Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Dan Kelulusan
BAB 31
Ujian Dan Kelulusan
Hari-hari pun berlalu tanpa terasa. Hingga akhirnya, masa penting dalam pendidikan Dinda tiba. Ujian kelulusan yang selama ini ia persiapkan kini sudah berada tepat di depan mata.
Beberapa minggu terakhir bukanlah masa yang mudah bagi Dinda. Setelah sekian lama terbiasa berada di tubuh Daffa, ia kembali harus beradaptasi dengan pelajaran, suasana kelas, serta tuntutan sekolahnya sendiri. Tidak jarang ia merasa kewalahan ketika harus mengingat kembali materi-materi yang sempat tertinggal.
Untungnya Dinda tidak menghadapinya sendirian. Daffa terus membimbingnya melalui tambahan belajar yang mereka lakukan hampir setiap hari. Pemuda itu menjelaskan materi yang sulit tanpa banyak basa-basi. Jika Dinda tidak mengerti, ia akan menjelaskan kembali sampai gadis itu benar-benar paham. Bahkan beberapa kali Daffa memberikan soal-soal latihan yang dibuatnya sendiri agar Dinda terbiasa menghadapi berbagai bentuk pertanyaan.
Hasilnya mulai terlihat. Meski tidak bisa mengatakan dirinya sudah menguasai semuanya, Dinda merasa jauh lebih siap ketika duduk di ruang ujian. Tangannya memang sempat terasa dingin saat menerima lembar soal, tetapi ia berusaha mengingat kembali semua yang telah diajarkan Daffa.
Satu demi satu soal ia baca dengan teliti. Beberapa terasa mudah. Sebagian lainnya membuatnya harus berpikir lebih lama. Namun dibandingkan beberapa waktu sebelumnya, Dinda tidak lagi merasa benar-benar kesulitan. Ia mulai mengisi jawabannya dengan lebih percaya diri.
Dinda tersenyum kecil setelah menyelesaikan satu halaman soal. Kalau bukan karena Daffa yang terus memaksanya belajar dan tidak pernah bosan membimbingnya, mungkin ia akan jauh lebih kesulitan menghadapi ujian kelulusan ini.
"Semoga kali ini gue nggak mengecewakan siapa-siapa," gumamnya pelan sebelum kembali memeriksa jawabannya.
***
"Susah nggak?" tanya Daffa begitu ia datang menjemput Dinda pulang sekolah di depan gerbang.
Dinda menggeleng kecil sembari tersenyum.
"Lumayan, tapi masih bisa aku jawab."
Daffa mengangguk pelan. Tatapannya memperhatikan wajah Dinda yang terlihat jauh lebih santai dibandingkan saat berangkat tadi pagi.
"Yakin?"
"Yakin." Dinda mengangguk mantap. "Ada beberapa yang bikin mikir lama sih..., tapi aku ingat sama yang Abang ajarin."
Daffa mengangkat sudut bibirnya, tipis.
"Bagus."
Dinda menaikkan alis. "Cuma bagus?"
"Emang mau hadiah?"
Mata Dinda langsung berbinar. "Hadiah apa?"
Daffa malah mengambil helm yang tergantung di spion motornya, lalu menyerahkannya kepada Dinda.
"Ini. Pakai."
Dinda langsung cemberut. "Kirain hadiah."
"Kalau nggak mau, gue simpan lagi."
"Ih, Abang!"
Meski bibir mengerucut, Dinda meraih helm tersebut dan memakainya. Lalu menaiki motor Daffa.
"Nanti baru ada hadiahnya," ujar Daffa ketika mereka di jalan.
Mata Dinda kembali bersemangat dan hal itu terekam penglihatan Daffa dari sepion motornya.
"Janji?"
"Kalau lulus."
Dinda langsung mengangkat kedua tangannya dan bersorak kecil.
"Deal!"
Daffa tersenyum sambil tetap fokus pada jalan.
Setibanya di depan rumah, Daffa dan Dinda pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Setelah seharian menjalani ujian, Dinda sebenarnya ingin langsung beristirahat. Namun, ia tahu masih ada beberapa materi yang harus dipersiapkan untuk ujian berikutnya.
