Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terang x Pelatihan
Perjalanan kembali dari Kota J ke Jakarta adalah sebuah ujian kesabaran yang seolah dirancang khusus untuk menguras sisa-sisa kewarasan Reza dan Poltak. Setelah berjam-jam duduk di kursi bus ekonomi yang busanya sudah rata dengan besi, mereka disambut oleh atraksi utama ibukota: kemacetan lalu lintas yang stagnan bagaikan antrean sembako.
Matahari Jakarta sedang terik-teriknya memanggang aspal ketika mereka berganti moda transportasi menggunakan MetroMini. Sopir MetroMini itu mengemudi dengan gaya perpaduan antara pembalap F1 dan supir bombong yang sedang kebelet buang air, namun tetap saja laju mereka tertahan oleh lautan kendaraan di kawasan TB Simatupang.
"Bisa matang sebelah pantatku ini, Za," keluh Poltak sambil mengipas-ngipas lehernya dengan koran bekas. Keringatnya bercucuran membasahi kemejanya. "Kalau begini terus macetnya, keburu tutup itu kantor Disnaker. Mending kita jalan kaki aja, kutebas mobil-mobil ini pakai parang."
"Sabar, Tak. Lo kira kita lagi di hutan Sumatera main tebas aja," balas Reza yang duduk di sebelahnya, matanya tak lepas dari map merah di pangkuannya. Tangannya memeluk map itu seerat memeluk harapan hidup. "Ini ujian, Tak. Kalau macet Jakarta aja nggak bisa gue lewatin, gimana gue mau ngelewatin Tembok Besar Cina?"
Setelah perjuangan melawan waktu, debu, dan sumpah serapah klakson, mereka akhirnya tiba di depan Kantor Dinas Tenaga Kerja. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dan tanpa menghiraukan Poltak yang masih berjalan ngangkang karena pegal, Reza melesat masuk ke dalam gedung.
Ia langsung menuju loket pendaftaran yang kemarin. Untungnya, petugas berkacamata yang sama masih berjaga.
"Ibu! Ini surat izin orang tua saya. Udah ada tanda tangannya, plus materai enam ribu. Asli dari kampung, Bu!" seru Reza dengan napas tersengal namun dengan senyum yang merekah lebar, menyodorkan map merahnya.
Petugas itu tersenyum kecil melihat antusiasme Reza. Ia memeriksa dokumen itu dengan teliti. "Bagus. Surat izin sudah lengkap. Nah, Reza, karena kamu mendaftar untuk penempatan manufaktur di Tiongkok, tahapan selanjutnya adalah pembuatan Paspor dan Visa Kerja."
Reza mengangguk mantap. "Siap, Bu! Besok pagi langsung saya urus."
"Tunggu dulu, belum selesai," sela petugas itu sambil menyerahkan setumpuk formulir baru. "Setelah paspor dan visa kamu selesai, kamu tidak bisa langsung terbang. Sesuai prosedur kementerian, kamu wajib mengikuti Pelatihan dan Praktik Kerja selama tiga bulan di Balai Latihan Kerja (BLK) yang ditunjuk oleh kantor ini. Kamu akan diajarkan kedisiplinan, dasar-dasar keselamatan kerja, dan bahasa. Meski kamu udah bisa bahasa Mandarin sedikit, prosedurnya tetap wajib."
"Tiga bulan, Bu?" beo Reza.
Poltak yang baru saja tiba di belakang Reza dan mendengar hal itu langsung menepuk pundak sahabatnya. "Tiga bulan, Za! Pas kali itu waktunya!" bisik Poltak antusias. "Tiga bulan itu waktu yang sangat cukup untuk menyulap badan kerempengmu ini jadi binaragawan! Pas kau berangkat nanti, bukan jadi kuli kau, tapi jadi bintang film action laga di sana!"
Reza mengangguk paham. Tiga bulan bukanlah waktu yang lama jika dibandingkan dengan penantiannya bertahun-tahun. "Siap, Bu. Tiga bulan pelatihan akan saya jalani dengan baik. Terima kasih banyak!"
...
Di tempat lain yang udaranya jauh lebih sejuk dan steril, tepatnya di kamar rawat inap Rumah Sakit Bunda, secercah harapan mulai mekar.
Dini duduk bersandar di bantalnya. Di sebelahnya, Siska sedang menyuapkan bubur ayam dengan sabar. Dini membuka mulutnya pelan, mengunyah makanannya. Wajahnya perlahan mulai mendapatkan warnanya kembali, tidak lagi sepucat mayat. Matanya yang beberapa hari lalu redup dan kosong, kini mulai menyorotkan kehidupan. Ia memperhatikan televisi yang menyala tanpa suara, dan sesekali merespons cerita Maya dengan anggukan atau senyum tipis. Meski pita suaranya masih berat untuk mengeluarkan kalimat utuh akibat trauma, kemajuannya sangat signifikan.
Dini sedang berjuang merangkai kembali kepingan jiwanya, dan di saat yang sama, pihak kepolisian sedang merangkai kepingan bukti yang akan menjerat monster yang menghancurkannya.
Kontras dengan kedamaian di kamar Dini, suasana di sebuah mobil Honda Jazz perak yang terparkir di pojok basement mal di Margonda terasa seperti di dalam panci presto yang siap meledak.
"Lu gila, Kev! Lu denger nggak info dari intel kampus?!" Aldo mengacak-acak rambutnya yang klimis hingga berantakan. Wajahnya seketika terlihat sepuluh tahun lebih tua. "Polisi semalam grebek kos-kosan si Botak di daerah Pasar Minggu! Untungnya si Botak lagi nggak ada di tempat. Tapi polisi udah ngantongin identitas mereka berdua! Mereka resmi jadi buronan DPO!"
Kevin menggigit kuku ibu jarinya dengan brutal, sebuah kebiasaan yang baru muncul sejak polisi ikut campur. "Terus? Kan mereka belum ketangkep. Berarti polisi belum tahu siapa yang nyuruh."
"Belum ketangkep SEKARANG, bego!" jerit Aldo frustrasi, tidak peduli lagi pada hierarki pertemanan mereka. "Tapi polisi lagi melacak sinyal HP mereka! Kalau si Botak ketangkep, dia pasti buka mulut! Dia pasti sebut nama lu, atau nama gue! Kev, gue nggak mau dipenjara, sumpah! Mending gue kabur ke Zimbabwe aja sekarang jadi peternak jerapah!"
"Diem lu, penakut!" bentak Kevin dengan suara bergetar. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Senyum kemenangannya saat Reza di-DO kini terasa seperti bumerang yang sedang berputar balik untuk memenggal kepalanya. "Selama Botak sama Jali masih buron, kita aman. Orang-orang kayak mereka itu licin. Mereka pasti lari ke luar kota. Polisi Depok nggak bakal gampang nyari jarum di tumpukan jerami. Lu tenang aja, dan jangan bertingkah aneh di kampus!"
Meski mulutnya berkata demikian, Kevin tahu posisinya berada di ujung tanduk. Ketakutan mulai menggerogoti kewarasannya. Sang dalang kini bersembunyi di balik bayang-bayang, menunggu kapan pintu rumahnya didobrak oleh aparat berwajib.