Khayla adalah gadis dengan reputasi buruk di masa sekolahnya. Bar-bar, keras kepala, pembuat masalah, itulah yang orang-orang ingat tentangnya. Namun di balik sikapnya yang liar, ia hanyalah remaja yang sepi dan haus akan kejujuran, kasih sayang, dan pengakuan.
Hidupnya berubah drastis setelah dikhianati oleh orang yang ia percayai sepenuh hati, dijebak oleh orang-orang yang membencinya, dan kehilangan semua arah dalam satu peristiwa yang nyaris merenggut jiwanya. Sejak hari itu, Khayla memilih diam. Tak lagi membalas, tak lagi melawan. Ia menyimpan semuanya dalam-dalam, termasuk rasa sakit yang tak pernah selesai.
Setelah lulus, ia meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru di kota lain. Ia memilih bekerja di rumah keluarga kaya yang penuh misteri, Khayla berusaha tetap tak terlihat. Namun hidup membawanya kembali pada jejak yang tak pernah benar-benar hilang.
Satu kamar, satu nama yang dikenalnya, dan satu wajah yang tak asing, membuka kembali pintu-pintu luka yang telah ia kunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Lorong yang Tersembunyi
Pagi di rumah keluarga Evantha kembali berjalan tenang, secara kasat mata. Para pekerja berkumpul di dapur, Bu Tanti sibuk mencatat jadwal pembersihan, sementara Khayla kembali menjalankan tugas seperti biasa. Namun, di balik semua rutinitas itu, satu rencana besar tengah disusun diam-diam.
Bara, yang pagi itu kembali duduk di kursi roda seperti biasa, memandang ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Langkah kaki Khayla sudah dikenalnya.
Saat pintu ditutup, dan bunyi kuncinya terdengar ringan, Bara langsung berdiri.
“Kunci duplikatnya masih berfungsi?” tanyanya.
Khayla mengangguk. “Saya coba pas tadi pagi, saat semua sibuk di dapur. Kuncinya pas. Ruangan penyimpanan bawah galeri bisa dibuka.”
Bara berjalan ke arah meja, mengambil secarik kertas dengan sketsa simbol yang semalam mereka bicarakan. “Kita masuk ke ruangan itu malam ini.”
Khayla menatapnya sebentar. “Tapi… kalau Bu Mira tahu…”
“Aku sudah minta David untuk alihkan perhatian Bu Mira malam ini. Dia akan pura-pura sakit dan panggil semua pekerja ke sisi timur rumah. Termasuk Bu Tanti.” Bara melipat kertasnya, memasukkannya ke saku. “Kita cuma punya waktu sekitar tiga puluh menit.”
Khayla mengangguk, kali ini tanpa ragu.
**
Malam tiba.
Semua berjalan sesuai rencana. David mendadak ‘pingsan’ di ruang kerja belakang. Para pekerja panik, termasuk Bu Mira yang segera datang dan memanggil semua orang. Di sisi lain rumah, Khayla dan Bara diam-diam keluar melalui pintu lorong dapur lama.
Kunci diselipkan, diputar, dan pintu tua itu terbuka dengan suara decit yang halus.
Bara menyalakan senter kecil dari saku jaketnya, menyinari tangga menurun yang berdebu dan lembab.
“Ini kayak tempat yang sengaja disembunyikan,” gumam Khayla.
Tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan kecil dengan lemari arsip tua yang berjajar di sisi dinding. Sebagian besar berdebu, tapi ada satu lemari yang terlihat lebih bersih seolah masih sering dibuka.
Bara langsung menuju ke sana, membuka lemari itu perlahan. Di dalamnya, tumpukan map lusuh, sebagian sudah menguning. Di antara semua dokumen itu, ada satu map berwarna merah yang mencolok.
Ia mengambilnya.
Khayla menyorotkan cahaya ke atas map itu. Di sudutnya, terdapat simbol yang sama seperti di lukisan, lingkaran kecil dengan garis berkelok menyerupai akar.
“Ini dia…” bisik Bara.
Di dalamnya ada salinan dokumen properti, surat kepemilikan galeri, dan satu lembar fotokopi laporan keuangan yang ditandatangani seseorang bernama Yusuf Halim. Di bagian bawah, tertulis jelas: Proyek Epsilon - Rahasia Internal.
Khayla menatap lembar itu. “Saya pernah dengar nama itu… Yusuf Halim. Dia dulunya mitra ayah Tuan Muda, kan?”
Bara mengangguk pelan. “Tapi kabarnya dia meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung. Atau… setidaknya itu yang diberitakan.”
Mereka belum sempat membuka lebih lanjut, ketika suara langkah kaki terdengar dari atas. Ada seseorang yang turun perlahan.
Bara segera mematikan senter, dan menarik Khayla ke balik lemari. Napas mereka ditahan.
Seseorang membuka pintu dan menyalakan lampu gantung di atas tangga.
“Siapa di bawah?” suara Bu Tanti terdengar, pelan, tapi jelas.
