Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Lampu belajar bersinar terang membentuk lingkaran cahaya kuning di atas meja kayu cat putih di kamar Regina.
Jam dinding berbentuk bundar berdetik konstan—Tuk... tuk... tuk...—menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit.
Di luar jendela yang tertutup rapat, sisa-sisa air hujan masih menetes pelan dari talang atap rumah.
Regina menarik kursi kayunya, mendudukinya, lalu membuka buku catatan Kimia bab pertama yang baru disalinnya tadi siang.
Jarinya meraba saku samping ransel sekolah berwarna abu-abu yang bersandar di kaki meja.
Kosong.
Jari Regina membeku di dalam lipatan kain saku luar ranselnya.
Jarinya bergerak mengacak saku bagian dalam, memutar balik posisi tas, lalu menumpahkan seluruh isinya ke atas kasur.
Dua buku cetak tebal, satu buku tulis garis tunggal, dompet, dan satu kantong plastik tisu jatuh menumpuk.
Tempat pensil kain warna biru tua itu tidak ada.
Tenggorokan Regina terasa agak menyempit. Ia menelan ludah pelan, berdiri dari kursinya, lalu berbalik menatap sekeliling kamar yang rapi.
Regina tidak langsung membongkar lemari. Ia berjalan ke pinggir tempat tidur, merapikan sudut sprei yang sedikit terangkat, lalu melipat ulang selimut tipisnya yang sudah tertata simetris.
Setelah itu, ia berlutut di lantai ubin yang dingin, melihat ke kolong tempat tidur. Hanya ada kotak penyimpanan plastik berdebu tipis.
Brak!
Regina membuka pintu kamarnya, berjalan cepat menuju ruang tengah. Hermawan sedang duduk di sofa sambil membaca koran lipat, sementara Ratna baru saja keluar dari dapur membawa segelas teh hangat.
"Ma, tempat pensil biru Regina ada ketinggalan di mobil tidak?" tanya Regina. Suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ratna menghentikan langkahnya, menatap Regina heran.
"Tempat pensil? Tadi pas turun kamu cuma bawa ransel. Mama tidak lihat ada barang jatuh di jok depan."
"Coba cari baik-baik di meja belajarmu, Gin," Hermawan menurunkan korannya sedikit, menatap anak perempuannya.
"Paling terselip di bawah buku."
"Sudah Regina cari, Pa. Di tas juga tidak ada," sahut Regina.
"Kamu tadi di sekolah buka tas di mana saja?" tanya Ratna sambil meletakkan cangkirnya di atas meja tamu.
Regina diam sejenak. "Di kelas. Sama di taman belakang pas istirahat."
"Pasti jatuh pas kamu buru-buru lari ke mobil tadi," kata Ratna menggeleng pelan.
"Hujan deras begitu. Kalau jatuh di halaman sekolah ya sudah, besok tanya ke penjaga sekolah atau teman sekelasmu."
Regina membalikkan badan kembali ke kamarnya tanpa membalas ucapan ibunya.
Ia menutup pintu—Klek—dan menyandarkan punggungnya ke daun pintu kayu.
Pulpen pilot hitam isi reill 0.38 dua biji ada di situ, batinnya sambil menatap langit-langit kamar.
Penghapus stik import dari Jepang yang dibeliin Papa tahun lalu juga di dalam. Kalau hilang semua, besok catat materi fisika pakai apa.
Ia berjalan lambat menuju meja belajar.
Buku catatan Kimia masih terbuka lebar, tetapi tidak ada pena untuk menulis.
Regina menarik napas panjang, menghembuskannya lewat mulut, lalu mematikan lampu belajarnya. Ia membatalkan niatnya untuk belajar malam itu.
Regina melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur secara telentang. Matanya menatap bayangan baling-baling kipas angin yang tidak berputar di plafon.
Ia meraih ponsel hitamnya dari atas bantal, menggeser layar kunci, lalu membuka aplikasi Instagram.
Ibu jarinya bergerak cepat menaikkan linimasa. Cerita dari teman-teman sekelasnya bermunculan: Shinta yang memotret cangkir cokelat panas dengan stiker suhu udara Bandung, beberapa anak IPA yang memajang foto jadwal pelajaran baru, dan ucapan selamat datang di kelas 12.
Regina terus menggeser tanpa benar-benar membaca tulisan di layar.
