Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 #Detik Detik Kebenaran

​Kalimantan, pukul tiga pagi.

​Di tengah keheningan malam yang gulita dan rintik hujan, sebuah rumah sederhana di pinggiran kota mendadak dihantam gedoran keras. Pintu depan bergetar hebat di bawah ketukan kasar tiga pria bertubuh kekar berjaket hitam, orang-orang pilihan yang dikirim oleh Bambang atas perintah Wira Aditama.

​Brak! Brak! Brak!

​"Buka pintunya! Heru! Keluar kamu!" teriak salah satu pria berbadan tegap itu dengan suara berat yang menakutkan.

​Pintu kayu itu akhirnya terdorong pelan dari dalam. Namun, bukannya sosok Heru yang muncul, melainkan seorang wanita muda berpakaian daster longgar dengan perut yang membuncit besar, pertanda sedang hamil tua. Wanita itu gemetar hebat, wajahnya pucat pasi ditetasi air mata yang terus mengalir deras.

​Melihat tiga pria bertubuh menyeramkan di ambang pintunya, wanita itu menangis histeris seraya merapatkan kedua tangannya di dada.

​"Mau apa lagi kalian?!" jerit istri Heru dengan suara gemetar penuh ketakutan. "Kalian... kalian pasti komplotan orang-orang yang membawa pergi suamiku tadi malam, kan?!"

​Para pria suruhan Bambang itu tertegun sejenak. Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap wanita hamil itu dengan pandangan menuntut. "Jadi... suamimu sudah dibawa pergi orang lain?"

​"Iya! Pergilah kalian! Suamiku sudah pasrah dan menyerahkan diri atas kesalahan masa lalunya!" jerit wanita itu dalam keputusasaan yang brutal. Ia mengira orang-orang di depannya ini adalah bagian dari kelompok bertubuh tegap yang membawa suaminya secara paksa tepat di tengah malam tadi.

​Tanpa memedulikan rasa malu, wanita hamil tua itu berlutut di atas lantai yang dingin, bersujud memohon rasa kasihan.

​"Tapi saya mohon... tolong jangan bunuh suami saya..." bisiknya terisak-isak, memegangi perutnya yang membesar. "Anak dalam kandungan saya ini masih sangat butuh ayahnya... Tolong kasihanilah kami..."

​Kepolosan wanita yang tak mengerti peta persaingan orang-orang kelas atas ini justru menjadi konfirmasi nyata bagi para eksekutor tersebut. Orang suruhan Bambang sadar... mereka telah kalah langkah. Orang-orang kiriman Toni, atas perintah langsung dari Gibran Aditama telah bergerak jauh lebih cepat dan sigap memicu evakuasi Heru menuju bandara.

​Tanpa membuang waktu untuk meladeni wanita hamil yang menangis tersedu-sedu itu, ketiga pria berbadan tegap itu memutar tubuh dan bergegas pergi meninggalkan halaman rumah.

​Salah satu dari mereka buru-buru merogoh ponsel di saku jaketnya, mendial nomor sang atasan.

​"Halo, Pak Bambang..." ujar pria itu dengan nada panik begitu panggilan tersambung. "Kami terlambat, Pak. Sepertinya Heru sudah lebih dulu diamankan dan dibawa oleh anak buah Pak Gibran."

​Di kediaman besar Aditama di Jakarta, Bambang yang menerima laporan itu seketika mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Sialan! Kenapa kalian bisa kalah cepat?!" serunya menahan amarah lewat sambungan telepon sebelum mematikannya kasar.

​Wira Aditama yang semalaman tidak bisa tidur tenang melangkah keluar dari kamar pribadinya. Pria tua berkuasa itu melihat Bambang sedang berdiri kaku di lorong dengan raut wajah pucat seraya memegang ponsel. Wira melangkah mendekat, aura ketidaksukaannya memancar pekat.

​"Apa yang terjadi?" tembak Wira dingin, matanya menyipit tajam. "Kamu gagal?"

​Bambang menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa kering. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan Besar... Orang suruhan Pak Gibran bergerak jauh lebih cepat. Mereka sudah lebih dulu membawa Heru dari rumahnya."

​"SIALAN!"

​Wira mengerang frustrasi, memukul pegangan tangga di sampingnya hingga bergema nyaring. Wajah tua itu memerah padam ditahan amarah yang meledak-ledak. Rencana rapi yang disusunnya tujuh tahun lalu kini berada di ambang kehancuran total di tangan putra kandungnya sendiri.

​Wira mencengkeram kerah kemeja Bambang, menatap asistennya itu dengan pendar mata kejam yang sangat mengerikan.

​"Cari tahu ke mana Heru dibawa sekarang!" perintah Wira dengan suara rendah yang menekan. "Gunakan seluruh jaringan kita! Pastikan pria itu tidak akan pernah berani menyebut namaku saat diinterogasi oleh Gibran! Paham?!"

​Bambang gemetar hebat melihat amarah tuannya yang begitu mengerikan. "Baik, Pak... Baik! Saya akan mencaritahu dan mengurusnya sendiri sekarang juga!"

***

​Suara merdu adzan Subuh perlahan berkumandang dari masjid terdekat, menembus kaca jendela kamar rawat inap tempat Bening dirawat.

