Namanya Sagara Casildo Xander. Laki-laki yang sebentar lagi menginjak usia di angka tujuh belas tahun. Terlahir dari keluarga kaya raya tak serta merta membuat laki-laki yang biasa disapa Gara itu bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, sebab ayah dan ibunya sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Tak hanya itu, Gara juga tak mendapatkan perlakuan yang adil dari kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya selalu memperlakukannya berbeda dengan sang kakak yang notabene memiliki keistimewaan—penyakit bawaan sejak lahir. Gara juga dituntut menjadi sempurna dan selalu untuk sang kakak. Sebab itulah, Gara melakukan apa saja untuk mencari kesenangan dan kebahagiaannya sendiri.
Gara tidak tahu apa itu keadilan. Hingga semesta menunjukkan sebuah keadilan bernama Flora yang sukses membuat jalan cerita Gara menjadi berbeda.
Lalu, bagaimana lika-liku perjalanan seorang Gara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurNun Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Bersama
"Gue tunggu di depan gerbang setelah sekolah sepi. Tapi, lo harus datang sendiri dan nggak boleh ada yang tahu."
Kening Flora mengkerut dalam ketika membaca pesan yang ia terima. Tangannya yang semula tengah merapikan buku-buku di atas meja ke dalam tasnaya terhenti. Ada apa? Kenapa ada pesan seperti itu? Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Flora. Namun, lamunannya buyar ketika sebuah sentuhan mendarat di pundaknya. Ia mengangkat kepala dan melihat Sora dengan tatapan penuh tanya tengah memandangnya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Sora yang melihat ekspresi datar Flora.
Flora hanya mengangguk.
"Ayo pulang!"
"Lo duluan saja. Nanti gue belakangan. Gue mau nungguin Bokap jemput," ujar Flora. Bohong? Tentu saja. Flora tidak mungkin menceritakan pada Sora tentang isi pesan yang baru saja masuk di ponselnya.
"Kan sama gue, Flo."
"Hm, gue nungguin Bokap saja, Ra. Ada yang harus gue urus juga," balas Flora asal. Beruntungnya Sora langsung mempercayainya.
"Ya sudah. Gue duluan."
Flora mengangguk. "Hati-hati, Ra," ucap Flora sebelum Sora benar-benar pergi dari hadapannya. Ia kemudian mempercepat gerakannya untuk membereskan buku pelajaran di atas meja. Setelah itu, Flora berdiri di ambang pintu. Menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan orang-orang penghuni SMA Rajawali itu sudah tidak ada. Meski ia bertanya-tanya, tetapi tetap saja Flora mengikuti apa isi pesan itu.
Setelah memastikan situasi cukup aman. Flora membawa sepasang tungkai beralas sepatu kets miliknya dengan pasti menuju gerbang sekolah. Lalu, ia berdiri di sana beberapa saat. Namun, tak juga menemukan siapapun di dekat gerbang sekolah. Hanya beberapa orang yang masih berlalu lalang. Apa pesan itu hanya sekadar untuk main-main? Atau memang salah kirim?
"Neng, mau nunggu jemputan?"
Flora langsung menoleh ke belakang. Melihat sosok pria dengan tubuh tinggi dan rambut yang sudah beruban. Sosok yang selalu mengerahkan tenaganya setiap hari dari pagi hingga sore untuk menjaga keamanan sekolah—security. Flora tersenyum manis. "Nggak, Pak. Lagi nunggu teman," balas Flora.
"Oh, ya sudah, Neng."
Flora hanya membalas dan mengiringi kepergian pria itu untuk melanjutkan pekerjaannya di dalam gedung—memeriksa kondisi sekolah setelah siswa pulang. Ya, meski beberapa ada yang tertinggal untuk mengikuti beberapa kegiatan lainnya.
Flora kembali mengedarkan pandangan. Mencari sosok pengirim pesan beberapa menit yang lalu. Terik sekali. Flora sampai mengibaskan tangannya di depan wajah karena terik yang begitu menyengat. Rasanya Flora ingin segera berlalu dan pulang. Namun, ia takut jika nanti seseorang yang mengirimkan pesan padanya itu datang. Hm, Flora seperti terjebak pada dua pilihan sulit saat ini. Cukuplah kondisi saat ini membuatnya dilema.
Flora merasa semakin kesal ketika tak ia temukan tanda-tanda kedatangan seseorang. Ia hendak melangkah pergi untuk mencari taksi yang akan membawanya pulang. Namun, langkahnya terhenti ketika terdengar deru sepeda motor disusul bunyi klakson. Flora menoleh ke samping. Dilihatnya motor sport itu sudah berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Sepasang netranya memicing. Lalu, ia melihat wajah dari balik helm full face yang terbuka. Sejenak Flora tertegun. Wajah tampan itu tak semulus yang ia lihat pertama kali. Apa yang terjadi?
"Ayo! Kenapa lo diam di situ?"
Flora terbangun dari lamunannya. Ia kemudian membawa langkahnya tanpa ragu mendekat.
"Naik!" titah laki-laki itu. "Pakai ini buat nutupin aurat lo," ucapnya lagi seraya menyerahkan jaketnya yang ia gunakan untuk membungkus tubuhnya tadi. Juga menyerahkan helm pada Flora.
"Nggak usah mikir lama. Daripada aurat lo jadi konsumsi umum," sambungnya ketika Flora tampak ragu.
Mau tidak mau Flora langsung mematuhi titah laki-laki itu. Lagi pula, tidak salah juga.
"Pegangan. Gue nggak mau lo jatuh."
