NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 HARUMA BISA PULANG KE RUMAH
Kedua pemuda itu melangkah keluar dari rumah kayu limasan Mbah Kliwon, menembus rintik gerimis malam yang dingin.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil SUV milik Zaki. Mesin mobil meraung pelan, lalu kendaraan itu perlahan bergerak meninggalkan desa terpencil di Klaten tersebut, membelah kegelapan jalan raya menuju kota Yogyakarta.
Di sepanjang perjalanan pulang, tidak banyak kata yang terucap dari mulut Yuda maupun Dion. Masing-masing tenggelam dalam gulungan pikiran dan kecemasan yang luar biasa.
Waktu terus berputar tanpa adanya kompromi, mengikis detik demi detik menuju hari penentuan yang paling mengerikan dalam hidup mereka.
.....
.....
Fajar di atas langit Yogyakarta menyingsing dengan warna merah keemasan yang pucat, terhalang oleh tumpukan awan kelabu yang menggantung menyerupai tirai raksasa.
Cahaya pagi itu berusaha menembus kaca-kaca jendela rumah Zaki, namun alih-alih memberikan kehangatan, pancarannya justru mempertegas bayangan-bayangan dingin yang mendekam di dalam ruang keluarga.
Rumah berpagar tinggi itu terasa begitu lengang, namun di balik keheningannya, ada getaran tak kasatmata yang membuat siapa pun yang melangkah di dalamnya merasa seperti sedang diawasi oleh sepasang mata gaib. Suara detik jam dinding di ruang tengah terdengar bagaikan pukulan penanda bahaya yang pelan tapi pasti.
Di dapur, Nisa berdiri di depan kompor yang menyala, memasak air untuk menyeduh teh hangat. Tangannya yang memegang gagang teko tembaga gemetar pelan. Tatapannya menatap kosong ke arah genangan air yang mulai mendidih. Kantung mata yang menghitam di bawah kelopak matanya memancarkan kelelahan batin yang tak terungkap.
Sudah beberapa malam ia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah Harumi yang berubah menjadi asing dan suara bisikan gending Jawa kuno yang menyayat hati selalu datang meneror alam bawah sadarnya.
Di ruang tamu, Pak Rusdi duduk bersila di atas karpet tebal, memegang tasbih kayu gaharu yang terus ia putar dengan irama konstan.
Sejak Yuda dan Dion berangkat ke Klaten tadi malam, kakek tua itu tidak membiarkan tubuhnya berbaring sama sekali. Ia memilih bertafakur, menjaga stabilitas aura spiritual rumah tersebut dari gempuran energi gelap yang merembes keluar dari dalam kamar Harumi di lantai atas.
Harumi sendiri masih terkunci di dalam kamarnya. Suasana di atas begitu sunyi—sebuah kesunyian yang bukannya menenangkan, melainkan kesunyian yang sarat akan ancaman, seolah-olah ada sesosok predator mengerikan yang sedang meringkuk diam menanti mangsanya lengah.
Zaki melangkah turun dari lantai dua dengan wajah lesu. Pria paruh baya itu baru saja memastikan gembok dan kunci cadangan di pintu kamar Harumi terpasang dengan kokoh. Ia mengusap wajahnya yang kasar oleh tumbuhnya janggut tipis, lalu berjalan mendekati istrinya di dapur.
"Gimana kondisi Harumi di atas, Mas?" tanya Nisa seraya meletakkan cangkir teh poci di atas meja pantry. Suaranya terdengar sangat pelan, seakan takut getaran suaranya akan membangunkan sesuatu yang sedang tertidur di dalam rumah itu.
Zaki menghela napas panjang, mendudukkan dirinya di kursi pantry. "Masih tenang, sayang. Dia tidak berteriak atau mengetuk pintu lagi sejak subuh tadi. Tapi..." Zaki menghentikan ucapannya, menatap istrinya dengan sorot mata penuh kecemasan. "Hawa dingin di depan pintunya terasa makin menusuk. Waktu aku menempelkan telinga di daun pintu, aku nggak mendengar suara napas manusia. Rasanya kayak kamar itu kosong, padahal aku tahu dia ada di dalam."
