Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
Pintu kayu di belakang kedai terbuka, menampakkan tangga batu yang curam dan gelap. Aroma teh melati yang menenangkan di lantai atas dengan cepat digantikan oleh bau amis darah, karat besi, dan dupa penawar yang menyengat hidung.
Dua penjaga bertubuh kekar di pintu tidak berkata sepatah kata pun, namun mata mereka yang dingin menyapu tubuh Lin Tian, seolah menelanjangi penyamarannya. Lin Tian membalas tatapan itu dengan aura pedang ortodoks yang stabil, tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan.
Di dasar tangga, terdapat sebuah ruang bawah tanah yang luas. Dinding-dindingnya dilapisi oleh batu bata merah yang menyerap suara, dan di tengah ruangan terdapat meja batu besar yang di atasnya tergeletak berbagai botol berisi cairan merah dan organ-organ makhluk spiritual yang diawetkan.
Seorang pria tua kurus dengan jubah abu-abu sedang duduk di belakang meja, mengukir sebuah tulang binatang dengan pisau kecil. Ia tidak memiliki telinga kiri, dan bekas luka bakar menutupi separuh wajahnya. Ini adalah Kepala Gudang, pria yang dikenal di dunia bawah tanah Ibu Kota sebagai "Tetua Gui".
"Zhao Yan mengirim bocah ingusan untuk menyerahkan barang?" Tetua Gui tidak mendongak, suaranya serak seperti gesekan amplas. "Barang bawaanmu mana? Dan di mana kepala anjing itu? Dia seharusnya kembali bersama dengan 'kunci' dari Sekte Pedang Perak."
Lin Tian melangkah maju, meletakkan koin tembaga hitam dan Token Besi Hitam di atas meja batu. "Zhao Yan sudah mati. Sekte Pedang Perak hancur dari dalam. Aku dikirim oleh atasan di Istana untuk mengambil alih tugasnya dan mempercepat ritual Tetua Xue Tu."
Pisau ukir di tangan Tetua Gui terhenti. Ia akhirnya mendongak, mata kirinya yang berwarna putih susu menatap tajam ke arah Lin Tian. "Mati? Zhao Yan adalah kultivator puncak Pondasi Awal. Siapa yang membunuhnya? Dan siapa kau? Aura pedangmu... terlalu bersih untuk seorang pembunuh Istana Langit Hitam."
Tetua Gui meletakkan pisaunya. Tiba-tiba, rune-rune merah di dinding ruang bawah tanah menyala. Formasi pengurung dan penindas aktif, memancarkan tekanan spiritual yang berat, dirancang khusus untuk melumpuhkan kultivator di bawah ranah Inti Emas.
"Di Ibu Kota, orang mati setiap hari. Tapi orang yang berbohong di kedai ini, jiwanya akan dijadikan lentera selama seratus tahun," desis Tetua Gui. Dari balik jubahnya, ia menarik keluar dua belati melengkung yang meneteskan racun hijau. "Serahkan cincin spasialmu dan topengmu. Mari kita lihat siapa wajah aslimu."
Lin Tian menghela napas pelan. "Kalian semua selalu memilih cara yang paling merepotkan."
Di bawah tekanan formasi, Lin Tian tidak mencoba melawannya dengan qi. Sebaliknya, ia membiarkan darah jantung naga purba di dalam tubuhnya berdenyut.
Degup.
Suara detak jantung itu terdengar sangat keras di ruang bawah tanah yang kedap suara, seolah-olah ada monster purba yang baru saja terbangun. Tekanan formasi yang menindasnya langsung hancur berantakan oleh aura tirani dari darah naga, membuat rune-rune di dinding retak dan memercikkan bunga api.
Tetua Gui membelalak, naluri bertahan hidupnya berteriak keras. Ia melesat maju, mencoba menusuk mata Lin Tian dengan kedua belatinya. Kecepatannya sangat luar biasa untuk seorang kultivator Pondasi Awal.
Namun, Lin Tian hanya mengangkat dua jari.
Klik.
Ujung belati yang dilapisi racun mematikan itu terhenti tepat satu inci dari pupil mata Lin Tian, dijepit oleh dua jari yang dilapisi sisik hitam tak kasat mata. Tetua Gui mendorong dengan seluruh kekuatannya, namun senjatanya tidak bergerak sedikit pun.
"Kau... monster apa..."