Malam harinya, seperti biasa, Daffa kembali membantu Dinda belajar. Mereka belajar dari rumah masing-masing dan berkomunikasi melalui jendela kamar yang sudah menjadi tempat mereka berbagi banyak hal selama beberapa bulan terakhir. Daffa memberikan beberapa soal latihan, kemudian memeriksa jawaban Dinda satu per satu.
Jika ada yang salah, Daffa akan langsung memberitahu letak kesalahannya dan menjelaskan kembali bagian yang belum dipahami Dinda.
"Yang ini kenapa jawabannya begitu?" tanya Daffa.
Dinda memperhatikan soal di bukunya.
"Karena aku pikir caranya begini."
Daffa menggeleng pelan.
"Bukan begitu. Coba lihat bagian ini."
Ia kemudian menjelaskan dengan singkat, tetapi cukup jelas hingga akhirnya Dinda mengangguk-angguk mengerti.
"Oh... iya. Sekarang aku paham."
"Makanya jangan buru-buru jawab."
Dinda cemberut kecil. "Iya. Bawel!
Daffa hanya mendengus pelan.
Rutinitas seperti itu terus mereka lakukan setiap malam. Setelah satu ujian selesai, mereka kembali mempersiapkan diri untuk ujian berikutnya. Daffa tetap sabar membimbing Dinda, sementara Dinda berusaha mengikuti semua arahan yang diberikan pemuda itu.
***
Hari demi hari berlalu. Sampai akhirnya, tanpa terasa, rangkaian ujian kelulusan yang selama ini membuat Dinda cemas pun selesai.
Tiba lah masa yang tidak kalah menegangkan yaitu, pengumuman nilai dan kelulusan yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Dinda yang sebelumnya merasa lega karena sudah melewati seluruh ujian, justru kembali dibuat gelisah ketika hari pengumuman tiba. Ia tidak bisa berhenti memikirkan hasil yang akan diterimanya nanti.
Apakah semua usahanya selama ini membuahkan hasil?
Apakah nilai-nilainya cukup untuk membuatnya lulus?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Dinda mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan jantung yang sejak tadi berdebar begitu kencang.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Dinda membuka situs web pengumuman sekolah melalui ponselnya. Jarinya sempat terhenti di atas layar. Ia sedikit ragu. Sebelum akhirnya memasukkan data yang diperlukan dan menekan tombol untuk melihat hasilnya.
Beberapa detik terasa begitu lama. Dinda menahan napas ketika halaman hasil pengumuman terbuka. Matanya langsung tertuju pada satu kata yang tercetak jelas di layar.
LULUS.
Dinda terdiam. Ia berkedip beberapa kali, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan sebuah kesalahan.
"Lulus..." Suaranya bergetar.
Tanpa mampu menahannya lagi, air mata haru mengalir membasahi pipinya. Senyum perlahan terukir di wajahnya bercampur dengan tangis lega yang sejak tadi tertahan.
"Aku lulus..."
Dinda mengusap air matanya dengan punggung tangan. Namun bukannya berhenti, air mata itu justru kembali mengalir.
Setelah beberapa saat, ia menggeser layar untuk melihat nilai-nilai yang diperolehnya selama ujian. Satu per satu nilainya terpampang di hadapannya.
Dinda memperhatikan angka-angka tersebut dengan saksama. Ada beberapa nilai yang membuatnya tersenyum puas. Ada pula yang tidak setinggi harapannya. Namun, semuanya jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Dinda terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana beberapa minggu terakhir dirinya harus belajar hampir setiap malam. Teringat soal-soal yang diberikan Daffa, penjelasan panjang ketika dirinya tidak mengerti, bahkan teguran-teguran kecil saat ia mulai malas belajar.
Tanpa sadar, senyumnya kembali mengembang.
"Berarti semua belajar sama Abang nggak sia-sia..."
Dinda kembali mengusap pipinya yang basah.
Kini, satu hal yang paling ingin dilakukannya adalah memberitahu Daffa bahwa ia berhasil memenuhi janjinya.
Ia lulus. Dan ia ingin melihat wajah Daffa ketika pemuda itu mengetahui hasilnya.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan