Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melayani suami
Fio terjaga. Kedua matanya terbuka. Namun, pemandangan yang tidak di sangka adalah Gio. Suaminya masih di sini. Bersamanya terlelap dalam dekapan. Nyatanya, semalaman mereka tidur berpelukan.
“Akh!”
Sadar akan posisinya yang tidak benar, Fio langsung menghindar. Napasnya berburu antara degup jantungnya yang dag dig dug.
Fio melihat suaminya masih terlelap. Dia belum terjaga. Mungkin, jika pria itu yang terjaga lebih dulu, dia akan meledek karena ternyata sang istri menyukai pelukannya.
Fio hendak membangunkan sang suami. Dia ingin menggoyangkan tubuh Gio agar segera bangkit dan pindah dari kamar. Akan tetapi, gerakan tangannya meleset. Pikiran dan hatinya tida seimbang, sehingga apa yang diperintahkan dari isi kepala tidak sesuai dengan suara hatinya yang berlawanan.
Tangan Fio malah beralih ke wajah tegas Gio yang masih tertidur pulas. Tanpa sadar, ia mengelus wajah tampan walau kadang menyebalkan.
Kepanikan langsung menjalar. Tangan Fio yang semula mengelus wajah itu dengan hati – hati, kini beralih ke dahi. Lalu, ke leher dan kedua pipi.
“Gio, kamu demam?”
Kedua mata Gio masih tertutup. Bibirnya hangat.
“Sayang, haus.”
Ucapan itu terdengar. Fio juga merasakan hembusan panas saat gio berucap dengan mata yang masih tertutup.
Fio bergegas bangkit dan mengambil air minum. Sebelumnya, ia pun melilitkan jubah satinnya untuk menutupi bahunya yang terbuka.
“Gio, ini minumnya.”
Fio membangunkan dengan pelan. Dan, perlahan kedua mata Gio terbuka.
“Gio, tubuhmu panas sekali.”
Ternyata, seorang mafia bisa sakit juga.
“Tidak. Aku hanya lelah saja. Butuh istirahat sebentar,” jawab Gio dengan membangkitkan tubuhnya dan hendak mengambil gelas dari tangan istrinya.
Fio tidak diam. Dia membantu Gio untuk bangkit dan menyuapkan gelas itu ke bibir. Ada rasa bersalah dihatinya, mengingat sepanjang kesibukan pria ini juga berkenaan dengan semua urusan tentangnya, termasuk membongkar keburukan Gala di depan semua orang.
“Aku panggilkan dokter ya?”
“Tidak usah. Aku pernah seperti ini. Hanya butuh istirahat, demamnya hilang.”
“Mana bisa begitu,” protes Fio. “Kalau demam, minum obat. Baru akan hilang demamnya. Kalau hanya tidur saja, mana mungkin sembuh?”
Gio tersenyum. “Kan ada kamu, untuk apa panggil dokter?”
Benar juga. Fio sampai lupa kalau dia dokter dan bisa memeriksa suaminya. Hanya saja …
Gio langsung membuka piyama yang sudah susah payah Fio pakaikan semalam.
“Ayo periksa!” pintanya.
Fio menarik nafas kasar dan kembali mendekati suaminya. Dia memegang tangan Gio untuk mengecek denyut nadi, lalu menempelkan telinganya tepat di dada Gio. Pemeriksaan ini harus dilakukan manual, karena Fio tidak membawa peralatan medisnya sama sekali.
“Semuanya bagus.” Fio kembali menegakkan tubuhnya. “Kamu kelelahan. Ada obat penurun panas di kotak obat kan?”
Gio mengangguk.
Kemudian, Fiona bangkit dari ranjang dan tangannya ditahan. “Mau ke mana?”
“Membuatkan mu bubur, lalu diminum obatnya.”
“Tidak periksa lagi? sepertinya ada bagian tubuhku yang lain yang sedang sakit.”
Dahi Fio mengernyit. “Benarkah?”
“Benar.”
Wajah panik Fio kembali terlihat membuat Gio tersenyum. Fio duduk lagi di ranjang itu dan hendak memeriksa Gio kembali. Fio mencoba memeriksa bagian pencernaan dengan memegang perut kotak - kotak itu.
“Bukan, bukan di sini sakitnya. Tapi …” Gio memindahkan tangan Fio untuk turun kebawah dan …
“Aaaa …” fio menjerit.
Fio langsung bangkit. Tangannya dapat merasakan sesuatu yang lebih keras dari perut Gio yang berbentuk.
“Mesvm!”
Fio langsung pergi meninggal suaminya yang mengulum senyum.
Sepanjang langkah kaki menuju dapur, Fio menggerutu. Dia merutuki nasib yang harus terjebak bersama pria semacam Gio. Bahkan, statusnya kini istri.
“Oh Tuhan, kenapa aku ada di sini sekarang,” keluhnya dengan bicara pada dirinya sendiri.
Anehnya, meski kesal dengan kelakuan Gio, Fio tetap berdiri di depan kompor elektrik modern ini, kemudian mencari panci dan membuatkan bubur untuk suami.
“Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bibi membuat Fio terkejut.
“Ya ampun, Bibi ngagetin aja. Saya kira, Bibi tidak di sini. Dari tadi, saya cari – cari tidak ada.”
Asisten rumah tangga yang setengah baya itu menunduk patuh. “Maaf, nyonya. Tadi saya sedang di ruang laundry. Kebetulan, Bibi satu lagi sudah pulang dan tidak bekerja di sini.”
“Yang mana?” tanya Fio yang sudah cukup kenal dengan beberapa karyawan Gio, seperti pengawal, asisten di kantor, apalagi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, mengingat dirinya juga sudah beberapa hari terkurung di sini dan tidak keluar sama sekali.
“Bi Ida, Nyonya.”
“Ooo.” Bibir Fio membulat. Fio bertemu dengan nama itu dua kali.
“Kenapa Bi ida berhenti?” tanyanya kemudian.
“Katanya, cucunya tidak ada yang pegang karena anaknya sudah diterima jadi PPPTK.”
“Oh.” Bibir Fio kembali membulat.
“Tapi, tenang saja, Nyonya. Hari ini penggantinya akan datang. Saudara Bi ida yang akan menggantikan. Sekitar jam sepuluh, dia akan dijemput di stasiun.”
“Oke.” Fio melanjutkan aktifitasnya.
Namun, Bibi melarang. “Nyonya, sini biar saya yang melanjutkan.”
“Tidak usah, biar saya saja. Saya ingin melayani suami saya.”
Di atas ranjang dan masih rebahan, Gio tersenyum. Dia mendengar perkataan istrinya tadi melalui cctv yang terhubung dengan ponselnya.
Sedangkan di tempat berbeda, Rara berhasil kabur dari vila terkutuk itu. Ia berhasil membuat Arif meminum minuman yang sudah ia bubuhkan obat tidur. Bukan hanya Arif, tapi semua pengawal. Sebelumnya, Rara selalu tidak berhasil. Tapi, kali ini dia berhasil.
Tepat jam sepuluh pagi, Rara duduk di stasiun.
“Dia menggunakan pakaian apa?”
“Kerudung cokelat. Kulitnya putih bersih.”
“Apa dia sudah tua?”
“Belum terlalu tua. Bi Ida bilangnya begitu.”
Sembari menempelkan ponsel di pipinya, Pria dengan jas safari berwarna hitam itu menoleh ke arah Rara. Matanya seolah memindai penampilannya.
Rara ketakutan. Kemudian, tangannya dicekal.
“Ayo, ikut saya!”
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