Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Terlalu Besar

Aurora dengan langkah kecilnya menyusuri lorong mansion begitu gembira. Bibi Rosa berjalan di sisi kanan, mendampinginya dengan bahagia. Sesekali langkah mereka melambat ketika Aurora berhenti hanya untuk mengagumi lukisan atau vas bunga yang menghiasi setiap sudut mansion. Bentuk kekaguman tidak henti-hentinya Aurora perlihatkan. Bahkan untuk hal kecil seperti vas bunga pun ikut diperhatikan.

Aurora mengenakan gaun berwarna krem yang jatuh anggun hingga sebatas lutut. Dengan potongan rok setengah lingkaran yang mengembang lembut setiap kali wanita bertubuh mungil itu melangkah. Modelnya sederhana, tanpa banyak hiasan, tapi justru memancarkan keanggunan yang alami.

Rambut panjangnya memiliki gelombang lembut di bagian ujung, dibiarkan tergerai dan tertiup angin. Membingkai apik wajah Aurora yang kecil. Wajah tanpa riasan berlebihan tetapi justru menghadirkan pesona yang sulit diabaikan.

Dan selalu ada senyuman pada ranum tipis merah muda itu. Bersama sorot hangat pada sepasang mata bernetra cokelat yang selalu memancarkan ketulusan serta kelembutan yang menenangkan. Sesekali beberapa helai rambutnya yang tersapu angin itu membuat penampilannya terlihat semakin menawan.

Kecantikan yang tidak mencolok, melainkan tumbuh perlahan. Aurora tidak berusaha menarik perhatian siapa pun. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat orang tanpa sadar ingin terus memandanginya.

Ada daya tarik yang sulit dijelaskan dalam diri Aurora. Bukan karena kemewahan atau penampilan yang berlebihan, melainkan karena keanggunan yang alami serta ketenangan yang wanita itu bawa ke mana pun ia melangkah.

Bibi Rosa yang berjalan di samping diam-diam tersenyum. Ternyata sedang mengagumi kecantikan Aurora di antara mekar bunga-bunga yang indah.

"Nona Aurora sangat cantik," ungkap Bibi Rosa dengan tulus dan tiba-tiba.

Aurora menoleh dan tersipu malu. Wajahnya tampak sedikit memerah.

"Bibi Rosa berlebihan."

Senyum hangat terukir di wajah wanita paruh baya itu.

"Saya hanya berkata jujur."

Aurora tersenyum, "Terima kasih, Bibi Rosa. Aku sangat bersyukur karena ada Bibi di sini."

Aurora dan Bibi Rosa melanjutkan menyusuri setiap sudut Mansion Salvadore. Disepanjang perjalanan, semakin jauh Bibi Rosa membawa Aurora, semakin besar rasa kagum pada mansion yang kini menjadi tempat tinggalnya itu.

Lorong-lorong panjang dihiasi beragam lukisan klasik berusia puluhan tahun. Pilar-pilar marmer berdiri kokoh menopang langit-langit yang tinggi, sementara jendela-jendela besar membiarkan cahaya matahari menerangi setiap sudut ruangan. Di beberapa sisi vas-vas bunga segar tersusun rapi, menghadirkan suasana hangat di tengah kemegahan dan kemewahan tersebut.

Mansion Salvadore ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.

Ada perpustakaan dengan ribuan buku, ruang musik yang dipenuhi piano klasik, taman musim dingin yang dipenuhi bunga, hingga ruang keluarga yang menghadap danau buatan.

"Mansion ini seperti museum," gumam Aurora kagum.

"Aku tidak menyangka mansion-nya akan sebesar ini," gumam Aurora lagi, tidak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Bibi Rosa hanya tersenyum kecil. "Nona Aurora, mansion ini sudah menjadi kediaman keluarga Salvadore selama beberapa generasi. Setiap kepala keluarga selalu menambahkan sesuatu, tetapi mereka tetap mempertahankan bangunan utamanya," ucap Bibi Rosa menjelaskan.

Aurora mengangguk sambil terus memandangi dengan kagum setiap detail ukiran kayu dan langit-langit yang dibuat dengan sangat indah.

"Tapi Bibi, apa ini hanya perasaanku saja?”

Bibi Rosa menoleh memandang Aurora dengan sorot tanya disepasang matanya. "Ada apa, Nona?”

"Mansion ini sangat megah, tetapi tidak membuat sesak. Justru terasa hangat," ungkap Aurora kemudian.

"Saya mengerti." Bibi Rosa diam sejenak namun pikirannya sedang membayangkan sosok yang sangat di hormatinya.

"Itu karena mendiang Nyonya Salvadore."

Aurora menoleh cepat seolah mengerti ke mana pembicaraan ini mengarah.

"Ibu Tuan Rozen?"

Bibi Rosa mengangguk pelan.

Bibi Rosa tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah lukisan besar di ujung lorong. Tatapan wanita paruh baya itu terpaku cukup lama pada sosok wanita cantik bergaun biru langit yang tersenyum anggun di dalam bingkai itu.

Aurora yang menyadari perubahan raut wajah kepala pelayan tersebut ikut menghentikan langkah.

