Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Pertarungan di Rawa Tak Bertepi 1

Danang Wesi kembali memimpin perjalanan mereka. Bagaga Alam bersisian dengan Ni Kirana mengikuti dibelakang kuda Danang Wesi. Mereka mulai menapaki jalan berbelok y dari membelah Rawa Tak Bertepi.

Udara laut menerpa Bagaga Alam dan Danang Wesi serta Ni Kirana. Angin yang cukup dingin itu membuat tubuh terasa lebih segar dan nyaman. Aroma khas rawa menyusup di sela aroma laut.

Bagaga Alam mengedarkan pandangannya. Pria muda tampan yang kini mendapatkan nama baru Pendekar Suling Perak itu, melihat berkeliling Rawa tanpa batas. Jauh kearah Utara, terlihat batas lazuardi diatas permukaan air. Itu bisa dipastikan adalah lautan. Ketika melihat kearah selatan tampak perpaduan antara hutan dan sawah sawah yang luas.

Bagaga Alam mengedarkan persepsi nya secara luas. Dia mencoba untuk mendeteksi segala potensi bahaya dan kemungkinan.

Tiba-tiba Bagaga merasakan ancaman datang. Masih terasa samar dari sisi Utara disebelah depan.

"Danang mundur..." Tiba-tiba Bagaga Alam berkata. Danang Wesi kaget, dan menoleh kepada Bagaga Alam cukup jauh ke depan.

"Kenapa Tuan ?"

Namun Bagaga Alam alias Pendekar Suling Perak tidak menjawab. Pendekar sakti itu melesat sangat cepat, melayang kearah depan melewati Danang Wesi begitu saja.

Bllaaaaaaaamm....!!!!

Ledakan yang sangat keras telah mengguncang udara. Kuda Danang Wesi, Ni Kirana dan kuda Bagaga Alam juga juga ikut bersuara keras dan gelisah.

Ni Kirana segera menenangkan kuda kuda mereka dan membawa kuda kuda itu menjauh. Danang Wesi juga melakukan tindakan yang sama sambil menarik kuda Bagaga.

Setelah kuda mereka menjadi lebih tenang, Danang Wesi dan Ni Kirana menatap kearah Bagaga dengan wajah ngeri.

Bagaga berdiri dengan tenang. Dihadapan nya seekor ular hitam yang sangat besar berdiam dijalan dengan kepala terangkat tinggi.

Zzzsssssssshhh... zzzsssssssshhh..

Ular hitam besar itu mendesis tajam. Kabut hitam keluar mengawang ketika ular hitam itu mendesis.

Bhssszzzzttt... bhssszzzzttt...

Tiba-tiba ular hitam besar itu menembakkan cairan hitam kepada Bagaga. Aroma busuk dan amis merebak diudara.

Cairan hitam itu menderu dengan cepat. Bagaga Alam menghindar dari semua serangan cairan hitam itu.

Zzssssssstttt...  Blaaaaarrr... Sssssttt...

Terdengar suara desissan seperti air mendidih ketika cairan hitam itu jatuh di rawa. Air rawa ditempat yang terkena cairan hitam langsung mendidih. Uap hitam dan putih naik ke udara.

Sedangkan cairan hitam yang jatuh di tanah menimbulkan ledakan keras. Pecahan tanah memencar kemana mana. Sebuah lobang besar dengan pinggiran hitam muncul dibekas jatuhnya cairan hitam.

Sungguh racun yang sangat ganas.   Bagaga Alam bergumam dalam hati. Pusaka Pedang Langitan tiba-tiba muncul dalam genggaman tangannya.

"Ular iblis. Kau matilah..."

Bagaga Alam menghilang. Dia muncul di samping ular hitam raksasa itu. Pusaka Pedang Langitan berkelebat.

Taaaaaaaaannggg....!!

Dentangan keras memenuhi udara. Ular hitam itu terlempar. Namun tidak ada darah merembes. Hanya ada baret merah dan beberapa sisik ular hitam raksasa itu pecah.

Ular hitam itu marah. Dia segera menyerang balik. Mulutnya terbuka lebar menuju Bagaga Alam. Rongga mulut ular hitam itu bewarna merah hati. Lidahnya hitam kebiruan. Taring yang tajam berkilau bagaikan pedang, menuju kearah Bagaga Alam.

Bagaga Alam melenting kesamping. Dia berhasil lolos dari terkaman ular hitam raksasa. Tapi terasa deru angin yang kuat datang membawa maut dari samping.

Bagaga Alam mendengus kecil. Dia melihat ekor ular hitam raksasa menyambar dengan kuat dan cepat.

