Indonesia
NovelToon NovelToon
Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.

Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Insiden.

Hari-hari berikut. Semua berulang seperti itu. Berbeda pendapat hingga tidak sesuai dengan tindakan. Setiap pagi, Mama Phia dengan santai memberikan arahan yang sedikit berbeda kepada keduanya, di tempat yang berbeda pula.

Disaat Bian santai dengan tugasnya, Bang Dante stress bukan main dengan hasil kerja gadis itu. Pohon mahoni yang awalnya sidah di setujui kini berganti pohon cabe.

Mama Phia membiarkan mereka berdebat di lapangan soal cara kerja, urutan prioritas, hingga jenis bibit yang paling cocok.

"Kau tanam cabe begini, apa mau buat warga diare masal???" Tegur Bang Dante.

Bian melipat kedua tangan di depan dada karena merasa benar. "Kalau nanti tumbuh subur, bisa panen rakyat."

"Yang mau di tanami ini, hutan.. Bukan ladang." Omel Bang Dante. "Itu lagi, setiap pohon yang di tanam, jati.. Di mulai dari arah matahari terbit, bukan sebaliknya. Tanamanmu bisa langsung layu dan mati." Sungguh sakitnya kepala Bang Dante karena semua serasa berantakan. Ia sampai mengurut pangkal hidungnya. "Ubah arah tanamnya, kita harus selesaikan bagian timur dulu sebelum matahari tenggelam..!! Langit mulai mendung dan gelap. Sebentar lagi pasti hujan lebat. Hujan di hutan tidak baik, licin, bahaya..!!" Imbuh Bang Dante sambil memeriksa peta lokasi.

"Memangnya kau dukun???? Di sana anginnya paling kencang pagi-pagi. Bibit muda mudah layu sebelum berakar. Lebih baik mulai dari barat dulu, baru ke utara saat sore nanti." Bian berdiri di sampingnya, menunjuk arah bukit dengan telunjuk jarinya.

"Kau....... Sebenarnya kau paham keselamatan kerja atau tidak??? Relawan pun harus punya ilmu..!!!" Tegur Bang Dante kemudian menghela napas panjang, tapi beberapa detik kemudian, ia merasa lelah seakan sekaligus tak sanggup berdebat dengan Bian. Peta di tangannya ia lipat kembali. "Terserahmu lah. Mau barat ke timur, mau selatan ke utara.. Tiga puluh menit lagi, semua kegiatan berhenti, kembali ke camp. Saya sudah memberi banyak batas toleransi, kali ini saya tidak mau ada bantahan." Ucap tegas Bang Dante.

:

Benar saja, hujan rintik mulai turun. Para relawan mulai percaya insting tajam seorang Letnan Wira, namun tidak dengan Bian. Gadis itu masih teguh dengan pendiriannya.

Bian tidak mau kembali ke camp dan melihat sendiri keadaan tanah di ujung barat bukit.

"Kemana Bian?" Tanya Bang Dante.

"Ke bukit barat, memantau kondisi tanah disana." Jawab salah seorang anggota team relawan.

"Astaghfirullah.." Bang Dante langsung mengambil langkah seribu. Mungkin saat ini hanya dirinya yang paham betapa berbahayanya lokasi tersebut, lokasi yang tidak jauh dari markas pemberontak yang membuat dirinya teringat masa kelamnya beberapa waktu yang lalu. "Ya Allah, Biaan..!!!"

...

Hari sudah gelap. Bang Dante gelisah bukan main, ia tidak bisa menemukan jejak Bian di manapun. Ingatannya pada tragedi beberapa waktu yang lalu membuatnya tidak tenang.

Mata dan telinga yang tajam, peka akan suara dan bias cahaya dalam hutan yang mulai gelap. Pikirannya mulai tidak tenang.

"Tolooong..!!"

Samar ada suara tipis, nyaris tak terdengar. Suara memanggil, meminta pertolongan. Bang Dante kembali memasang telinga untuk mencari Bian.

"Biaan.." Bang Dante turun perlahan mencari Bian. Ia jelas tau bahwa Bian ada di sekitar jurang.

Bang Dante mengambil senter kecil yang selalu ada pada saku seragamnya. Ia menggigitnya lalu berhati-hati turun ke dasar.

