Indonesia
NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

•••

Matahari menyingsing perlahan. Silau dari pantulan cahaya menembus celah-celah gorden apartemen Giselle, membuat gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum menemukan tangan seseorang yang melingkari pinggangnya.

Giselle berbalik menghadap ke arah si pria pemilik tangan tersebut.

Jio, pria itu masih terlelap dalam tidurnya.

'Mulai sekarang aku akan mengizinkanmu masuk dalam hidupku, saat itu terjadi aku tak akan membiarkanmu pergi.'

'Sekali bersamaku, selamanya begitu.'

Seketika ucapan Jio semalam terlintas dibenaknya, membuat pipi itu kembali memanas.

'Ayo lakukan lain kali? Kau butuh istirahat sekarang.'

Giselle menutup wajahnya dengan kedua tangan, jantungnya berdegup kencang seakan habis lari maraton padahal dirinya bahkan belum turun dari ranjang.

Jio menggeliat dan mulai terbangun mendapati sosok gadis yang diciumnya semalam sedang sibuk menghalangi wajahnya dengan jemari tangan, membuat Jio mempererat pelukannya.

"Kenapa menutupi wajah cantik yang kau bangga-banggakan itu?" Tanya Jio, serak.

Sedang Giselle mendongak menatapnya, "Aku malu."

"Rupanya kau juga punya rasa malu." Gurau Jio.

"Kau pikir aku ini apa?"

Jio hanya tersenyum memandang Giselle. Ia baru menyadari jika gadis di hadapannya ini terlihat begitu cantik, kemana saja dirinya selama ini.

"Sepertinya aku harus pulang sekarang."

"Jangan pergi, tidak bisakah kau pulang nanti saja? Aku masih ingin bersamamu."

"Aku tidak bisa bolos hanya karena ingin."

"Baiklah, tapi..." Giselle menarik leher pria itu mendekat. Jio tahu persis apa yang diinginkan Giselle, ia lantas menutup mulut gadis itu dengan tangan.

"Aku pulang sekarang." Ucap Jio lalu bangkit dari ranjang dan bersiap untuk pulang.

Giselle mengumpat dalam hati, kemudian bangkit dan mengikuti langkah Jio.

"Kau tak menjemputku nanti?"

Jio berhenti diambang pintu dan berbalik, "Sepertinya tidak bisa, kau bisa berangkat sendiri?"

Giselle berpikir sejenak lalu mengangguk karenanya Jio ikut mengangguk dan hendak berbalik namun tertahan oleh Giselle yang langsung memeluknya.

Giselle mendekatkan bibirnya dan mencium Jio, "Hati-hati."

Giselle menciumnya lagi, hanya kecupan yang diterima Jio dengan diam. Hingga Giselle berhenti lalu tertawa. 

"Kau bilang mau pulang, kenapa masih di sini?"

Jio menyeringai, mengecup bibir Giselle yang mana membuat gadis itu membeku kemudian berlalu pergi meninggalkannya di depan pintu.

"Jio..." Panggil Giselle, menghentikan langkah pria yang berjalan menuju lift tersebut.

Membuatnya berbalik.

"Apa?"

Giselle tersenyum sumringah, menyenderkan pipinya pada pintu. "Tidak ada, sana pergi."

Jio mengangkat sebelah alisnya, sebelum berbalik.

"Kak Jio..." Teriak Giselle lagi, yang kembali menghentikan langkah Jio.

Pria itu berbalik, menghela nafas. "Apa lagi?"

"Hanya memastikan kau tidak lupa jalan pulang hehe..."

Jio terkekeh seraya memiringkan kepalanya bingung, tak habis pikir dengan tingkah laku Giselle.

Giselle tahu Jio terlampau sabar menghadapinya, ia juga tahu Jio akan selalu begitu untuknya.

"Masuk." Ujar Jio sebelum benar-benar berlalu.

Giselle masih tertawa geli di samping pintu apartemennya, sampai melihat punggung Jio menghilang di belokan lorong menuju lift.

'Ini bukan mimpi kan?'

•••

Sejak malam ia memutuskan menginap di apartemen Giselle, Jio sudah tahu dirinya akan berakhir di sini.

Setelah menghembuskan nafas, Jio mengetuk pintu kokoh di depannya itu hingga ia mendengar seruan dari dalam yang mempersilahkannya masuk.

Aroma pengharum ruangan seketika menyeruak memasuki indera penciumannya.