Khayla menegang. Tapi Bara tetap tenang, mengisyaratkan agar diam.
Langkah Bu Tanti semakin dekat. Tapi tiba-tiba, suara lain terdengar dari atas.
“Bu Tanti! Cepat ke ruang belakang! David muntah darah!” teriak salah satu pekerja.
Langkah Bu Tanti terhenti. Ia berbalik, menutup pintu, dan pergi dengan cepat.
Begitu sunyi kembali menguasai ruang bawah tanah itu, Bara dan Khayla keluar dari persembunyian.
“Kita harus bawa ini,” ucap Bara sambil melipat dokumen dari dalam map merah.
Khayla membantu membereskan sisa map agar tak mencurigakan, lalu mereka naik pelan dan keluar tanpa jejak.
**
Kembali di kamar, Bara menatap isi map dengan tatapan penuh teka-teki.
“Proyek Epsilon… sepertinya bukan soal bisnis biasa.”
“Kalau ini rahasia internal… bisa jadi bukan hanya tentang keuangan. Tapi sesuatu yang melibatkan kematian orang tua Tuan?” Khayla bertanya pelan.
“Dan juga tentang galeri ini. Ada koneksi kuat di sini.” Bara berdiri dan berjalan bolak-balik. “Kita harus cari tahu siapa saja yang pernah terlibat di proyek ini. Dan… siapa yang paling ingin proyek ini tidak dibuka kembali.”
Khayla duduk sambil menggenggam lembaran lain.
Tiba-tiba ia membeku. “Tuan… lihat ini.”
Bara menghampiri.
Di pojok salah satu dokumen, tertulis sebuah catatan tangan:
“Jika terjadi sesuatu padaku, kunci terakhir ada di bawah lukisan ‘Langit Terbelah’.”
Bara dan Khayla saling pandang.
Itu lukisan yang tergantung di ujung galeri. Lukisan tua, besar, dan selalu dianggap tidak penting. Tapi jika catatan ini benar…
Besok malam, permainan akan naik ke level berikutnya.
Dan kali ini, mereka tak hanya mengejar rahasia, tapi kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya.
**
Pagi itu, Khayla kembali bekerja seperti biasa, membersihkan rak-rak, menyapu lantai galeri, dan mencatat katalog yang perlu direvisi. Tapi pikirannya terus melayang pada satu lukisan: Langit Terbelah. Sebuah karya besar yang selama ini tergantung di dinding paling ujung, nyaris tak pernah disentuh siapa pun.
Lukisan itu tampak sederhana, langit berwarna abu dengan garis hitam di tengah, menyerupai retakan. Tapi kini, setelah membaca catatan tangan dari map merah semalam, lukisan itu menjadi kunci.
Saat tidak ada orang di ruangan, Khayla mendekatinya.
Ia perhatikan bagian bingkai bawahnya ada bekas goresan halus. Seolah pernah dibuka. Khayla meraba sisi kanan bingkai, lalu perlahan menekan bagian bawahnya. Bunyi kecil seperti klik terdengar.
Bingkai itu terbuka sedikit.
Khayla menahan napas, lalu mengintip ke balik panel lukisan. Di sana, tersembunyi sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap. Ia mengeluarkannya pelan dan menyelipkannya ke dalam kantong besar celemeknya.
Ia baru akan menutup bingkai kembali saat suara langkah kaki terdengar di belakang.
“Khayla.”
Suara Bu Tanti. Dingin. Mendekat.
Khayla buru-buru menutup bingkai dengan tenang, lalu berbalik. “Iya, Bu?”
Bu Tanti menatapnya lama. “Kamu akhir-akhir ini sering ada di sini. Lebih sering dari biasanya.”
“Saya cuma menyelesaikan katalog yang belum sempat dibereskan. Banyak yang tercecer.”
Tatapan Bu Tanti tetap menusuk, tapi ia akhirnya hanya mengangguk pelan.
“Hati-hati. Jangan terlalu sering sendiri di ruangan ini. Banyak barang mahal. Bisa bahaya.”
Khayla tersenyum tipis. “Baik, Bu.”
Begitu Bu Tanti berlalu, Khayla langsung menuju kamar Bara, menyelipkan kotak itu ke balik jaketnya.
**
Di kamar, Bara membuka kotak kecil itu. Di dalamnya ada sebuah flashdisk tua berbalut kain hitam dan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sudah mulai pudar:
“Jika kamu menemukan ini, berarti kamu siap tahu segalanya. Tapi ingat, kebenaran selalu punya harga.”
Bara menggenggam flashdisk itu erat.
“Malam ini, aku akan buka ini di laptop David. Jauh dari siapa pun. Kalau isinya seperti yang aku duga… semua permainan ini akan berubah arah.”
Khayla menatapnya, tegas. “Saya akan tetap di sini.”
Bara menatap balik. “Kalau kamu ikut dalam ini… kamu juga akan mulai dihitung sebagai ancaman.”
Khayla hanya tersenyum samar. “Berarti saya di tempat yang tepat.”