"Bibi Rosa?" selidik Aurora ragu.

Dan seketika Bibi Rosa tersadar dari lamunannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi sorot mata itu sangat kentara masih menyimpan kerinduan yang sulit disembunyikan.

"Maaf, Nona Aurora. Saya hanya tiba-tiba teringat beliau."

Aurora mengikuti arah pandang Bibi Rosa. Ikut memperhatikan sosok wanita pada lukisan itu.

"Beliau... ibu Tuan Rozen?"

Rosa mengangguk pelan. "Benar."

Baik Aurora maupun Bibi Rosa, keduanya mendadak menjadi bungkam. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Jemari Bibi Rosa terangkat perlahan, seolah ingin menyentuh bingkai lukisan itu, tetapi akhirnya berhenti di udara.

"Beliau wanita yang sangat baik," ucap Bibi Rosa lirih.

"Setiap pagi beliau selalu berjalan menyusuri lorong ini sambil membawa bunga segar dari taman. Beliau selalu berkata, rumah yang indah bukan hanya dilihat dari kemewahannya, tetapi dari kehangatan orang-orang yang tinggal di dalamnya."

Senyum Bibi Rosa masih terukir, tetapi di sepasang matanya mulai berkaca-kaca oleh kenangan.

"Sejak beliau tiada mansion ini terasa jauh lebih sunyi."

Aurora memandang Bibi Rosa dengan iba, seolah turut larut dalam kerinduan yang masih belum terobati. Aurora dapat merasakan betapa dalam rasa hormat dan kasih sayang wanita paruh baya itu kepada mendiang majikannya.

"Dan Tuan Rozen," lanjut Bibi Rosa kemudian dengan suara yang mengalun pelan.

"Beliau sangat mirip dengan ibunya. Sama-sama tidak pandai mengungkapkan perasaan. Bedanya, Nyonya Salvadore selalu berhasil menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman, sedangkan Tuan Rozen memilih menyimpannya dalam diam."

Aurora kembali menatap lukisan itu. Kali ini jauh lebih dalam dari sebelumnya. Pikirannya seketika berkelana menghadirkan sosok pria yang telah menjadi suaminya.

Aurora pun mulai mengerti kenapa di balik kemegahan Mansion Salvadore terselip nuansa sepi yang sulit dijelaskan. Seolah bangunan yang disebut rumah itu masih menunggu kehangatan seseorang yang tidak akan pernah kembali.

Bibi Rosa mengembuskan napas pelan sebelum mengulum senyum hangat lalu mengalihkan pandangannya dari lukisan mendiang Nyonya Salvadore dengan tegar, seolah memilih menyimpan kembali semua kenangan itu di dalam hatinya.

"Sudahlah. Kalau terus berdiri di sini, kita akan larut dalam kesedihan," tutur Bibi Rosa dengan lembut.

Aurora mengangguk pelan. Ia sependapat. Aurora menoleh sekilas ke arah lukisan itu sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke depan.

"Mari ikut saya." Bibi Rosa kemudian menepuk ringan punggung tangan Aurora dengan penuh kehangatan.

"Ke mana, Bibi?"

"Saya akan menunjukkan tempat yang paling disayangi beliau."

Aurora menatapnya penuh rasa ingin tahu. Bibi Rosa mulai melangkah menyusuri lorong, diikuti Aurora di sampingnya.

Keduanya pun kembali melangkah menyusuri lorong mansion. Perlahan, suasana sendu yang sempat menyelimuti mereka berganti dengan kehangatan, seolah kenangan tentang mendiang Nyonya Salvadore tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga semangat kehidupan yang masih terus tumbuh di setiap sudut bangunan megah itu.

Tiba saatnya Bibi Rosa dan Aurora berhenti di sebuah rumah kaca yang dipenuhi bunga mawar putih dan bunga lili yang sedang bermekaran.

Aurora berhenti melangkah. Ia terpukau.

"Indah sekali."

"Tempat ini adalah kesukaan beliau." Bibi Rosa mempersilahkan Aurora untuk masuk ke dalam rumah kaca penuh bunga itu.

Setibanya di sana, Aurora tanpa sadar mengusap lembut salah satu kelopak mawar putih yang sedang mekar.

"Beliau pasti orang yang lembut." Aurora berasumsi dengan yakin setelah menyaksikan sendiri bagaimana keindahan rumah kaca itu memanjakan kedua matanya. Karena menurut Aurora, wanita berhati lembut biasanya menyukai bunga.

Senyum Bibi Rosa kembali merekah, kali ini tampak lebih tulus.

"Beliau pernah berkata kepada saya, bunga diciptakan bukan untuk menemani manusia menangis, melainkan untuk mengingatkan bahwa setelah musim gugur selalu ada musim ketika semuanya kembali bermekaran. Dan saya yakin beliau akan lebih senang kalau Nona Aurora juga melihat tempat ini."

Aurora tersenyum tanpa sadar. Sangat tersentuh dengan perkataan yang wanita paruh baya itu ucapkan.

"Pantas saja setiap sudut rumah ini dipenuhi bunga."