Jio menutup pintu tanpa suara, berjalan masuk dan berdiri di depan sebuah meja besar di mana terdapat laptop dan buku-buku arsip di bagian tengah. 

Jio menatap sosok yang sedang duduk dibalik meja tersebut.

Ayahnya, sosok itu bahkan tak repot mengalihkan pandangannya barang sedikitpun untuk melihat Jio.

Sunyi masih mengelilingi keduanya. Jio pun merasa tak perlu duduk dan hanya berdiri menunggu, sampai Keenan angkat bicara.

"Ada yang ingin kau sampaikan?"

Keenan sepertinya terlalu mengenal Jio, putranya itu tidak akan bicara sebelum ia memancingnya.

Ketika Jio baru sampai tadi, Yasmeen berlari menghampirinya dengan wajah khawatir sembari mencengkram tangan Jio erat dan membisikkan jika ayahnya ingin bertemu.

Ketika Jio telah berada dihadapan ayahnya kemudian mendapat suguhan pertanyaan seolah dirinya yang ingin bicara, membuat Jio cukup tahu bahwa Keenan Pratama sedang dalam amarahnya.

"Jio menginap di rumah teman, Ayah." Ucap Jio pada akhirnya, ia tahu betul jika hal itu yang ingin diketahui oleh Keenan.

"Teman yang mana? Yoshi?"

Jio mengangguk, "Iya."

Baik Jio maupun Keenan tahu bahwa jawaban itu adalah kebohongan.

Lagipula kebohongan di dalam keluarganya sudah sering mereka lakukan, terlebih seluruh orang di rumahnya terbiasa berbohong pada diri sendiri.

"Setahu Ayah, Yoshi juga tidak pulang ke rumahnya semalam."

Kalimat itu membuat Jio sedikit terkejut namun ia masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya.

"Kau masih bermain boxing?"

Keenan malas berbasa-basi sebab begitu caranya bicara pada anak-anaknya. Setidaknya Jio sedikit lega, ia jadi tak perlu memberi alasan lainnya.

"Ayah pernah menanyakan hal serupa dan Jio sudah pernah menjawabnya."

"Jadi jawabannya masih sama?"

"Iya, masih sama." Jawab Jio tegas.

Keenan kemudian duduk bersandar dengan tangan bersendekap, mengamati Jio yang berdiri gagah di depannya.

Keenan mengakui dalam hati jika Jio adalah cerminan dirinya di masa lalu.

Sosok dengan tubuh tinggi dan otot yang pas. Gagah dan terlihat kuat, tapi yang paling mirip dengannya adalah tatapan tegas tak kenal takut tersebut.

Sebenarnya Keenan selalu membanggakan Jio dihadapan rekan-rekan bisnisnya, meski diam-diam.

"Ayah sudah mempersiapkan semuanya. Yang perlu kau lakukan hanya selesaikan kuliahmu dengan baik.”

“Bukankah Ayah tidak menuntutmu untuk jadi lulusan terbaik?"

Keenan membuka laci di samping bawah kanannya, mengeluarkan batang nikotin dan menyelipkannya di bibir. Ujung yang terbakar itu mengeluarkan asap putih ke udara.

"Oleh karena itu, Ayah hanya memintamu untuk tidak membuat masalah dan lulus tepat waktu.”

“Apa itu hal yang sangat sulit dilakukan?"

Jio tetap diam, menunggu kelanjutan tiap kalimat yang Keenan ucapkan.

"Ini adalah tahun kejayaan perusahaan kita. Ayah yakin saat tiba waktunya kau masuk, perusahaan sudah dalam keadaan stabil sempurna.”

“Kau hanya perlu melanjutkan, itu tidak sulit dibanding dengan Ayah yang membangunnya bersama Kakekmu dulu."

Jio mengerti jika Keenan sedang menyindir kemampuannya. Penolakan yang pernah Jio ucapkan dulu rupanya masih membuat ayahnya resah.

Keenan mematikan rokoknya, "Kau boleh keluar." 

Percakapan itu berakhir dengan Jio yang tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Jio berbalik menuju pintu namun ia merasa ada satu hal yang sangat perlu ia tanyakan.

"Kapan terakhir kali Ayah menghabiskan waktu bersama Ibu?"

Keenan menoleh, menatap Jio di samping pintu yang terbuka.