Whuuuuzzt...  Bllaaaaaaaamm...!!

Ekor yang besar bagai pohon pinang itu menghantam bekas tempat Bagaga Alam berdiri. Tanah langsung melesak membentuk cekungan yang dalam.

Bagaga Alam kembali muncul di samping ular hitam raksasa. Pusaka Pedang Langitan terayun membawa kekuatan besar. Dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Craasssh...!!

Ular hitam raksasa kembali terpelanting dan terhempas. Kali ini ada luka terbentuk di tubuh ular hitam raksasa.

Ular hitam raksasa mendesis ganas. Dia menjadi sangat marah dan menggila. Energi yang sangat kuat memancar dari tubuh ular. Dia segera menyerang Bagaga Alam dengan lebih ganas.

Pertarungan berjalan dengan sangat cepat, intens dan alot. Ular hitam raksasa menyerang dengan cara menanduk dan menerkam Bagaga Alam dengan mulut menganga memperlihatkan taring yang tajam. Sesekali ekor ular hitam raksasa menebas dan menusuk kepada Bagaga Alam.

Bagaga Alam bergeser mundur, lalu berputar melesat ke samping. Ular hitam raksasa masih terus meluncur. Bagaga Alam mengayun pusaka Pedang Langitan.

Whuiiiiiiiiing...  Craaaaaazzzss...!!

Pusaka Pedang Langitan dengan kuat merobek setengah tubuh ular hitam raksasa. Binatang mistik yang panjang nya lebih dari dua puluh Depa itu terhempas.

Ular hitam raksasa itu belum mati mesti dua luka mengucurkan darah. Luka terakhir jauh lebih parah dari luka pertama.

Namun hewan mistik itu tidak kenal takut. Hanya ada satu niat yang dibawanya. Membunuh Bagaga Alam sampai mati. Tidak peduli jika dia sendiri akan mati.

Ular hitam raksasa itu menatap tajam dengan niat membunuh yang kuat pada Bagaga Alam. Mata ular hitam itu sepenuhnya merah menyala.

"Baiklah ular sial. Tidak tahu siapa yang menginginkan mu. Tapi aku akan segera membunuhmu untuk makanan kami bertiga."

Seakan mengerti dengan ucapan Bagaga Alam. Ular hitam raksasa itu mendesis keras. Uap hitam beracun mengawang diudara. Namun tidak terpengaruh kepada Bagaga Alam. Tubuh pendekar sakti itu telah terlatih dan kebal terhadap segala racun.

Ular hitam raksasa kembali menerjang. Namun kali ini menjadi lebih lambat. Mungkin karena luka besar di tubuhnya.

Bagaga Alam melenting naik tinggi. Dia berpoksai diatas kepala ular hitam raksasa. Pusaka Pedang Langitan menukik dengan kekuatan yang sangat besar.

Whuuuuzzt...  Creeeeept...!!

Pusaka Pedang Langitan menembus tengkuk ular hitam raksasa. Tidak cukup hanya dengan menembus tengkuk ular hitam raksasa. Bagaga memutar posisi, lalu menarik kearah kepala ular hitam raksasa.

Craaaaaazzzss... Craaakk....!!

Pusaka Pedang Langitan membelah kepala ular hitam raksasa menjadi dua bagian. Ular hitam raksasa itu terhempas dan bergerak liar beberapa saat. Setelah itu, ular itu diam tak bergerak lagi. Mati.

Bagaga Alam segera menyimpan bangkai ular hitam raksasa dalam kantong penyimpanan khusus. Dia langsung memasukkan kantong penyimpanan kedalam cincin semesta miliknya.

"Kang mas Bagaga, engkau tidak apa-apa ?" Ni Kirana langsung mendekati Bagaga Alam dan bertanya dengan wajah panik.

"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Kita memiliki persediaan daging ular mistik yang banyak. Mungkin bisa membantumu untuk naik tingkat yang lebih tinggi.

"Benarkah ?" Mata Ni Kirana membesar menatap Bagaga Alam.

"Tentu saja. Daging ular hitam raksasa itu bisa mendorong mu untuk naik ke tingkat pendekar langit awal." Ucap Bagaga Alam dan tersenyum kecil.

Danang Wesi datang dengan menuntun kuda mereka. "Anda baik baik saja Tuan ?"

"Tentu Danang. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."

Bagaga Alam segera melenting naik ke punggung kudanya.

"Ayo Danang, seperti biasa. Kau yang memimpin jalan kita."

Ni Kirana menghela nafas berat. Gadis cantik itu segera mencelat ke punggung kudanya. Dia segera menjejeri kuda Bagaga Alam dan memacu kudanya.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!