Derana adalah seorang perempuan yang tidak pernah jatuh cinta pada lelaki pertama, ayahnya. Namun sosok itu digantikan lelaki kedua bernama Restu. Bahu Restu selalu siap menjadi tempat keluh kesahnya, namun ternyata semesta berkata lain, lelaki itu hanya mencintai Dera sementara.
Perceraian ibu dan ayah memaksa Dera pergi menjauh. Hidup dengan suasana baru, tanpa lelaki satupun. Kedua perempuan itu selalu membawa lukanya kemanapun.
Namun semesta punya caranya tersendiri untuk menghibur kedua perempuan yang ditinggalkan lelakinya itu. Arghi lelaki sempurna yang mencintai Dera dengan sepenuh hatipun datang dan menghiburnya meski hanya melalui pesan. Benua yang memisahkan raga tapi tidak memisahkan cinta mereka.
Kepergian ayah untuk selamanya membuat Dera dan ibu kembali ke kota kenangan, di sana Dera bertemu Restu yang kembali menyatakan perasaannya. Apakah Dera sudah benar-benar melupakan Restu? atau hanya menjadikan Arghi sebagai pelampiasan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pameswari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian
17 September, tepat hari ini Dera berusia 21 tahun, ia tidak terbiasa dengan perayaan, karena sejak setahun lalu makna perihal hari ulang tahun sudah berubah baginya.
Orang-orang yang mengucapkan selamat ulang tahun hanya sebagai formalitas saja, tiap tahun doa nya sama, tiap tahun juga semua berubah tidak seperti yang diharapkan.
Doanya memang baik, harapannyapun begitu, tapi nyatanya ucapan semoga semakin dewasa tidak dibarengi dengan waktu yang diberikan untuk mendengarkan keluh kesah kita. Ucapan semoga sehat selalu tidak dibarengi dengan ucapan yang terus menyakiti perasaan kita dengan membicarakan kesalahan serta kekurangan kita.
Hari ulang tahun itu biasa saja, tambah usia tambah pula beban pikiran yang Dera rasakan. Toh nyatanya yang memberikan ucapan di media sosial, tetap tidak peduli dengan dunia nyata yang sedang Dera hadapi.
Tidak ada bolu ulang tahun ataupun acara tiup lilin dan pecah telur. Hari ulang tahun sama saja dengan hari sebelumnya dan hari keesokannya. Bahkan ibu seringnya lupa tanggal lahir Dera dan itu gak papa. Tidak mengapa jika semakin tua orang-orang semakin melupakan satu sama lain.
Dera keluar rumah untuk menyirami mawar ibu, dan ia tidak pernah terkejut dengan kotak di depan pintu, namun itu biasanya tidak dengan hari ini, karena kotak hari ini ukurannya cukup berbeda. Ada satu kotak besar menunggu di depan pintu, kotak yang besar ini adalah kotak terakhir yang akan ia terima, karena Dera tidak ingin terlalu merepotkan Arghi dengan berbagai kejutan ini.
Ada selembar kertas biru di atas kotak itu, Dera membukanya.
Selamat pagi dan selamat ulang tahun Dera, Peri Manisku. Boleh ya aku panggil seperti itu.
Ada banyak yang ingin aku ceritakan makanya surat ini terlihat penuh dengan tulisanku, tapi aku tidak mau kamu membacanya di luar rumah, nanti kamu kedinginan dan digodain abang tukang sayur yang lewat depan rumahmu. Masuk lah dulu dan bawa kotak besar ini ke dalam kamarmu baru kamu boleh melanjutkan membaca suratku ini. Jangan khawatir, mawar ibu sudah aku siram pukul enam tadi.
Dera menoleh pada mawar milik ibu, tanahnya terlihat basah, sepertinya lelaki itu benar-benar menyiramnya dan Derapun memutuskan untuk membawa kotak besar yang berat itu ke dalam kamar untuk dikeluarkan isinya.
Sampai di kamar, Dera pun kembali membaca surat yang sempat terjeda tadi.
Sekarang kamu sudah di kamar kan Ra? Ada banyak hal yang ingin ku katakan padamu.
Pertama, selamat ulang tahun ya Peri Manisku, semoga lukamu lekas sembuh dan hatimu bisa menerimaku seutuhnya. Sungguh Ra aku tidak pernah bermain dengan perasaan sayangku kepadamu.
Kedua, aku ingin memberitahumu bahwa hari ini aku akan pergi ke Vienna untuk melanjutkan S2 ku Ra, aku sudah pernah menceritakan hal ini kepadamu kan? Hari inilah saatnya Ra, aku sebenarnya tidak ingin pergi jauh darimu, tapi kamu tahu ambisi kedua orang tuaku.