Jio benar-benar mirip dengannya selain memiliki sebagian penuh sifat keras kepala dalam dirinya, putranya itu juga memiliki sifat penyayang yang tak Keenan sukai karena hal itu hanya akan membuatnya lemah.

Keenan tak ingin Jio menjadi seperti dirinya.

"Itu bukan urusanmu."

Keduanya saling bertatapan tanpa ada yang berkedip bahkan saat hening menulikan telinga.

Saat Jio tahu masih tinggi ego di mata ayahnya, ia terlebih dahulu memutus tatapannya lalu menutup pintu. Dibaliknya ia berusaha keras mengendalikan emosi.

Jio menuju dapur dan melihat Yasmeen yang duduk menunggu di meja makan lantas menghampirinya.

"Kakak... kau dimarahi oleh Ayah tadi, kan? " Tanya Yasmeen.

Jio tersenyum melihat adiknya yang begitu khawatir, "Tak perlu dipikirkan, Ayah tidak marah."

"Semalam Kakak kemana sampai tak pulang ke rumah? Bertemu Kak Giselle?"

"Kak?"

Yasmeen yang sedang minum, sedikit tersedak.

"Ekhm... dia lebih tua, bukankah wajar aku memanggilnya begitu?" Ujarnya sewot.

Jio tersenyum membuat Yasmeen cemberut, "Kakak sungguh berpacaran dengannya?"

"Apa Kakak tidak boleh berpacaran?"

"Tck, bukan begitu? Aku juga ingin Kakak bahagia, tapi aku khawatir. Bagaimana jika Ayah sampai mengetahuinya nanti?"

"Jangan pikirkan apa yang akan terjadi nanti, jika sudah waktunya itu akan terjadi."

"Agh... sudahlah tak ada gunanya bicara denganmu, sana pergi."

"Gaya bicaramu benar-benar mirip Kakak Iparmu."

"Kakak Ipar apanya?!"

Jio tertawa, mengusap kepala Yasmeen lalu meninggalkannya. Menaiki tangga menuju lantai dua rumah itu.

Di dalam kamar, Jio melihat Joanna yang tengah gelisah sedang duduk di atas ranjangnya.

"Ibu..." Panggil Jio, mendekat lalu duduk berjongkok di depannya.

Joanna memegang kedua sisi wajah Jio.

“Kau dari mana saja? Kenapa tidak pulang? Kau membuat Ibu khawatir."

"Ibu, Jio hanya menginap di rumah Yoshi dan lupa mengabari Ibu."

"Bohong."

Jio terkekeh sepertinya alasan itu sudah tak mempan untuk diucapkan pada kedua orang tuanya. Joanna menatap putranya tersebut, dibalik senyum dan tawa itu ia tahu Jio sedang tertekan.

"Ibu, aku baik-baik saja."

"Ibu tahu."

"Oleh sebab itu, Ibu tak perlu memikirkanku terus. Jangan khawatir putramu ini adalah orang yang kuat."

Joanna memukul lengan Jio pelan, namun reaksi Jio berlagak seperti orang yang dipukul habis-habisan. 

"Akh... Ibu sakit."

"Kau hanya dipukul pelan, bukan dihajar. Jangan membodohi Ibu."

Jio tertawa, "Bukan membodohi. Hanya saja rasanya benar-benar sakit jika Ibu yang memukulku."

"Dan tidak sakit jika dipukul di atas ring?"

"Ibu..."

"Kapan kau akan berhenti menyakiti dirimu sendiri? Jika bukan demi dirimu, berhentilah demi Ibu."

"Ibu, boxing itu bukan menyakiti diri sendiri tapi olahraga dan olahraga itu baik untuk kesehatan jadi untuk apa berhenti."

Jio terkekeh karena Joanna kembali memukulnya.

"Ibu..."

"Dengar… jika sampai terjadi sesuatu padamu, Ibu tidak akan memaafkanmu."

"Kalau begitu aku berjanji sesuatu itu tidak akan pernah terjadi."

"Kenapa kau keras kepala sekali?"

Jio tertawa, "Ibu harus sarapan, minum vitamin dan lakukan kegiatan Ibu hari ini..."

"Bilang saja mau mengusir Ibu."

"Jio tak berani melakukan itu, lagipula putramu ini juga harus bersiap ke kampus."

"Baiklah, kalau begitu bersiaplah. Ibu akan keluar." Ucap Joanna yang kemudian berlalu membuat Jio bersiap sebelum berangkat ke kampus.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
lkzxxvy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!