Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kecurigaan yang Membebani
Beberapa hari berlalu tanpa Kirana membalas pesan Fajar, meski notifikasi dari aplikasi pesannya terus menunjukkan beberapa upaya lanjutan dari pria itu untuk menghubunginya. Ia sengaja menahan diri, menunggu hasil penyelidikan Pak Wibowo soal hubungan sebenarnya antara Meridian Capital Partners dan Ratna sebelum mengambil langkah apa pun.
Sementara itu, kehidupan di rumah keluarga Wijaya berjalan dengan ritme yang mulai terasa normal, meski bayang-bayang kekhawatiran baru ini menambah lapisan ketegangan yang tidak terlihat oleh Bapak dan Ibu, yang sengaja tidak diberi tahu detail soal kecurigaan mereka terhadap Fajar untuk menghindari stres tambahan bagi kondisi kesehatan Bapak yang masih dalam pemulihan.
"Ada perkembangan," Pak Wibowo menelepon Sari suatu sore, suaranya terdengar serius. "Aku menghubungi kenalan di dunia investasi untuk menyelidiki lebih jauh soal Meridian Capital Partners. Ternyata, perusahaan itu memang secara aktif mencari peluang akuisisi di industri tekstil, dan PT Wijaya Sejahtera sudah masuk dalam daftar target mereka sejak beberapa bulan lalu—sebelum kondisi kesehatan Bapak Hartono bahkan memburuk."
"Jadi ini bukan cuma soal Ratna memanfaatkan situasi darurat kita," Sari menyimpulkan, mencatat setiap detail dengan seksama. "Mereka sudah merencanakan ini jauh sebelumnya."
"Sepertinya begitu," Pak Wibowo mengonfirmasi. "Dan soal keterlibatan Fajar Nugraha, aku menemukan bahwa dia memang salah satu analis senior yang ditugaskan khusus untuk kasus PT Wijaya Sejahtera. Ini bukan kebetulan, Sari. Dia sengaja mendekati adikmu untuk mendapatkan informasi orang dalam."
Berita itu membuat Sari merasa perlu segera memberi tahu Kirana secara langsung, meski ia tahu ini akan sangat menyakitkan bagi adiknya.
Malam itu, Sari mengajak Kirana bicara empat mata di teras belakang rumah, jauh dari telinga anggota keluarga lainnya.
"Kirana, aku dapat konfirmasi dari Pak Wibowo," Sari memulai dengan hati-hati. "Fajar memang ditugaskan khusus untuk kasus perusahaan kita. Dia bukan kebetulan menghubungimu lagi."
Kirana merasakan dadanya sesak mendengar konfirmasi itu, meski jauh di lubuk hatinya, ia sudah menduga kemungkinan ini sejak awal. "Jadi semua yang dia katakan waktu itu—soal ingin memberi penutupan, soal masih peduli padaku—semuanya cuma taktik?"
"Aku tidak tahu pasti soal perasaannya," Sari menjawab jujur. "Mungkin ada bagian dari dirinya yang tulus. Tapi jelas, tugas profesionalnya memberi motivasi tambahan untuk mendekatimu kembali, entah disadari sepenuhnya olehnya atau tidak."
Kirana menatap kegelapan malam, mencoba memproses pengkhianatan berlapis yang baru saja ia temukan—bukan hanya dari sisi profesional Fajar, tapi juga potensi manipulasi emosional yang mungkin sengaja atau tidak sengaja ia alami.
"Aku merasa bodoh," gumamnya pelan. "Aku pikir aku akhirnya bisa menutup babak itu dengan baik, tapi ternyata aku malah membuka celah baru bagi ancaman terhadap keluarga kita."
"Jangan salahkan dirimu sendiri," Sari menggenggam tangan adiknya. "Kau tidak tahu apa-apa soal rencana ini waktu kau memutuskan bertemu dengannya. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita menghadapinya ke depan."
"Apa yang harus aku lakukan soal ajakan makan malamnya minggu depan?" tanya Kirana, masih belum yakin dengan langkah terbaik.
Sari berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mungkin ini kesempatan kita untuk mengetahui lebih banyak soal rencana mereka, kalau kau merasa cukup kuat untuk menghadapinya. Tapi keputusan itu sepenuhnya ada padamu, Kirana. Tidak ada yang akan memaksamu untuk berinteraksi lebih jauh dengannya kalau kau tidak nyaman."
Kirana merenung dalam diam, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Di satu sisi, bertemu Fajar lagi berarti menghadapi kembali kebingungan emosional yang baru saja mulai mereda. Di sisi lain, informasi yang mungkin bisa ia dapatkan dari pertemuan itu bisa sangat berharga untuk melindungi keluarganya dari ancaman yang lebih besar.
