Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please Say Something, Even Though It's A Lie
"Hahhh!!!"
Ara tiba-tiba terbangun dengan napas tersengal-sengal. Matanya langsung mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang didominasi warna putih.
Dengan napas yang masih memburu, ia perlahan mendudukkan tubuhnya. Tangan kanannya terpasang selang infus. Ara menatap sekeliling dengan bingung.
"Tunggu... rumah sakit?"
Jantungnya kembali berdegup kencang.
"Kenapa aku bisa ada di rumah sakit? Jangan-jangan aku gagal balik ke masa depan lagi?"
Pintu kamar terbuka.
"Ara? Kamu sudah sadar, sayang?"
Mamanya yang baru saja kembali setelah keluar membeli makanan langsung menghampiri Ara dan memeluknya erat. Ara hanya terdiam di dalam pelukan tersebut.
Ada sesuatu yang terasa berbeda. Ia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi yang sangat panjang, tetapi setiap kejadian dalam mimpi itu terasa begitu nyata.
"Mama?"
Ara melepaskan pelukan.
"Kenapa aku ada di sini? Memangnya aku sakit? Bukannya aku cuma pingsan?"
Mamanya menatapnya dengan tatapan sendu.
"Memangnya Ara nggak ingat?"
"Hah? Ingat apa?"
Mamanya terdiam sejenak. Kemudian, ia meminta izin untuk memanggil dokter. Ara hanya bisa mengangguk.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter masuk ke dalam kamar dan menjelaskan bahwa Ara perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya adalah MRI.
Ara semakin bingung.
Kenapa aku harus MRI? Apa ada yang salah sama otakku?
Namun, karena tidak mendapatkan penjelasan lebih lanjut, Ara akhirnya menuruti permintaan dokter tersebut.
Setelah pemeriksaan selesai, Ara kembali duduk di luar ruangan sembari menunggu Mama yang masih berbicara dengan dokter mengenai hasil MRI.
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terasa aneh. Sangat aneh.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan, ya? Lebih baik kamu fokus sama pemulihanmu dulu."
Ara langsung menoleh.
"Pemulihan?"
Ia mengernyitkan kening.
"Memangnya aku kenapa, Mah? Apa yang terjadi sama aku?"
Mamanya menghela napas pelan, kemudian duduk di samping Ara sambil membelai rambut putrinya.
"Kamu mengalami amnesia, sayang."
Ara membeku.
"Amnesia?"
"Iya. Untuk sementara, jangan terlalu memaksakan diri buat mengingat sesuatu yang memang belum kamu ingat, ya? Ingat semuanya pelan-pelan. Jangan dipaksa."
Apaan pula ini? Kenapa tiba-tiba aku jadi amnesia?
"Memangnya aku kenapa, Mah? Aku udah nggak sadar berapa lama?"
Mamanya kembali menghela napas.
"Ceritanya nanti saja, ya, sayang? Kamu masih harus banyak istirahat."
Mamanya menggandeng tangan Ara dan mengajaknya kembali ke kamar. Ara menurut. Namun, kepalanya masih dipenuhi begitu banyak pertanyaan. Terutama satu hal. Bara sekarang di mana?
"Loh, adek udah bangun?"
Suara Biru membuat Ara menoleh.
"Astaga! Akhirnya kamu bangun juga, Dek. Abang kangen."
Biru langsung menghampiri dan memeluk adiknya dengan erat. Ara hanya diam.
Aku beneran nggak paham. Kenapa semua orang jadi aneh kayak gini? Terus Bara? Bara ada di mana?
Ara melepaskan pelukan Biru.
"Emangnya aku udah nggak sadar berapa lama, Bang? Kenapa kalian semua kelihatan heboh banget?"
Biru menatapnya.
"Dek, kamu nggak ingat?"
"Ingatanku lagi bermasalah, Bang. Jadi jelas aku nggak ingat."
"Kamu udah koma selama dua minggu."
Ara melotot.
"Demi apa?"
"Demi cintaaa~"
Ara langsung menoyor kepala Biru.
"Kenapa malah nyanyi, sih, Bang! Ngeselin banget!"
Biru mengusap kepalanya.
"Mah, kayaknya Ara udah sembuh. Kalau udah bisa emosi kayak gini, berarti dia udah sembuh."
"Biru, bisa nggak untuk jangan mengganggu adik kamu dulu? Mama mau menelepon Papa sebentar. Kamu duduk anteng di sofa dan jangan mengganggu Ara."
"Iya, iya, Mah."
Biru mendengus kesal, lalu kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ara masih memandangi kakaknya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Bang..."
"Hmm?"
"Dokter bilang aku kena amnesia. Emangnya gara-gara apa aku bisa sampai koma sebulan?"
Biru menghentikan permainannya.
"Oh... amnesia, ternyata."
Ia menghela napas.
"Jelas kamu nggak ingat tentang kecelakaan kalian dua minggu yang lalu."
"Kecelakaan?"
"Iya. Kamu sama Bara mengalami kecelakaan, Dek."
Ara membeku.
Hah? Kecelakaan sama Bara? Apa maksudnya? Kenapa aku jadi merasa bodoh kayak gini?
Ara segera turun dari ranjang dan duduk di sebelah Biru.
"Abang ceritain, dong."
"Nggak mau. Nanti Mama marahin abang. Kamu coba ingat-ingat sendiri aja."
Ara hampir kehilangan kesabaran.
