Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Lucien yang duduk di samping ranjang mendadak membeku. Manik mata birunya berkilat tajam tatkala suara batin Eliana bergema begitu jernih dan mendalam di dalam kepalanya.
Eliana menyandarkan kepalanya ke sandaran ranjang, matanya menatap langit-langit kamar VIP dengan raut wajah yang mendadak berubah serius dan penuh pemikiran. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa benteng pikirannya sedang terbuka lebar.
"Tapi..." desis batin Eliana dengan nada bicara internal yang amat getir dan prihatin. "Lucien sebenarnya belum aman total... Kalau berdasarkan jalan cerita novel yang gue baca, Raja Aurelius itu aslinya sudah tahu rencana busuk Seraphina sama Oberon sejak awal!"
Jantung Lucien seakan terhenti selama satu detik. Tatapannya terkunci rapat pada wajah Eliana, menyimak setiap analisis tajam dari ingatan rahasia gadis itu.
"Raja sengaja tutup mata dan pura-pura bodoh belasan tahun cuma demi menjaga harga diri dan martabatnya sebagai penguasa," lanjut batin Eliana meratapi takdir kelam Kerajaan Valdoria. "Bahkan Raja itu aslinya juga pengin menyingkirkan Lucien secara halus! Dia ragu dan takut kalau Lucien naik tahta, dendam masa lalu bakal terbongkar dan bikin citra kerajaan hancur. Semalam Raja bersikap manis, meluk, dan bangga di depan umum itu cuma pencitraan murahan! Dia cuma akting seolah-olah jadi raja yang adil dan ayah yang penyayang di hadapan para bangsawan sama diplomat asing!"
Eliana menghela napas panjang dalam hati, memiringkan kepalanya menatap Lucien yang masih diam mematung.
"Kasihan banget Pangeran tampan gue..." gumam batin Eliana penuh simpati yang teramat tulus. "Di Istana megah itu kagak ada satu pun orang yang beneran tulus sama dia. Ibunya dibunuh, tunangannya ular bermuka dua, Ibu Suri sama Perdana Menteri penjahat perang, bahkan Ayah kandungnya sendiri ikut-ikutan mau menjatuhkan dia... Kenapa semua orang jahat banget sih mau menjatuhkan pangeran se-ganteng ini?!"
Lucien mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas paha. Pengakuan dari suara batin Eliana bahwasanya sang Ayah kandung Raja Aurelius juga menginginkan kejatuhannya menghantam dada Lucien bagaikan belati dingin. Namun, di saat yang bersamaan, rasa simpati dan panggilan "pangeran tampan gue" yang terucap tulus dari dalam hati Eliana menghangatkan relung jiwanya yang paling kelam.
Lucien menatap Eliana dalam-dalam, mengikis jarak di antara mereka. Pangeran Mahkota itu mengulurkan tangannya, mengelus lembut jemari Eliana yang terbaring di atas selimut.
"Kenapa melamun seperti itu, Eliana?" tanya Lucien dengan suara rendah yang amat lembut, memancing reaksi gadis di hadapannya.
Eliana tersentak dari lamunannya, mendadak salah tingkah dan buru-buru menyunggingkan senyum canggung. "A-Ah, enggak apa-apa, Pangeran! Cuma lagi mikirin... setelah ini Pangeran harus makin waspada di istana."
Di tengah suasana hening di kamar VIP tersebut, Eliana menatap jemarinya yang masih berada di dalam genggaman hangat tangan tegap Lucien. Rasa hangat dari sentuhan itu merambat perlahan, membuat jantung Eliana berdesir aneh yang sulit ia jelaskan.
Namun, Eliana buru-buru menepis perasaan asing itu. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke bantal, menatap wajah rupawan Lucien yang berada begitu dekat darinya. Pandangan matanya meredup, menyisakan pemikiran dalam yang langsung meluncur jernih ke dalam benak sang Pangeran Mahkota.
"Tapi... kok dia bisa sebaik dan se-perhatian ini sama gue, ya?" gumam batin Eliana penuh keheranan yang amat polos. "Perasaan gue di sini kan cuma mantan pelayan biasa... Lagipula, kalau nanti posisi dia di takhta sudah benar-benar aman, semua musuhnya berhasil dimusnahkan, dan misi gue selesai... gue kan bakal langsung pergi dan minggat dari dunia ini balik ke dunia asli gue membawa uang 100 miliar."
Eliana menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, membayangkan kehidupannya kelak.
"Iya... begitu tugas gue menuntun pangeran tampan ini ke happy ending selesai, gue bakal hilang dari kehidupan Lucien selamanya."
DEG.
Kalimat "pergi dan minggat dari dunia ini" serta "hilang selamanya" yang bergema begitu tulus dari batin Eliana menghantam dada Lucien bagaikan ledakan petir di siang bolong.
Genggaman tangan Lucien pada jemari Eliana seketika mengencang refleks, membuat gadis itu sedikit tersentak kaget. Manik mata biru sang Pangeran Mahkota membelalak tipis, membeku rapat menatap iris mata Eliana yang jernih.
"Pergi...?" bisik Lucien dalam batinnya sendiri, sebuah gejolak rasa asing, kecemasan yang amat pekat, serta dorongan posesif yang membakar mendadak membuncah liar di dalam dadanya. "Pergi dari dunia ini...?"
Lucien menatap penuh intimidasi pada sosok gadis di hadapannya. Rahangnya mengeras rapat, memproses setiap kepingan keanehan yang selama ini mengelilingi Eliana pengetahuannya yang mustahil tentang rahasia istana, analisis politiknya yang melompati takdir, dan kini... usahanya untuk melangkah pergi meninggalkan dirinya setelah semua masalah usai.
"Siapa kau sebenarnya, Eliana...?" tuntut Lucien dalam batinnya yang kian memanas, manik birunya berkilat penuh obsesi dan kegelapan yang tak terabaikan. "Mantan pelayan? Penjelajah dari tempat lain? Aku tidak peduli siapa dirimu atau dari mana kau berasal... Tapi jika kau berpikir aku akan membiarkanmu hilang begitu saja dari sisiku setelah kau mengacak-acak hidupku dan hatiku... kau sangat salah besar."
Tanpa menyadari perdebatan batin dan sumpah obsesif yang baru saja terpatri di dalam jiwa Lucien, Eliana hanya memiringkan kepalanya bingung melihat raut wajah Lucien yang mendadak berubah amat tegang dan mematikan.
"Pangeran...?" panggil Eliana pelan, mencoba menarik tangannya. "Tangan saya agak sakit dikencangkan begitu..."