Tak lama, Bang Dante bisa menemukan Bian. Gadis itu terperosok, badannya tersangkut patahan batang kayu besar yang masih bertengger di atas semak belukar.

Lebih parahnya, tak jauh dari situ ada seekor ular sanca mata putih yang sangat besar dan Bian sudah terisak ketakutan.

"Jangan bergerak, jangan menangis yang menimbulkan suara. Saya tangani ular itu."

Bian menatapnya pasrah dan menelan tangisnya sekuat tenaga.

Bang Dante meletakan senternya hati-hati namun tetap membidik badan ular, lalu ia melepas ikat pinggang, turun perlahan, sedikit berputar arah dan cekatan menangani hingga ular tersebut mati di tangannya.

Setelah membereskan ular tersebut, Bang Dante mengulurkan tangannya, dari sinar tipis itu, Bang Dante melihat Bian sangat ketakutan.

Tangan Bang Dante sudah menggenggam tangan Bian.

"Kaki ku sakit, aku nggak kuat." Rintih Bian.

"Saya yang tarik tanganmu. Cepat usahakan injak batu, jangan injak dahan..!!"

Tapi, saat Bang Dante bersiap menariknya. Terdengar bunyi yang kasar.

Kraaakk..

"Aaaaa......" Jerit Bian.

Bang Dante sigap, ia menarik Bian ke dalam pelukannya. Keduanya jatuh meluncur, tercebur ke dalam sungai beraliran deras.

Byyyrrrr....

Bian gelagapan di dalam air, tapi Bang Dante tak sedikit pun melepasnya. Tak habis dengan itu, wilayah endemik disana masih menyisakan satu persoalan. Bang Dante mencabut sangkurnya. Ia menusuk sesuatu yang mencoba menyerangnya dan Bian.

jlllbb..

Sekuat tenaga, ia membawa Bian menepi. Wilayah itu gelap gulita, tapi ia tau, tempat itu bukan lagi muara yang menyimpan banyak rahasia di dalamnya.

"Biaan..!!!" Bang Dante mencoba menyadarkan Bian, tapi gadis itu tak kunjung sadar.

Bang Dante melakukan segala upaya. Hati-hati ia menekan bagian dada gadis itu lalu memberinya napas buatan. Tak lama dari mulutnya menyembur air.

Bian ketakutan, ia masih berontak setengah sadar.

"Sudah Bii.. Sudah aman, kamu selamat, sama saya sekarang." Kata Bang Dante.

Pria itu sungguh tidak tega melihat keadaan Bian. Secepatnya Bang Dante melepas seragam luarnya.

Pakaian Bian koyak disana sini. Gadis itu menyilangkan kedua tangan dan menekuk lututnya. Ia menangis sesenggukan merasa malu di hadapan seorang pria.

Bang Dante melingkarkan seragamnya untuk melindungi harga diri seorang gadis.

"Jangan menangis lagi, tidak ada yang melihatnya selain saya." Kata Bang Dante. Ia pun berdiri dan mencari beberapa ranting kayu.

Daerah itu tidak terkena hujan seakan bumi ikut memberi mereka kemudahan untuk hidup. Dengan cekatan Bang Dante membuat api agar mereka tidak kedinginan. Tak lupa Bang Dante memeras kaosnya yang basah lalu menjemurnya.

Belum usai dengan itu. Bang Dante mendekati Bian. Cahaya api unggun memperlihatkan dengan jelas kaki jenjang yang mulus dan bersih karena celananya koyak. Kakinya sedang terluka hingga batas paha. Tak banyak bicara, Bang Dante mengangkat Bian ke atas tumpukan daun yang ia siapkan agar Bian bisa nyaman merebahkan diri.

"Sakiiitt..!!"

"Iya, saya tau kakimu dislokasi." Setelah menurunkan Bian, Bang Dante menangani kaki Bian. Terdengar jerit menyakitkan hingga gadis itu memeluknya erat menangis sesenggukan.

Seragam itu merosot. Bang Dante pun dengan jelas bisa melihat apa yang tidak seharusnya terlihat olehnya.

"Tolong.. Jangan katakan apapun sama mereka tentang hari ini, aku malu...!!" Ucap Bian lirih.

