Indonesia
NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Baru saja Dikta ingin bicara, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Pintu bangsal kelas satu itu terbuka sedikit, menampilkan wajah seorang perawat dengan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Maaf mengganggu, Pak Dikta," ujar perawat itu. "Anda dipanggil oleh Dokter Gunawan di ruangannya sekarang juga. Ini terkait kondisi putra Anda."

Dikta langsung berdiri dari kursinya. "Arkan? Ada apa dengan anak saya, Suster? Apa kondisinya memburuk?" tanya Dikta dengan penasaran. Rautnya begitu panik saat mendengar nama putranya disebut.

"Lebih baik Dokter Gunawan yang menjelaskan langsung, Pak. Mari, silakan ikut saya," jawab perawat itu, sedikit bergidik merasakan aura intimidasi dari pria di depannya.

Tanpa berpikir panjang, Dikta segera melangkah keluar kamar. Aku yang merasa penasaran bercampur rasa panik yang luar biasa nekat turun dari ranjang dan melangkah perlahan, mengikuti Dikta secara sembunyi-sembunyi dari belakang.

Di dalam ruangan khusus itu, Dokter Gunawan menyambut Dikta dengan guratan lelah di wajahnya.

"Silakan duduk, Pak Dikta," pintanya.

"Langsung saja, Dok. Ada apa dengan Arkan? Kenapa dari tadi dia menangis terus? Jangan menguji kesabaran saya," tanya Dikta dengan suara berat dan cemas.

Dokter Gunawan menghela napas panjang, mencoba tetap profesional di depan pria berbahaya ini. "Den Arkan terus menangis karena dia mulai mengalami gejala dehidrasi, Pak. Dia menolak susu formula yang kami berikan."

"Lalu bagaimana dengan Arini? Apa benar ASI-nya tidak keluar?"

"Itu masalahnya, Pak Dikta. Kita sendiri sudah tahu, jika ASI Bu Arini tak keluar karena stres dan tekanan berat yang menimpanya belakangan ini. Ditambah lagi, efek dari suntikan itu. Kita tak punya pilihan lagi. Den Arkan sangat membutuhkan ASI. Jalan keluar satu-satunya adalah mencari donor di bank ASI yang ada di rumah sakit ini," jelasnya.

Dokter Gunawan kemudian memutar layar monitornya, menunjukkan data ibu-ibu yang mendonorkan ASI di sana.

"Lihat ini, Pak. Ini adalah daftar pendonor resmi kami. Semua kantong ASI di sini telah melalui uji klinis yang sangat ketat dan tersertifikasi aman untuk Arkan. Kita harus mengambil tindakan ini sekarang juga."

Di balik pintu kayu yang sedikit terbuka, aku mendengarkan semua permintaan Dokter Gunawan. Setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter itu seperti belati yang menghunjam ulu hatiku. Air mataku langsung berlinang membasahi pipiku yang pucat ini.

“Aku benar-benar wanita tak berguna," batinku.

Kenyataan pahit yang harus ku terima adalah merelakan Arkan pada Ibu Susuan baru yang akan dipilih Dikta secara langsung.

"Kalau begitu, lakukan apa saja yang terbaik untuk anak saya, Dok. Ambil ASI donor itu sekarang," ucap Dikta pasrah, kekuasaan dunianya seolah tidak berarti apa-apa di depan nyawa bayinya.

"Baik, mari ikut saya ke ruang perawatan intensif untuk melihat bagaimana perawat memberikan ASI donor ini kepada Arkan," ajak Dokter Gunawan.

Dikta dan dokter pun keluar ruangan. Dengan cepat, aku bersembunyi di balik koridor, lalu kembali membuntuti mereka dari jarak jauh dengan langkah kaki yang dipaksakan berjalan.

Melalui kaca bening ruang bayi, pemandangan di dalam sana justru menghancurkan sisa-sisa pertahanan jiwaku. Di dalam ruangan steril itu, seorang perawat sedang menggendong Arkan yang perlahan mulai tenang. Di tangan perawat, terdapat sebuah botol kecil. Arkan terlihat mulai mengisap susu dengan lahap dari botol yang berisi ASI milik wanita lain.

"Lihat, Pak Dikta. Arkan mau meminumnya. Syukurlah, dia langsung tenang dengan ASI donor ini," kata perawat.

