Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu. Bagaimana Char dicintai secara ugal-ugalan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
"Hai, Raph!" sapa Livia seramah mungkin pada sosok di depan pintu.
"Nona Hodden, pulang lah!" suruh Raph datar.
Livia menelan ludah pelan-pelan. Untuk menghadapi pos jaga, ia bisa memakai alasan kekerabatan dan ancaman pemecatan.
Tetapi, di depannya adalah sosok paling kaku, paling tidak fleksibel, paling rumit dan paling keras lebih keras dibanding Alexander atasannya.
"Raph ... Apa maksudmu? Aku di sini ...."
"Nona ... Hodden," seru Raph dengan suara rendah.
Ia maju satu langkah membuat Livia mundur dua langkah.
"Kau mau apa!" teriak Livia.
"Aku masih ada kerabat ....'
"Kau hanya anak adopsi Nona!" potong Raph memutus keangkuhan Livia.
"Aku ditunjuk rumah sakit sebagai perawat ....."
"Kau masih ingin membodohi sapa Nona?" potong Raph mematahkan alasan Livia untuk mendekati istri majikannya.
"Ini!" Livia memegang Id yang diberikan rumah sakit.
"Nona, apa dengan kartu identitas itu anda bisa masuk seenaknya?" tanya Raph.
Pria tampan namun mengerikan itu menyeringai pada Livia.
"Saya telah melihat seribu wajah di masa lalu. Termasuk wajah anda ...Oliva Lalona Ramirez," ujarnya menyebut nama asli Livia.
Wanita yang memamerkan id sebagai dokter perawat untuk Istri dari Romanov itu seketika membeku. Bibirnya mengatup erat-erat, menahan getaran, matanya berkaca-kaca.
"Tapi aku sekarang adalah Hodden! Aku bukan sepertimu Raphael Angelo! Bahkan kau tak tahu siapa ayahmu!" teriak Livia.
"Berani sekali kau berkata demikian. Livia, siapa yang mengajarimu!" Rudolph yang berdiri dari tadi di dekat pintu ruang baca mendengar semuanya.
Livia terkejut bukan main, sementara Raph tetap kaku bak manekin bernyawa.
Mata Livia membelalak sempurna. Tubuhnya gemetar hebat begitu sosok Rudolph melangkah keluar dari balik pintu ruang baca dengan wajah terdistorsi oleh kemarahan. Ketukan tongkat kayu sang penguasa veteran Romanov di atas lantai terdengar seperti derap eksekusi yang amat menakutkan.
"G-Grandpa..." bisik Livia, suaranya tercekat di tenggorokan. Seluruh keberanian dan keangkuhan yang tadinya ia pamerkan hancur tak berbekas dalam hitungan detik.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu!" bentak Rudolph, menunjuk wajah Livia dengan ujung tongkatnya yang bergetar karena emosi.
"Keluarga Hodden memungutmu dari jalanan, memberimu nama, pendidikan medis, dan kehidupan layak! Dan beginilah cara kau membalasnya?! Dengan merendahkan Raphael yang sudah mempertaruhkan nyawanya puluhan kali untuk keluarga ini?!" teriaknya marah.
Livia mundur selangkah demi selangkah, matanya berkaca-kaca ketakutan.
"Tapi ... Dia yang mulai duluan!" tunjuk Livia pada Raph.
Rudolph menatap Raph, ia sangat tahu bagaimana sosok pria kaku di depannya. Jika Raph mengetahui niat busuk seseorang. Raph tak akan segan membongkar aib orang itu tanpa filter.
"Raph, bisa kau jelaskan?" tanyanya.
"Tuan, kemarin selepas memeriksa Nyonya Romanov. Saya melihatnya menatap Tuan muda dengan pandangan mesum!" jawaban Raph seperti aduan anak kecil yang direbut mainannya.
Jika Livia gemetar ketakutan, sementara Rudolph nyaris tersedak mendengar nada bicara manekin bernyawa itu.
"Lalu ini! resep yang ia tulis, semuanya pelemah kandungan!" lanjut Raph mengambil secarik kertas yang ditulis tangan oleh Livia.
Rudolph langsung merebut kertas itu dari tangan Raph.
Matanya menyipit membaca deretan nama obat yang tertulis di sana.
Beberapa detik kemudian, wajah lelaki tua itu berubah.
"Kau..." suaranya bergetar.
Livia langsung pucat.
"Itu bukan seperti yang kau pikirkan, Grandpa!"
"Jangan panggil aku Grandpa!" tekan Rudolph gemetar.
"Pergi ...," lanjutnya mengusir.
"Gra ...."
"Pergi sebelum Alexander yang turun tangan!" seru Rudolph menahan amarah.
