Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gone
Day 14
Hari ini adalah hari terakhir Ara. Sebelum pagi kembali menyambut dunia, ia harus kembali ke masa depan. Waktu yang tersisa untuknya bersama Bara benar-benar tinggal hitungan jam.
Pagi itu, Ara masih berada di kamar rawat Bara. Ia sedang membasuh tubuh suaminya dengan air hangat sebelum membantu Bara berganti pakaian. Sebagai seorang istri, Ara ingin merawat Bara sebaik mungkin selama ia masih memiliki kesempatan.
"Ara, istriku?"
"Ada apa, Bara, suamiku?"
"Aku sayang kamu."
Ara terkekeh kecil, lalu mencubit pipi Bara yang sejak tadi bertingkah manja di hadapannya.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Bara."
"Terima kasih, ya, sayang. Kamu udah mau nerima aku apa adanya dan mau ngerawat aku juga."
"Kenapa kamu jadi mellow gini?"
Bara hanya tersenyum.
Karena kamu udah ngerawat aku dengan tulus. Aku janji bakal ngebahagiain kamu nantinya.
"Ara?"
"Kenapa, sayang?"
"Aku mau nyebutin permintaanku yang terakhir."
Senyum Ara perlahan memudar. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang tiba-tiba memenuhi dadanya, lalu menatap Bara dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa permintaanmu, hmm?"
"Aku pengin kamu selalu senyum kayak gini."
Bara mengusap pipi Ara dengan lembut.
"Tetap berikan senyuman indahmu, meskipun nantinya aku harus pergi. Aku mohon... aku pengin kamu selalu tersenyum buat aku."
Ara hanya mampu mengangguk. Air matanya mengalir begitu saja. Ia buru-buru mengusapnya, berusaha untuk tidak menangis di hadapan Bara. Namun, rasa sesak yang memenuhi dadanya membuatnya tidak mampu bertahan lebih lama.
Bara menghela napas pelan, lalu menarik Ara ke dalam pelukannya. Ara membalas pelukan tersebut sambil terisak di dada Bara.
"Aku tahu istriku ini kuat."
Pelukan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya terdengar ketukan dari luar kamar.
Tok! Tok!
Seorang suster muncul di ambang pintu.
"Permisi. Pak Bara harus menjalani pemeriksaan lagi pagi ini."
Ara perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap bekas air mata di pipinya sebelum membantu Bara duduk di kursi roda.
"Aku pemeriksaan dulu, ya, sayang. Aku bakal balik secepatnya."
"Gak perlu aku temenin, hmm?"
"Gak perlu. Aku bisa sendiri."
"Kalau gitu aku boleh pulang sebentar, gak? Ada sesuatu yang mau aku ambil."
"Boleh. Jangan lama-lama, ya? Aku tunggu."
Ara mengangguk. Ia langsung memeluk Bara dengan erat. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di dalam dirinya. Perasaan yang sulit dijelaskan, tetapi membuat hatinya terasa tidak tenang.
Bara mengecup pipi Ara sebelum meminta suster membawanya menuju ruang pemeriksaan.
"Sampai nanti, istriku."
Bara tersenyum manis. Kursi rodanya perlahan menjauh, didorong oleh suster menuju ruang pemeriksaan.
Ara masih berdiri mematung di tempatnya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap punggung Bara yang semakin jauh.
Perasaannya benar-benar tidak enak. Namun, Ara berusaha menepis semua pikiran buruk yang muncul di kepalanya.
Tanpa membuang waktu, ia segera memesan ojek online dan pulang ke rumah untuk mengambil ramuan ajaib yang akan membawanya kembali ke masa depan.
...---...
Ara baru saja hendak kembali ke rumah sakit setelah memasukkan botol ramuan ajaib ke dalam tasnya ketika langkahnya terhenti.
Ponselnya berdering. Marissa melakukan panggilan video.
"Video call?"
Entah kenapa, jantung Ara langsung berdegup tidak karuan.
