Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Melindungi Yu Liu dari Panah Beracun
Di sisi lain, Murong mengayunkan pedang panjangnya. Gelombang api menyelimuti seluruh mata pedangnya ketika dia menerjang maju.
“Terima ini!” serunya dingin.
Tetua yang menjadi lawannya buru-buru mengangkat senjatanya untuk menahan serangan. Namun kobaran api yang membungkus pedang Murong hampir saja mengenainya.
Murong terus mendesak tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
“Kayu Kecil, keluar!” panggilnya sambil mengayunkan pedangnya sekali lagi.
Mendengar sebutan aneh itu, semua orang di sekitar mereka tertegun.
Siapa yang dimaksud dengan Kayu Kecil?
Detik berikutnya, sulur-sulur tanaman keluar dari balik lengan baju Murong. Sulur itu melesat seperti cambuk, lalu melilit tubuh lawannya dari berbagai arah.
Tetua itu terkejut dan berusaha memutuskan sulur-sulur tersebut, tetapi Murong segera melancarkan serangan berikutnya.
Melihat pemandangan itu, semua orang terbelalak tidak percaya.
Manipulasi elemen tumbuhan!
Hanya master elemen kayu tingkat tinggi yang mampu mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan tumbuhan secara langsung.
Astaga!
Seberapa besar perhatian Istana Shiyue terhadap Xuan Chongyue sampai mereka mengutus dua pengawal luar biasa untuk melindunginya?
Salah satunya adalah master dua-elemen es dan tanah, sedangkan yang lainnya merupakan master dua-elemen api dan kayu. Keduanya bahkan telah mencapai tingkat seniman bela diri tingkat enam.
Sebagai perbandingan, Xuan Meng yang dikenal sebagai jenius terkenal juga berada di tingkat seniman bela diri tingkat enam dengan dua elemen api dan kayu.
Namun sekarang, dua orang dengan bakat dan kemampuan bertarung yang luar biasa itu justru bersedia menjadi pengawal pribadi seorang gadis yang selama ini dianggap sampah.
Satu per satu mereka melirik Xuan Meng.
Dibandingkan dengan kedua pengawal Istana Shiyue itu, bukankah kebanggaan Xuan Meng selama ini terlalu berlebihan?
“Tetua Ketiga bahkan tidak bisa melumpuhkan Nona Kelima!”
Di tengah kekaguman semua orang, teriakan seseorang terdengar dari sudut halaman.
Ketika semua orang menoleh, mereka melihat Chongyue sedang menggenggam belati dan melancarkan serangkaian serangan ke titik-titik vital Tetua Ketiga.
Tetua Ketiga yang merupakan seniman bela diri tingkat tujuh justru terus mundur dalam posisi bertahan. Dia tidak mendapatkan kesempatan untuk menggunakan energi elemennya, apalagi melakukan serangan balik.
Keringat dingin membasahi punggungnya.
Orang-orang mungkin tidak memahami betapa berbahayanya serangan Xuan Chongyue.
Namun sebagai lawan bertarungnya, dia tahu bahwa setiap gerakan gadis itu mengarah ke titik vital dan mengandung niat membunuh yang kuat.
Setiap kali dia mencoba mencari celah untuk menyerang balik, refleks Chongyue selalu lebih cepat. Gadis itu segera mengubah arah serangannya dan memaksanya kembali bertahan.
Belati Chongyue menyambar dari kiri, lalu berbalik menuju sisi kanan.
Tetua Ketiga menangkisnya dengan susah payah, tetapi sebelum melancarkan serangan balasan, Chongyue sudah memutar tubuhnya dan mengarahkan ujung belatinya ke bagian bawah tulang rusuknya.
Tetua Ketiga buru-buru mundur beberapa langkah.
Dibandingkan dengan fakta bahwa Yu Liu dan Murong adalah master dua-elemen, semua orang jauh lebih terkejut melihat Tetua Ketiga bahkan tidak mampu menyentuh pakaian Chongyue.
Xuan Zheng memelototi Xuan Yang dengan muram. “Sejak kapan gadis ini memiliki kemampuan bertarung seperti itu?”
Xuan Yang mengatupkan rahangnya. Dia sendiri merasa kesal karena benar-benar tidak tahu sejak kapan Xuan Chongyue menguasai kemampuan bertarung sehebat itu.
Melihat putranya tidak menjawab, Xuan Zheng mendengus dingin. “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau lakukan sebagai kepala keluarga selama ini! Kau bahkan tidak tahu bahwa putrimu sendiri sudah sembuh dari keterbelakangan mentalnya dan menguasai ilmu bela diri sehebat itu!”
Xuan Yang hanya bisa terdiam. Dia tidak berani membantah teguran ayahnya.
Xuan Zheng kembali mengalihkan pandangannya kepada pertarungan. Tatapannya perlahan berubah penuh pertimbangan.
“Bisa menekan Tetua Ketiga sampai tidak mampu melakukan serangan balik...” gumamnya pelan. “Gadis ini memiliki potensi yang tidak boleh diremehkan.”
Du Ru yang berdiri di belakang Xuan Yang mengerutkan kening mendengar pujian itu.
Apakah Tuan Tua mulai berubah pikiran dan berniat mengampuni gadis kurang ajar itu?
