Menceritakan seorang Alena dan putranya, cerita fantasi dengan dunia modern.
Di negara Amerika ini, Alena bekerja sebagai sekretaris bosnya. Wanita itu memiliki seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Semenjak kedatangan putra sulung dari Alexander, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Kehidupan Alena tidak begitu normal, setiap melihat pria itu, Alena akan merasakan rasa pusingnya.
Di balik itu semua, terdapat kenangan masa indah mereka.
Hari demi hari penuh tantangan bagi mereka, Alena yang memiliki seorang putra yang begitu jenius, di perebutkan oleh para orang kaya.
Kabir sendiri memiliki paman yang melatihnya menggunakan kekuatan bela dirinya, di dampingi dengan seorang wanita yang memiliki kekuatan dari leluhurnya, semua orang akan takut saat mendengar namanya.
Feng yin salah satu orang yang ingin merebut Lucas dari Alena. Lucas adalah Kabir, Feng yin dengan segala kekuatan dan kekayaannya mampu melakukan segala cara untuk merebut Kabir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LorenzaMug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Aku Menemui Mu 29
"Ada yang harus kami bantu?" tanya Rendi pada teman-temannya.
"Tidak perlu, kau sungguh terlambat, rumah sudah di hias seperti ini, masih ingin membantu? mengkhayal saja!" cibir Anya kesal.
"Kalian sangat terlambat, tidak seperti biasanya." ucap Steven pada mereka.
"Kebiasaan wanita tidak pernah hilang, sudah satu jam kami menunggu Alisa yang berdandan!" jawab Benny, Alisa menyenggol lengan Benny cukup kasar.
Santi menatap Alena yang masih tidak membuka suaranya, biasanya temannya ini akan tertawa jika Benny sudah bertingkah lucu, namun untuk saat ini, sepertinya Alena benar-benar syok saat mendengar kematian Antoni dan cucunya.
"Aku tahu kau sangat terpukul, tapi... bukanlah itu pantas untuk mereka? Antoni sudah berniat mencelakai putramu, masih ingin menyelamatkan hidupnya?" ujar Santi, tidak mengerti dengan jalan pemikiran Alena.
Wanita itu menghela nafas pelan, melirik ke arah Santi. "Seharusnya Antoni di penjara, bukan meninggal seperti ini. Aku merasa ada yang mengganjal dengan kematiannya, apa kau merasakannya?" tanya Alena.
Santi segera menggeleng tidak tahu, saat ini pikirannya malah menuduh suaminya yang melakukan itu. Siapa yang tahu, suaminya bisa melakukan hal yang lebih dari pada kematian, lebih menyakitkan dari pada kematian.
"Aku tidak tahu. Alena, saat ini kau harus beristirahat. Lebih baik pergi ke kamarmu saja, kita rayakan ulang tahun Kabir di malam hari saja." Ucap Santi menyuruhnya untuk beristirahat. Alena berpikir sejenak, kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.
Di depan rumah, Aryan sedang berdiri melihat ke arah sekitar rumah Alena. Enggan untuk masuk, seandainya Alena tidak akan pingsan jika melihatnya, dirinya pasti akan sangat senang bertemu dengan wanita itu.
Aryan melirik ke arah teras yang berada di samping, tatapannya menajam saat melihat pria yang dirinya kenal. Aryan segera berlari dengan menggunakan kecepatan dan kekuatannya.
Sedetik kemudian, dirinya sudah di depan pria itu, "Akhirnya aku menemui mu!" ucap Aryan yang kini sudah berada di dekat Aditya. Pria itu ingin segera menjauh, namun pundaknya di tekan oleh Aryan, membuatnya tidak bisa pergi dari sana.
"Apa yang kau inginkan?" tanya aditya menatap Aryan tajam. Aryan menyipitkan matanya, "Di mana Aira? Seharusnya jika Kabir ada di sini, Aira juga harus ada di sini, kan?" tanya Aryan. Aditya menyeringai melihat ke arah Aryan.
Aditya menghempaskan tangan nya, segera membalikkan tangannya, namun Aryan berhasil keluar. Ia menekan dada Aditya dengan penuh kekuatannya. Membuat Aditya mundur beberapa langkah, Aryan mendekat kembali.
"Katakan di mana Aira?" tanya Aryan kembali. Aditya terkekeh kecil, mencibir Aryan.
"Kau masih menginginkan gadis itu? Kau sudah tidak waras, tuan Aryan." ledek Aditya. Aryan mengepalkan tangannya.
Mereka saling bergulat, Aryan yang memiliki kekuatan cukup mudah untuk mengalahkan orang lain, namun, Aditya memiliki keahlian bela diri, tidak cukup mudah mengalahkan Aditya.
Aditya menendang dada Aryan, pria itu sedikit mundur, kakinya menahan agar tubuhnya tidak terjatuh. Aryan memutar tubuhnya dan melayangkan tinju itu ke arah perut Aditya. Pria tua itu terbatuk, merasakan rasa sakit yang ada di perutnya.