Bian meluapkan tangisnya, tak melepaskan pelukannya dari Bang Dante. Di saat yang sama, hati Bang Dante seakan ikut menangis. Tak paham apa yang ia rasakan. Sungguh ia tak tega sekaligus bingung dengan rasa yang sulit untuk di jelaskan.

"Nggak akan. Cerita hari ini, apa yang saya ketahui, akan saya telan. Tidak akan ada yang 'melihatmu' selain saya." Kata Bang Dante menenangkan Bian. Ia mengambil kembali seragamnya dan menutupi tubuh Bian. "Boleh saya lihat lukanya??" Tanya Bang Dante karena ia tau luka Bian tidak biasa bahkan sudah menetes di atas tumpukan daun.

Bian menggeleng, gadis itu tidak mengijinkan Tapi ada perkara darurat yang tidak boleh terlambat.

"Saya tidak akan macam-macam, lukamu harus segera di tangani." Bujuk Bang Dante.

Bian masih saja menggeleng, namun mengangkat tubuh dari pelukannya pun sudah tidak mampu.

"Kamu laki-laki, saya perempuan. Kamu bukan tenaga medis, kamu juga laki-laki biasa. Tidak ada yang menjamin saya akan selamat di tanganmu. Kalau harus seperti ini, kenapa kamu tidak biarkan saya mati di telan ular daripada harga diriku hilang di tanganmu. Tubuh saya bukan milik kamu." Ucap Bian dengan berani dan lantang tapi ia masih memeluk tubuh Bang Dante dengan kuat dan gemetar.

"Saat ini hanya saya yang bisa menolongmu. Saya tau batasan yang pantas. Kamu gadis, saya tidak ada istri. Demi Allah niat saya menolongmu. Tapi, jika setelah ini akhirnya Allah menuntun jalan yang berbeda, itu di luar kuasa saya." Jawab Bang Dante. Ia melonggarkan pelukannya. "Terserah kau saja, bolehkah saya memeriksa lukamu?"

.

.

.

.

1
Tanti
sabar dan tenangkan hatimu Bian... smua pasti akan berlalu... yakinlah klo Bang Dante mampu mengatasinya....

lanjut mba Nara
Tanti
siippp Bang Dante, lindungi marwah istrimu👍👍
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
Maysuri
siiippp lah mbak nara,....👍🏻👍🏻👍🏻
Tanti
Aman mba Nara....ditunggu cerita lanjutnya mba👍👍🥰
Tanti
baca sambil ngebayangin adegannyaaa..bikin merinding ngeriii...

lanjut mba nara👍
Tanti: asssiyaappp mba Nara🤭
total 4 replies
Maysuri
kau bangunkan macan yg lg tidur y vivian...awas kau....🤣🤣🤣🤣
Bojone_Batman: tinggal tunggu saja hasil dari karyanya.
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
cari masalah aja vivian
Bojone_Batman: Tapi watak manusia emang ada yang gitu sih.
total 1 replies
Tanti
sedih bacanya🥺😭😭
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹

huaaa...ga rela klo pada pisah😭
Tanti
tabir masa lalu akhirnya terbuka, smuanya sdh jelas...tinggal masing² menata hati dan pikiran
lanjut mba Nara🥰
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian 😭
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian
Maysuri
ohhhh gitu toh kejadiannya....semangat mbak nara 💪💪
Tanti
aduh... ini tau- tau datang lg ibu² bikin rusuh rmh org...bikin gedegg ae....
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki

lanjut mba nara
Ayu FazRina Satiasari
pasti ulah vivian ini sang provokator
dyah EkaPratiwi
ada aja cobaannya
dyah EkaPratiwi
😄 Alhamdulillah sudah bisa mengungkapkan
Maysuri
patmu ini ibu kandungnya bang sante kah....
Tanti
Bang...mbok yoo diajak kluar dr toilet dl...mosok ngomong kyk gitu didlm toilet🤭
Tanti: Bang Dante emang lain drpd yg lain😂
total 2 replies
dyah EkaPratiwi
semangat bian
Bojone_Batman: Semangaaat
total 1 replies
Maysuri
y sallam.....ya enggak kuatlah kalau dekatam istri y bang,pasti lah curi " kesempatan😁😁semangat 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!