Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Menunda

Ayah terdiam cukup lama. Tatapannya masih tertuju pada Pratama, tetapi kali ini tidak ada lagi bentakan yang keluar dari mulutnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara napasnya masih berat dan berantakan.

Ruangan itu benar-benar sunyi. Mereka semua kompak diam di ruang tamu itu.

Bunda masih terduduk dengan wajah pucat, beruntung masih bisa menguasai diri. Naya tremor sebab serangan paniknya. Sementara Ibra, dia hanya menunduk, sama sekali tidak berusaha membela dirinya sendiri, seolah ia merasa semua yang terjadi malam ini adalah akibat dari kesalahannnya.

Pratama mengetukkan ujung tongkatnya sekali lagi ke lantai, memecah hening.

Tok.

"Apa yang kamu inginkan untuk putrimu?"

Pertanyaan itu membuat Ayah segera mengangkat wajahnya. Suara Pratama sangat tegas, kini berusaha mengesampingkan emosi sebab ia tahu situasi ini harus segera diakhiri sebelum kembali memanas.

Bukankah yang terpenting adalah kehidupan Naya, juga Ibra?

"Saya tidak peduli Anda siapa," jawabnya akhirnya. Suaranya masih bergetar, tetapi kali ini jauh lebih tertahan. "Saya tidak peduli keluarga Anda sebesar apa, se-kaya apa. Saya juga tidak peduli cucu Anda punya jabatan apa atau uang sebanyak apa."

Pratama hanya diam, fokus mendengarkan.

"Saya hanya peduli pada anak saya, setidaknya sekarang."

Tatapan Ayah beralih kepada Naya di sebelahnya. Melihat putrinya dengan mata sembap membuat dadanya kembali terasa sesak.

"Sejak tadi kalian semua bicara soal tanggung jawab, soal masa depan, soal anak yang dikandung Naya." Ayah mengusap wajahnya kasar. "Tapi ada yang lupa ditanya."

Ia menunjuk Naya dengan tatapan yang jauh lebih lembut.

"Naya sendiri maunya apa?"

Semua mata seketika tertuju pada gadis itu.

Naya membeku, jemarinya semakin bertautan di atas lututnya.

Ia bahkan tidak menyangka pertanyaan itu akan datang kepadanya. Sejak Ibra datang, semuanya terasa seperti berjalan terlalu cepat. Pengakuan, kemarahan Ayah, tangisan Bunda, kedatangan keluarga Ibra, sampai perdebatan yang bahkan tidak sanggup ia ikuti.

Dan sekarang semua orang menunggunya bicara.

"Naya..." suara Bunda terdengar lirih.

Naya menelan ludah. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya terbuka. "Naya juga... enggak tahu."

Suaranya kecil sekali.

"Naya enggak tahu harus gimana. Naya tahu semuanya sudah terjadi. Naya tahu ada bayi disini." Naya mengusap perutnya, tetesan air mata jatuh mengenai tangan. "Tapi Naya sendiri masih berusaha ngerti semuanya, Bun, Yah."

Ayah menatap putrinya tanpa menyela.

"Naya takut."

Satu kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.

"N-naya takut semuanya berubah. Naya takut Ayah sama Bunda kecewa. Naya takut nanti orang-orang tahu, takut harus berhenti kerja. Naya takut semuanya..." Naya terisak, kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya. "Naya bahkan enggak tahu besok harus bangun dan menjalani hidup seperti apa."

Ibra yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya. "Naya," panggilnya lirih.

Naya menoleh.

"Saya enggak akan meninggalkan kamu maupun bayinya."

Suara Ibra terdengar serak, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Saya tahu ucapan itu mungkin terdengar klise. Pastinya enggak cukup untuk kamu percayai. Saya juga tahu apa yang terjadi sudah membuat hidup kamu berubah." Ibra menarik napas. "Tapi saya akan bertanggung jawab. Apa pun yang terjadi setelah ini, saya akan tetap di sini."

Ayah kembali menatap Ibra tajam.

"Dengan menikahi Naya?"

Pertanyaan itu membuat Ibra terdiam beberapa detik.

Naya juga langsung menatapnya.

"Om, saya tidak akan menikahi Naya jika dia tidak mau," jawab Ibra akhirnya. "Jika Naya tidak menginginkan itu, saya tidak akan memaksanya."

Pratama melirik cucunya, menunggu kelanjutan apa yang akan diucapkan olehnya. Papa yang sejak tadi diam pun mengusap pundak Ibra, menguatkannya, sadar posisi putranya sangat berat.

"Tapi kalau Naya meminta saya bertanggung jawab, saya akan melakukannya. Saya akan menjaga dia dan anak kami semampu saya."

Ayah mengembuskan napas kasar. "Semampu kamu?"