Nisa menahan napasnya, dadanya sesak oleh ketakutan yang kian menggelembung. "Ya Allah, Mas... Sampai kapan anak kita harus dipenjara seperti ini di kamarnya sendiri?"
"Sampai malam itu datang, sayang," jawab Zaki tegas, menggenggam jemari istrinya yang dingin. "Yuda dan Dion sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kita cuma harus bertahan dan menjaga rumah ini sampai mereka menyelesaikan ritual di Candi Prambanan nanti."
Tiba-tiba, suara dering gawai milik Zaki yang diletakkan di atas meja makan memecah keheningan rumah tersebut.
Kringgg... Kringgg...
Suara nyaring itu seketika membuat Zaki dan Nisa terperanjat. Zaki langsung berdiri, melangkah cepat menuju meja makan, lalu meraih gawainya.
Di layar sentuh yang menyala, tertera nama kontak yang sangat ia kenali: RS Panti Rapih - Dr. Surya.
Zaki menelan ludah, mengeratkan genggamannya pada gawai tersebut sebelum menggeser ikon hijau di layar. Nisa mendekat di belakangnya dengan raut wajah tegang.
"Halo, Assalamu'alaikum, Dokter Surya?" sapa Zaki dengan intonasi yang dijaga agar tetap tenang.
Dari seberang saluran telepon, suara ramah dan terdengar cukup lega dari Dokter Surya menyahut. "Wa’alaikumussalam, Pak Zaki. Maaf mengganggu aktivitas Bapak di pagi hari begini. Saya menelepon dari rumah sakit mengenai kondisi Mbak Haruma."
Jantung Zaki berdegup lebih kencang. Ia mengaktifkan mode speaker-on agar Nisa bisa mendengar percakapan tersebut. "Iya, Dok. Bagaimana perkembangan Haruma pagi ini? Apakah ada komplikasi dari serangan henti napasnya sebelumnya?"
"Justru sebaliknya, Pak Zaki," jawab Dokter Surya dari seberang telepon, suara ketikan keyboard komputer terdengar di latar belakang. "Saya baru saja selesai melakukan visit pagi dan memeriksa rekam medis serta grafik fungsi organ Mbak Haruma. Ini benar-benar sebuah kemajuan yang sangat pesat. Tekanan darahnya sudah stabil di angka 120/80, saturasi oksigennya sempurna di angka 99 persen tanpa bantuan alat, dan bekas luka operasinya mengering dengan sangat baik."
Nisa mengelus dadanya, air mata haru seketika menetes di pipinya. "Alhamdulillah... Ya Allah..." bisik Nisa penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah..." Zaki membuang napas lega yang luar biasa panjang. "Lalu, bagaimana dengan tindakan medis selanjutnya, Dok?"
"Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik menyeluruh pagi ini, kami dari tim dokter menyatakan bahwa Mbak Haruma sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini, Pak Zaki," terang Dokter Surya dengan nada mantap. "Kondisinya sudah sangat memungkinkan untuk menjalani rawat jalan di rumah. Beliau hanya butuh istirahat total, menjaga kebersihan luka jahitan, dan mengonsumsi obat-obatan yang sudah kami resepkan."
Zaki tersenyum lebar, rasa bahagia sebagai seorang ayah langsung menyelimuti hatinya saat itu juga. "Berarti kami sudah bisa mengurus administrasi dan menjemputnya pagi ini, Dok?"
"Bisa, Pak Zaki. Berkas kepulangan sudah saya tandatangani. Bapak bisa langsung menuju bagian administrasi rawat inap begitu tiba di rumah sakit nanti," jawab Dokter Surya. "Baiklah kalau begitu, Pak Zaki. Sampai bertemu di rumah sakit."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak atas bantuan dan penanganannya selama ini. Assalamu'alaikum."
"Wa’alaikumussalam."
Sambungan telepon terputus.
Zaki menurunkan gawainya, menatap Nisa yang sedang menyapu air mata bahagianya.
