Pengangguran?! Siapa yang mengatakan itu hah?! Berani sekali kau memanggil aku, Inglebert Ivory Harald sebagai seseorang yang tak memiliki pekerjaan! Kalian salah! Justru aku yang paling sibuk disini!
Apakah kalian tahu apa itu pekerjaan serabutan? Ya, itu pekerjaanku dan asal kau tahu aku bisa melakukan segala hal yang tak bisa kalian lakukan!
Hah? Omong kosong?! Aku tidak berbicara omong kosong! Kalau tak percaya baca kisahku ini sampai selesai!
PLAK! Biar author yang bernarasi!
Ekm ... Namanya adalah Inglebert Ivory Harald. Dia adalah seorang pria dewasa berumur 20 tahunan dan seorang bujang pengang- eh, pekerja serabutan. Kesehariannya sangat sibuk (katanya) banyak orang yang mendatanginya untuk menggunakan jasanya melakukan berbagai macam pekerjaan. Ia bekerja sendiri hingga suatu hari ada seorang bocah laki-laki yang meminta pekerjaan padanya sehingga jadilah ia asistennya dan -
AHH!! KEPANJANGAN!
Sudahlah seperti kataku tadi pokoknya baca saja novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brille23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 Dan untuk chapter ini pun author tidak punya ide memberinya judul
Aku dan Faydor sedang berada dalam perjalanan pulang. Setelah berbincang sebentar dengan Leonard, aku merasakan beberapa kejanggalan mengenai ketiga pengutang itu dan tentunya si akuntan itu juga.
"Faydor, apakah kau benar-benar tidak tahu bau apa yang kau cium selama di sana?" tanyaku tiba-tiba setelah kami berjalan cukup jauh dari rumah Leonard.
"Tidak, aku tidak pernah mencium bau itu," jawab Faydor.
"Hm, sayang sekali ... Kau bilang baunya makin menyengat, tapi aku sungguh tidak mencium apapun yang mencurigakan," timpalku yang sungguh sangat penasaran dengan bau seperti apa yang tercium oleh hidung tajam Faydor.
"Well, sepertinya itu bukan urusan kita mengenai apapun yang disembunyikan oleh si akuntan itu, jadi tak usah berpikir terlalu keras," lanjutku yang kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah tercintaku.
***
Keesokan harinya aku bersiap untuk mengunjugi orang-orang yang sudah berjanji untuk menyicil hutangnya.
Saat turun ke dapur, kulihat Faydor sedang duduk di meja makan yang di atasnya sudah tersusun rapi sarapan kami. Ia tampak sangat serius dengan wajahnya yang menempel pada koran yang sedang ia baca. Saking seriusnya dia tidak menyadari aku yang sudah duduk di depannya.
"Selamat pagi, Tuan Faydor!" Sapaku untuk menarik perhatiannya agar ia menyadari keberadaanku.
Ia langsung melipat korannya, lalu beralih padaku. "Oh, selamat pagi!" ucapnya pada akhirnya membuka mulutnya setelah sekian lama fokus dengan koran yang ia baca.
"Apakah ada berita yang menarik di koran sehingga kau tampak begitu sangat fokus membacanya?" tanyaku yang cukup penasaran dengan bacaan bocah ini.
"Hm ... Tidak ada, kecuali ..." ia membuka kembali korannya yang baru saja ia lipat itu lalu menunjukkan sebuah judul artikel padaku.
Ku ambil koran itu untuk membacanya sambil memakan roti yang sudah disiapkan Faydor untuk sarapan kami.
"Hm ... 'SESOSOK MAYAT WANITA DI TEMUKAN DI SEBUAH RUMAH KOSONG, APAKAH INI ULAH VAMPIR?' ... " aku membacakan judul berita itu.
SRUPUT ....
kuseruput secangkir kopi dengan pandanganku tidak teralihkan dari koran itu.
"Ah~ enak sekali kopi buatanmu ini ..." komentarku setelah kuminum kopi buatan Faydor di pagi hari yang dingin ini.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Faydor yang tampaknya begitu penasaran dengan apa yang kupikirkan.