Sampai jari jempolnya berhenti pada satu pembaruan cerita Instagram dari akun yang tidak terikat pertemanan langsung dengannya, tetapi muncul di barisan atas karena dipos ulang oleh akun sekolah yang sempat ia ikuti.
Foto itu sangat sederhana: sebuah sudut meja belajar kayu tipis yang sedikit ternoda tinta hitam, sebuah helm dengan kaca bawah retak tipis ditaruh di ujung meja, dan sebuah objek yang sangat familier diletakkan tepat di samping lampu meja yang remang.
Tempat pensil kain warna biru tua.
Regina memajukan ponselnya, menatap layar dengan mata menyipit.
Di atas kain biru tua tempat pensil itu, terdapat sulaman benang putih kecil berbentuk huruf 'R.A' di sudut bawahnya.
Nama akun pemilik unggahan tersebut tertera di pojok kiri atas: @helga.barisma.
Regina menatap foto itu selama sepuluh detik tanpa bergerak.
Wajahnya tidak menunjukkan nada marah atau terkejut. Ia hanya memiringkan kepala, membaca teks kecil bernada santai yang ditulis pemilik akun di bawah foto tersebut:
"Punya siapa tertinggal di bangku taman. Besok ambil di blok IPS."
Regina mengunci layar ponselnya. Clek.
Cahaya layar padam, menyisakan kegelapan tipis di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur di sudut ruangan.
Regina meletakkan ponselnya di samping bantal, menutup matanya perlahan.
Di tempat lain, lima kilometer dari rumah Regina, sebuah kamar berukuran sedang di lantai dua sebuah rumah beratap seng memancarkan cahaya lampu kuning redup.
Helga Barisma duduk bersandar di kursi plastik hitam dekat jendela kamar yang dibiarkan terbuka sedikit.
Udara malam yang dingin berhembus masuk, memain-mainkan pinggiran gorden kain lusuh.
Di atas meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan buku komik dan stiker bekas kendaraan, tempat pensil biru tua milik Regina tergeletak terbuka.
Helga menarik ritsleting tempat pensil itu perlahan. Sssrt.
Ia mengeluarkan isinya satu per satu dan menatanya di atas meja kayu.
Dua buah pena tinta hitam dengan penutup yang masih rapat, satu pensil mekanik 0.5, satu penghapus putih bersih yang ujungnya dipotong sangat simetris, dan selembar kertas pembatas buku berukuran kecil yang terbuat dari karton tebal.
Helga mengambil kertas pembatas buku itu. Ada tulisan tangan yang sangat rapi di sana, ditulis dengan tinta hitam murni:
'Jadwal Piket Kebersihan & Target Peringkat Paralel Semester 5.'
Helga membalik kertas itu.
Di bagian belakangnya, tidak ada coretan gambar atau catatan santai. Hanya ada garis lurus yang dibuat menggunakan penggaris.
"Rapi amat," gumam Helga pelan.
Voice note dari ponselnya yang tergeletak di atas kasur mendadak berbunyi.
Puk.
Helga menekan tombol putar pesan suara dari Andreas.
"Hel! Besok pagi jangan lupa bawa bola plastik yang tadi siang. Varen bilang mau main di lapangan belakang sebelum bel masuk!"
Helga tidak membalas pesan suara itu. Ia mengambil kembali penghapus putih milik Regina, memutar-mutarnya di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu memasukkan seluruh alat tulis itu kembali ke dalam tempat pensil biru tersebut dengan gerakan lambat.
Helga meraih tempat pensil itu, memasukkannya kembali ke dalam saku dalam jaket jeans belelnya yang digantung di balik pintu kamar.
Ia menepuk saku jaket itu sekali dari luar—Puk—memastikan benda itu tidak akan jatuh atau tertinggal besok pagi.
Ia mematikan lampu mejanya, membiarkan kamarnya gelap total, lalu melangkah menuju tempat tidur.
Di tempat tidurnya yang sepi, Regina tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka lebar menatap plafon kamar.
Ia menyibak selimut, meraih ponselnya kembali, lalu membuka kolom pencarian di aplikasi Instagram.
Jarinya mengetik lima huruf dengan cepat: h-e-l-g-a-.
Sebelum jempolnya sempat menekan tombol 'Cari', sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal muncul di bagian atas layar ponselnya:
'Tempat pensilmu aman. Besok pagi temui gua di koridor lantai dua sebelum jam tujuh.'