Tidak!
Ini adalah kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi. Dia tidak boleh membiarkan Xuan Chongyue keluar dari tempat ini hidup-hidup!
Du Ru diam-diam mendekati Xuan Meng dan berbisik dengan cemas, “Meng'er, kakekmu sepertinya mulai ragu. Dia mungkin berniat mengampuni gadis itu.”
Xuan Meng melirik Xuan Zheng.
Benar saja, kakeknya sedang mengamati pertarungan Chongyue dengan tatapan penuh pertimbangan.
Du Ru menggenggam lengan putrinya dan kembali mendesak, “Ini kesempatan terbaik kita. Bahkan jika Istana Shiyue datang menuntut balasan nanti, kita bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab atas kejadian ini kepada orang lain. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini!”
“Ibu tidak perlu khawatir,” jawab Xuan Meng sambil menepuk punggung tangan ibunya dengan lembut, lalu menoleh kepada pelayan yang berdiri di belakangnya.
Dengan suara yang tidak terdengar oleh orang lain, dia memerintahkan, “Ambilkan busurku dan oleskan cairan dari botol ini pada mata panahnya.”
Dia menyelipkan sebuah botol porselen kecil ke tangan pelayan tersebut.
Pelayan itu, yang merupakan pelayan kepercayaan Du Ru, segera mengangguk dan menyimpan botol itu di balik lengan bajunya, kemudian diam-diam pergi.
Pertarungan di halaman berlangsung begitu sengit sehingga kepergian seorang pelayan tidak menarik perhatian siapa pun.
Setelah melihat pelayan ibunya pergi, Xuan Meng menghampiri ayahnya dan berkata dengan senyum manis, “Ayah, aku pergi sebentar dan akan segera kembali.”
Xuan Yang mengangguk. “Pergilah.”
Seandainya semua anak keluarga Xuan memiliki kemampuan dan kepatuhan seperti Meng'er, dia tidak perlu mengkhawatirkan begitu banyak hal setiap hari.
Namun begitu membelakangi mereka, senyuman di wajah Xuan Meng langsung menghilang.
Setelah masuk ke aula utama, dia menunggu sampai. pelayan kepercayaan ibunya kembali membawa busur emas miliknya.
Xuan Meng menggenggam busurnya dengan erat dan berjalan menuju sudut pilar yang menghadap langsung ke halaman.
Dia mengangkat busurnya perlahan.
Namun sasarannya bukan Chongyue. Melainkan Yu Liu.
Cairan yang melapisi mata panah itu merupakan racun Lelap Satu Hari pemberian gurunya. Tanpa pil penawar dalam waktu satu hari, korban pasti akan kehilangan nyawanya.
Begitu racun masuk ke dalam aliran darah, tubuh korban akan melemah dan tidak mampu mengerahkan kekuatannya.
Bukankah kedua pengawal itu begitu gigih melindungi Chongyue?
Setelah mereka tidak bisa bergerak, dia akan membuat mereka menyaksikan sendiri bagaimana Chongyue dihancurkan di hadapan mereka!
Memikirkan hal itu, Xuan Meng tersenyum jahat.
Dia memasang anak panah dan mengarahkannya ke punggung Yu Liu, lalu menarik tali busurnya hingga melengkung sempurna.
Swusshhh~
Anak panah melesat membelah udara.
Di tengah halaman, Chongyue masih bertarung dengan Tetua Ketiga. Tanpa disadari, jarak antara dirinya dan Yu Liu menjadi semakin dekat selama pertarungan.
Saat berhasil menghindari serangan Tetua Ketiga dengan memiringkan tubuhnya, sudut mata Chongyue tiba-tiba menangkap sesuatu yang bergerak cepat dari balik pilar.
Sebuah anak panah!
Arah lintasannya lurus menuju punggung Yu Liu.
Wajah Chongyue berubah pucat. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari ke arah Yu Liu.
Tetua Ketiga tertegun melihat Chongyue tiba-tiba berbalik dan meninggalkannya.
Chongyue langsung memeluk Yu Liu dari belakang, menarik tubuhnya sedikit ke samping, lalu membiarkan punggungnya sendiri menjadi sasaran anak panah.
CLEB
Anak panah menancap dalam di punggung Chongyue.
Yu Liu yang tiba-tiba dipeluk dari belakang bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika suara Murong terdengar dari kejauhan.
“Chongyue!”
Tubuh Yu Liu membeku.
Dia merasakan dengan jelas lengan yang tadi memeluknya perlahan melemah, lalu terlepas.
“Chongyue!” serunya panik sambil segera berbalik.
Sebelum tubuh Chongyue jatuh ke tanah, dia menangkapnya dan kemudian berlutut dengan satu kaki, membiarkan kepala Chongyue bersandar di pangkuannya.
Melihat tangkai panah hitam yang tertancap dalam di punggung Chongyue, wajah Yu Liu berubah pucat.
Anak panah itu seharusnya mengenai dirinya.
Namun Chongyue justru mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yu Liu yang terbiasa membunuh orang lain merasakan ketakutan yang begitu besar saat melihat seseorang terluka di hadapannya.
“Chongyue, bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara bergetar.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