Reinz, tumbuh sebagai seorang lelaki tampan yang bahkan terlalu tampan untuk seorang laki laki.
Seharusnya ia menjadi Don Juan, playboy yang menaklukkan hati seorang wanita.
Namun itu tidak terjadi padanya, ia terkesan sangat dingin dan kejam terhadap semua perempuan yang selalu menggilainya sejak kecil.
Di alam bawah sadarnya terbentuk pikiran bahwa semua wanita pasti jahat, licik dan sekeji ibu kandungnya, yang meninggalkannya sejak bayi. Demi berselingkuh dengan seorang konglomerat tua yang menabur uang setiap hari.
Hidup bersama dengan seorang pria dewasa dan latar belakangnya tidak di ketahui, sejak bayi hingga dewasa Reinz hanya menerima bentuk kasih sayang dari pria dewasa yang selama ini merawatnya.
Kebenciannya kepada perempuan semakin menjadi ketika kisah cinta monyetnya sewaktu remaja berakhir penghinaan, lengkap sudah penderitaannya, kesimpulannya ia menganggap wanita adalah mahluk jahat. Cantik wujudnya namun busuk hatinya dan penuh dusta. Hingga akhirnya Reinz mengambil sikap wanita hanya bisa di nikmati tidak layak untuk di miliki apalagi di cintai.
Paling banter cuma di tipu dengan sandiwara sikap dari pada keduluan di tipu, itu yg mmbuat reinz mnjadi lebih percaya kepada teman laki laki.
Reinz merasa lebih nyaman berhubungan dengan laki laki dari pada perempuan di mulai dari persahabatan dari sampai hal hal pribadi.
Hingga ketika seorang wanita baik baik mencintainya, Reinz kehilangan pegangan untuk memilih antara menipu, pura pura memanfaatkan perempuan itu demi kelangsungannya hubungannya dengan sahabat laki laki yang sangat ia percaya dan sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Jimi tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tanda di pundak Reinz mengingatkannya pada masa lalu yang mengusik pikirannya tiap hari, dan dia pendam selama bertahun tahun lamanya.
"Tidak mungkin..."
Jimi duduk di kursi, tubuhnya terasa lemas dan pikirannya semakin kacau. Ia menyandarkan kepalanya di kursi dengan mata terpejam.
Terbayang dalam benaknya kejadian dua puluh tahun yang lalu. Ia berteriak histeris memanggil adik adiknya yang menghilang.
Perlahan matanya terbuka, rasa sesak di dalam dada. Penyesalan telah meninggalkan adik adiknya di jalan.
"Andai aku tidak pergi mencari makanan, aku tidak akan kehilangan mereka. Sekarang aku tidak tahu mereka di mana." Gumam Jimi lirih.
Tiba tiba pintu kamar terbuka lebar. Ia melihat Kai berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah.
"Kai?"
Kai berjalan mendekati Jimi, menarik kerah bajunya supaya berdiri.
"Mengapa kau selalu ikut campur urusanku?!!" Pekik Kai marah menatap wajah Jimi.
"A, aku..?"
"Ahhh!!" Kai mendorong tubuh Jimi hingga menabrak dinding di belakangnya.
Jimi memegang bahunya seraya menatap sedih ke arah Kai yang berdiri tegap di hadapannya.
"Kau hanya memikirkan perasaanmu dan Kakek! Kau tak perduli dengan perasaanku!!" Teriak Kai, tangannya menunjuk wajah Jimi.
Jimi menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Kai. Menyentuh dada Kai dengan lembut, namun dengan cepat Kai menepisnya.
"Tenanglah, kau sedang sakit." Jimi berusaha menenangkan Kai.
"Kau hanya perduli dengan dirimu sendiri," ucap Kai. "Aku akan pergi dari rumah dan menemui Reinz. Jangan halangi aku lagi, kak."
Kai balik badan lalu melangkahkan kakinya. Namun baru saja beberapa langkah, Kai tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Kai!" Pekik Jimi lalu berlari menghampiri tubuh Kai yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Kai bangun!" Jimi berusaha menyadarkan Kai. Namun Kai tak kunjung sadarkan diri. Akhirnya Jimi mengangkat tubuh Kai lalu menggendongnya.
"Kau pingsan lagi.." ucapnya lirih.
Jimi bergegas membawa Kai keluar dari kanarnya.
Di luar kamar, Jimi berpas pasan dengan Jeni yang baru saja datang.
"Ada apa dengan Kai?" Tanyanya.
Namun Jimi tidak menjawab, ia bergegas menuju kamar pribadi Kai di ikuti Jeni dari belakang. Sesampainya di kamar, Jimi membaringkan tubuh Kai di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya dengan sekimut.
"Mengapa Kai, akhir akhir ini sering pingsan?" Tanya Jimi kepada Jeni.
Jeni terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jimi.
"Kai harus segera mendapatkan donor jantung." Kata Jeni.
Jimi menghela napas berat, menatap wajah Jeni sesaat.
"Aku tidak percaya ini.." gumam Jimi.
Sementara di tempat lain.
Beby masih enggan untuk bicara dan keluar dari kamarnya setelah satu satunya miliknya yang berharga di renggut paksa oleh Reinz.
Namun sedikitpun ia tidak marah ataupun membenci Reinz. Justru sebaliknya, Beby membenci Albert, sang kakek yang sudah dianggap papa nya sejak kecil.
Beby tidak mengerti mengapa Albert begitu membenci Reinz dan tidak pernah terima kalau dirinya sangat mencintai Reinz. Albert memilih menjodohkan Beby dengan Niko, pria yang sudah jelas seorang penjahat.
Sementara Albert sendiri semakin membenci Reinz dan bersumpah untuk melenyapkan Reinz, karena telah merusak cucu satu satunya. Di balik kebencian Albert terhadap Reinz, ada luka yang Albert pendam. Ada dendam yang belum terbalaskan. Ada cerita duka yang membuatnya semakin beringas.
"Linhua.." gumam Albert.
masak cowok cemburu Ama cowok?!,,🤔🤔🤔🤔
miciuuuuu
tingglin klg km