"Katakan di mana Aira sekarang juga!" teriak Aryan dengan keras. Aditya menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya untuk mu mengetahui keberadaan Aira sekarang." jawab Aditya. Pria itu segera meloncat ke arah atap, Aryan pun mengikuti pria itu, mereka berlari dari atap ke atap rumah orang lain.
"Kau membuatku harus menggunakan kekuatan dalam ku!" gumam Aditya. Tangannya mengeluarkan cahaya ke arah pria itu, Aditya melayang ke atas karena ulah Aryan.
"Masih tidak mau memberitahunya?" tanya Aryan menaikkan alisnya sebelah. Aditya tertawa menyeringai. "Lebih baik bunuh saja aku, agar kau tidak perlu lagi mencari dimana keberadaan Aira! Yang pastinya dia masih hidup dengan baik dan bahagia bersama orang yang dicintainya." ujar Aditya menertawakan pria di depannya.
Aryan yang mendengarnya tentu saja kesal, menghempaskan tubuh Aditya dengan kasar. "Tidak ada gunanya untuk ku membunuh mu! Tapi, jika itu di perlukan maka kau harus ku bunuh agar tidak menghalangi jalanku menuju pada Aira!" Aryan mengumpulkan kekuatan di atas tangannya. Bersiap untuk membunuh Aditya tanpa ampun.
"Tidak, Ayah!" Teriak Kabir yang muncul tiba-tiba di depan Aryan.
"Kabir!" teriak Aditya, pria itu begitu lemah, mulutnya saja kini mengeluarkan darah. Kabir menoleh, "Paman, untuk apa menyembunyikan semuanya?" tanya Kabir menatap pamannya dengan perasaan sedih.
"Jika Ayah ingin bersama wanita yang bernama Aira, maka biarkan saja. Aku tidak keberatan." Lanjut Kabir. Aditya dan Aryan menatap ke arah Kabir dengan sedih, Aryan menurunkan tangannya.
"Tidak seperti itu, kau dan Aira, sangat penting bagi hidupku. Kau putraku, memiliki kekuatan seperti milikku." Ucap Aryan mengelus wajah putranya yang sedang sedih.
"Aku tidak keberatan, sungguh, Ayah. Kau ingin bersama bibi Aira? Maka pergilah, aku akan di sini bersama mommy." Balas Kabir.
"Itu tidak seperti yang kau dengar, Kabir." ucap Aryan tertahan. Aditya menatap mereka yang sedang berinteraksi, saling menguatkan. Hati Aditya tidak mungkin tidak tersentuh oleh mereka. Bagaimana bisa seorang anak merelakan ayahnya bersama wanita lain?
Aditya berdiri dengan tertatih, mengambil botol obat, meminum pil itu untuk memulihkan tubuhnya.
"Aku akan memberitahu mu di mana Aira berada." Ucap Aditya. Aryan kemudian bangkit, tersenyum senang mendengar ucapan pria itu.
"Katakan, di mana dia?" Desak Aryan cepat. Aditya tersenyum kecut. Tidak percaya jika tuan Aryan tidak mengenali Aira dengan baik.
Di tempat sunyi ini, mereka bertiga berdiri di dekat danau, puluhan burung berkicau begitu lantang. Memberitahu jika tempat itu begitu sunyi bagi mereka.
"Dia Alena, ibu dari Kabir." Ucap Aditya. Aryan memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya. Jelas sekali wajah mereka tidak sama.
Aditya menoleh dengan tersenyum, "Pengobatan China sudah begitu maju, aku memberikan sebuah pil yang bisa merubah wajahnya. Pada masa itu, dia kehilangan ingatannya, aku mencoba untuk membujuknya untuk merubah wajahnya."
"Kalian menikah tanpa bertanya padaku, benarkan?" tanya Aditya tertawa sinis. Aryan ingin menolak tuduhan itu, namun yang di ucapkan Aditya memang benar.
"Umur kalian masih sangat labil, pada waktu itu, usiamu hanya berbeda tiga tahun saja. Alena berusia 18 tahun, mendengar ucapan Alena yang sudah menikah, benar-benar membuatku terkejut."
"Setelah menikah, kau tahu apa yang terjadi padanya, bukan?" tanya Aditya. Aryan mengangguk.
Pada pernikahannya, tepat satu bulan. Terjadi masalah, Aira di culik oleh orang yang tidak di kenal. Pada saat itu, dirinya masih belum bisa menggunakan kekuatannya dengan tepat.
"Musuh ku tidak pernah habis, mereka menggunakan pengobatan luar negri, menjadikan keponakanku sebagai uji pencobaan." Ucap Aditya.
"Saat itu Aira sedang mengandung, mereka mencoba untuk membuat bayi dalam kandungannya menjadi aktif dan cerdas. Kau tahu kenapa mereka menargetkan Aira?" tanya Aditya menoleh pada Aryan.
Jangan lupa untuk membaca cerita lainnya (Love You My Wife)