"Tunggu, tunggu, aku belum membaca semuanya!" jawabku.
Kualihkan kembali pandanganku pada koran di tanganku ini untuk melanjutkan bacaanku.
Artikel ini dilengkapi dengan sebuah gambar ilustrasi yang hampir mirip dengan bangunan rumah tempat mayat itu ditemukan. Sungguh sangat berbakat sekali orang yang menggambarnya.
Kemudian aku pun mulai membaca isi artikel itu. Ku baca dengan teliti apa yang tertulis di sana, dan aku hanya mengeryitkan dahi setelah selesai membacanya.
Sebenarnya tak ada yang aneh dari isi berita itu, semua tampak normal sama seperti apa yang sebenarnya terjadi. Namun hanya satu yang menggangguku dan itu sangatlah penting.
"Ebert, kau tampak kesal, apakah ada sesuatu dalam artikel itu yang membuatmu marah?" tanya Faydor yang sedari tadi menungguku berkomentar.
Kulirik asistenku itu dengan gesit, lalu menjawabnya. "Faydor, kau ingin tahu apa yang membuatku kesal?"
Faydor mengangguk pelan, sepertinya sangat gugup dengan apa yang akan keluar dari mulutku ini.
"KENAPA KEMARIN TAK ADA YANG MEWAWANCARAI KITA?! PADAHAL KITA YANG MENEMUKAN MAYATNYA!" teriakku yang kesal akan kenyataan itu.
"Ha?" Faydor tampak heran dengan reaksiku ini.
"Keh! Faydor, sepertinya kau tidak mengerti ... kalau kita diwawancarai oleh media, bukankah itu artinya adalah kesempatan bagi kita untuk mengiklankan jasa serabutan kita secara gratis? Aku yakin jika nama kita tercantum di dalam koran, usaha kita akan naik! Lihatlah! Penemuan mayat ini menjadi berita utama pagi ini! Aku yakin pasti banyak orang yang membacanya," tuturku dengan menggebu-gebu mengutarakan apa yang kupikirkan.
Kulihat Faydor menghela napas, seakan ia kecewa mendengar pemaparanku ini. "Kukira kenapa ... Ck, Kenak-kanakan sekali bosku ini," gumamnya dengan bibir yang manyun memprotes pemikiranku.
"Terserah kau mau berpikir apa tentang aku, yang jelas aku punya ide bagus mengenai masalah ini ..." ucapku yang sungguh tak peduli dengan komentar Faydor yang sangat jelas kudengar itu.
"Masalah apa? Eh, tunggu dulu, aku masih belum mendengar pendapatmu tentang artikel berita itu!" ia masih menagih hal hang sungguh tidak penting itu.
"Eh? Apa yang penting dari artikel berita itu, semuanya sama saja dengan apa yang kita ketahui, lantas apa yang menjadi masalahnya?" tanyaku dengan malas.
"Kau tidak penasaran dengan judulnya? Tepat pada bagian ini!" Faydor masih tidak puas dengan jawabanku, ia lalu menunjuk sebuah kalimat dari isi artikel itu yang menurutku biasa saja itu.
"Kau tidak aneh dengan kalimat ini? 'Apakah ini termasuk salah satu pemberontakan bangsa vampir yang memiliki dendam terhadap warga kota Yorksnall?' ... Kau sungguh tidak aneh dengan kalimat itu?" Faydor masih mendesakku untuk menjawab.
"Well, tidak ada yang aneh, kau baru di kota ini sehingga kau pasti tidak tahu bahwa orang-orang di sini masih was-was dengan keberadaan bangsa vampir, mereka biasanya menyalahkan mereka jika ada pembunuhan terjadi ..." tuturku.
"Bahkan, tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah ada bekas gigitan vampir di sekujur tubuh korban atau tidak," lanjutku sembari melahap kembali roti yang masih ada di atas piring.
"Hah? Bagaimana bisa begitu? Bukannya itu tidak adil?" tanya Faydor yang sungguh heran akan hal itu.
