Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tusya Ryma

Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.

Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.

Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.

Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.

Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Entahlah!

Di dalam taksi, Karissa duduk sambil melipat kedua tangan di depan depan. Matanya melihat jalan raya yang lumayan padat menuju rumah Tuan Lee. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terasa getaran dari dalam tasnya diiringi suara nada dering.

Karissa segera membuka tas dan melihat ponselnya. Tertera nama "Davi" di sana.

Tanpa membuang waktu lagi, Karissa segera mengangkat telepon.

"Halo!"

"Kariss, bisa kita bertemu sekarang? Ada ahli desain interior yang mau aku kenalkan padamu," ucap Davi dari seberang telepon. Itu membuat Karissa terkejut.

"De-desain interior? Sekarang?"

"Ya, sekarang! Apa bisa? Kau tidak sedang sibuk, kan?" tanya Davi memastikan.

"Tidak ... tidak, aku sama sekali tidak sibuk!"

"Baiklah, temui aku di Kafe Dam, ya! Sekarang!"

"Oh, oke! Aku segera ke sana!"

"Siap, aku tunggu!"

Klik!

Sambungan terputus.

Karissa segera memberitahu Tuan Lee bahwa dirinya akan pulang terlambat karena ingin membicarakan masalah bisnis dengan Davi. Setelah mendapat persetujuan dari Tuan Lee, barulah Karissa meminta sopir taksi untuk memutar arah dan mengantarnya ke Kafe Dam yang ada di ujung kota.

Butuh waktu dua puluh menit baginya untuk sampai di kafe itu. Karissa segera turun dari taksi dan berjalan menuju pintu masuk. Di meja nomor dua puluh tiga, Karissa melihat Davi sedang duduk bersama dua orang pria. Kedua orang itu terlihat serius memperlihatkan sesuatu kepada Davi.

Dengan cepat, Karissa berjalan menghampiri meja mereka.

Ketika melihat Karissa datang, terdengar Davi menyapa, "Hai, kau sudah datang?"

"Oh iya, perkenalkan, ini Fendi, dan ini Syam. Mereka adalah ahli desain interior yang akan mendesain rumahmu untuk dijadikan kafe mini," ucap Davi sambil memperkenalkan kedua pria itu.

"Oh, halo! Saya Karissa!" sapa Karissa sambil mengulurkan tangan.

Mereka pun bersalaman dan membalas sapaan Karissa.

"Ayo, duduk!" Davi meminta Karissa dan kedua pria itu untuk kembali duduk.

"Baiklah! Bisa kalian jelaskan ide kepada Kariss?" tanya Davi kepada kedua pria itu.

Mereka segera mengangguk, lalu mulai menjelaskan desain-desain yang sudah disiapkan sebelumnya. Karissa cukup puas dengan ide dari mereka berdua.

Hingga tidak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Pada sore hari, mereka berempat baru keluar dari kafe setelah berbincang dan menghabiskan beberapa makanan dan minuman.

"Terima kasih untuk hari ini," ucap Karissa sambil membungkukkan badan pada Fendi dan Syam.

"Minggu depan sudah bisa dikerjakan, karena besok atau lusa pemilik rumah akan pindah! Besok saya akan membayar uang mukanya dulu!"

"Siap! Besok kita akan bertemu lagi," ucap Syam.

"Oke!" Davi mengangguk. "Kalau begitu, kami duluan!"

"Ya! Sampai jumpa!"

Lalu Karissa dan Davi pergi terlebih dahulu menggunakan mobil Davi. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan melaju menuju jalan raya yang cukup padat.

"Kariss ... bagaimana menurutmu ide mereka tadi?" tanya Davi yang sedang mengemudikan mobil.

"Apa kau puas? Atau masih ada yang ingin diubah?"

"Bagus! Aku sangat menyukai semua ide yang mereka buat," jawab Karissa dengan lantang.

"Davi memang paling pintar mencari sesuatu yang bagus untukku!" Karissa mengacungkan dua jempolnya kepada Davi, mengapresiasi pekerjaan sahabatnya itu yang selalu berakhir sempurna.

Dirinya memang sangat menyukai ide dari kedua orang tadi. Bukan hanya dekorasinya yang nanti akan dibuat sangat nyaman, tetapi juga membuat ruangan itu terasa lebih luas dan tidak penuh sesak lagi.

Karissa puas dengan hal itu.

Ketika masih berbincang dengan Davi, tiba-tiba terdengar ponselnya berdering. Karissa segera melihat nama kakaknya di layar ponsel.

"Karin!" ucap Karissa dengan pelan. Membuat Davi menoleh ke arahnya karena penasaran.

"Untuk apa dia menghubungimu lagi?" tanya Davi dengan sinis. "Apa dia sudah lupa pernah berniat mencelakaimu di tempat hiburan waktu itu?"

Davi masih ingat kejadian hari itu. Karissa disuruh pergi ke klub malam, dan ternyata ....