Lin Tian memutar pergelangan tangannya. Belati itu patah menjadi serpihan besi. Sebelum Tetua Gui bisa mundur, tangan kanan Lin Tian sudah mencengkeram wajah tua itu, mengangkatnya dari lantai dan membantingnya ke meja batu hingga retak.
Qi hitam berurat emas langsung merembes ke dalam kepala Tetua Gui, bukan untuk membunuh, melainkan untuk memaksa masuk ke dalam lautan kesadarannya. Teknik pencarian jiwa yang brutal.
Tetua Gui menjerit, matanya yang putih susu kini berdarah. Pikirannya dibedah paksa oleh Lin Tian, mencari setiap informasi yang berkaitan dengan Kuil Leluhur Kekaisaran dan Tetua Xue Tu.
Gambar-gambar samar membanjiri otak Lin Tian. Ia melihat jaringan terowongan bawah tanah yang rumit di bawah Ibu Kota. Ia melihat sebuah altar raksasa yang dibangun di atas urat naga bumi, di mana Tetua Xue Tu—seorang pria berjubah merah darah dengan rambut putih panjang—sedang bermeditasi di dalam kolam berisi darah mendidih.
Dan yang paling penting, Lin Tian melihat sebuah peta. Peta yang menunjukkan bahwa pintu masuk fisik menuju katakomba Kuil Leluhur tidak berada di dalam kuil itu sendiri, melainkan tersembunyi di dasar Danau Cermin Bulan di taman belakang Istana Kekaisaran, dijaga oleh formasi ilusi tingkat tinggi dan patroli Pengawal Bayangan Kekaisaran.
"Kau... kau tidak akan pernah bisa masuk..." Tetua Gui terbatuk darah hitam, kesadarannya sudah hancur lebur akibat pencarian jiwa yang paksa. "Formasi Pencuri Naga... sudah mencapai tahap akhir... Tetua Xue Tu akan menembus Inti Emas malam gerhana... tiga hari lagi..."
Lin Tian melepaskan cengkeramannya. Kepala Tetua Gui jatuh terkulai ke meja batu, napasnya berhenti, matanya menatap kosong ke langit-langit.
Lin Tian menggeledah jubah mayat tersebut dan menemukan sebuah token giok berbentuk sisik naga dan sebuah gulungan peta kulit binatang. Token ini adalah kunci untuk menembus formasi ilusi di Danau Cermin Bulan tanpa memicu alarm.
Ia menyimpan barang-barang itu ke dalam cincin spasialnya, lalu menatap ruangan yang berantakan. Dengan satu kibasan tangan, ia melepaskan api qi hitam yang membakar mayat Tetua Gui, meja batu, dan seluruh catatan serta organ di ruangan itu menjadi abu dalam hitungan detik, tanpa menyebarkan asap ke lantai atas.
Lin Tian memadamkan api, merapikan jubah birunya, dan kembali memasang topeng porselennya dengan sempurna. Ia menaiki tangga batu dengan langkah yang tenang, seolah-olah baru saja selesai meminum secangkir teh hangat, bukan membunuh kepala gudang bawah tanah.
Saat ia kembali ke lantai atas kedai, pelayan yang tadi membawanya ke belakang sedang menyapu lantai. Ia menatap Lin Tian dengan tatapan bertanya.
"Pengurus kalian sedang beristirahat dan tidak ingin diganggu," ucap Lin Tian datar, melemparkan sebuah batu roh tingkat tinggi ke tangan pelayan itu. "Tehnya sangat enak. Aku akan kembali lagi."
Pelayan itu menangkap batu roh, matanya berbinar serakah, dan langsung membungkuk hormat. "Terima kasih, Tuan! Selamat jalan!"
Lin Tian melangkah keluar dari Kedai Teh Naga Bersembunyi, kembali ke jalanan Ibu Kota yang ramai. Matahari sore mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan warna merah darah.
Tiga hari. Ia hanya memiliki waktu tiga hari sebelum Tetua Xue Tu menyelesaikan ritual Pencuri Naga dan menembus ranah Inti Emas. Jika itu terjadi, seluruh Ibu Kota akan menjadi lahan pembantaian, dan utang darah Keluarga Lin akan terkubur selamanya bersama dengan kehancuran urat naga bumi.
Lin Tian menatap ke arah utara, di mana atap-atap emas Istana Kekaisaran dan Kuil Leluhur menjulang tinggi di balik tembok dalam.
"Malam ini," gumam Lin Tian pada dirinya sendiri, "aku akan pergi berenang di Danau Cermin Bulan."