"Aku akan bertemu dengannya," Kirana akhirnya memutuskan, suaranya lebih mantap dari yang ia duga sendiri. "Tapi kali ini, aku akan lebih waspada. Aku ingin tahu apa sebenarnya rencana mereka, dan seberapa jauh keterlibatan Fajar dalam semua ini."
"Kau yakin?" Sari menatapnya khawatir. "Ini bisa jadi sangat menyakitkan, Kirana, terlepas dari hasil apa pun yang kau temukan."
"Aku sudah cukup lama lari dari kebenaran yang menyakitkan," Kirana menjawab tegas, teringat pada perjalanan panjang keluarganya menuju kejujuran selama beberapa bulan terakhir. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama sekarang. Lebih baik aku tahu kebenarannya, sesakit apa pun itu, dibanding terus hidup dalam ketidakpastian."
Sari mengangguk, bangga sekaligus khawatir melihat tekad adiknya. "Baiklah. Tapi kita akan merencanakan ini dengan hati-hati. Mungkin Pak Wibowo bisa membantu menyiapkan strategi agar kau bisa mendapatkan informasi tanpa membocorkan hal-hal sensitif dari pihak kita."
Malam itu, sebelum tidur, Kirana akhirnya membalas pesan Fajar yang sudah tertunda beberapa hari.
*"Maaf baru balas, ada beberapa urusan keluarga. Aku bisa makan malam minggu depan. Di mana kita bertemu?"*
Balasan Fajar datang dengan cepat, penuh antusiasme yang entah kenapa kini terasa berbeda di mata Kirana—tidak lagi sepenuhnya tulus, melainkan bercampur dengan kewaspadaan baru yang akan mewarnai setiap interaksi mereka selanjutnya.
Kirana meletakkan ponselnya di meja, menatap langit-langit kamarnya yang temaram. Ia menyadari bahwa dalam beberapa hari ke depan, ia harus memainkan peran ganda yang tidak mudah—tetap bersikap hangat dan terbuka di hadapan Fajar demi mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, sementara di dalam hatinya, ia harus menjaga jarak emosional agar tidak lagi terjebak dalam permainan yang mungkin sedang dimainkan pihak lain terhadapnya.
Keesokan paginya, ia menghubungi Pak Wibowo lebih awal untuk mendiskusikan pendekatan yang tepat menghadapi pertemuan mendatang. "Aku ingin memastikan aku tidak memberikan informasi yang bisa merugikan keluarga, tapi juga ingin mendapatkan sebanyak mungkin petunjuk soal rencana mereka," Kirana menjelaskan di telepon.
"Pendekatan terbaik adalah bersikap wajar, tidak terlalu menyelidik secara terang-terangan," Pak Wibowo menyarankan. "Biarkan percakapan mengalir alami, dan simpan setiap detail yang ia sampaikan, sekecil apa pun itu. Terkadang informasi paling berharga muncul dari hal-hal yang tampaknya tidak penting."
Kirana mencatat saran itu dengan seksama, mempersiapkan dirinya secara mental untuk pertemuan yang akan datang. Ia juga memutuskan untuk memberi tahu Raka lebih awal soal rencana ini, tidak ingin mengulangi kesalahan menyembunyikan informasi penting dari orang yang ia percaya sepenuhnya, meski ia tahu percakapan itu sendiri tidak akan mudah untuk dilakukan.
Sepanjang hari itu, Kirana beberapa kali mengangkat ponselnya, bermaksud menghubungi Raka, namun selalu ragu di detik-detik terakhir. Ia takut bagaimana reaksi Raka mendengar bahwa ia akan bertemu Fajar lagi, meski kali ini dengan alasan yang jauh lebih mendesak dibanding pertemuan pertama mereka.
Menjelang sore, Denis mendapatinya duduk termenung di teras, ponsel masih tergenggam di tangannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Denis, duduk di sampingnya.
"Aku hanya belum menemukan keberanian untuk menelepon Raka," Kirana mengakui jujur. "Aku takut dia akan salah paham lagi, seperti kesalahpahaman kita beberapa waktu lalu."
"Semakin lama kau menunda, semakin besar kemungkinan itu terjadi," Denis mengingatkan dengan bijak. "Kadang keberanian bukan soal tidak takut, tapi soal melangkah meski rasa takut itu masih ada."
Kata-kata itu memberi Kirana dorongan yang ia butuhkan. Ia memutuskan akan menceritakan semuanya pada Raka secara langsung, tatap muka, bukan lewat telepon—besok, ketika mereka punya waktu lebih tenang untuk bicara. Malam itu ia menyimpan niat itu dalam hati, tidak menyadari bahwa kabar tentang pertemuannya dengan Fajar akan sampai ke telinga Raka lebih cepat dari yang ia rencanakan.
---
*Bersambung ke Bab 30...*