Untung saja saat itu dirinya segera menghubungi Louis dan meminta pria itu untuk mencari Karissa di klub. Kalau tidak, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.

"Entahlah!" jawab Karissa.

Lalu, Karissa mengangkat telepon dari kakaknya.

"Kariss ... tolong aku! Cepat ...." lirih seorang wanita dari seberang telepon. Suaranya sangat pelan dan penuh ketakutan.

Itu membuat Karissa khawatir.

Karissa segera bertanya, "Ada apa, Karin? Kau di mana?"

"Aku ... aku diiii ... di belakang Gedung Pertan! Cepatlah kemari, Kariss!" lirih Karina lagi dengan suara yang semakin kecil.

"Apa yang terjadi? Kau kenapa? Jawab aku, Karinal!" Karissa semakin panik mendengar suara lirih kakaknya.

"Kami berkelahi! Sekarang aku terluka, datanglah!"

Klik!

Tiba-tiba suara Karina menghilang, diiringi suara panggilan telepon yang terputus.

"Halo ... halo, Karina! Halo!"

Sudah tidak terdengar apapun lagi dari pengeras suara ponselnya.

"Aisshhhh, sial!" Karissa memaki sambil memegang erat ponselnya.

Tiba-tiba ia menoleh ke samping, menatap Davi dengan tajam.

"Tolong antar aku ke Gedung Pertan, sekarang!" ucap Karissa dengan tidak sabar.

"Tidak mau!" tolak Davi dengan cepat.

"Aku tahu apa yang akan dilakukan kakakmu! Dia pasti berbohong lagi. Dia pasti akan mencelakaimu lagi! Aku tidak akan membiarkan Karinal menjebakmu lagi," tuduh Davi dengan penuh kekhawatiran terhadap Karissa.

"Tidak! Dia tidak mungkin menjebakku!" tepis Karissa dengan penuh keyakinan.

"Kali ini, Karin benar-benar membutuhkan bantuan kita!"

Davi masih melajukan mobilnya. Sama sekali tidak ada niatan untuk mengantar Karissa ke gedung tua yang sudah tidak terpakai itu.

"Davi!" panggil Karissa dengan keras ketika melihat pria itu tidak mendengar dan tidak bersedia mengantarnya.

"Turunkan aku di sini!"

Karissa segera membuka sabuk pengamannya, bersiap untuk turun dari mobil itu.

Ia bisa naik taksi pergi ke sana jika Davi tetap tidak mau mengantarnya.

Melihat tingkah sahabatnya yang keras kepala, Davi tidak tahan.

"Kariss, aku melakukan ini demi keselamatanmu juga! Aku hanya takut kau akan dijebak lagi oleh Karin! Hanya itu!" ucap Davi.

"Jadi sekarang, diamlah! Aku akan mengantarmu pulang," tambah Davi.

Ia masih tidak berniat mengantar Karissa mencari Karina.

"Tapi bagiku, Karin lebih penting!" balas Karissa dengan hati bergetar.

Rasa sayangnya pada sang kakak melebihi apa pun.

"Sekarang, hentikan mobilnya! Aku akan mencari Karina sendiri!"

"Karissa!!!"

"Aku bilang, hentikan mobilnya!"

Melihat Karissa yang keras kepala, Davi tidak punya pilihan lain. Walau enggan, akhirnya ia memutar roda kemudinya, berbalik arah dan membawa mobilnya menuju tempat gedung itu.

"Pakai lagi sabuk pengamanmu! Aku akan mengantarmu ke sana," ucap Davi.

Melihat Davi sudah berbalik arah, akhirnya Karissa kembali memakai sabuk pengamannya. Ia duduk dengan tenang sambil melihat hari yang semakin sore, bahkan matahari sudah mulai tenggelam.

Hari sudah gelap ketika mobil itu sampai di kawasan Gedung Pertan. Davi masuk ke area itu yang tampak kotor dan tidak terawat. Halaman yang sangat luas kini dipenuhi semak belukar yang hampir sulit dilalui mobil.

Davi segera menghentikan mobilnya ketika jalanan semakin sulit dilalui.

"Coba kau hubungi Karin! Di mana dia? Suruh dia datang ke depan pintu masuk!"

Davi sangat enggan mencari jalan lain untuk masuk ke sana. Jika ada bahaya di depan, bagaimana? Davi dan Karissa tidak bisa pergi mencari bantuan.

"Baik!" Karissa segera menghubungi Karina. "Aku akan meminta Karin segera datang kemari!"

Sudah untung Davi mau dan bersedia mengantarnya sampai ke sini. Karissa tidak ingin membuat sahabatnya itu kesal.

'Nanti, kalau sampai Davi pergi, bagaimana?'

1
Bu Kus
lanjut LG thro makasih
Bu Kus
penuh teka teki siapa dalang di balik itu semua jadi penasanaran
Bu Kus
seru banget kayanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!