Dikta tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca, sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. "Terima kasih, Suster. Terima kasih, Dok."

Tidak dengan aku, pemandangan itu justru membuat hatiku semakin sakit. Tubuhku bergetar hebat menahan tangis yang hendak pecah.

“Untuk apa aku di sini? Anak itu tidak membutuhkan aku, dan aku hanya akan menghadapi kemarahan Dikta karena kegagalan ini,” batinku dengan rasa frustrasi. Aku merasa tugasku sebagai ibu susuan telah digantikan sepenuhnya.

Tepat di malam hari, aku melihat suasana mulai sepi. Dikta juga tidak ada di sini. Ia sedang keluar karena ada urusan mendadak yang ingin diurus. Aku memilih lewat tangga darurat, dan meninggalkan rumah sakit tanpa memedulikan apa pun lagi.

Ketika Dikta kembali ke bangsal dan mendapati kamar sudah kosong. Ia segera mengerahkan anak buahnya dan memeriksa CCTV rumah sakit. Mengetahui Arini kabur, Dikta langsung memacu mobil sport hitamnya ke jalan raya, membelah hujan badai yang tiba-tiba turun mengguyur kota.

Sorot lampu mobilnya menangkap tajam ke arah trotoar jembatan kota yang melintasi sungai besar berarus deras. Di sana, aku sedang berjalan terhuyung-huyung dengan baju pasien yang basah kuyup.

Dikta langsung mengerem mobilnya hingga mencicit keras, lalu keluar dari mobilnya. "Arini! Berhenti! Jangan bertindak seperti ini! Kau itu belum sehat betul," teriak Dikta sekuat tenaga

"Jangan mendekat, Pak Dikta! Saya ini wanita tidak berguna! Uang Anda habis sia-sia karena tubuh saya menolak memberikan susu untuk Arkan!" lirih melangkah mundur hingga terbentur pembatas jalan yang berhubung dengan sungai.

"Arini, dengarkan aku dulu," rayu Dikta mencoba melangkah maju, ego mafianya runtuh digantikan rasa panik yang nyata.

Namun, gerakan Dikta justru menimbulkan kepanikan bagiku. Aku nekat memanjat pagar pembatas jembatan demi untuk menggertaknya. Bukan ketakutan yang tersirat di benaknya, Dikta justru melangkah menuju ke arahku hingga aku tak punya pilihan. Aku terpaksa melompat di arus sungai yang begitu deras saat itu.

"Arini, jangan!!!" teriak Dikta histeris. Ia melompat ke depan, menjulurkan tangannya sekuat tenaga.

Suara hantaman dari tubuhku terdengar sayup-sayup di bawah jembatan kota yang tinggi itu. Jari-jari Dikta masih mengayun di udara.

Dikta mencengkeram pagar pembatas jembatan dengan pandangan yang tak percaya. Pria yang biasanya mengirim orang ke liang lahat kini harus menyaksikan orang yang ingin diselamatkan lenyap di depan matanya sendiri. Ia menatap ke bawah, ke dalam pusaran air sungai yang gelap.

"Arini!!!" teriak Dikta sekuat-kuatnya, suaranya parau dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa menyesal karena memaksa diri mendekati Arini yang hatinya masih kacau.

Keesokan paginya, seluruh anak buah Dikta dikerahkan bersama tim SAR untuk menyusuri sungai. Namun hingga menjelang siang, hasilnya nihil. Kepala tim SAR berjalan mendekati Dikta yang berdiri tegak dengan wajah dingin namun rapuh di tepi sungai.

"Bagaimana?" tanya Dikta singkat, nadanya mengandung ancaman terselubung.

Petugas SAR itu menelan ludah dengan gugup. "Mohon maaf, Pak Dikta. Dengan ketinggian jembatan tersebut, ditambah arus bawah sungai yang sangat kuat akibat banjir semalam, peluang untuk bertahan hidup sangat kecil. Kami mengira Bu Arini sudah meninggal dunia karena tenggelam atau terbawa arus hingga ke muara. Kami sarankan... pencarian dihentikan."

Dikta tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jiwanya terguncang hebat. Pria yang menguasai kota ini dengan darah dan peluru, kini harus bertekuk lutut pada takdir bahwa ia gagal menyelamatkan ibu susu anaknya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!