembut pada permukaan kaca bingkai tua tersebut.
Di dalam gambaran potret yang tadinya tampak begitu formal dan kaku, wujud Pak Bambang di dalam foto itu perlahan mengukir sebuah senyuman manis yang hangat, memancarkan kedamaian abadi atas keadilan yang kini telah berdiri tegak sepenuhnya.
Namun, ditempat lain yang jauh dari hangatnya tawa restoran Restu Ibu.
Dinding beton yang dingin dan berbau cuma mengurung dia sosok yaang kini telah kehilangan segalanya. Di dalam sel tahanan, Fadel terduduk melamun di atas lantai semen. Pakaian penjara berwarna jingga lusuh yang dikenakannya tampak kedodoran. Wajahnya yang biasa dipenuhi kesombongan kini kusam.
Di sel khusus wanita yang terpaut beberapa blok. Rika meringkuk di sudut ruangan. Tangannya yang gemetaran meremas jeruji besi yang mengurungnya dari dunia luar. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut berantakan, sementara matanya menatap kosong ke arah lorong sel yang gelap dan sepi.
Fadel meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa benci dan dendam membakar rongga dadanya hingga napasnya memburu kasar. Ia mendongak, menatap bayangan dirinya di jeruji besi dengan pandangan mata yang liat dan penuh amarah.
"Ini belum selesai," bisik Fadel dengan suara parau yang sarat akan kesumat.
"Lihat saja nanti... Bima, Rayven. Demi apapun kalian tidak akan bisa hidup tenang. Gue bakal balas kalian semua," suaranya Fadel bergaung tipis di dalam selnya.