Ibra mengangguk. Iya, Om."

"Apa kamu pikir ini dalam persoalan uang?"

Pratama menghela napas. Entah kenapa pria yang lebih muda dihadapannya ini masih saja menyebalkan usai semuanya sudah sangat jelas.

"Bukan." Ibra menyahut cepat.

"Karena keluarga kamu kaya, semuanya bisa selesai?" Ayah setengah terkekeh.

Sungguh, Pratama ingin sekali menghantamkan tongkatnya ke lantai untuk menyadarkan pria keras kepala di hadapannya, atau menghantam tongkatnya ke kepalanya sekalian.

"Bukan karena itu juga, Om. Saya tahu uang tidak akan mengembalikan keadaan Naya seperti sebelumnya. Uang bukan segalanya. Saya juga tahu saya tidak bisa menghapus rasa takut yang sekarang dia rasakan." Tatapan Ibra berpindah kepada Naya. "Yang bisa saya lakukan adalah ada disampingnya, menemani dia, memenuhi kebutuhannya."

Ayah terdiam, mencoba mencerna. Entah harus percaya atau justru tertawa karena ucapan itu terdengar begitu mudah keluar dari mulutnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Ayah masih memikirkannya, ini tentang putrinya, tentang kehidupan Naya.

Pratama kemudian berdiri, sontak Ibra dan orang tuanya menoleh. Ia pun maju satu langkah.

"Itulah yang seharusnya kamu dengar sejak awal."

Ayah menoleh kepadanya.

Pratama menatap cucunya dengan tajam. "Ibra sudah mengatakan kesanggupannya. Sekarang keputusan tetap berada pada Naya." Kakek kemudian mengalihkan pandangan kepada Naya. "Dan kamu tidak perlu mengambil keputusan malam ini."

Naya meneguk ludahnya.

Kalimat itu... entah kenapa justru membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Namun Ayah belum sepenuhnya luluh. Ia masih memandang Ibra dengan tatapan penuh luka.

"Saya belum bisa menerima kamu."

Ibra mengangguk. "Saya mengerti."

"Saya juga belum bisa memaafkan kamu."

"Saya juga mengerti."

Ayah mengusap wajahnya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. Ia tahu tak sepatutnya dia berkata begitu, namun egonya masih tinggi lebih dari nuraninya sendiri. Tatapannya kepada Ibra masih menyimpan luka dan kekecewaan yang belum mereda.

"Tapi kalau kamu benar-benar mau bertanggung jawab..." Ia berhenti sebentar. "Jangan hanya datang sekali malam ini, bicara seperti ini, lalu besok semuanya selesai."

Ibra menatapnya lurus.

"Saya tidak akan begitu, Om."

Papa kini bersuara usai membisu lumayan lama. "Pak, saya mengerti Anda masih syok. Tapi kita tidak bisa terus membiarkan Naya berada dalam keadaan seperti ini." Papa melirik Naya yang masih gemetar. “Saya lebih mengkhawatirkan keadaan putri Anda daripada memikirkan putra saya sendiri. Bapak tidak lihat bagaimana keadaan Naya sekarang?"

Ayah menelan ludah. Benar, Naya yang utama. Lalu, dengan susah payah menurunkan egonya. Sejurus kemudian menjatuhkan tangan kirinya pada jemari Naya yang tertaut, seolah menguatkan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Datang lagi besok," pasrah Ayah, suaranya rendah.

Naya mengangkat wajah, menoleh, meremas jemari ayahnya.

Ayah melanjutkan, "Bukan sebagai atasan Naya. Bukan sebagai cucu orang kaya. Datang sebagai laki-laki yang memang ingin dan benar-benar bertanggung jawab."

Ibra mengangguk pelan. "Baik, Om. Saya akan datang."

Pratama memperhatikan percakapan itu tanpa menyela. Kenapa laki-laki itu terus saja menunda. Semua bahkan sudah siap, tapi baiklah dia tidak akan memaksa.

Sementara Naya hanya berdiri diam, memandangi kedua pria yang sejak tadi berbicara tentang dirinya.

Malam itu, dua orang Ayah sedang menguatkan anak-anak mereka. Keadaan tak diinginkan ini tentu saja menyayat mereka.

Malam itu juga, Naya merasa ada sedikit ruang untuk bernapas. Namun hanya sedikit, karena masalahnya belum selesai. Hari esok, Naya masih harus menghadapainya lagi.

1
Agus Tina
Selamat Naya dan Obra, sekarang tinggal bawa Naya ke psikolog kayaknya dia memerlukan hal itu ....
Agus Tina
Sebenarnya bukan hamya salah Ibra, mereka berdua korban dr keadaan, walaupin sebenarnya bisa dicegah
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!