Aku tahu kamu sangat menyukai semua karya Tere liye, kotak ini isinya serial Bumi yang kamu suka itu Ra, tapi aku tidak membeli buku yang Bumi, karena kamu sudah mengkhatamkannya, aku ingin buku-buku ini menemani sunyimu saat aku tidak berada di sampingmu Ra.
Kebersamaan kita memang tidak lama Ra, hanya enam minggu yang dihitung sejak kau mau bersalaman denganku dan membalas ucapanku. Aku sebenarnya juga ingin membaca buku ini bersamamu di taman Ra, seperti saat kita membaca buku Pulang dan Pergi. Tapi mau bagaimana lagi aku memang harus pergi, tapi aku akan pulang seperti buku yang sudah kita habiskan di taman.
Kalau hatimu belum pulih dari luka ayah dan Restu, maukah kamu bersamaku menyembuhkan luka itu? Jika mau, aku ingin saat kamu telah selesai membaca satu buku ini, kamu mengirimkan audio ringkasan ceritanya kepadaku. Aku percaya luka itu tidak selamanya melukai hatimu Ra, kamu akan sembuh bersamaku Ra.
Aku hanya dua tahun di negeri ini Ra, aku tidak ingin kamu terlalu lama menungguku, dan aku juga tidak mau menahan rinduku terlalu lama padamu Ra.
Terakhir jangan susul aku ke bandara ya, aku sudah terbang saat kamu membaca suratku ini Ra. Selamat menua sayang, kamu pasti sembuh walau aku jauh :)
Dera menyelesaikan surat itu dengan perasaan yang sedikit aneh, seperti ada yang berdebar di dalam rongga dadanya, apakah Dera mulai bisa membuka hatinya untuk orang lain? Tapi mengapa saat seperti ini datang saat orang nya juga sudah pergi jauh? Perasaan yang tidak bisa diajak kompromi seperti ini sangatlah menyebalkan.
Dera membuka kotak besar itu dan benar saja, isinya hanyalah buku karya Tere liye, namun hanya satu serial Bumi.
Kadang perasaan sangat mudah mempermainkan pemiliknya, saat ingin melupakan seseorang ia selalu mengingat kebaikannya, saat logika bilang bahwa orang yang mendekatinya terlihat tulus, perasaan bilang bahwa orang dimasa lalu akan mencarimu lagi, padahal kenyataan tidak. Dan hari ini saat hati itu sudah bisa diajak bicara baik-baik, semesta menjauhkannya dari orang tulus itu.
Arghi sebenarnya sudah memiliki ruang tersendiri bagi Dera, meski tidak sepenuhnya namun itu cukup untuk enam minggu ini.
Dera belum mau mengatakan yang sebenarnya karena ia masih takut akan luka dan pengkhianatan, namun Arghi yang memiliki kesungguhan hati tampaknya memahami kekhawatiran Dera.
Arghi juga sudah punya tempat di hati ibu Dera, hal ini dibuktikan dengan semua cerita tentang Dera yang diberitahukan ibu kepada Arghi. Itu sebabnya Arghi lebih bisa bersabar dengan tingkah Dera yang seperti menarik ulur perasaannya.
Arghi selalu hadir di setiap hari Dera selama enam minggu itu. Mengajak Dera berkeliling kota Jogja, menikmati berbagai kuliner, ya meski hanya beberapa kali, namun cukup untuk bisa menikmati senyum dari Dera yang kesepian.
Jika Dera tidak ingin diajak pergi, Arghi akan mengunjunginya di rumah Dera pada sore hari setelah ibunya pulang dari bekerja, karena Dera tidak ingin berduaan di rumahnya dan Arghi juga tidak ingin kehilangan kepercayaan ibu kepadanya.
Banyak cerita yang mereka ukir selama enam minggu, tapi setiap ditanya bagaimana hubungan selanjut antara mereka berdua, Dera selalu menjawab belum siap, entah kapan siapnya, Arghi selalu bisa menunggu meski beberapa kali merasakan ragu.
Arghi menelfon setiap malam tapi baru sekali diangkat Dera, itupun karena ia ketakutan saat hujan deras menyelimuti kota mereka. Saat ditelfon Dera hanya diam dan sesekali berteriak takut.
Dera ingat betul bagaimana Arghi menghiburnya dengan menyanyikan lagu dari Westlife, kata ibunya Dera suka lagu jadul dan Arghi belajar mengingat lagu-lagu yang sudah lama tidak ia dengarkan.
Terkadang Arghi merasa bahwa Dera membuka pintu hatinya untuk dibiarkan masuk lebih dalam, namun tidak jarang juga Dera memperlakukan Arghi seperti bukan siapa-siapa. Begitulah reaksi wanita yang masih terikat masa lalu namun menginginkan masa depan yang lebih aman.
semangat........mksh