​Cahaya temaram lampu tidur menyinari ruangan bernuansa putih itu. Bening perlahan membuka matanya. Setelah beristirahat cukup dan mendapatkan asupan infus serta vitamin, kondisinya terasa jauh lebih segar dibanding kemarin. Pusing hebat di kepalanya sudah banyak berkurang.

​Bening perlahan menggeser selimutnya, berniat bangkit untuk pergi ke kamar mandi demi membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Tangan kirinya yang masih terpasang jarum infus bergerak penuh kehati-hatian.

​Namun, sekecil apa pun pergerakan Bening rupanya tak luput dari perhatian pria yang duduk di sofa. Gibran yang semalaman sama sekali tidak tertidur lelap, hanya memejamkan mata sesekali seraya menjaga wanita itu, seketika membuka matanya.

​Gibran langsung bangkit dari sofa, melangkah lebar mendekati ranjang Bening.

​"Bening, mau ke mana? Biar aku bantu," ujar Gibran cepat, mengulurkan tangannya hendak memapah pinggang Bening.

​Bening menarik tubuhnya sedikit, menolak bantuan itu secara halus namun menyisakan jarak yang amat tegas. "Tidak perlu, Mas... Aku bisa sendiri. Kepalaku sudah tidak pusing lagi."

​Meskipun tangannya ditolak secara halus, Gibran tetap tidak melangkah menjauh. Pria bertubuh tinggi itu berdiri pasif di samping Bening, berjalan pelan mengiringi setiap langkah kecil mantan istrinya menuju ambang pintu kamar mandi memastikan wanita itu tidak oleng atau terjatuh.

​Tepat di depan pintu kamar mandi, Bening menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya sejenak, menatap wajah kaku Gibran. Sebuah kenangan pahit masa lalu mendadak berputar liar di benaknya, meloloskan sebuah kalimat singkat yang menusuk ulu hati Gibran tanpa ampun.

​"Mas... tidak perlu se-posesif ini," bisik Bening pelan, menatap Gibran dengan sorot mata yang redup. "Dulu... saat setelah melahirkan Kaivandra... aku juga berjalan sendiri tanpa ada kamu di sisiku. Dan aku tetap bisa bertahan."

​Deg.

​Kata-kata Bening bagai sembilu tajam yang menyerang tepat ke jantung Gibran. Pria itu membeku di tempatnya. Bibirnya tertutup rapat, tak mampu membalas satu kata pun karena menyadari bahwa apa yang dikatakan Bening adalah kebenaran yang teramat menyakitkan. Dadanya mendadak terasa panas dan sesak, membayangkan betapa kesepian dan menderitanya Bening kala bertaruh nyawa melahirkan darah daging mereka tanpa pendampingan seorang suami.

​Bening memutar tubuhnya, melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya pelan.

​Di luar kamar mandi, Gibran masih berdiri mematung dalam keheningan yang menyiksa. Tepat saat itu, ponsel pintar di dalam saku celananya bergetar hebat. Nama Toni tertera di layar.

​Gibran menggeser layar ponselnya, menempelkan benda itu di telinganya. "Halo, Toni."

​"Pak Gibran..." suara Toni terdengar mantap dari balik telepon. "Heru sudah sampai di Jakarta. Saat ini tim kami sudah mengamankannya di tempat tersembunyi sesuai perintah Anda."

​Napas Gibran tertahan sejenak. "Bagaimana situasinya?"

​"Pria bernama Heru ini langsung kooperatif, Pak," lanjut Toni menjelaskan. "Dia sendiri secara terbuka mengakui bahwa tujuh tahun lalu dia memang disuruh dan dibayar oleh seseorang untuk berpura-pura berada di kamar hotel bersama Bu Bening. Tapi... dia belum mau menyebutkan nama dalang utamanya. Sepertinya... Anda sendiri yang harus menemuinya secara langsung untuk menekan pria ini."

​Deg.

​Tubuh Gibran menegang kaku. Rahangnya mengerat sangat kuat hingga urat-urat di lehernya menegang. Seluruh persangkaan, kebencian, dan tuduhan pengkhianatan yang ia simpan selama tujuh tahun ini seketika runtuh hancur tak berbekas.

'​Ternyata... selama tujuh tahun ini aku benar-benar dipermainkan oleh skenario keji! Bening tidak pernah mengkhianatiku!'

​Rasa bersalah yang teramat sangat menyengat seluruh kesadaran Gibran. Dadanya bergemuruh hebat, matanya mendadak memerah dan berkaca-kaca menahan air mata penyesalan yang membakar sudut matanya.

​Cklek.

​Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Gibran. Bening melangkah keluar dengan wajah yang masih setengah basah oleh air wudhu.

​Namun, langkah Bening mendadak terhenti saat matanya berbenturan langsung dengan raut wajah Gibran. Pria tegas yang biasanya selalu memasang wajah dingin dan berwibawa itu kini menatapnya dengan pandangan yang teramat rapuh dengan mata yang berkaca-kaca dipenuhi penyesalan luar biasa.

​Bening tertegun, dadanya berdesir cemas melihat perubahan drastis pada mantan suaminya.

​"Mas... kamu..." bisik Bening heran, menatap wajah Gibran lurus-lurus. "...kenapa?"

1
Ariany Sudjana
kan sudah ada kaivandra, berarti bukan malam pertama dong 🤣🤣
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!