"Bang! Sekarang aja aku lagi amnesia. Orang amnesia disuruh nginget juga nggak akan bisa. Ingetnya pasti butuh waktu lama!"
"Oh, iya juga."
Biru mengangguk dengan wajah polos.
"Pinter juga kamu."
Sabar banget dah punya abang kayak dia.
"Bang Biru! Cepetan cerita! Gimana ceritanya aku bisa kecelakaan?"
"Ya, bisa."
Biru kembali memainkan ponselnya.
"Udah jadi suratan takdir dari Yang Maha Kuasa."
Ara menatap kakaknya dengan tatapan datar.
Mutilasi abang sendiri boleh nggak, sih?
Ia menarik napas panjang.
"Terus Bara sekarang ada di mana?"
Biru menatap Ara.
"Sedang apa dan di mana, dirimu yang dulu kucinta~"
Ara langsung menatap Biru dengan tatapan tidak percaya.
"Habis putus cinta, Bang? Nyanyi lagu sedih terus dari tadi."
"Nggak. Kan kamu tahu sendiri abang masih single."
Biru terkekeh.
"Cuma abang plesetin aja kata-katamu tadi. Abang pinter, kan?"
"Iya, deh. Capek aku!"
Ara menyerah.
"Kamu tanya sama teman-temanmu aja nanti. Abang udah kasih mereka kabar. Paling sebentar lagi juga mereka sampai sini."
Ara akhirnya memilih untuk diam. Kalau bertanya kepada Biru hanya akan membuat kepalanya semakin pusing. Ia lebih baik menunggu teman-temannya datang.
...---...
"Araaa!!!!"
"Lo udah sadar???"
"Kita semua kangen sama lo!"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Teman-temannya langsung berhamburan masuk dan menubruk Ara yang sedang duduk santai di atas ranjang. Ara hampir terjatuh karena pelukan mereka.
Sabar...
Ia menarik napas.
Sebentar. Bukan tiga... Empat.
Ara mengamati mereka satu per satu.
Yohan.
Yuvin.
Sora.
Vano.
Ara mengernyit.
"Lo Vano, kan?"
Vano mengangguk.
"Iya."
"Lo ngapain ada di sini?"
Vano terlihat bingung.
"Lo lupa sama gue, Ra? Gue kan teman lo juga."
"Sejak kapan lo jadi teman gue?"
Suasana kamar mendadak hening. Teman-temannya saling pandang. Vano hanya menggaruk tengkuk sambil tersenyum kikuk. Biru yang masih duduk di sofa akhirnya angkat bicara.
"Adik gue kena amnesia. Jadi maklumin aja. Dia nggak ingat apa-apa."
Ara menghela napas. Teman-temannya kembali menatapnya dengan wajah sedih.
"Gak usah sok sedih. Gue baik-baik aja."
Ara kemudian menatap mereka.
"Kalian tahu Bara ada di mana?"
"Ada di sini."
Suara itu terdengar dari arah pintu.
Ara langsung menoleh. Seorang lelaki bertubuh jangkung baru saja masuk ke kamar. Langkahnya perlahan mendekat. Teman-teman Ara spontan menyingkir, memberikan ruang untuk lelaki tersebut.
Ara membeku.
"Bara?"
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ini beneran kamu?"
Bara berhenti tepat di hadapannya.
"Kamu masih hidup?"
Ara menatapnya tidak percaya.
"Ini serius? Kenapa bisa? Ini serius? Aku nggak lagi mimpi, kan?"
Bara tersenyum.
"Sayang, kalau tanya itu satu-satu."
Ia terkekeh kecil.
"Iya, ini aku. Bara Samudera."
Bara mencubit pipi Ara pelan.
"Jelas aku masih hidup. Kamu bisa lihat sendiri aku ada di hadapan kamu sekarang."
Ia tersenyum.
"Dan kamu juga nggak lagi bermimpi, sayang."
Ara menatapnya beberapa detik. Air matanya perlahan jatuh. Ia tidak menyangka akan kembali melihat wajah itu. Wajah yang selalu ia rindukan. Wajah yang ia pikir sudah tidak akan pernah bisa ia lihat lagi.
"Bara..."
Tanpa berpikir panjang, Ara langsung memeluk Bara erat. Tangisnya pecah di dada lelaki itu.
"Bara..."
Bara tersenyum sambil mengusap punggung Ara yang bergetar.
"Aku di sini."
Ara semakin erat memeluknya.
"Aku pikir kamu udah pergi..."
Bara memejamkan mata.
"Aku nggak akan pergi lagi."
Ia membiarkan Ara menangis di dalam pelukannya. Di dalam hatinya, Bara tersenyum.
Aku udah bilang, kan? Aku bakal nemuin kamu lagi di masa depan. Mulai sekarang, aku janji bakal ngebahagiain kamu. Dan suatu hari nanti... kita akan punya keluarga kecil kita sendiri.
Bara mengecup lembut puncak kepala Ara. Namun, kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh semua orang.
Di sudut ruangan, seseorang berdiri diam. Tatapannya tertuju kepada Ara dan Bara yang kembali bersama. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Tangannya mengepal erat.
Seolah-olah kebahagiaan yang baru saja kembali ditemukan Ara adalah sesuatu yang ingin ia hancurkan.
Dan tanpa seorang pun menyadarinya, tatapan orang tersebut menyimpan sebuah rencana yang mungkin akan kembali mengubah kehidupan mereka.