"Populasi vampir di kota Yorksnall itu sangatlah sedikit, dan mereka pun jarang sekali terlihat karena mereka makhluk malam ... Oh, kecuali tuan Valter, dia vampir spesial sehingga bisa berjalan dengan bebas di bawah sinar matahari ... Well, mungkin disini banyak sekali orang yang hatinya kotor sehingga membuat mereka berprasangka buruk jadinya malah melimpahkan semua kesalahan pada bangsa vampir ..." tuturku mencoba menjawab kembali rasa penasaran.
"Tapi bukannya The Great Four Majesty sudah mengeluarkan dekrit yang menekankan dengan sangat tegas untuk tidak mendiskriminasi ras dan jika ada yang melanggar, maka akan dihukum dengan berat? Di Ringfelsental, malah benar-benar mengagungkan dekrit itu sehingga semua orang tidak ada yang melanggarnya, dan bisa hidup berdampingan dengan baik tanpa memandang ras," tanya Faydor yang sudah tampak seperti anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu yang besar.
"Well kota besar itu kan memang pusat bisnis, jadi sudah tentu semua ras ada di sana, dan karena mereka memang saling membutuhkan dalam hal bisnis tentunya, jadinya mereka mengesampingkan hal-hal tidak penting seperti ras agar mereka bisa bekerja sama dengan baik ..." komentarku.
"Jujur saja, di kota kecil seperti Yorksnall ini pemikiran orang-orang begitu kolot, mereka sebenarnya sangat takut pada kekuatan, karena ras vampir itu ras yang kuat, maka mereka takut pada mereka, oleh karena itu demi melindungi diri, mereka bertingkah seperti orang yang paling lemah dan si kuatlah yang disalahkan karena menindas si lemah," lanjutku.
"Lantas bagaimana dengan ras manusia serigala disini? Mengapa orang-orang disini tidak menyinggung ras itu?" tanya Faydor lebih jauh.
"Well, ras manusia dan ras manusia serigala memang sudah seperti saudara, kedua ras itu memiliki sejarah di masa lalu di kota ini, jadi biasanya kedua ras itu akur-akur saja," jawabku.
"Hoo ... begitu ...-"
"Tapi mengenai penemuan mayat itu, kita berdua tahu sendiri bahwa di leher wanita itu ada bekas gigitan seperti gigitan vampir dan tubuhnya pun mengering seperti memang darahnya tersedot habis oleh sesuatu, jadi ... jika dilihat dari ciri-cirinya ada kemungkinan ini ada hubungannya dengan vampir," selaku sembari menggosok dagu mulusku yang baru saja kucukur itu.
"Hah, kalau itu aku juga tidak bisa menyangkalnya," ungkap Faydor.
"Nah, lalu menurutmu apa yang yang aneh dari kalimat itu, hm?" aku pun bertanya balik.
"Em ..." Faydor terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Kau sudah menjawabnya, jadi aku tidak penasaran lagi," jawabnya.
"Well, kalau begitu, kita habiskan terlebih dahulu sarapan ini, lalu pergi bekerja!" seruku.
"Baik!" jawab Faydor dengan semangat.
Kami pun melahap sarapan kami dengan tenang hingga akhirnya tak ada makanan dan minuman yang tersisa di atas meja makan.
"Baiklah, mau kemana kita sekarang?" tanya Faydor setelah ia menghabiskan makanannya.
"Melanjutkan pekerjaan kita yang kemarin," jawabku.
"Hm, tapi ini masih jam 7, apakah kau yakin mereka masih berada di rumahnya masing-masing?" Faydor mengatakan sesuatu yang baru saja terpikirkan olehku.
"Ah, iya, kau benar ... Well, kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah wanita itu!" ajakku dengan sangat antusias karena aku mempunyai rencana sendiri mendatangi tempat misterius itu.
Faydor tampak heran, tapi ia tidak bertanya lagi karena sepertinya ia ingin melihat sendiri apa yang akan kulakukan di sana.
Bersambung ...