Sekali lagi Flora tertegun. Hingga ia disadarkan oleh sebuah tarikan di tangan hingga benar-benar melingkar di tubuh laki-laki itu. Flora menolak? Tentu saja tidak. Lebih jelasnya, Flora tidak bisa menolak karena tangan itu sudah terlanjur menariknya. Ah, posisi Flora memang sulit sekarang.
°°°°°
Dua anak muda itu masih terjebak dalam hening di bawah pohon beringin taman kota. Masing-masing mereka memegang cup minuman dingin dengan tatapan yang lurus ke depan. Menyaksikan apa saja yang bisa tertangkap indra.
"Lo kenapa absen sekolah?" Flora membuka suara.
"Lagi malas saja. Enakan tidur di rumah."
Flora langsung menoleh. "Lo bohong."
"Gue memangnya seperti tampang pembohong, ya, Flo?"
Flora tertegun sejenak. Apalagi melihat sepasang mata almond itu menatapnya.
"Pantasan saja orang tua gue nggak pernah mau percaya."
"Gar, ...."
"Nggak apa-apa. Sekarang gue mulai sadar diri kenapa orang tua gue seperti itu."
Flora menghela napas panjang. Ia menyentuh lengan Gara. "Gar, gue nggak tahu pasti kehidupan lo sama orang tua lo seperti apa. Tapi, gue yakin kok kalau sebenarnya orang tua lo sayang sama lo. Cuma cara mereka saja yang salah."
Gara. Laki-laki itu terdiam. Ia menyeruput minumannya, meski tak benar-benar menikmatinya. "Bagaimana, ya? Gue nggak percaya sih sama omongan lo. Mana ada orang tua sayang sama anaknya, tapi selalu berbuat kasar."
Baik. Sekarang, Flora sudah menemukan titik terang kehidupan Gara.
"Jadi, luka di wajah lo karena dipukul sama orang tua lo?" tanya Flora dengan sangat hati-hati.
"Nggak ada orang yang berani nonjok gue selain orang tua gue." Gara tertawa setelah itu mengingat kelakuan Edward padanya. "Sekarang, lo masih bisa bilang kalau mereka sayang sama gue?"
Jadi, seperti itu kehidupan Gara yang sesungguhnya? Lalu, yang laki-laki itu pertontonkan selama ini hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi luka tak kasat mata di dalam dirinya? Sungguh miris ternyata kehidupan Gara.
"Kenapa gue malah curhat sama lo, ya?" Gara terkekeh.
"Gue teman lo. Jadi, nggak apa-apa kalau lo mau curhat tentang apa saja sama gue. Gue bisa jadi pendengar yang baik," ujar Flora dengan sungguh-sungguh.
"Kalau gue mau lebih dari sekadar teman sama lo, bagaimana?"
Kening Flora mengkerut dalam. "Maksud lo?"
"Nggak apa-apa. Lupain saja."
Flora mendengus kesal. "Gar, itu luka lo cukup serius deh kayaknya. Nggak mau ke dokter?"
"Jangan terlalu peduli sama gue, Flo. Nanti gue jatuh cinta sama lo." Gara menatap Flora seraya berucap dalam hati.
"Gue temani, yuk, Gar."
"Gue sudah ke dokter kok. Lo tenang saja."
"Lo yakin? Gue khawatir nanti luka lo infeksi."
Diam-diam Gara tersenyum mendengar ucapan Flora. "Flo, thank you, ya, sudah peduli sama gue."
Flora terdiam. Lalu, detik berikutnya ia tersenyum. "Gue sebagai teman harus peduli dong, Gar."
"Tapi, kayaknya gue nggak bisa nganggap lo sebagai teman lagi kalau sikap lo kayak gini terus, Flo. Gue bisa jatuh cinta benaran sama lo," lirih Gara dalam hati.
"Gar, lo percaya gue, 'kan?"
Alis Gara saling bertautan satu sama lain. Ia tidak paham maksud ucapan Flora.
"Lo percaya kalau gue bisa jadi teman yang baik buat lo."
Entah dorongan dari mana yang membuat Gara menganggukkan kepala. Untuk pertama kali, ia bisa menerima orang baru dalam hidupnya dalam hitungan yang sangat singkat. "Terima kasih, ya, Flo."
"Terima kasih mulu. Obatin tuh luka lo."
"Gue nggak ganteng lagi kalau kayak gini?"
Flora tertawa lebar. Gadis itu tidak sadar jika tawanya sudah berhasil mengalihkan dunia seorang badboy, preman sekolah, dan pembikin onar bernama Sagara Casildo Xander.
"Cantik," lirih Gara.
"Lo bilang apa?" tanya Flora karena tidak begitu jelas mendengar ucapan Gara.
"Oh, nggak. Ayo gue antar pulang. Nanti orang tua lo nyariin."
"Gue bisa pulang sendiri, Gar."
"Tapi, gue nggak mau biarin lo pulang sendiri. Gue harus pastiin lo selamat sampai di rumah."
"Tapi, Gar ...."
"Satu hal yang harus lo tahu. Gue nggak suka penolakan."
Flora terdiam mendengar ucapan Gara. Ia akhirnya hanya bisa mengalah dari laki-laki itu.
"Gue cuma mau menunjukkan bahwa gue bisa bertanggung jawab, Flora. Gue yang bawa lo kesini. Gue juga yang harus bawa lo pulang. Lo paham maksud gue?"
Flora mengangguk pelan.
klau ada di depan mata udah kutonjok mereka bertiga ke neraka .
Semangat y Thor.