"Haruma bisa pulang hari ini, sayang," ucap Zaki dengan nada haru, mencoba meresapi kabar baik itu di tengah badai teror yang sedang melanda keluarga mereka. "Dokter bilang kondisinya sudah sangat stabil."
"Alhamdulillah, Mas!" Nisa langsung memeluk suaminya dengan erat, dan Zaki membalas pelukan itu dengan lebih erat. "Anak kita selamat, Mas... Haruma bisa berkumpul lagi sama kita."
Namun, kebahagiaan sepasang suami istri itu tidak berlangsung lama.
Dari arah ruang tamu, langkah kaki yang mantap dan berat terdengar mendekat.
Pak Rusdi berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan dapur. Kakek tua itu tidak memperlihatkan raut wajah gembira sedikit pun.
Sebaliknya, sepasang mata cekungnya menatap Zaki dan Nisa dengan sorot kekhawatiran yang sangat mendalam dan pekat.
"Ada apa, Pak?" tanya Zaki, menyadari perubahan aura pada mertuanya. "Bapak tidak senang mendengar Haruma sudah diperbolehkan pulang oleh dokter?"
Pak Rusdi menghela napas panjang, menyandarkan tubuh tuanya pada kosen pintu dapur. Tangannya yang memegang tasbih mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Pastinya Bapak gembira mendengar kesehatan fisik cucu Bapak sudah pulih, Zaki," suara Pak Rusdi bergema berat dan bergetar oleh kecemasan spiritual. "Tapi Bapak sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwanya jika ia dibawa pulang ke rumah ini pagi ini."
Nisa merenggangkan pelukannya dari Zaki, menatap ayahnya dengan raut bingung dan cemas. "Maksud Bapak apa? Kenapa Haruma tidak boleh pulang ke rumahnya sendiri, Pak?"
Pak Rusdi melangkah mendekati meja makan, menatap Zaki dan Nisa secara bergantian dengan pandangan penuh peringatan yang teramat serius.
"Kalian lupa dengan apa yang sedang bersemayam di lantai atas rumah ini?" desis Pak Rusdi seraya menunjuk ke arah langit-langit dapur. "Di kamar atas itu, ada raga Harumi yang sedang dirasuki secara mutlak oleh Panglima Jin dari Kerajaan Baka! Iblis itu sedang menanti momen yang tepat untuk melengkapi ritual penumbalan darahnya!"
Zaki mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Tapi, Pak... Bukankah Bapak sendiri yang memasang pagar gaib pelindung pada tubuh Haruma waktu di rumah sakit tempo hari?"
"Pagar gaib yang Bapak buat itu hanya bertahan sampai nanti malam, Zaki!" bentak Pak Rusdi dengan suara menaik, mencoba menyadarkan anak dan menantunya dari rasa aman yang semu. "Dan pagar gaib itu berfungsi menutupi 'wangi' energi tulang wangi Haruma dari jarak jauh! Tapi jika Haruma dibawa pulang ke rumah ini... jika sang Perisai (Haruma) dan sang Wadah (Harumi) disatukan di bawah satu atap yang sama..."
Pak Rusdi menghentikan ucapannya sejenak, dadanya naik turun menahan guncangan emosi.
"Dua energi yang saling bertolak belakang itu akan saling memicu bagaikan minyak yang disiramkan ke dalam kobaran api!" lanjut Pak Rusdi dengan raut wajah sangat muram. "Jarak yang begitu dekat akan membuat Panglima Jin di dalam tubuh Harumi bisa merasakan keberadaan Haruma secara langsung, tanpa terhalang oleh pagar gaib yang Bapak buat! Iblis itu akan terangsang untuk menyerang dan menghancurkan Haruma secara brutal sebelum Yuda sempat melakukan ritual di Prambanan!"
Mendengar penjelasan mertuanya, wajah Nisa seketika berubah pucat pasi. Ketakutan yang baru saja mereda kini kembali membakar seluruh persendiannya.
"Ya Tuhan..." rintih Nisa, memegangi dadanya yang ngilu. "Berarti... membawa Haruma pulang sama saja dengan mengantarkan Haruma ke hadapan iblis itu, Pak?"