Livia gemetaran, ia berjalan dengan langkah terseok-seok ke mobilnya. Kendaraan itu pun meninggalkan halaman villa.
Tubuh Rudolph goyang, Raph dengan cepat menangkap tubuh tuan besarnya.
"Tuan Besar!"
"Bawa aku ke kamar, Nak," pinta Rudolph lemah.
Dengan telaten, Raph menuntun Rudolph ke kamarnya di lantai dasar. Setelah berbaring, Raph menyelimuti tubuh tua itu.
Rudolph menggenggam tangannya, Raph terdiam saat mata tuannya menatapnya dengan permohonan maaf.
"Tolong jangan kau pikirkan apa yang dikatakan gadis sialan itu, kau adalah bagian dari Alexander. Aku merasa bersalah jika kau sakit hati ... Bagaimana pun aku adalah ayah baptis Livia," ujar Rudolph penuh penyesalan.
Raph terdiam, sepanjang hidupnya, tak ada yang meminta maaf secara pribadi. Tapi Rudolph meminta maaf yang bukan kesalahannya.
"Tuan, perkataan Nona Livia tidak berarti bagi saya. Anda jangan khawatir. Terlebih ini semua bukan salah anda," ujarnya tenang.
"Terimakasih, Nak. Kalau begitu, soal Livia. Kau hukum dia dengan memindahkannya ke Kota Lotega! Kita punya rumah sakit jiwa kan di sana?" Raph menelan ludah mendengar perintah tuan besarnya.
Lalu perlahan, Raph menganggukkan kepalanya pelan, menyerap perintah sang penguasa veteran dengan kepatuhan penuh.
"Baik, Tuan Besar. Saya akan mengatur kepindahannya ke Rumah Sakit Jiwa Lotega malam ini juga. Nona Livia akan ditempatkan di bangsal isolasi dengan pengawasan khusus."
"Bagus..." gumam Rudolph, perlahan mengembuskan napas panjang. Beban di dadanya sedikit terangkat melihat betapa tenangnya Raph menyikapi keputusannya.
"Pastikan Alexander tidak mendengar seluk-beluk resep obat itu. Jika cucuku tahu Livia mencoba menyakiti Charoen dan calon anak-anaknya, Kota Seradam bisa berubah jadi lautan darah sebelum fajar."
"Saya mengerti, Tuan. Rahasia ini aman bersama saya," jawab Raph mantap.
Setelah memastikan Rudolph beristirahat dengan tenang, Raph melangkah keluar dari kamar lantai dasar. Wajah kaku tanpa ekspresinya kembali terpasang sempurna. Ia merogoh ponsel dari balik jas hitamnya, mengetik pesan singkat kepada tim keamanan internal Romanov.
Setelah mengirim pesan, Raph menghela napas panjang. Lalu matanya menatap pintu kamar Rudolph yang tertutup rapat.
"Rumah sakit jiwa Lotega. Belum sehari, Livia pasti bunuh diri. Ternyata kekejaman Tuan Muda berasal dari Tuan Besar!' gumamnya ngeri sendiri.
Sementara itu, Livia memacu mobilnya dengan cepat. Ia tak kembali ke rumah sakit melainkan ke pent housenya yang mewah. Langkah kakinya begitu cepat melangkah, hingga tumit sepatunya berdetak kencang di lantai marmer bangunan mewah itu.
"Aku harus pergi sebelum Alexander sadar aku memberikan resep lemah kandungan pada wanita sialan itu!" gumamnya kesal saat mengucap kata terakhir.
Livia membereskan semua baju-bajunya. Memasukkan secara paksa ke dalam koper-koper mahalnya.
Lalu ponselnya berdering, pihak management rumah sakit meneleponnya.
"Halo?"
"Dokter Hodden, pihak rumah sakit akan menugaskan anda ke tempat lain. Apa anda bisa langsung konfirmasi ke departemen rumah sakit sekarang?"
Mendengar peluang lari, Livia menyanggupi datang. Tanpa sadar, ia menandatangani kematiannya sendiri.
Sementara di lantai empat kamar, Char. Alexander setia berbaring di sisi istrinya. Membelai setiap inci wajah Char dengan tatapan matanya. Manik kelabunya yang dingin dan kejam. Berubah lembut dan penuh cinta.
"Sayang, aku mencintaimu," ungkapnya lirih.
Char tak mendengarnya karena tidur dalam dekapan hangat suaminya. Semenjak hamil, ia selalu mengantuk dan cepat lelah.
bersambung.
Bye ... Bye Livia!
Next?
pengen nabok rasanya biar otak si Grace sedikit berfungsi
char lucu
makin seru n penasaran