"Perasaanku kenapa jadi nggak enak banget kayak gini?"
Ara segera menerima panggilan tersebut. Wajah Marissa muncul di layar. Raut wajahnya terlihat sangat panik.
"Ara!"
"Kak Icha? Ada apa?"
"Kondisi Bara memburuk. Kamu kapan ke sini, sayang? Bara butuh kamu."
Wajah Ara langsung memucat.
"Iya, Kak. Ini aku mau ke sana sekarang. Tolong jangan ditutup teleponnya. Aku mau lihat Bara."
Marissa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, lalu mengarahkan kamera ponselnya kepada Bara.
Ara membeku. Bara terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya, sementara selang oksigen menutupi sebagian wajahnya.
"Bara?"
Air mata Ara langsung jatuh.
"Bara!"
Ia mulai berlari.
Ara bahkan tidak sempat memesan ojek online ataupun mencari taksi. Pikirannya sudah kosong. Satu-satunya hal yang ada di dalam kepalanya hanyalah Bara.
Ia harus sampai ke rumah sakit. Sekarang.
"Bara? Bara? Bangun, dong, sayang."
Ara menangis sambil terus berlari.
"Aku tahu kamu kuat. Kamu adalah orang paling kuat yang pernah aku kenal. Kamu pasti bisa bertahan! Bertahanlah sebentar lagi, Bara!"
Di layar ponsel, Bara perlahan membuka matanya. Pandangan matanya tampak lemah. Namun, ketika melihat wajah Ara, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Bara?"
Ara terisak lega.
"Kamu sadar?"
Ia terus berlari.
"Tunggu aku sebentar, ya, sayang? Aku lagi menuju rumah sakit. Tunggu aku!"
Bara hanya menatap layar ponsel.
"Sayang..."
Suaranya terdengar sangat lemah.
"Senyum."
Ara mengernyit. Ia berusaha membaca gerakan bibir Bara meskipun wajahnya sebagian tertutup oleh selang oksigen.
Lalu Ara teringat sesuatu. Permintaan terakhir Bara.
Aku pengin kamu selalu senyum kayak gini.
Ara menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. Kemudian, ia memberikan senyum terbaiknya. Senyum yang begitu dipaksakan di tengah air mata yang terus mengalir deras.
Ia ingin memenuhi permintaan terakhir Bara. Meskipun hatinya terasa tercabik-cabik. Meskipun ia sendiri sudah hampir tidak sanggup berdiri. Ia tetap berlari.
"Bara, tunggu aku..."
Bara menatapnya dari layar. Kemudian bibirnya kembali bergerak.
"Tunggu aku di masa depan, Ara."
Ara tidak mendengar kalimat itu dengan jelas. Suara kendaraan dan hiruk-pikuk jalanan membuat pendengarannya terganggu. Ia bahkan kesulitan membaca gerakan bibir Bara karena selang oksigen yang terpasang di wajahnya.
Kamu bicara apa sih, Bara? Please, bertahan sebentar lagi. Aku harus ada di sisimu. Aku pengin meluk kamu sekarang. Hatiku rasanya sakit banget lihat kamu kayak gini.
"Tunggu aku, ya, sayang?"
Ara terisak.
"Kumohon... tunggu aku sebentar lagi."
Bara hanya mengangguk pelan. Tatapannya masih tertuju kepada Ara yang terus berlari.
Ia ingin sekali menunggu Ara datang. Ia ingin menyentuh istrinya untuk terakhir kalinya. Namun, tubuhnya sudah tidak mampu lagi bertahan.
Perlahan, kelopak matanya mulai tertutup. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
"Bara!"
Monitor di samping ranjang mulai berbunyi nyaring. Dokter segera mengambil defibrilator dan berusaha mengembalikan detak jantung Bara.
Satu kali. Tidak berhasil.
Dua kali. Masih tidak ada perubahan.
Tiga kali. Layar monitor tetap menunjukkan satu garis lurus.