"Sangat berbahaya, Nisa," tegar Pak Rusdi. "Di rumah sakit, meskipun tempat itu asing, Setidaknya Haruma terpisah belasan kilometer dari raga adiknya. Tapi di rumah ini, mereka hanya terpisah oleh selembar lantai keramik dan semen. Daya tarik gaib antara dua saudara kembar pemilik darah tulang wangi itu terlalu kuat!"
Zaki berdiri tegak. Ia merenungkan setiap kata yang diucapkan oleh mertuanya. Pikirannya berputar keras, menimbang-nimbang antara bahaya medis dan bahaya supranatural yang sedang mengepung kedua putri kembarnya.
Setelah hening beberapa saat, Zaki menggelengkan kepalanya dengan tegas. Matanya memancarkan aura ketetapan hati seorang kepala keluarga yang tidak bisa digoyahkan lagi.
"Tidak, Pak," ucap Zaki dengan suara yang dalam dan mantap. "Haruma tetap harus kita bawa pulang ke rumah ini pagi ini."
Pak Rusdi membelalakkan matanya, terkejut atas bantahan menantunya. "Zaki! Apa kamu tidak mendengar apa yang baru saja Bapak jelaskan?! Kamu mau mempertaruhkan nyawa anakmu?!"
"Justru karena saya ingin menyelamatkan nyawa Haruma, Pak!" balas Zaki dengan nada bersungguh-sungguh. Ia melangkah mendekati Pak Rusdi dan memegang kedua bahu pria tua itu.
"Bapak dengar sendiri cerita Yuda dan Dion tadi malam, kan?" lanjut Zaki. "Nanti malam adalah batas akhir pagar gaib milik Bapak. Tepat jam dua belas malam, pagar pelindung itu akan runtuh total! Jika Haruma tetap kita biarkan sendirian di kamar rumah sakit... siapa yang akan melindunginya di sana saat pagar itu hancur?"
Pak Rusdi tertegun, bibirnya terkatup rapat.
"Di rumah sakit, Haruma hanya dijaga oleh perawat dan dokter yang tidak mengerti apa-apa tentang ilmu gaib, Pak," Zaki menekankan setiap suku katanya dengan penekanan yang kuat. "Kalau iblis itu mengutus jin-jin pengikutnya untuk menyerang rumah sakit seperti kejadian siang tempo hari, Haruma akan mati konyol di sana tanpa ada kita di sisinya! Dokter Surya tidak akan bisa melawan cengkeraman jin!"
Nisa melangkah maju, berdiri di samping suaminya seraya memegang tangan Pak Rusdi dengan tatapan memelas namun penuh keteguhan.
"Mas Zaki benar, Pak..." bisik Nisa dengan suara bergetar. "Di rumah sakit, Haruma sendirian. Tapi kalau Haruma di rumah... ada kita semua di sini, Pak. Ada Bapak yang punya ilmu gaib, ada Mas Zaki, dan ada Nisa. Kita bisa mengawasi mereka berdua selama dua puluh empat jam penuh setiap hari,"
Zaki menatap mertuanya lurus-lurus, matanya berkaca-kaca oleh emosi dan cinta yang luar biasa besar untuk anak-anaknya.
"Bapak..." kata Zaki dengan nada suara melunak namun memancarkan janji yang sakral. "Saya tahu bahayanya sangat besar. Saya tahu kita sedang duduk di atas bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tapi sebagai seorang ayah... saya tidak akan pernah membiarkan anak-anak saya menghadapi maut sendirian di tempat asing."
Zaki mengepalkan tangannya di depan dada.
"Saya dan Nisa berjanji pada Bapak... Kami akan mengawasi Haruma dan Harumi setiap waktu," tegas Zaki tanpa ragu sedikit pun. "Kami tidak akan membiarkan Harumi keluar dari kamarnya sebelum Yuda memberikan kabar dari Prambanan. Dan kalaupun iblis di dalam tubuh Harumi berontak dan mencoba melukai Haruma di rumah ini..."
Zaki menelan ludah, memancarkan sorot mata predator yang siap melindungi keturunannya.