Aurora memandang hamparan bunga di hadapannya dengan perasaan hangat.

Bibi Rosa menghela napas pelan lalu mengangguk setuju.

"Anda benar," sahut Bibi Rosa kemudian.

"Semasa hidupnya, beliaulah yang mengubah suasana mansion ini. Nyonya menyukai bunga dan tanaman, jadi hampir semua taman yang Anda lihat sekarang adalah hasil rancangan beliau. Dan beliau selalu berkata bahwa rumah sebesar apa pun akan terasa dingin jika tidak diberi kehidupan."

"Bibi Rosa pasti sangat kehilangan." Aurora meraih tangan kepala pelayan itu, memberikan sebuah remasan lembut, seakan sedang menyalurkan sedikit kekuatan yang dimilikinya.

"Begitu juga dengan Tuan Rozen."

Aurora menangkap nada sendu dalam suara Bibi Rosa. Hatinya berdesir ketika nama suaminya kembali disebutkan di tengah kisah pilu yang melanda.

"Beliau sudah lama meninggal?" tanya Aurora berhati-hati.

"Sudah cukup lama. Sejak saat itu, Tuan Rozen menjadi lebih pendiam. Menjadi lebih jarang menunjukkan perasaannya kepada siapa pun."

Aurora terdiam. Dan entah mengapa, ia mulai memahami mengapa suaminya selalu memasang wajah datar dan menjaga jarak dari orang lain.

Karena di balik sifat dingin suaminya ternyata ada luka yang belum benar-benar sembuh.

...***...

Sementara itu, di ruang kerja. Sementara Aurora berkeliling mansion bersama Bibi Rosa, Rozen berada di ruang kerjanya.

Ruangan sunyi yang dipenuhi rak buku, dokumen, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Rozen duduk di balik meja kerjanya, memeriksa beberapa berkas yang harus ditandatangani.

Hingga pada suatu ketika, kesunyian yang ada di ruangan itu sedikit terdengar hidup saat suara ketukan di pintu terdengar nyaring.

"Masuk." Titah itu terucap singkat dan tegas.

Pintu ruang kerja Rozen terbuka perlahan. Muncul sosok laki-laki berpenampilan rapi dari balik pintu. Namanya Christon Labour. Ia melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna hitam.

"Tuan Rozen, saya sudah mendapat kabar tentang Nona Isabella."

Tangan Rozen berhenti sesaat, tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Bicaralah."

Christon membuka map tersebut. Pandangannya seketika fokus ke permukaan putih yang berisikan segala informasi yang hendak disampaikan kepada Rozen.

"Nona Isabella meninggalkan hotel sekitar dua jam sebelum upacara pernikahan dimulai. Dia pergi bersama seorang pria bernama Adrian Grey. Dari informasi yang kami dapatkan, mereka telah menjalin hubungan selama beberapa tahun."

Rozen masih tetap sama, pria dingin itu tidak memperlihatkan reaksi apa pun.

Christon melanjutkan laporannya.

"Nona Isabella beberapa kali berusaha membatalkan pertunangan ini. Namun keluarga Valencia terus menolak karena menganggap pernikahan dengan keluarga Salvadore jauh lebih menguntungkan."

Ruangan kembali hening. Walau hanya sedikit, informasi itu berhasil mengusik ketenangannya. Rozen menatap berkas di depannya tanpa benar-benar membacanya.

Pria berkuasa itu tidak marah dan juga tidak merasa dikhianati. Karena sejak awal, Rozen sudah mengetahui bahwa Isabella tidak pernah menginginkan pernikahan tersebut.

Bahkan dipertemuan mereka hanya terjadi beberapa kali, dan setiap kali bertatap muka, Rozen bisa melihat dengan jelas keraguan yang disembunyikan wanita itu di balik senyumnya.

Karena itu, kabar bahwa Isabella memilih melarikan diri demi pria yang dicintainya sama sekali tidak mengejutkannya.

"Dia hanya memilih hidup yang diinginkannya," ucap Rozen akhirnya.

Christon mengangguk pelan.

"Apakah kami perlu mencari dan membawa Nona Isabella kembali?"

Rozen menutup map itu sedikit kasar lalu mendorongnya kembali ke arah Christon.

"Tidak perlu."

"Tapi, Tuan...."

"Pernikahan itu sudah selesai." Nada suara Rozen tenang, tetapi tegas.

"Apa pun alasan wanita itu pergi, bukan lagi urusanku."

Rozen bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela. Tatapannya tercipta tajam, mengarah ke taman, tempat Aurora sedang berbincang dengan Bibi Rosa sambil sesekali tersenyum kecil.

Senyum yang sederhana tanpa kepura-puraan.

Rozen mengembuskan napas pelan. Ia tidak pernah peduli siapa wanita yang akan menjadi istrinya. Namun kini, ketika pernikahan itu terjadi, Rozen hanya memiliki satu prinsip.

Ia tidak akan mengingkari janji yang telah diucapkannya di depan altar.

Aurora telah menjadi istrinya. Dan baginya itu sudah lebih dari cukup.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!