Dokter akhirnya menghentikan usaha tersebut.
"Maaf..."
Marissa yang masih memegang ponsel langsung membeku. Tangannya bergetar hebat. Air mata mengalir deras di pipinya.
Ara melihat semuanya melalui layar. Ia melihat Bara sudah tidak bergerak. Ia melihat mata Bara telah tertutup. Ia melihat Marissa menangis. Dan dunia Ara seolah runtuh dalam satu detik.
"Bara!!!"
Ara berteriak histeris. Ia tidak lagi peduli dengan orang-orang yang menatapnya di sepanjang jalan. Ia tidak peduli jika mereka menganggapnya gila.
Yang ia tahu, Bara telah pergi. Kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh terduduk di pinggir trotoar. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya terlepas begitu saja.
"Bara..."
Ara memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia menangis sejadi-jadinya, bahkan sampai beberapa kali memukul dadanya sendiri sambil menggelengkan kepala.
"Nggak..."
Air matanya semakin deras.
"Nggak mungkin..."
Ia menatap layar ponselnya yang tergeletak di samping tubuhnya.
"Bara..."
Ara mendongakkan wajah ke langit yang mulai dipenuhi awan gelap.
"Bara, apa kamu beneran udah pergi ke atas sana?"
Suaranya bergetar.
"Atau kamu lagi nunggu aku di masa depan?"
Ia menarik napas yang terasa begitu berat.
"Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Ara kembali menangis.
"Aku mohon... datanglah di masa depan dan temui aku lagi."
Tangannya mengepal di atas dada.
"Aku rela memulainya dari awal, asal aku masih bisa melihat kamu dan menyentuh kamu."
Kemudian Ara teringat sesuatu. Ramuan. Botol ramuan ajaib yang sudah dibawanya sejak pagi.
Hari ini memang waktunya ia kembali ke masa depan. Namun, ia sempat teringat pada buku hariannya yang masih disimpan oleh Bara.
Ia ingin mengambilnya. Ia ingin membawa buku itu bersamanya.
Namun, tekadnya sudah bulat. Ia tidak peduli lagi dengan buku hariannya. Ia hanya ingin kembali ke masa depan.
Ia ingin bertemu Bara. Ia ingin menemukan Bara.
Tanpa basa-basi lagi, Ara merogoh tasnya dan mengeluarkan botol ramuan tersebut. Tangannya gemetar saat membuka tutup botol.
"Tolong..."
Air mata kembali membasahi wajahnya.
"Jangan ambil Bara."
Ara menatap kosong ke depan.
"Kembalikan dia kepadaku."
Ia menggenggam botol itu erat-erat.
"Bara, tolong temui aku di masa depan."
Kemudian ia meneguk ramuan tersebut hingga habis.
"Kumohon... kabulkan permintaanku."
Ara menutup matanya.
"Kumohon, kabulkanlah doaku."
Rasa kantuk perlahan mulai menguasai tubuhnya. Kepalanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Tubuh Ara akhirnya terkulai di pinggir trotoar.
Dalam hitungan detik, kesadarannya menghilang. Dan sekali lagi, perjalanan waktu membawanya kembali ke masa depan.
...---...
"Sayang?"
Suara seorang lelaki terdengar samar.
"Ara?"
Lelaki bertubuh jangkung itu masih menggenggam tangan Ara dengan erat.
"Kamu mimpi buruk?"
Ia mengusap air mata yang terus mengalir dari sudut mata Ara.
"Kenapa kamu nangis sampai kayak gini, hmm?"
Ara masih belum sadarkan diri. Namun, lelaki itu sedikit lega karena Ara mulai menunjukkan reaksi. Sesekali ia mengerang pelan, bahkan air matanya terus mengalir meskipun matanya belum juga terbuka.
Lelaki itu menggenggam tangannya semakin erat. Ia menatap wajah Ara dengan penuh kerinduan.
"Cepet bangun, sayang."
Suaranya bergetar.
"Aku kangen."