"...Iblis itu harus melangkahi mayat saya dan Nisa terlebih dahulu sebelum dia bisa menyentuh sehelai rambut Haruma!"
Kalimat pernyataan yang keluar dari mulut Zaki bergema di dalam dapur rumah tersebut, sarat akan tekad mutlak seorang ayah yang siap mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan buah hatinya.
Nisa mengangguk mantap, menyetujui setiap kata yang diucapkan suaminya. "Nisa juga berjanji, Pak. Nisa akan jaga Haruma di kamar bawah, dan Mas Zaki akan bersiaga di depan kamar Harumi di lantai atas. Kami tidak akan tidur. Kami akan jaga mereka dengan nyawa kami berdua."
Pak Rusdi menatap menantu dan putri kandungnya itu lama. Keraguan dan ketakutan yang tadinya menguasai batin sang kakek tua perlahan-lahan luntur, tergilas oleh keagungan cinta orang tua yang tak terbatas.
Pak Rusdi memejamkan matanya, menghembuskan napas panjang, lalu perlahan-lahan menganggukkan kepalanya seraya mengusap dadanya.
"Baiklah..." gumam Pak Rusdi dengan suara serak. "Jika itu sudah menjadi ikrar kalian sebagai orang tua... Bapak tidak akan melarang lagi."
Pak Rusdi membuka matanya, menatap Zaki dengan sorot mata yang penuh kebanggaan sekaligus peringatan terakhir.
"Pergilah ke rumah sakit sekarang, Zaki. Jemput cucuku, dan bawa dia pulang," titah Pak Rusdi. "Bapak akan mempersiapkan air doa penolak bala dan memagari pintu kamar Haruma di lantai bawah dengan rajah keselamatan. Kita akan jadikan rumah ini sebagai benteng terakhir sebelum Yuda bertaruh nyawa di pelataran Candi Prambanan."
"Terima kasih, Pak!" ucap Zaki penuh rasa syukur.
Zaki segera menyambar kunci mobil SUV-nya di atas meja pantry, lalu menatap istrinya. "Nisa, kamu ikut Mas ke rumah sakit buat bantu memapah Haruma. Biar Bapak yang bersiaga menjaga rumah dan Harumi di sini."
"Iya, Mas! Aku siap-siap sebentar!" jawab Nisa cepat seraya bergegas mengambil tas dan jaketnya.
.....
.....
Beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil SUV milik Zaki meraung di halaman depan, lalu kendaraan itu bergerak melesat meninggalkan rumah, membelah jalanan pagi kota Yogyakarta menuju ke Rumah Sakit Panti Rapih untuk menjemput Haruma.
Di dalam rumah yang kini hanya dihuni oleh Pak Rusdi dan Harumi yang terkunci di lantai atas, suasana mendadak berubah menjadi semakin dingin dan pekat.
Pak Rusdi melangkah kembali ke ruang tamu, mengambil wadah air doa dan tasbihnya.
Namun, saat langkah kaki sang kakek melintas di bawah tangga menuju lantai dua, telinganya yang tajam menangkap sebuah suara dari arah kamar Harumi.
Sreeek... Sreeek... Sreeek...
Suara gesekan halus seperti ujung kuku yang tajam sengaja digoreskan di bagian dalam daun pintu kayu kamar Harumi.
Pak Rusdi menghentikan langkahnya, menengadah menatap ke arah pintu kamar di lantai atas.
Batin spiritualnya menangkap gelombang energi kegelapan yang mendidih di balik pintu tersebut.
Sang Panglima Jin di dalam tubuh Harumi telah menyadari bahwa target utamanya—sang Perisai, Haruma,—sedang dalam perjalanan menuju ke sarangnya.
Pak Rusdi mengepalkan tangannya, memutar tasbihnya lebih cepat, seraya merapalkan ayat-ayat suci perlindungan.
Waktu terus berputar tanpa ampun, dan di rumah berpagar tinggi ini, garis pertempuran terakhir antara kasih sayang keluarga dan dendam kutukan masa lalu telah resmi ditarik.
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai